Cahaya lampu neon di koridor lantai teratas gedung Meyer Tech memantul pada lantai marmer yang dipoles sempurna, menciptakan atmosfer yang dingin dan steril. Hannah Meyer berdiri di depan jendela besar kantornya, menatap lurus ke arah cakrawala Frankfurt yang mulai dibasahi rintik hujan sisa badai semalam. Di tangannya, sebuah cangkir porselen berisi teh herbal yang sudah mendingin tidak lagi ia hiraukan. Pikirannya tertuju pada satu nama yang terus mengusik ketenangannya sejak fajar tadi: Lukas Weber. Ada sesuatu yang tidak beres, sebuah anomali yang tidak bisa dijelaskan oleh logika bisnis manapun yang pernah ia pelajari di sekolah manajemen terbaik Eropa. Ketegangan di ruangan itu terasa begitu padat, seolah udara telah berubah menjadi gel yang menghambat setiap gerakannya. Hannah bisa

