Carlos

1058 Words
Carlos menuju lokasi pabrik Razen, rata dengan tanah, pabrik itu telah hancur lebur karena kebakaran. Dia mengusap wajahnya kasar, ini sudah pasti kesengajaan. Namun semua pekerjaannya halus tak terlihat. Carlos menatap dengan seksama, beberapa pemadam kebakaran berusaha keras memadamkan api. Di sana dia melihat mobil Rodeo yang masih ada di sana. Rupanya laba yang dia hasilkan empat kali lipat sia-sia. Laba itu digunakan untuk membuat pabrik yang baru. Carlos lalu kembali ketika melihat lokasi kejadian, dia belum menemukan siapa dalang yang membuat kekacauan ini. Memang menguntungkan Sean, tapi ini terlalu mencurigakan sebagai perusahaan pesaing. Apa memang ada perusahaan lain yang membenci Rodeo? Sean baru saja pulang, dia melihat ibu Arabelle yang tersenyum lebar ketika melihat berita di televisi ruang keluarga. "Rodeo jatuh Sean, setidaknya dia tersandung atas perbuatannya yang berani berurusan dengan keluarga kita," ucap Arabelle dengan senyum liciknya. "Tapi aku masih merasa heran, siapa yang sudah melakukan hal ini?" Sean lalu melonggarkan dasinya dan duduk di sofa, berhadapan dengan Arabelle. Dia masih penasaran siapa yang melakukan hal ini, apakah itu kesengajaan atau sesuatu yang memang tidak sengaja murni karena pabrik mengalami kebakaran. "Sudah, tidak penting siapa yang melakukannya. Sekarang kamu fokus saja dengan hal lain, toh menguntungkan kita kan kalau misalnya Rodeo bangkrut?" ucap Arabelle dengan tersenyum liciknya. Sean merasa benar, memang keluarganya pasti merasa untung kalau saja Rodeo bangkrut, pesaing usahanya akan berkurang salah satu. Sean lalu masuk ke dalam kamarnya. Dia mengecek ponselnya dan melihat ada pesan dari Rachel. Sean langsung menelpon Rachel saat ini juga. Setelah mendengar nada dering ponsel, Rachel segera mengangkat telepon dari Sean. "Halo? Kamu menelepon aku? Sudah membaca pesanku ya? " tanya Rachel kepada Sean. Sean tersenyum mendengar ucapan Rachel, sebenarnya Sean ingin berbicara langsung kepada Rachel tapi sayangnya sudah larut malam, rasanya tidak enak jika Sean mengunjungi Rachel malam-malam begini. "Iya Rachel, aku tadi yang menelepon kamu. Jadi Ayah kamu sudah bertanya ya kapan kita akan menikah? " tanya Sean kepada Rachel Sebenarnya Rachel malu mengatakan hal ini duluan kepadanya, tapi Rachel juga lama-kelamaan lelah dipesan oleh ayahnya, apalagi dia dengan Sean juga sudah tidur bersama. Bukankah langkah selanjutnya adalah memikirkan tentang pernikahan mereka. Rachel memang awalnya merasa dia itu belum cocok dengan Sean, tapi setelah mengenal Sean lebih dalam dan sering bertemu dengan Sean, Rachel menjadi yakin jika Sean adalah orang yang baik. "Iya, Bagaimana ya? Apa besok kita merencanakan pertemuan keluarga? " Tanya Rachel kepada Sean. Tentu saja ide Rachel itu disetujui oleh Sean, menurutnya Itu ide yang paling bagus karena Sean juga membutuhkan Rachel untuk berdiskusi bersama. Pertemuan dua keluarga besar itu adalah jalan yang terbaik, karena Sean juga ingin menyatukan pemikiran dua keluarga yang pastinya ada perbedaannya. Sebenarnya kalau dari diri sendiri, Sean ingin pernikahan ini sesuai dengan keinginan dia dengar Rachel saja tanpa ada ikut campur keluarga besar tapi konsep pernikahannya ini pasti nanti akan dicampuri oleh keluarga besar. "Iya boleh, mungkin weekend saja karena kalau besok aku juga masih bekerja. Nanti aku siapkan beberapa tema untuk konsep pernikahan kita, kebetulan istri Carlos memiliki wedding organizer jadi kita mungkin bisa ya saling bekerja sama dengan Carlos. Oh ya Carlos itu pengawalku, dia sekaligus orang terpercaya di keluargaku. " Rachel tersenyum mengangguk walau sayang Sean tidak bisa melihatnya, Sebenarnya dia rindu dengan Sean. Tapi Rachel menahan perasaannya. "Baiklah, aku akan mengatakan ini kepada ayah. Jadi weekend nanti kita bertemu di restoran biasanya ya? " "Iya, aku juga akan mengatakan kepada keluarga besarku, kita bertemu nanti di restoran." Sean merasa Rachel sangat spesial, gadis yang cerdas sekaligus cantik, dia menjadi tidak sabar untuk menikah dengan Rachel. Baru saja Sean ingin duduk, tiba-tiba sebuah notifikasi email yang masuk mengganggu telepon dia dengan Rachel. Membuat Sean terpaksa menghentikan teleponnya. Email itu berisi sebuah ancaman, Entah dari siapa tapi yang jelas email itu dibuat dari perusahaan Razen. Email itu berisi surat ancaman bahwa Razen akan memenjarakan Arabelle karena Rodeo telah memiliki bukti bahwa ini semua adalah perbuatan Arabelle. Sean yang membacanya seketika terkejut, dia tidak menyangka jika Arabelle yang melakukan hal ini, namun Sean tidak langsung percaya, dia harus menyelidikinya. Sean lalu bertanya kepada Arabelle tentang hal ini, dan Arabelle langsung mengkonfirmasi bahwa dia memang yang sudah melakukan bukan kebakaran pabrik di Razen. Arabelle mengaku dia telah menyuruh Julio dan menyuruh membakar pabriknya Razen. Terkejut dengan ucapan Arabelle, dia tidak mengatakan bahwa dia mendapat email ancaman tapi dia ingin langsung menanganinya sendiri . Dia yakin Rodeo hanya mengancamnya karena Rodeo bukan tipe orang yang berani melakukan hal-hal yang nekat. Selain itu Sean juga memiliki banyak bodyguard yang bisa melindungi dia kalau terjadi sesuatu. Besok harinya, Sean langsung mendatangi tempat yang ditulis oleh surat ancaman itu . sebuah gudang besar di pinggir kota, dia datang bersama dengan 5 pengawalnya, mereka masuk ke dalam gudang itu itu dan Sean terkejut ada puluhan orang di dalam sini Puluhan bodyguard yang menggunakan pakaian serba hitam dan mereka Semua terlihat handal untuk melakukan beladiri. Rodeo elalu datang dan bertepuk tangan menyambut Sean, tatapannya sinis dan tajam menusuk mata Sean. "Welcome, hebat sekali kamu berani datang ke sini. Dasar keluarga licik! " Ucap Rodeo kepada Sean. Rodeo sungguh tidak menyangka jika Sean akan benar-benar datang. Sean mengira jika Rodeo itu mungkin sudah agak gila karena Rodeo terlihat setengah tidak waras mengundang dia ke gudang besar ini bersama dengan puluhan pengawal. Sebenarnya Sean agak takut jika mereka semua menyerang Sean karena Sean sendiri hanya membawa 5 pengawal. Rodeo melangkah mendekati Sean. Dia tersenyum miring menatap Sean dari atas sampai bawah. "Apa kamu menganggap usaha aku melakukam monopoli? Kamu salah besar! Perusahaanmu yang tidak menggunakan otak jernih. Sebagai pimpinan harusnya kamu itu bisa mengambil setiap langkah Apapun yang terjadi. Kenapa kamu malah melakukan cara yang licik? Apa kamu tidak berpikir berapa nyawa pegawai pabrikku yang telah melayang? Aku tidak minta banyak aku hanya meminta pertanggungjawaban mu atau nyawamu yang menjadi taruhannya. " Rodeo mengucapkan dengan tatapan tajam, dia tidak main-main dengan ucapannya. "Kamu salah orang, yang melakukan ini adalah nyonya Arabelle, tanteku sendiri. Bukan aku, bukan salahku, Kenapa kamu yang memanggil aku? " Sean mengucapkan dengan tatapan tajamnya, tak mau kalah dengan Rodeo. Menurut Sean apa yang dia lakukan itu itu sudah benar, sebenarnya Sean tidak melakukan apa-apa, ini semua perbuatan Arabelle dan dia harus menanggungnya. "Aku tahu kamu adalah keluarga besar nyonya Arablle jadi sudah sepantasnya kamu juga ikut bertanggungjawab. " Rodeo lalu berbalik dia mengedipkan matanya kepada salah satu pengawal dan mereka langsung menyerbu Sean.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD