Lukas Weber duduk mematung di depan deretan monitor yang memancarkan cahaya biru neon yang dingin ke wajahnya yang pucat. Apartemen pribadinya terasa seperti bunker bawah tanah yang terisolasi dari dunia luar, sunyi dan mencekam, hanya diinterupsi oleh dengung halus kipas pendingin dari perangkat keras berkapasitas tinggi miliknya. Jam dinding digital menunjukkan pukul dua dini hari, namun bagi Lukas, waktu seolah telah kehilangan maknanya. Kata-kata Sebastian Koch dalam panggilan telepon sebelumnya masih terngiang-ngiang di kepalanya, berputar seperti pusaran air yang siap menelan kewarasannya. Ancaman itu nyata, tajam, dan tidak menyisakan ruang untuk bernapas. Sebastian sudah mulai mencium bau pengkhianatan, dan pria itu tidak pernah memberikan peringatan kedua tanpa konsekuensi berdara

