ANCAMAN

1234 Words
Bagian atas amplop robek. Baberapa kertas berserakan di lantai. Aku dengan cepat mengambil yang di lantai, lalu mengeluarkan ponsel dari saku. Aku mengambil gambar semua halaman dari soal itu. Tidak ada waktu untuk melihat apalagi membaca satu per satu. Sebentar lagi seluruh sekolah akan ditutup dan dikunci sehingga tidak ada yang bisa masuk maupun keluar. Semua staff akan dipulangkan kecuali petugas keamanan yang akan berpatroli malam. Kami harus bergegas. Mino mengeluarkan amplop baru dari dalam tasnya. Entah kapan ia menyiapkan aplop yang sangat mirip dengan aslinya padahal waktu kami sangat singkat. Dia punya banyak bakat dan sangat cerdas. Aku tidak bertanya, segera memindahkan kertas ujian dengan hati-hati. Mino tidak membantuku. Ia sibuk mengawasi keadaan sekitar. Selesai. Aku kembali meletakkan berkas di rak bawah dan menutup lemari. Kami berjalan keluar ruangan. Tidak ada siapa-siapa di lorong. Dengan cepat kami meninggalkan gedung. Kami sudah berada di mobil di belakang sekolah dengan nafas yang sedikit tersengal karena berlari-lari. Aku mengeluarkan berkas yang kami beli dari Arin lalu mencocokannya dengan foto yang kuambil tadi. Jari-jariku menyusuri setiap nomor dan setiap halaman. Aku membagi dua berkas dan mengirim fotonya pada Mino. Aku melirik ke samping. Dia tidak kalah sibuknya dariku. Sekali lagi. Perasaan bersalah mengerumuni hati dan pikiranku. Benar saja. Kami menemukan kemiripan hampir seratus persen. Hanya beberapa soal yang sengaja dibuat berbeda untuk berdalih. Aku terpaksa melihat berkas ujian sebelum hari ujian. Tapi aku tak punya pilihan lain. Apapun yang terjadi nanti, aku akan menanggung semuanya nanti. Mino berhenti. “Kau yakin?” tanyanya. Mencoba untuk menghentikanku sekali lagi. “Kita sudah sejauh ini, sudah kepalang basah, sekalian mandi saja,” balasku tanpa menatap matanya. Tanganku masih sibuk menyusuri setiap lembar kertas. “Kau tahu aku akan selalu mendukungmu apapun yang kau lakukan, kan? Aku hanya berharap kau tidak menyesalinya nanti,” ungkapnya. Tanganku berhenti bekerja. Aku mengangkat kepala lalu menoleh ke arahnya. “Terima kasih, dan maafkan aku,” kataku pelan. “Untuk apa? kau tidak perlu minta maaf dan jangan berterima kasih padaku, aku melakukannya bukan untuk mendengar kata-kata itu,” larangnya. Aku menyerngitkan kening. Heran tidak mengerti. Mino mengangkat bahunya. Seperti tidak terjadi apa-apa, ia mengalihkan pandangannya dariku lalu melanjutkan mengambil gambar setiap lembar kertas yang menggantung di tangannya sedari tadi. Mino mengangkat sudut bibirnya. Tersenyum diam. Ia tahu betul apa yang kami lakukan saat itu. Wajah kami bisa saja terekam oleh kamera pengawas yang di pasang di seluruh sudut ruangan, tetapi ia tetap membantuku. “Kita berangkat sekarang,” kataku pada pemuda yang sedari tadi duduk di balik kemudi. Menjadi saksi nyata dari segala perbuatan dan percakapan kami. “Siap,” jawab Pandi. Ia menemani kami dari pagi. Membantu dan mendukung setiap langkah yang kami lakukan. Akupun mulai dekat dengannya. Pandi menjadi bagian penting bagiku. Terutama untuk mewujudkan tujuanku. Perjalanan pulang kami sangat sepi. Kami tidak bersuara. Pandi yang memahami suasana hening di antara kami menyalakan radio mobil untuk menghilangkan suasana canggung di dalam mobil. **** Aku berdiri mematung mengamati sebuah lukisan yang tergantung di samping pintu masuk ruangan Mister Han. Aku datang lebih awal, menunggu kedatangan ayahku. “Ibuku selalu membangga-banggakan ayah ketika kami masih di Kanada,” gumamku pelan, “aku bahkan mengidolakan ayahku meskipun kami tidak pernah bertemu secara langsung semenjak aku berumur dua tahun,” lanjutku. “Sebaiknya kau tidak bercita-cita menjadi seorang pelukis,” saran Mino seperti mengguruiku sambil terkekeh mengejek gambarku. Aku ikut terkekeh pelan, tidak menanggapi lebih lanjut. Kami bersandar pada dinding lorong. Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sebentar lagi bel akan berbunyi. Tapi belum ada pertanda dari Mister Han akan datang ke kantornya. “Kita kembali lagi nanti saja, kita akan melewatkan kelas pertama jika terus berada di sini,” kataku sambil bergerak menjauh dari dinding. Mino mengangguk. Setuju dengan pendapatku. Kami memutuskan untuk kembali ke kelas sambil berjalan beriringan. “Apa yang kalian lakukan di depan ruanganku sepagi ini?” Suara berat itu mengejutkan kami. Aku berbalik mengikuti arah suara yang berasal dari belakang. Ya, itu suara Mister Han yang datang melalui jalur yang berbeda dari kami. “Apa yang kalian lakukan di depan ruanganku sepagi ini?” Mister Han kembali bertanya. Ia sudah berdiri tepat di hadapan kami sambil tersenyum. Aku menatap Mino sepersekian detik. Menarik nafas. “Ada yang ingin kubicarakan.” Ayahku menghela nafas, lalu berlalu memasuki ruangannya. Kami ikut memasuki ruangan. Kami sudah duduk di sofa di tengah ruangan. Aku merasakan beberapa perbedaan setelah beberapa kali berada di ruangan ini. Sofa yang kududuki bukan lagi yang dulu pernah kududuki. Warnanya telah berganti dari warna abu-abu menjadi coklat muda. Begitu pula interior di samping meja kerja ayahku. Tanaman hiasnya bertambah menjadi dua. Tidak ada lagi televisi yang menempel di dinding, kini telah berganti mejadi sebuah lukisan abstrak. “Jadi apa yang akan kalian bicarakan?” ayahku mempersilahkan sambil membuka lembaran koran yang sudah berada di tangannya. Aku meletakkan amplop coklat berisi berkas-berkas yang sudah kami persiapkan kemarin. Ayahku berhenti membaca koran lalu meletakkannya di atas meja. Tangannya beralih mengambil amplop yang kuberikan. Kini ia melihat helai demi helai berkas yang kuberikan. Sesekali aku melirik wajah ayahku. Memastikan reaksi apa yang akan diberikan. Meskipun aku tahu ekspresi wajahnya sangatlah berbeda dengan tindakannya. Setelah ayahku membuka amplop dan melihat apa yang ada di dalamnya, aku mulai bersuara. “Aku ingin Geofani kembali ke sekolah,” pintaku tanpa basa-basi. “Kau mau bernegosiasi atau mengancam ayah?” tanyanya padaku. Wajah sendunya masih tampak tenang menatap ke arahku. Mister Han tampak sedang memikirkan sesuatu. Hening sejenak. “Aku tidak tahu kalau tikus yang mencuri kemarin sore akan berjalan dengan senang hati ke dalam perangkap yang sudah dipasang,” nada suaranya terdengar menyindir. Aku sudah menduga hal ini, karena kami tidak memakai masker ataupun topi yang bisa menyamarkan identitas kami ketika memasuki ruang guru kemarin. Mister Han sedikit menghempaskan berkas itu ke atas meja. Senyum manis di wajahnya berganti. Wajah sendunya terlihat iba menatap kami. Mister Han menyilangkan kaki, kedua tangannya bertumpu di atas lutut. “Kau tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya, untukmu danjuga……temanmu,” matanya beralih menatap Mino, “Apa ibumu tau apa yang kau lakukan sekarang? Aku takut dia akan kecewa.” Aku menoleh menatap Mino. Ia menggeleng mengisyaratkan jangan khawatir pada dirinya. “Aku lebih takut ibu akan lebih kecewa denganmu.” Balasku terdengar tak kalah iba, pelayanan masyarakat? Skor? atau dikeluarkan dari sekolah? Aku bisa menanggung semua itu, kita tidak pernah tahu bukan? Aku juga bisa melakukan apapun sesuka hatiku,” jawabku dengan tenang. Dengan susah payah aku mengendalikan nada suaraku agar tetap tenang tanpa meninggikan suara. Aku meraih lengan Mino lalu bangkit dari sofa. Kami berlalu meninggalkan ruangan. Mister Han tidak menahan kami, membiarkan kami berlalu begitu saja. Tanpa bantahan apalagi jawaban dari apa yang kuinginkan. “Turuti saja kemauan Jia, berikan mereka masing-masing lima puluh jam pelayanan masyarakat, umumkan gadis itu akan kembali ke sekolah,” perintah Mister Han pada Sekretaris Lin, tangannya terkepal. “Tapi Mister,” sela Sekretaris Lin. Ia tidak setuju dengan keputusan majikannya itu. Karena kembalinya Geofani ke sekolah akan menunjukkan bahwa sekolah telah menjatuhkan hukuman pada murid yang tidak bersalah. Hal ini tentu akan memperburuk citra sekolah. Mister Han mengangkat sebelah tangannya, menghentikan bantahan Sekretaris Lin. Keputusannya sudah bulat. Ia akan menuruti kemauanku hanya untuk sekali ini saja. Ayahku terpaksa menuruti keinginanku. Ia tak mau mengambil risiko untuk berhubungan dengan Departemen Pendidikan untuk kedua kalinya. Tidak ada yang bisa menjamin kalau aku tidak melaporkan semua yang kuketahui tentang sekolah ini. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD