Suasana di bar malam itu terasa penuh energi. Musik yang menggelegar dan keramaian pelanggan menciptakan atmosfer yang hidup dan semarak. Reina, yang biasanya merasa tertekan dan terbebani oleh tanggung jawab, kini merasakan ketegangan di udara yang membuatnya berdebar-debar. Dia tahu malam ini akan berbeda, terutama dengan kehadiran Kenzo, CEO yang angkuh namun menawan.
Ketika Reina sedang melayani meja, dia melihat Kenzo datang menghampirinya dengan senyuman yang menawan. “Reina,” sapanya dengan suara dalam yang memikat. “Bisakah kita bicara sebentar?”
Reina merasakan jantungnya berdegup kencang. “Tentu, Tuan Kenzo. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya, berusaha untuk tetap profesional meskipun hatinya bergetar.
“Aku ingin memesan beberapa minuman dan aku ingin kau menemani aku malam ini. Aku siap membayar dengan jumlah yang sangat tinggi,” ujarnya, menatap Reina dengan mata penuh harapan.
Reina terkejut mendengar tawaran itu. Dia tahu betapa mahalnya biaya minuman di bar ini, tetapi tawaran Kenzo terasa lebih dari sekadar uang. “Tapi… apakah itu tidak melanggar aturan?” tanyanya, meski hatinya ingin menerima tawaran itu.
Kenzo tersenyum, tampak yakin. “Siapa yang peduli tentang aturan? Ini adalah malam untuk bersenang-senang. Lagipula, aku butuh teman untuk berbagi cerita,” jawabnya, mengisyaratkan dengan nada menggoda.
Reina merasa terjebak antara rasa ingin tahunya dan rasa bersalah terhadap Arman. Namun, setelah beberapa detik berpikir, dia mengangguk. “Baiklah, saya akan menemani Anda,” ucapnya, berusaha untuk tidak menunjukkan rasa cemasnya.
Kenzo memesan berbagai jenis minuman, mulai dari koktail berwarna cerah hingga bir dingin. Setiap kali gelas terisi, suasana di antara mereka menjadi semakin hangat, dan Reina merasa semakin nyaman di samping Kenzo. Dia menyadari bahwa kenangan akan malam pertama mereka mulai berbaur dengan pengalaman baru ini.
“Jadi, Reina, apa impian terbesarmu?” tanya Kenzo, matanya menatapnya dalam-dalam. Dia tampak lebih santai dengan setiap tegukan minumannya.
Reina terdiam sejenak, merenungkan pertanyaannya. “Aku ingin lulus kuliah dan memiliki karir yang baik,” jawabnya, mencoba mengalihkan perhatian dari perasaannya yang mulai bergejolak.
“Aku percaya kamu bisa mencapainya. Kekuatan dan kerja keras akan membawamu ke tempat yang kau inginkan,” ucap Kenzo dengan keyakinan. “Tapi kadang-kadang, kita juga perlu menikmati hidup. Cobalah untuk bersenang-senang.”
Reina mengangguk, tetapi pikirannya kembali teringat pada Arman. Dia merasa bersalah karena sedang bersenang-senang dengan pria lain di saat pacarnya menunggunya. Namun, Kenzo terus mengajaknya untuk berbagi cerita, dan tanpa disadari, mereka semakin dekat.
“Bagaimana rasanya menjadi CEO?” tanya Reina, berusaha mengalihkan pikiran dari kebingungannya.
“Tekanan yang luar biasa. Semua orang mengharapkan yang terbaik dariku, dan kadang-kadang aku merasa kesepian,” Kenzo menjawab sambil menyeruput minumannya. “Tapi kau tahu, saat bersamamu, aku merasa lebih hidup.”
Kata-kata Kenzo membuat Reina merasakan getaran dalam hatinya. Dia menyadari bahwa dia tidak hanya tertarik pada tampilan fisik Kenzo, tetapi juga pada kepribadiannya yang dalam dan kompleks.
Saat malam semakin larut, jumlah minuman yang mereka konsumsi semakin banyak. Kenzo terlihat semakin terbawa suasana, dan Reina pun merasakan efek alkohol mulai mengalir dalam tubuhnya. Dia merasakan euforia yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Suasana di sekeliling mereka semakin intim. Kenzo mulai menyentuh tangan Reina saat berbicara, dan Reina merasakan jantungnya berdegup lebih kencang. Dalam keadaan mabuk, mereka tertawa bersama, bercerita tentang mimpi dan ketakutan mereka.
“Kadang aku merasa seperti tidak ada yang mengerti aku,” ucap Kenzo dengan nada yang lebih serius. “Kau tahu, semua orang hanya melihat sosok CEO yang kuat, tetapi di dalam hati, aku juga manusia biasa.”
Reina menatapnya, merasakan kepedihan di dalam kata-katanya. “Aku mengerti. Kadang-kadang, kita semua merasa kesepian, meskipun dikelilingi banyak orang,” jawabnya, berusaha memberikan dukungan.
Mereka semakin mendekat, dan tanpa disadari, Reina merasa kenyamanan itu menjadi sangat intim. Dia tidak tahu kapan batas antara teman dan sesuatu yang lebih mulai memudar.
Dalam momen yang penuh ketegangan itu, Kenzo menarik Reina ke dekatnya. “Kau tahu, aku sangat menyukai kehadiranmu. Ada sesuatu dalam dirimu yang membuatku merasa hidup,” katanya, suaranya kini lebih rendah dan menggoda.
Reina merasakan jantungnya berdebar hebat. Dia tahu bahwa mereka berdua sudah melewati batas. Dalam keadaan mabuk dan terjebak dalam momen itu, Kenzo mencondongkan wajahnya ke arah Reina, dan sebelum dia bisa berpikir lebih jauh, bibir mereka bersentuhan.
Ciuman itu awalnya lembut, tetapi semakin dalam dan penuh gairah seiring waktu berlalu. Kenzo menarik Reina ke dalam pelukannya, dan Reina membalas ciuman itu dengan rasa rindu yang tidak bisa dia ungkapkan. Semua keraguan, semua rasa bersalah tentang Arman seakan menghilang dalam sekejap.
Malam itu semakin gelap dan panas. Kenzo semakin tidak sabar, menuntut lebih dari sekadar ciuman. Dia merangkul Reina lebih erat, membawanya ke dalam dunia yang penuh gairah. Dalam keadaan mabuk dan terbawa suasana, mereka melanjutkan ciuman mereka, dan Reina merasa seperti terseret dalam arus yang tidak bisa dia kendalikan.
“Aku ingin lebih dari ini,” bisik Kenzo, suaranya dalam dan menggoda. Reina hanya bisa mengangguk, merasakan keinginan yang membara di dalam dirinya. Dia tidak tahu apakah ini benar atau salah, tetapi malam ini terasa terlalu baik untuk dilewatkan.
Reina dan Kenzo terjebak dalam momen yang penuh gairah. Kenzo mengangkat Reina ke dalam pelukannya, dan mereka bergerak ke arah ruang belakang bar yang sepi. Dalam momen penuh kebangkitan, Kenzo menurunkan Reina ke permukaan yang lembut, dan mereka melanjutkan momen panas itu.
Keduanya larut dalam penyatuan panas yang tak terelakkan. Pengaruh alkohol telah membuat Reina kehilangan akalnya.
Alkohol mengaburkan pikiran mereka, dan mereka kehilangan kendali sepenuhnya. Setiap gerakan, setiap sentuhan membuat Reina merasa terbang. Kenzo menggenggam tubuhnya dengan lembut, tetapi penuh kekuatan, dan Reina merasakan hasrat yang membara mengalir dalam dirinya.
Malam itu, mereka melakukan hal-hal yang belum pernah Reina bayangkan sebelumnya. Dalam ketidakberdayaannya, Reina merasakan dunia di sekitarnya menghilang, hanya ada mereka berdua dalam keintiman yang mendalam.
Meski awalnya perih ketika senjata pamungkas Kenzo menembus dinding yang masih begitu rapat dalam inti tubuhnya, namun lama-kelamaan rasanya berubah menjadi kenikmatan yang belum pernah Reina rasakan sebelumnya. Senjata tumpul Kenzo bekerja keras malam ini, menggempur sarang baru yang kini menjadi favoritnya. Kenzo tidak menyangka akan merasakan dara* perawan.
Dalam keadaan mabuk dan terbawa suasana, Reina menyadari bahwa dia kehilangan keperawanannya malam itu. Saat mereka terjebak dalam hubungan yang penuh gairah, dia tidak bisa lagi memikirkan Arman. Yang ada hanya Kenzo, dan momen ini, yang membuat segalanya terasa sangat berbeda.
Ketika mereka akhirnya mencapai pelepasan malam ini, keduanya terengah, mengingat betapa cepatnya mereka melangkah ke arah yang tidak terduga. Malam panas yang menjebak.