Jatuh Hati

3298 Words
"Papa sudah tidak mau mendengar alasan kamu lagi, Radja!" Gue menggeram kesal. Selalu saja begini ketika gue ketahuan balapan. "PAPA YANG NGGAK PERNAH MAU NGERTIIN RADJA!" Gue berteriak. Terserah mau dicap anak durhaka. Toh, meskipun gue nurut atau enggak pun, papa nggak pernah perhatian sama gue. Hanya bisa marah. "RADJA!" Papa meninju pipi gue. "Jangan kurang ajar kamu sama papa!" bentak papa. "Papa nggak pernah tau apa yang Radja mau. Papa hanya sibuk dengan tumpukan kertas, seolah kertas itu adalah anak papa sendiri!" Gue mengeluarkan semua unek-unek yang ada. Gue terlalu lelah disalahkan terus-menerus oleh papa. "Ini semua juga demi kamu, Radja! Siapa yang biayai sekolah kamu selama ini?" Papa menyentuh kedua lengan gue dengan tangannya. "Radja butuh kasih sayang! Bukan uang!" Gue menyentak tangan papa dengan kasar. Gue nggak nyangka pikiran bokap gue bisa sependek itu. DIA PIKIR GUE GILA UANG SEPERTI NYOKAP? Enggak! "Papa hanya minta kamu untuk tidak berteman dengan anak begajulan. Hanya itu, Radja!" Gue menggeleng seraya mengepalkan kedua tangan. Jika yang di depan gue saat ini bukan bokap gue, gue pastikan dia sudah babak belur dari tadi. "Mereka bukan seperti yang papa pikirkan!" ucap gue tajam. "Bukan seperti yang papa pikirkan, bagaimana? Mereka anak nggak jelas, nggak punya cita-cita dan masa depan! Apa yang kamu harapkan dari mereka?" "Papa nggak tau apa-apa tentang mereka! Mereka temen Radja, pa! Mereka yang selalu dukung Radja apa adanya!" Nafas gue dan papa terengah-engah karena beradu mulut. "Mereka yang selalu suport Radja, mereka yang selalu ada di samping Radja ketika Radja butuh seorang teman, MEREKA TEMAN RADJA, PA!" lanjut gue dengan sarkas. "Kamu bisa cari teman lain, Radja! Banyak diluar sana yang mau berteman dengan kamu, dan yang paling penting, mereka sederajat dengan kita," ujar papa. Gue mengepalkan tangan. "Sederajat bagaimana maksud papa?" tanya gue. Papa memijit pelipisnya. "Mereka dari keluarga berada, tidak seperti teman kamu yang KAMPUNGAN itu!" jawab papa dengan menekan kata 'kampungan'. Gue nggak terima perkataan papa yang menghina temen gue. Lantas, gue berjalan kearah guci dan barang-barang antik lalu memecahkannya. "BERHENTI, REHANDO RADJA SEMBIRING!" teriak papa. Papa mendekati gue dan langsung menampar gue dengan keras. "Kamu sebaiknya keluar dari geng motor kamu itu! Kalau tidak...." Papa menggantungkan ucapannya. "Kalau tidak kenapa, pa?!" "Papa akan mencabut semua fasilitas yang pernah papa beri untuk kamu," ujar papa tenang. Gue menggeram marah. s****n! "PAPA NGGAK BISA BERBUAT SEPERTI ITU PADA RADJA! PAPA EGOIS!" Gue berteriak marah pada papa. Gue nggak terima semua fasilitas dicabut gitu aja. Papa menunjuk muka gue. "Ini dia! Ini pengaruh buruk mereka terhadap kamu! Kamu jadi anak yang pembangkang!" Gue menepis tangan papa yang menunjuk-nunjuk muka gue. "Ini dia." Gue balas menunjuk d**a papa. "Ini yang bikin mama jadi nggak betah tinggal sama papa!" Papa menggeram. Sepertinya papa tersulut emosi karena perkataan gue yang melibatkan mama dalam pembicaraan ini. "Jangan bawa-bawa wanita itu, Radja!" "Kenapa?!" tantang gue. "Dia wanita paling murahan yang pernah papa temui!" Gue nggak pernah melihat mata papa yang menunjukan rasa kecewa sedalam ini. Gue berbalik menuju kamar. Gue udah nggak mau bertengkar dengan papa lagi. Gue capek, gue yakin papa pun capek. "Radja...," panggil papa dengan lirih. "Jangan jadi anak pembangkang. Maka dengan begitu, papa akan kembalikan semua fasilitas kamu. Dan juga...." Papa lagi-lagi menggantungkan ucapannya. "Dan juga apa?" "Papa akan turuti semua kemauan kamu. Kecuali kembali dalam geng motor s****n itu!" Papa meninggalkan gue dan masuk menuju kamarnya. Gue mengepalkan tangan. Nggak akan pernah! Gue nggak akan pernah ninggalin temen-temen gue gitu aja! Gue berjalan memasuki kamar dengan perasaan berkecamuk. Gue membanting pintu kamar dan langsung melompat ke kasur. "Ah! Kenapa sih gue nggak pernah bisa bebas?!" Gue berteriak kalap. "Kenapa gue harus ada dalam keluarga ini? Haha! Keluarga apanya? Ini yang namanya keluarga? Bahkan gue rasa, menjadi bagian dari keluarga semut pun masih lebih menyenangkan dari pada ini." Gue meremasi rambut dengan kencang. Kepala gue rasanya mau pecah jika terus-menerus memikirkan hal ini. Kenapa kebebasan itu sulit sekali didapatkan? Kenapa? Gue hanya ingin seperti anak SMA pada umumnya. Menikmati semua kenakalan remaja yang nggak akan datang untuk kedua kalinya. Hanya itu. Tapi papa nggak akan pernah ngerti apa yang gue mau. Nggak akan pernah. Ponsel gue tiba-tiba berdering, membuat gue mau tidak mau bangkit dari tempat tidur. "Halo?" "Lo...jadi nggak, nih, balapannya?" Gue mengacak-ngacak rambut gue. "Kayaknya nggak jadi, deh, bro," jawab gue. "Kenapa lo? Takut kalah? Sejak kapan Radja jadi cemen kayak gini?" Gue menghela nafas kasar. "Gue ada masalah." "Sama bokap lo lagi?" "Lo tau lah bokap gue kayak gimana orangnya?" "Hmm." Hanya terdengar dehaman dari seberang telepon. "Sorry bro," ucap gue menyesal. "Oke, santai, nggak papa." Gue menutup panggilan. Kemudian masuk kedalam salah satu aplikasi chatting. Entah kenapa, gue malah ingin menelpon Sheila. Sheila man, ini otak gue kenapa sih? Apa karena habis dipukul papa tadi? "Halo?" Terdengar suara dari seberang telepon. Gue...menelpon Sheila beneran. INI KENAPA GUE BISA TELPONAN SAMA SHEILA BENERAN? "Mm, halo? Radja?" Gue gelagapan sendiri jadinya. "Iya, Shei? Ada apa?" "Kok lo jadi tanya ke gue? Kan lo yang menelpon gue." "Eh, iya. Gue mau, mau apa ya?" INI KENAPA GUE BENERAN KAYAK ORANG b**o SIH?! "Lo waras kan, Dja?" Tuhkan! Bisa diketawain kalau gue kayak gini mulu. Gue menghembuskan napas perlahan. "Ekhem," deham gue. "Lo sibuk?" tanya gue. "Kenapa? Lo mau ngajak gue jalan? Sorry, gue nggak bisa," ucap Sheila. Gue tertawa mendengar respon Sheila. Ternyata tingkat kepedean gadis itu sangat tinggi. "Dih! Lo yang ngarep diajak jalan sama gue, kan?" goda gue. Sheila berdecak. "Trus lo mau ngapain, sih?! Ganggu tau!" Gue tersenyum miring. "Itu maksud gue! Gue mau gangguin lo!" "Gangguin yang lain aja, deh! Hobi banget, sih, buat gangguin gue. Makin suka engga, jijik malah iya." Gue terkekeh mendengar penuturan Sheila. Eh, tadi, apa? Makin suka? "Wait, tadi lo bilang makin suka? Berarti lo suka sama gue, dong?" Gue semakin gencar menggoda Sheila. "Dih! Apa-apaan sih, lo?! Udah ah, gue tutup. BYE!" Sheila memutuskan panggilan terlebih dahulu. Gue terkekeh. Apa-apaan gadis itu? Jadi dia suka gue? Sedetik kemudian, gue teringat semua fasilitas gue yang dicabut oleh papa. "s****n!" umpat gue. Tapi, kenapa diantara semua orang yang gue kenal, hanya Sheila yang mampu mengembalikan moodnya? Kenapa Sheila? Kayaknya beneran deh otak gue lagi nggak waras karena dipukul papa tadi.  *** Setelah apa yang terjadi kemarin, otak gue mumet maksimal. Serupa kertas kumal yang diremas-remah jemari tangan, wajah gue ikutan kusut. Kalau bukan keturunan Dewa Yunani, kadar ketampanan pada diri ini pasti sudah anjlok sejadi-jadi. Keruwetan ini berlangsung walau bel tanda istirahat pertama berbunyi nyaring. Siswa-siswi berhamburan menuju kantin termasuk gue. Di sana, sementara gue duduk tercenung, kawan-kawan mencoba menghibur sedari tadi, tetapi wajah gue tetap menekuk karena keras berpikir. "Nih, siomay." Jatmiko mendorong sepiring siomay yang dipesankannya dari salah satu stand makanan di kantin sekolah. "Teh angetnya minum," peringat Ivan. Gue berasa menjadi perawan yang putus cinta. Tapi gue tidak mengatakan apa-apa, karena bibir ini enggan bersua. "Udahlah, berhenti balapan bukan berarti hidup lo juga ikut berhenti." Agam menimpali, bibirnya berdecak tak habis pikir. "Enteng lo ngomong," timpal gue datar. "Lo udah kayak mayat hidup," komentar Dewa sembari menelisik penampilan gue, sampai-sampai menyingkirkan gelas jus Ivan yang menghalangi arah pandangnya. "Bukan gini caranya." Bumi mencondongkan tubuh. Lengannya bertautan di atas meja, dengan siku sebagai penyangga. "Iya, gue tau, gue harua cari akal supaya bisa tetep ikut balapan, kan? Gue dari tadi mikirin kendala itu." Gue mengembuskan napas sebal. "Yaudah sih, salah satu dari kalian tinggal pinjemin motor ke gue. Susah amat," imbuh gue setelahnya. "Gak semudah itu. Kita, termasuk lo sendiri, udah diperingatin sama bokap lo buat enggak ikut balapan. Lo masih mau menentang?" Agam menukikkan alis tebalnya. "Gue harus ikut turnamen itu. Titik," final gue tak terbantahkan, mengundang embusan napas pasrah kawan-kawan. Saat ini yang gue butuhkan hanya ketenangan untuk menjernihkan pikiran. Lantas nama perpustakaan tercetus menjadi jawaban dari keinginan. Maka dengan begitu, gue manarik tubuh hendak beranjak dari kantin. "Eh, mau ke mana lo?" Ivan berseru cukup nyaring, hingga membuat gue berdecak kasar tanpa disamarkan. Kalau sedang begini, gue menjadi mudah emosi. "Kepo, lo." Demi apa pun, gue tidak berniat memberitahukan tempat persinggahan gue kepada mereka. Jika gua berbicara, ketenangan yang gue maksud tidak akan sama sebagaimana yang gue kira. Walau gontai menapaki kaki, gue sampai juga di perpustakaan yang memang letaknya tidak begitu jauh dari kantin. Gue membuka pintu, dan tampaklah kesunyian yang gue dambakan. Setelah mengisi daftar tetamu, gue melangkah menuju bangku paling ujung. Berharap dari radius inilah gue menemukan ketenangan. Gue duduk diam sementara pikiran melanglang buana. Segala hal yang gue prediksikan sebelumnya menjadi kacau. Jika dipikir-pikir, dari mana bokap tahu perihal ini jika tidak satu pun dari kami yang memberi informasi? Ah, simpan jawabannya. Gue sudah tahu tanpa perlu berpikir dua kali. Pandangan gue menerawang ruangan, dan jatuh kepada salah satu pengunjung perpuskaan yang tengah menengadahkan wajah menelisik buku-buku novel di salah satu rak buku tak jauh dari tempat gue duduk. Dia Si Tengil bin Songong Shila. Jari telunjuk kanannya bertengger di dagu sementara tangan kirinya bersedekap mengangga lengan yang lain. Seperti mendapat pencerahan, salah satu sisi otak gue berdenting. Gue menyunggingkan bibir merasa jenius dengan pemikiran sendiri. Tidak serta merta memanggilnya, gue malah mengambil salah satu koran lawas yang disampirkan pada rak khusus di belakang tubuh gue. Eiyo! Sesuai dengan apa yang gue terka, Sheila duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari gue duduk. Dia terlihat membawa satu buku novel romansa bersampul biru muda. Merasa diperhatikan, Sheila berpaling, dan gue segera menyembunyikan wajah di balik koran. Duh, jangan tanya kenapa, karena gue sendiri pun tidak tahu apa manfaat yang gue dapat dengan menutup-nutupi muka tampat bak Dewa Yunani gue seperti ini. "Lo epik banget ya, baca koran lawas." Sheila mengomentari. Gue sekadar berdeham sebagai jawaban. "Cara bacanya juga anti mainstream. Korannya kebalik, tapi lo kayak yang serius gitu," lanjut Sheila sembari terkekeh. Seketika gue menurunkan koran s****n itu dari wajah dan memalingkan muka ke arah Sheila. Dia segera membekap mulutnya sendiri menahan tawa sebelum petugas perpustakaan menegurnya. "Apa lo liat-liat?" sungutnya sebagaimana biasa kita bertemu. "Gue udah tau kalau itu lo," katanya terdengar mencemooh. Gue terperangah tak percaya. Kemudian mengangguk samar setuju karena memang bentuk tubuh gue gak akan pernah mudah dilupakan. "Gue mau ngomong sesuatu," ujar gue serius tak berniat membuang waktu lebih lama lagi. Walaupun berbicara begitu, pandangan Sheila tidak juga terputus dari buku. "Eh, songong, kalau ada yang ngajak ngomong tuh liatin orangnya." Gue merampas paksa novel yang Sheila pegang. "Apaan sih, lo? Gak ada kerjaan banget!" protes Sheila. "Dengerin dulu. Ini serius," perintah gue seraya melirik kursi penjaga perpustakaan yang ternyata tengah sibuk mencatat. "Apa?!" katanya kelewat keras. "Hei, yang di ujung sana, tolong pelankan suaranya atau keluar saja dari sini!" Tuh kan, si songong membuat onar, cibir gue dalam hati. Kami menggumam maaf dan tersenyum sopan. Sheila memukul ringan mulutnya sendiri. "Salah elo nih!" tuduhnya. "Kok gue sih? Elo yang ngomong, juga," bantah gue tak terima. Sheila berdecak, ia meremas-remas tangannya geram di depan penglihatan gue. Hah? Dia pikir gue bakal takut? No way! Bocil begini doang mah gak ada apa-apanya. "Cepet, mau ngomong apa?" katanya ketus. Duh, gue sampai lupa maksud dan tujuan gue sebelumnya. "Lo punya vespa, kan?" tanya gue memastikan, walau sebetulnya gue mengetahui jawabannya. Ya, anggap saja itu sebagai pembuka obrolan. Sheila mengangguk. "Terus?" "Gue mau pinjem vespa lo buat balapan." Gue berterus terang karena sebentar lagi bel masuk hendak berbunyi. "Waras, lo?" Sheila terkekeh. "Ini urgen. Gue bener-bener harus ikut balapan!" tegas gue. "Ogah! Lagian itu vespa punya engkong gue." Sebelum gue menyahut, Sheila kembali bersuara, "Entar kalau motornya kenapa-napa gimana? Dih, ngeri banget." Sheila menggeleng tegas. Ya, ya, gue tahu hal ini bakal terjadi. Penolakan demi penolakan yang Sheila utarakan adalah tantangan. "Balapan itu satu-satunya jembatan yang terpikirkan oleh gue untuk membuat bokap percaya kalau ajang vespa ini legal, gak main-main. Gue juga mau ngebuktiin ke bokap bahwa gue bisa mandiri. Kalau gue menang, gue dapet duit," terang gue panjang lebar. Duh, kesannya gue curhat sama Sheila. Tapi balik lagi ke maksud dan tujuan, gue mencoba bersikap masa bodoh dan harus berhasil membujuk Sheila untuk meminjamkan motor vespanya. "Lo bisa ngebuktiin dengan cara yang lain," kukuh Sheila. Gue berdecak, tapi mencoba tetap berpikir jernih. "Vilanzer itu drajatnya udah jatuh banget di mata dia. Gue mau mengubah pola pikir bokap gue, Shei. Gue gak bisa melewatkan kompetisi ini. Enggak semuanya anak geng begajulan. Uang untuk hadiah di ajang itu juga, dapet dari sponsor, bukan taruhan." Gue tidak tahu raut wajah apa yang diperlihatkan. Namun tampaknya Sheila tengah menimbang-nimbang keputusan. "Gini lho, kenapa gak pinjem ke temen-temen lo aja?" Sheila masih tetap pada pendirian. Gue mendesah mencoba sabar. "Cuma lo harapan gue, Shei ...," ujar gue pelan tapi penuh penegasan sembari menatap lurus manik mata Sheila yang tampak gusar. Air muka Sheila masih penuh keraguan. Dia melipat bibirnya, kembali menimbang-nimbang keputusan. Sementara itu, Gue harap-harap cemas di tempat duduk. Duh, Shei, jangan kelamaan mikirnya. "Shei ...?" panggil gue. Sheila menyandarkan punggung dan membuang napas berat. "Oke, gue bakal pinjemin motor vespa gue." Ada jeda sejenak. "Dengan satu syarat, lo harus jaga baik-baik. Jangan sampai ada lecet sedikit pun," lanjutnya penuh peringatan. Gue cepat mengangguk. Terlampau gembira sampai-sampai hinggap keinginan untuk mendekap Sheila sekarang juga. Gue mencondongkan badan ke arah Sheila. Dia memundurkan wajahnya panik. "Mau apa lo?!" tekannya. Dia terkejut. "Trims," ujar gue sebelum beranjak berdiri dan menepuk bahu Sheila dua kali, kemudian bel masuk pun berbunyi. *** Hari ini rasanya menatap cewek yang barusan lewat, darah gue berdesir kencang, gue enggak tau apa yang terjadi, tapi gue sadar lambat laun gue jatuh cinta sama Sheila. “Woi! Cie lu ngeliatin Sheila ya?” tanya Mars yang mergokin gue ngeliat Sheila yang lewat disamping kelas gue. Gue cuma bisa cuek sama sekali enggak jawab pertanyaan Mars. Gak mungkin kan gue jawab pertanyaan dia? Bisa mampus mati kutu gue kalau ngebiarin satu geng tau gue suka sama Sheila. “Lah kenapa diem? Wah.. wah.. Suka beneran ya lo?” tanya Bumi. Aduh dua anak bernama planet ini sukses bikin gue jantungan, dari mana kelihatannya sih kalau gue suka sama Sheila, atau emang sebenernya sikap gue yang udah keliatan naksir sama Sheila? Yang jelas gue kerasa aneh dan jantung gue berdegup kencang kalau liat Sheila, gue percanya sekarang sama engkong, kalau ada pepatah jawa ‘Tresno jalaran soko kulino’ artinya cinta datang karena terbiasa. Mungkin, karena gue kebiasa sama sifat Sheila dan kemana-mana gue selalu sama dia, gue jadi hafal sifat dia dan makin hari ada satu kata yang terus biki dia jadi heroine buat gue, nyaman. Sheila itu kaya punya sinar matahari sendiri buat gue, karena dia satu-satunya cewek yang bikin gue hangat. “Apaan sih! Gak mungkin lah gue suka sama cewek petakilan kaya begitu, tipe gue itu yang anggun kaya si..” ucapan gue terpotong, gue lagi mikir siapa, takut salah ucap, bisa-bisa jadi gosip seangkatan. Apalagi temen sekelas gue ada anak jurnalis, yang menurut gue agak introvert, tapi dia canggih, dan kupingnya kalau soal informasi terkini itu tajem banget, gila aja. Temen gue pada antusias buka telinga semuanya, siap-siap denger nama yang bakalan gue sebutin, sumpah muka mereka lucu semua pada melongo. “Siapa sih RADJA!” ucap Dewa udah mulai kesel ngeliat gue nutup mulut enggak mau bicara. “Sumpah ya, lo kalau main rahasiaan, gue masukin lo ke kolam koi belakang!” ancam Agam “Halah! Kalah kaaan!” ucap Grinza yang kesal dengan gamenya. Sontak semua menoleh melotot ke arah Grinza gara-gara dia gak pas sama topik pembicaraan. Gue hanya tertawa ngeliat Grinza yang sekarangs seolah menjadi tersangka yang disalahin sama semua temen gue. “Alah! Udahlah lo sama Sheila saling suka kan?” ucap Ivan asal “Alah! Udahlah lo sama Elvina saling suka kan?” balasku yang sukses membuat Ivan gugup. “Cieeee” semua temen gue yang pada nyimak godain Ivan. Kasian juga dia si Elvina gak pernah peka. Bahkan sekarang Elvina sendiri yang lagi duduk di pojokan malah santai banget, kaya dia seolah nganggep kita cuma bercanda. Gue bangkit menuju ruang OSIS mencoba melarikan diri dari temen gue yang pada kepo soal gue sama Sheila. Gue membuka pintu OSIS pelan-pelan dan melihat seseorang berlutut nangis di pojokan, udah keliatan sih itu Sheila, tapi yang gue bikin heran kenapa dia nangis? “Sheil?” ucap gue berjongkok tepat di depannya. Entah kenapa dari irama isak tangisnya kayanya dia lagi tertekan, gue enggak tau apa yang membuat dia kaya gini, bahunya bergetar seiring isak tangisnya. Gue gak tega dengernya sumpah. Gue ambil air mineral dan duduk disamping dia, gue narik kepalanya dan nyandarin di bahu gue, setidaknya gue punya bahu dan d**a yang pas buat Sheila menumpahkan segala kesedihan dia. Dia terus nangis di bahu gue, tanpa dongak menatap wajah gue, gue makin teriris denger isakan tangisnya, gue narik dia dan memeluk dia, membenamkan wajahnya didada bidang gue. “Sheil, udah dong jangan nangis, lo kenapa?” ucap gue memecah keheningan. Dia masih saja terisak. “Sheil?” dia mendongak dan menatap gue. Astaga, mata dia bengkak, sembab banget. Entah apa yang gue lakuin, malah reflek gue nyium dahinya, b**o!. Tapi Sheila sama sekali enggak marah, dia malam diem dan sekarang lebih tenang. Apasih yang gue lakuin, gila apa lanngsung nyosor, tapi dia udah enggak nangis sih, udah lebih tenang dan enggak lagi nangis seenggukan. Gue tetep meluk dia, biar dia enggak lagi nangis. Satu hal yang gue takutin, itu kalau pintu osis ada yang buka, liat gue meluk Sheila, gue harus bilang apa BAMBANG!!. Ah pusing gue, gatau gimana gue ikutan ngantuk ngeliat wajah dia yang polos merem tidur tenang. Gue menyentuh pipinya dan makin lama gue makin lekat menatap dia, rasa kantuk mulai menyerang gue dan gue tertidur sambil meluk Sheila, yang gue inget cuma satu, harum rambutnya yang bikin tenang dan bawa gue ke pulau kapuk. Sampai jumpa di mimpi gue Sheila. “Waduh, ini anak dua kudu dibawa KUA anjir!” suara Ivan yang sukses membangunkan gue. Gak kerasa, gue tiga jam tidur sambil meluk Sheila begini. “Ssst ucap gue memberi isyarat biar mereka semua diem,” semuanya nurut sama apa kata gue dan mengangguk diem, si Agam mendekat dan tanya ke gue. “Dia sakit?” gue menggeleng “Dia kenapa?” tanya Agam lagi, gue balas gelengan dan nyuruh dia diem. Sheila menggerakkan kepalanya dan membuka mata, dia mendongak, gue menunduk, mata kita bertemu, dia langsung kaget dan dorong gue. “DASAR c***l!” teriak dia dan gue langsung kaget mendengar ucapannya. Apa-apaan? c***l? Sheila langsung bangkit dan pergi keluar ruang OSIS. Semua temen gue pada natap gue aneh, mereka seolah butuh penjelasan kenapa gue sama Sheila bisa tidur sambil pelukan. Sumpah, gue kan cuma niat nenangin dia, gue gak ngapa-ngapain, eh nyium dahinya sih, tapi kan dahi! Bukan bibir! “Em.. itu tadi si Sheila nangis, terus gue nyoba nenangin dia, gue juga gak tau dia kenapa,” ucap gue jelasin ke mereka. Sumpah ya gue kaya tersangka yang dituduh enggak-enggak. “Ngapain lo pake jelasin? Emang kita nanya?” tanya Bumi sambil ketawa ketiwi, halah dia pasti mau godain gue, ah terserah! Bodo amat. “Ya enggak papa sih kalian berdua mau berduaan gitu, asal jangan sampe aja hamil!” ucap Agam Lah kenapa mereka otaknya pada konslet semua sih? Ya mana mungkin gue bakal ngelakuin hal sakral sebelum pernikahan, ternyata omongan bapak gue ada benernya, temen gue pada gesrek semua. “Jadi, kita gak perlu penasaran lagi kan? Udah terbukti lo emang suka kan sama Sheila?” tanya Mars Ah udahlah percuma ngelak, ketauan juga gue pelukan sama dia, kalau gue gasuka sama dia ngapain juga gue harus nenangin dan peluk dia segala? “iya, bisa jadi gitu. Gak tau kenapa tiba-tiba nyaman aja sama Sheila,” ucap gue jujur. Yah mau enggak mau gue harus jujur sama geng gue sendiri. Mereka semua udah kaya saudara gue sehidup semati. Jadi enggak perlu lagi ada rahasia kalau gue emang sayang sama Sheila.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD