PERBURUAN YANG TAK TERLIHAT

1376 Words
Keheningan di lantai empat puluh dua Meyer Tech pada pukul delapan malam memiliki beratnya sendiri. Lampu-lampu sensor di koridor meredup, menyisakan pencahayaan aksen biru kehijauan yang memantul di permukaan dinding kaca, memberikan kesan seolah seluruh kantor ini berada di bawah air. Di mejanya, Lukas Weber menarik napas dalam-dalam, membiarkan oksigen mendinginkan paru-parunya yang terasa sesak oleh antisipasi. Hannah Meyer baru saja meninggalkan ruangannya lima menit yang lalu untuk menghadiri jamuan makan malam mendadak dengan konsorsium perbankan di Main Tower Restaurant. Lukas tahu ia memiliki jendela waktu sekitar sembilan puluh menit sebelum protokol pembersihan malam dimulai oleh tim Marcus Voss. Ini bukan tentang kode digital kali ini. Ini tentang geografi kekuasaan. Lukas berdiri, memastikan jasnya terkancing rapi. Ia berjalan menuju ujung koridor timur, tempat pintu baja tahan karat tanpa pegangan berdiri tegak. Itu adalah pintu menuju Pusat Saraf Meyer Tech—ruang server kunci yang menyimpan jalur fisik Neural-Core. Secara resmi, asisten CEO tidak memiliki urusan di sana. Namun, Lukas telah menyiapkan naskahnya. Ia memegang tablet kerjanya, menampilkan memo internal palsu tentang "Audit Inventaris Perangkat Keras Darurat". Jika ia tertangkap, ia akan berperan sebagai asisten yang terlalu bersemangat menjalankan perintah lisan dari Hannah yang sebenarnya tidak pernah ada. Langkah kakinya nyaris tak terdengar di atas karpet tebal. Ia berhenti di depan pembaca kartu biometrik. Lukas tidak mencoba membobolnya sekarang; itu terlalu berisiko. Ia hanya berdiri di sana, mengaktifkan kamera makro di ponselnya yang tersembunyi di balik lengan baju. Ia memotret jenis model sensor dan celah kecil di antara bingkai pintu dengan sudut pandang forensik. Model K-900. Enkripsi gelombang pendek. Ada sensor panas di bagian atas. Lukas mencatatnya dalam memori fotografisnya. Ia bergerak sedikit ke samping, berpura-pura sedang memeriksa koneksi kabel di dinding luar. Matanya menyapu langit-langit, mencari titik buta kamera CCTV. Ada satu sudut di dekat ventilasi udara yang memiliki jeda rotasi selama tiga detik setiap dua menit. Tiga detik. Itu waktu yang cukup untuk memasang transmiter pasif, pikirnya. "Anda masih di sini, Herr Weber?" Suara itu tidak datang dari interkom. Itu datang dari arah lift. Lukas tidak tersentak. Ia memutar tubuhnya perlahan, ekspresinya berubah menjadi keterkejutan yang sopan. Hannah Meyer berdiri di sana, masih mengenakan gaun koktail hitamnya yang elegan, namun ia memegang sepatu hak tingginya di satu tangan. Ia tampak... berbeda. Tidak ada aura penguasa yang biasanya ia kenakan seperti baju zirah. "Frau Meyer? Saya pikir Anda sedang berada di jamuan makan malam," ujar Lukas, segera melangkah menjauh dari pintu server dengan gestur yang santai. Hannah menghela napas, berjalan mendekat dengan kaki telanjang di atas karpet. "Makan malam itu membosankan. Isinya hanya pria-pria tua yang mencoba menjelaskan cara kerja perusahaan saya kepada saya sendiri. Saya memilih untuk pergi lebih awal." Ia berhenti tepat di depan Lukas. Di bawah pencahayaan koridor yang redup, wajah Hannah tampak lebih lembut. Ada sedikit rona merah di pipinya—mungkin karena segelas Riesling atau sekadar rasa frustrasi. "Apa yang Anda lakukan di depan pintu Ruang Server Saraf, Lukas?" matanya menyipit, namun tidak ada nada interogasi yang tajam di sana. Lebih seperti rasa ingin tahu yang malas. "Saya... saya sedang memeriksa keluhan dari divisi administrasi tentang panas berlebih di koridor ini, Frau Meyer," Lukas berbohong dengan lancar, menunjukkan tabletnya yang menampilkan grafik suhu gedung yang ia ambil dari sistem fasilitas. "Saya ingin memastikan tidak ada risiko pada infrastruktur sebelum saya pulang. Saya tidak ingin Anda terganggu oleh masalah teknis kecil besok pagi." Hannah menatap tablet itu, lalu menatap mata Lukas. Jarak mereka sangat dekat—cukup dekat bagi Lukas untuk mencium aroma samar anggur putih dan melati yang menguar dari kulit Hannah. Untuk sesaat, kebohongan di lidah Lukas terasa pahit. "Anda benar-benar tidak bisa berhenti bekerja, ya?" Hannah tersenyum tipis. Itu bukan senyum formal yang biasa ia berikan di depan kamera. Itu adalah senyum lelah, jujur, dan sedikit mengejek. "Asisten sebelumnya akan langsung lari begitu saya keluar dari pintu lift." "Mungkin karena mereka melihat pekerjaan ini sebagai beban, Frau Meyer. Bagi saya, ini adalah tanggung jawab untuk menjaga apa yang telah Anda bangun." Hannah terdiam. Ia menyandarkan bahunya di dinding, tepat di samping pintu server yang tadi ingin Lukas susupi. Keheningan di antara mereka kali ini tidak terasa dingin. Ada ketegangan lain yang merayap di udara—sesuatu yang tidak ada dalam manual spionase Sebastian Koch. "Ayah saya selalu bilang bahwa orang yang paling berbahaya adalah orang yang paling setia," gumam Hannah, suaranya hampir menyerupai bisikan. "Karena mereka tahu di mana semua mayat dikuburkan." "Saya hanya asisten Anda, Frau Meyer. Saya tidak tertarik pada mayat. Saya hanya tertarik pada masa depan Meyer Tech," sahut Lukas, mencoba menjaga suaranya tetap stabil meskipun jantungnya berdentum keras terhadap tulang rusuknya. Hannah menatap Lukas cukup lama, seolah sedang mencoba membaca kode sumber di balik wajah pria itu. "Bantu saya ke ruangan saya, Lukas. Kaki saya sakit, dan saya tidak ingin terlihat seperti ini oleh penjaga keamanan di lobi jika saya harus kembali mengambil kunci apartemen saya yang tertinggal." Lukas mengangguk dan dengan sopan menawarkan lengannya. Hannah ragu sejenak, lalu meletakkan tangannya di atas lengan jas Lukas. Sentuhan itu ringan, namun Lukas merasakannya seperti sengatan listrik. Mereka berjalan kembali menuju ruang CEO dalam keheningan yang intim. Di dalam ruangan Hannah yang luas, cahaya lampu kota Frankfurt masuk melalui jendela besar, menyiram ruangan dengan warna perak. Hannah duduk di sofa kulitnya, membiarkan kakinya selonjoran. Lukas berdiri di dekat meja, merasa seperti penyusup di ruang suci. "Tuangkan saya air, Lukas. Tanpa es," perintah Hannah, namun nadanya lebih seperti permintaan. Lukas melakukannya. Saat ia memberikan gelas itu, jari mereka bersentuhan lagi. Hannah tidak segera menarik tangannya. "Kenapa Anda mau bekerja untuk saya, Lukas? Dengan kualifikasi Anda, Anda bisa menjadi manajer di mana saja," tanya Hannah tiba-tiba, matanya menatap Lukas dengan intensitas yang melucuti senjata. Lukas menelan ludah. Ini adalah momen untuk memperkuat penyamarannya. "Saya ingin belajar dari yang terbaik, Frau Meyer. Dan di Frankfurt, tidak ada yang lebih baik dari Anda. Anda memimpin dengan presisi yang tidak dimiliki orang lain." Hannah tertawa kecil, suara yang terdengar sedikit getir. "Presisi. Itu kata yang bagus untuk menyebut 'ketakutan akan kegagalan'. Semua orang di sini menganggap saya robot. Kadang, saya pun mulai mempercayainya." Lukas merasa ada sesuatu yang bergeser dalam dirinya. Ia seharusnya mencatat ini sebagai kelemahan psikologis target. Ia seharusnya memikirkan cara mengeksploitasi rasa kesepian Hannah. Namun, yang ia rasakan justru dorongan impulsif untuk menghibur wanita itu. "Anda bukan robot, Frau Meyer. Robot tidak akan meninggalkan jamuan makan malam penting hanya karena mereka merasa bosan dengan pembicaraan pria tua. Robot akan tetap di sana dan menghitung data." Hannah menatap Lukas, dan untuk pertama kalinya, ada kilatan kehangatan di matanya. "Mungkin Anda benar. Pulanglah, Lukas. Ini sudah terlalu malam untuk siapa pun, bahkan untuk pengrajin yang setia seperti Anda." "Baik, Frau Meyer. Selamat malam." Lukas keluar dari ruangan itu dengan langkah yang terasa lebih berat. Begitu sampai di koridor yang sepi, ia bersandar di dinding dan memejamkan mata. Perburuan yang ia rencanakan malam ini gagal secara teknis—ia tidak sempat memasang perangkat apa pun—namun ia mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga sekaligus berbahaya: kepercayaan Hannah Meyer. Ia berjalan menuju lift, namun langkahnya terhenti saat ia melihat Marcus Voss berdiri di ujung lorong, memperhatikan dengan tangan bersedekap. Kepala keamanan itu tidak mengatakan apa-apa, tapi matanya mengikuti setiap gerak-gerik Lukas. Lukas memberikan anggukan profesional dan masuk ke dalam lift. Saat pintu tertutup, ia segera mengeluarkan ponselnya. Ada tiga pesan dari Sebastian Koch yang menanyakan progres akses server fisik. Lukas mengetik dengan jari yang sedikit gemetar: "Akses fisik tertunda. Protokol pertemuan CEO tidak terduga. Namun, target mulai menunjukkan kerentanan emosional. Saya sedang membangun jalur kepercayaan. Jangan menginterupsi." Ia menghapus pesan itu setelah terkirim. Lukas menatap pantulan dirinya di dinding lift yang mengkilap. Ia melihat seorang pria yang sedang berburu di dalam kegelapan, namun ia mulai menyadari bahwa dalam perburuan ini, dialah yang mungkin sedang digiring menuju jebakan yang paling mematikan. Bukan jebakan keamanan biometrik, bukan pula jebakan Marcus Voss. Melainkan jebakan perasaan yang mulai tumbuh di tengah kebohongan yang ia susun dengan begitu rapi. Di bawah sana, Frankfurt masih sibuk dengan cahayanya. Lukas melangkah keluar ke udara malam yang dingin, merasa bahwa mulai malam ini, perburuan ini bukan lagi sekadar misi bisnis. Ini adalah permainan hati yang taruhannya adalah segalanya. Dan Lukas Weber baru saja menyadari bahwa ia tidak siap untuk kalah, namun ia juga tidak yakin apakah ia sanggup untuk menang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD