HANTU DALAM MESIN

1352 Words
Dini hari di Frankfurt adalah simfoni mesin yang dingin. Dari jendela apartemennya di Bornheim, Lukas Weber bisa melihat menara-menara bank yang membelah kabut seperti pedang perak. Di dalam ruangan yang hanya diterangi oleh pendar biru dari tiga monitor saku, Lukas tidak lagi menjadi asisten asisten yang santun. Ia adalah pemangsa digital. Di layar tengah, barisan kode hijau mengalir deras, memindai arsitektur firewall Meyer Tech yang ia sebut "Tembok Berlin Digital". "Masuklah, Lukas. Jangan hanya mengetuk pintunya," bisik Lukas pada dirinya sendiri. Suaranya serak karena kurang tidur dan terlalu banyak kafein. Jemarinya bergerak di atas papan ketik mekanik dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Ia sedang melakukan passive sniffing—metode penyadapan data tanpa mengirimkan paket mencurigakan yang bisa memicu alarm AI milik Marcus Voss. Lukas memanfaatkan celah yang ia temukan di Bab 3: protokol komunikasi analog pada sistem pengaturan suhu ruangan (HVAC) lantai empat puluh dua. Sistem HVAC itu seperti pintu belakang yang tua pada sebuah kastil modern. Protokolnya belum diperbarui sejak sepuluh tahun lalu karena dianggap tidak memiliki data sensitif. Namun, bagi Lukas, sistem itu adalah jembatan. Jika ia bisa menguasai kontrol suhu, ia bisa masuk ke dalam jaringan lokal (LAN) yang terhubung dengan printer di ruang kerja Hannah. Dan dari printer itu, ia bisa melompat ke server dokumen. Tiba-tiba, sebuah jendela komunikasi muncul di monitor paling kiri. Enkripsinya berlapis, namun Lukas mengenali tanda digitalnya. Sebastian Koch. Sebastian: "Kau terlalu lambat, Lukas. Aku melihat aktivitasmu di jaringan HVAC. Itu remeh. Aku butuh struktur Neural-Core, bukan suhu ruangan Hannah Meyer." Lukas mendengus, jemarinya membalas dengan ketukan keras. Lukas: "Jika aku langsung menyerang inti, Voss akan mengendusku dalam tiga detik. Aku sedang membangun jalur yang tidak terlihat. Neural-Core dilindungi oleh enkripsi kuantum. Aku butuh 'Hantu' di dalam mesin mereka sebelum aku bisa menarik datanya." Sebastian: "Dua hari. Jika dalam dua hari kau tidak memberikan hasil konkret, aku akan mengaktifkan 'Rencana B'. Dan kau tahu itu artinya pengalihan perhatian yang berdarah di Frankfurt." Pesan itu menghilang, menghapus jejaknya sendiri. Lukas bersandar di kursinya, memijat pangkal hidungnya. Ancaman Sebastian bukan gertakan. Pria itu tidak peduli pada nyawa manusia jika itu berarti mendapatkan apa yang ia inginkan. Lukas kembali fokus ke layarnya. Ia mulai menyuntikkan sebuah trojan tingkat lanjut yang ia beri nama Gespenst—Hantu. Program ini dirancang untuk bersembunyi di dalam firmware perangkat keras, bukan di sistem operasi. Ia akan diam, mengamati, dan merekam setiap ketukan kunci yang dilakukan Hannah Meyer tanpa pernah terdeteksi oleh antivirus konvensional. Di Meyer Tech, beberapa jam kemudian, Lukas kembali mengenakan topengnya. Ia berdiri di depan mesin kopi otomatis, menunggu espresso ganda untuk Hannah. "Anda tampak pucat pagi ini, Herr Weber," suara Marcus Voss terdengar dari belakang. Kepala keamanan itu selalu muncul tanpa suara, seperti pemangsa yang mengintai di padang rumput. Lukas berbalik, memaksakan senyum lelah yang tampak alami. "Kurang tidur, Herr Voss. Laporan triwulan Frau Meyer menuntut ketelitian yang luar biasa. Saya tidak ingin mengecewakannya." Marcus menyipitkan mata, memperhatikan tangan Lukas yang memegang cangkir. "Dedikasi adalah hal yang baik. Tapi di gedung ini, orang yang terlalu berdedikasi sering kali memiliki motif yang menarik untuk dipelajari." "Motif saya sederhana: mempertahankan pekerjaan terbaik yang pernah saya miliki," sahut Lukas tenang. Ia berjalan melewati Marcus, membawa kopi itu ke ruangan Hannah. Di dalam, Hannah sedang menatap layar monitornya dengan kening berkerut. Suasana hatinya tampak seburuk cuaca Frankfurt hari ini. "Letakkan di sana, Lukas. Dan panggilkan kepala divisi IT sekarang juga," perintah Hannah tanpa menoleh. "Ada penurunan kecepatan transmisi di jalur internal. Aku benci keterlambatan." Lukas merasakan jantungnya berhenti berdetak sejenak. Penurunan kecepatan transmisi. Itu adalah efek samping dari Gespenst yang baru saja mulai mereplikasi diri di jaringan lokal. Ia tidak menyangka AI Meyer Tech atau Hannah sendiri akan menyadarinya secepat ini. "Segera, Frau Meyer. Apakah Anda ingin saya melakukan pengecekan awal pada log aktivitas asisten saya?" tanya Lukas, mencoba melakukan teknik gaslighting korporat. "Mungkin ada pembaruan sistem otomatis yang berjalan di latar belakang." Hannah mendongak, matanya yang tajam menatap Lukas seolah sedang memindai kejujurannya. "Periksa saja. Dan pastikan jalur pribadiku tetap bersih. Aku tidak suka merasa ada mata lain di dalam layar ini." Lukas membungkuk dan segera keluar. Ia kembali ke mejanya, hatinya berpacu. Ia harus segera menyamarkan jejak Gespenst. Dengan cepat, ia masuk ke terminal asistennya dan menyuntikkan kode tambahan untuk menyeimbangkan beban trafik data. Ia membuat seolah-olah penurunan kecepatan itu disebabkan oleh back-up rutin server arsip di Lantai 30. Selama dua jam berikutnya, Lukas bekerja dalam ketegangan yang memuakkan. Ia harus berpura-pura sibuk dengan jadwal Hannah sementara di balik layar, ia sedang bertarung melawan sistem pertahanan otomatis perusahaan tempat ia bekerja. Saat waktu makan siang tiba, Hannah keluar dari ruangannya. Ia berhenti di depan meja Lukas, mengenakan mantel wol panjangnya. "Lukas, ikut saya. Saya butuh udara segar dan saya butuh seseorang yang tidak akan membicarakan angka selama tiga puluh menit." Lukas tertegun. "Ke mana, Frau Meyer?" "Ke tepi sungai Main. Saya butuh melihat sesuatu yang bergerak lebih lambat daripada bit data." Mereka berjalan keluar gedung, melewati Marcus Voss yang menatap mereka dengan tatapan tidak suka. Di luar, angin musim gugur yang tajam menusuk dari arah sungai. Mereka berjalan dalam diam menyusuri Museumsufer. Frankfurt tampak megah namun dingin, deretan gedung pencakar langitnya mencerminkan kekuasaan yang kaku. "Apakah Anda pernah merasa bahwa dunia ini bergerak terlalu cepat, Lukas?" tanya Hannah tiba-tiba. Ia berhenti dan bersandar di pagar besi jembatan, menatap arus air yang keruh. "Setiap hari, Frau Meyer," jawab Lukas jujur. "Di dunia kita, jika Anda berkedip, Anda kehilangan jutaan Euro. Atau lebih buruk, Anda kehilangan kendali." Hannah tertawa kecil, suara yang terdengar hampa. "Kendali. Itu adalah ilusi terbesar yang kita jual pada diri kita sendiri. Saya memiliki perusahaan teknologi terbesar di Jerman, tapi saya bahkan tidak bisa mengontrol sistem internal saya sendiri pagi ini tanpa merasa terganggu." Lukas merasakan beban pengkhianatannya semakin berat. Di sini, di samping wanita yang sedang menunjukkan sisi manusiawinya, ia adalah hantu yang sedang menghisap kehidupan dari perusahaan wanita itu. "Mungkin masalahnya bukan pada sistemnya, Frau Meyer. Tapi pada ekspektasi kita terhadap kesempurnaan," kata Lukas lembut. Hannah menoleh, menatap Lukas dengan tatapan yang sulit diartikan. Rambutnya sedikit berantakan karena angin, membuatnya tampak jauh lebih muda dan rapuh. "Anda selalu punya jawaban yang tepat, bukan? Sebastian Koch pernah bilang padaku bahwa asisten yang sempurna adalah asisten yang paling berbahaya." Lukas membeku. Nama Sebastian Koch keluar dari mulut Hannah seperti peluru yang tepat sasaran. "Anda... mengenal Herr Koch?" "Dia dulu mitra ayah saya. Sebelum dia mencoba menghancurkan kami dari dalam," Hannah memalingkan wajah kembali ke sungai. "Dia pria yang penuh dendam. Saya melihat bayangannya di setiap gangguan kecil yang terjadi di kantor saya. Itulah sebabnya saya begitu paranoid." Lukas menelan ludah. Ia baru saja menyadari bahwa Hannah Meyer bukan sekadar target yang tidak tahu apa-apa. Ia sadar ia sedang diburu, dan ia sedang mencari pemburunya. "Saya harap Anda tidak melihat bayangannya pada saya, Frau Meyer," ujar Lukas dengan suara yang sedikit bergetar, separuh berharap Hannah akan memecatnya saat itu juga dan mengakhiri kegilaan ini. Hannah menatap Lukas lagi, kali ini dengan senyum tipis yang tulus. "Tidak, Lukas. Anehnya, saat bersama Anda, saya merasa... aman. Mungkin itu sebabnya saya mengajak Anda ke sini. Anda adalah satu-satunya hal di Meyer Tech yang tidak terasa seperti mesin." Kalimat itu menghujam jantung Lukas lebih dalam daripada ancaman apa pun dari Sebastian. Ia adalah hantu di dalam mesin Hannah, namun bagi Hannah, dialah satu-satunya hal yang nyata. Saat mereka kembali ke gedung, Lukas menerima peringatan di ponselnya. Gespenst telah berhasil menembus lapisan pertama Vault data. Ia kini memiliki akses ke jadwal pengujian Neural-Core. Kemenangan spionase yang luar biasa. Namun, saat Lukas duduk kembali di mejanya dan menatap pintu kantor Hannah, ia tidak merasakan kemenangan. Ia merasakan kehampaan. Ia telah berhasil memasukkan hantu ke dalam mesin Meyer Tech, namun hantu itu kini mulai menghantui nuraninya sendiri. Ia membuka laporan enkripsi yang baru saja ia curi. Data itu berharga jutaan Euro. Tapi saat ia melirik ke arah Hannah yang kembali bekerja dengan tekun, Lukas menyadari bahwa harga yang harus ia bayar jauh lebih mahal: ia mulai kehilangan dirinya sendiri dalam penipuan yang ia ciptakan. Hantu itu kini bukan lagi sekadar kode di jaringan. Hantu itu adalah Lukas Weber, pria yang mencintai wanita yang seharusnya ia hancurkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD