Aku melepaskan tanganku dari lengan Mino. Kami sudah meninggalkan ruangan Mister Han cukup jauh. Namun Mino kembali menahan lenganku, menyadari arah kami bukan menuju kelas. “Kau mau kemana? Jalan menuju kelas kita lewat lorong sana,” jelas Mino sambil melirik lorong dengan arah berlawanan dari tempat kami berdiri.
“Aku ingin menyegarkan pikiranku,” kataku pada Mino. Anak laki-laki itu mengangkat alisnya.
“Kemana?” tanyanya polos.
“Kau kembalilah ke kelas, jangan menempeliku hari ini,” perintahku sambil tersenyum mengejek padanya. Jika kuingat-ingat, Mino selalu ada bersamaku semenjak aku bersekolah di sini dan aku hanya punya Mino. Aku melepaskan tangan Mino lalu berjalan melewatinya. Mino tidak menuruti perintahku. Ia berlari pelan menyusulku sambil membenarkan posisi tasnya. Kini ia sudah berjalan beriringan di sampingku.
“Orang bilang warna langit menunjukkan suasana hati seseorang, tapi sebenarnya aku sangat tidak suka dengan kalimat itu,” ungkap Mino sambil mendongak menatap langit yang menunjukkan warna abu-abu. Pertanda akan turun hujan. Tapi tidak ada yang tahu kapan hujan akan turun. Bisa saja matahari nan jauh di balik awan hitam itu sedang berjuang untuk menampakkan dirinya kembali.
Kami melewatkan seluruh pelajaran hari itu. Mino mengajakku ke sebuah stadion yang letaknya tidak jauh dari sekolah. Kami duduk di salah satu bangku paling atas. Aku mengamati seisi stadion. Ada yang berlari mengelilingi lapangan trek, ada yang push-up di tempat, di lain tempat ada pula yang memanfaatkan peralatan gym yang dipasang permanen di sudut stadion dan lainnya. Anak-anak, lansia, paruh baya, mereka yang berolahraga sendiri, berdua dengan pasangan, keluarga kecil, aku bisa menyaksikannya dari atas sini. Aku tidak mengerti kenapa mereka masih bersemangat berolahraga padahal langit seperti akan menumpahkan air matanya.
Angin berhembus. Stadion yang kami datangi terbuka tanpa atap, sehingga aku bisa merasakan hembusan angin yang cukup kencang mengingat cuaca yang tidak bersahabat.
Aku meluruskan kaki, “menurut kau apa yang akan terjadi pada kita? Aku tidak mungkin dikeluarkan dari sekolah kan?” tanyaku sambil bercanda.
“Entahlah, meskipun kau dikeluarkan, aku rasa kita justru akan lebih sering bertemu,” jawabnya.
Aku menoleh sambil membenarkan rambutku yang menutupi sebagian wajah. “Kenapa?”
Mino ikut menoleh. Mengamati rambutku yang sudah agak berantakan karna angin yang berhembus. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Sebenarnya aku berharap hari ini akan turun hujan, karena setelahnya kita akan bisa melihat pelangi. Aku harap kau juga bisa seperti itu. Menangislah walaupun hanya sebentar, kau boleh menyalahkan diri sendiri atas apa yang menimpa Geofani, tapi yakinlah setelahnya kita pasti akan melihat sesuatu yang indah seperti pelangi.”
Aku terpaku setelah Mino menyelesaikan kalimatnya. Aku ingin waktu berhenti barang sebentar saja. Menatap anak laki-laki yang sudah tidak lagi berkacamata di hadapanku ini dalam waktu yang cukup lama. Dia adalah orang pertama yang membuatku merasakan perasaan aneh yang kini kurasakan. Aku merasa Mino lebih mengenalku melebihi diriku sendiri. Apakah karena aku terlalu sibuk memperhatikan orang lain? Atau sibuk mengurusi keadaan yang sebenarnya tidak ada hubungannya denganku? Aku tidak yakin dengan apa yang kulakukan saat ini.
Mino menepuk pundakku, membuyarkan lamunanku. “Hei.”
Aku tersadar. Waktu kembali berjalan. “Siapa bilang aku ingin menangis, aku bukan anak cengeng seperti yang kau pikirkan,” kataku sembarang sambil mengalihkan pandanganku darinya.
Sejujurnya sampai saat ini aku masih tidak menyangka Mino adalah orang yang selalu ada bersamaku. Menemani di setiap langkah yang akan kuambil. Siapa sangka, anak laki-laki yang dulunya berkacamata orange terang, dari kasta tiga, potongan wajah yang tajam dan lugas ini mempunyai hati yang selembut ini. Dan aku tidak habis pikir mengapa tidak ada yang mau berteman dengannya.
Mino menyikut sikuku, “kau bermenung lagi rupanya,” katanya. “Jangan terlalu dipikirkan, bukankah kau bilang ingin menyegarkan pikiran, tapi lihatlah apa yang kau lakukan.”
Aku tersenyum simpul. Bukannya aku banyak pikiran, aku hanya merasa bersyukur ada orang di sampingku saat ini. Dikala susah ataupun senang. Meskipun sejauh ini belum ada sesuatu yang menyenangkan terjadi pada kami.
Mino bangkit. Aku mendongak menatapnya. Dengan cepat, aku mengangkat tangan menutupi mataku yang silau karena cahaya matahari yang mulai tampak. Akhirnya matahari berhasil melawan awan hitam yang menyelimutinya pagi ini.
Mino meletakkan tasnya di bangku. “Ayo!” ajaknya. Ia bersemangat. Ia bahkan ikut menurunkan tasku.
Aku masih termangu di tempat duduk. Ia menarik lenganku. Lalu mendorong bahuku, memaksaku berjalan lebih dulu. Kami berjalan menuruni anak tangga. Mino sesekali mengingatkan langkahku untuk berhati-hati pada lantai bertingkat stadion.
“Apa yang akan kita lakukan?” tanyaku heran berusaha mengentikan Mino yang masih mendorongku dari belakang.
“Kau bilang ingin menyegarkan pikiran kan? Akan kutunjukkan,” balasnya.
Kami tiba di lapangan trek di bawah. Tangan Mino yang semula berada di pundakku, kini sudah berada di lenganku, lalu tangan Mino menggenggam tanganku yang mungil.
“Jangan bilang kita akan berlari,” tebakku kembali mencoba melepaskan tangan Mino. Tapi usahaku sia-sia, genggamannya begitu kuat.
“Ini cara menyegarkan pikiran terbaik,” ucapnya mulai mengambil langkah pertama.
Mau tidak mau, kakiku harus ikut berlari melawan keinginan hatiku. Kami baru mengelilingi lapangan satu kali, tetapi aku serasa sudah kehabisan nafas.
“Aku sudah lelah,” ucapku terbata-bata berusaha mengatur nafasku. Mino yang memimpin di depanku masih terlihat baik-baik saja. Sangat berbeda dengan kondisiku.
Ia melepaskan tanganku. Lalu berlari mengitariku yang sudah terduduk. Sudah lama aku tidak olahraga, rasanya aku ingin menceburkan diri ke dalam kolam renang untuk melepaskan rasa lelah yang kurasakan saat itu.
“A-ku- su-da,” ucapanku tidak jelas.
“Apa? Kau bilang apa?” Mino mengejekku pura-pura tidak dengar. Ia masih berlari mengelilingku, skali-skali ia melompat melakukan peregangan.
Aku yang sudah tidak kuat, menghempaskan badanku ke hamparan rumput hijau lapangan. Aku memejamkan mata, mengatur nafas perlahan. Ketika aku menoleh membuka mata, Mino sudah ikut berbaring di sampingku. Ia tengah memejamkan matanya sambil mengatur pernafasannya.
Aku menatap langit yang masih berwarna abu-abu. Aku teringat ungkapan Mino tadi pagi. Kalimat yang paling tidak disukainya tentang warna langit yang menunjukkan suasana hati seseorang. Kini aku menyadari mengapa orang-orang menyamakan perasaan dengan warna langit. Meskipun bisa diramal, tapi tidak ada yang tahu pasti perubahan apa yang sebenarnya akan terjadi, apakah akan turun hujan ataukah cerah seperti cuaca siang itu.
Aku kembali menoleh manatap Mino yang menatap langit.
“Kenapa kau melihatku seperti itu? membuatku tidak nyaman,” celetuknya menyadariku yang sedang memperhatikan setiap sudut wajahnya dari dekat.
Aku terkejut ketika ia menoleh tiba-tiba membalas tatapan mataku.
“Kenapa? Aku sangat tampan, ya?” katanya sangat percaya diri.
Aku mendesis pelan. Aku sudah terlalu sering mendengar kalimat itu, selain aku memang sering mengejek wajah tampannya.
“Kau terlalu percaya diri, jangan begitu, kau bisa sakit,” balasku sambil tertawa pelan.
Mino ikut tertawa. “Kau terlihat kusut,” ejek Mino.
Aku tidak menggubris Mino lebih lanjut, hanya bisa tertawa. Akupun sadar kalau penampilanku saat ini pastilah sangat berantakan. Kami hanya bisa tertawa ketika mata kami bertemu.
****