Pagi itu, Reina duduk di meja di dalam kelasnya, mencoba menyibukkan diri agar tidak teringat pada kejadian malam sebelumnya. Namun, bayangan tentang Kenzo dan semua yang terjadi antara mereka terus terlintas di pikirannya. Perasaan canggung dan campur aduk membuatnya gelisah. Di satu sisi, ia merasa bersalah pada Arman, pacarnya, namun di sisi lain, ada sebuah rasa yang aneh, rasa yang tak bisa ia abaikan sejak malam itu.
Saat Reina mencoba menenangkan diri, tiba-tiba seorang pria tampan muncul. Ketika ia mengangkat kepala, ia melihat Kenzo berdiri di ambang pintu dengan ekspresi tenang dan penuh keyakinan. Jantung Reina berdegup lebih cepat, dan ia merasa gugup dengan kehadiran pria itu di hadapannya.
"Kenzo?" Reina menyapanya pelan, mencoba mengendalikan nada suaranya.
Kenzo melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia berjalan mendekati meja Reina, lalu berhenti beberapa langkah darinya, menatapnya dengan sorot mata yang sulit ditebak.
"Reina, aku ingin bicara serius denganmu," kata Kenzo sambil menatapnya tajam. Nada bicaranya serius, jauh dari suasana santai seperti malam itu.
Reina mengangguk, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Ada apa, Pak Kenzo, datang ke kampus saya, dan dari mana Bapak tahu saya kuliah di sini?" tanyanya.
Kenzo menghela napas dan berkata dengan nada datar namun penuh tekanan, " Aku bisa tahu apapun tentangmu. Aku kesini hanya ingin menawarkan sesuatu padamu. Aku tahu ini akan terdengar mengejutkan, tapi dengarkan dulu apa yang akan aku katakan."
Reina hanya bisa mengangguk, sementara Kenzo melanjutkan dengan tatapan mantap.
"Aku ingin kau menjadi istriku," kata Kenzo, membuat Reina terbelalak.
Reina terdiam sejenak, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "M-maaf, Pak? Anda… Anda bercanda, kan? Saya punya pacar."
Kenzo menggeleng, tatapannya tak berubah. "Tidak, aku tidak bercanda, Reina. Aku serius. Aku membutuhkan seseorang untuk berpura-pura menjadi istriku selama beberapa waktu."
Reina bingung dan merasa sedikit tersinggung. "Tapi… kenapa saya? Apa yang Anda maksud dengan ‘berpura-pura’? Dan kenapa aku?"
Kenzo menghela napas dan berjalan ke sisi lain mejanya, bersandar sambil melipat kedua lengannya. "Kau tahu bagaimana posisiku. Aku CEO yang memiliki tanggung jawab besar, dan keluargaku… terutama ibuku, mendesak agar aku segera menikah. Bagiku, hubungan adalah hal rumit yang hanya akan mengganggu hidupku."
Reina mengerutkan kening. "Jadi… Anda ingin saya menjadi istri Anda hanya untuk memenuhi tuntutan keluarga Anda?"
"Ya, tapi ini lebih dari sekadar tuntutan," Kenzo melanjutkan. "Aku memiliki alasan-alasan pribadi mengapa aku ingin ini tetap menjadi hubungan kontrak. Aku tidak mencari cinta atau ikatan emosional. Aku hanya membutuhkan status, dan kau adalah orang yang tepat untuk itu. Selain itu, kau pernah tidur denganku. Bukankah ini cukup untuk menjadikanmu istriku?"
Reina menatapnya dalam diam, perasaannya bercampur aduk. Ia merasa terhina karena dianggap sebagai “sekadar solusi”, namun di saat yang sama, ada sesuatu yang membuatnya ingin mendengar lebih jauh.
"Dan mengapa Anda berpikir saya akan setuju dengan ini, Pak Kenzo?" Reina akhirnya bertanya, mencoba mengendalikan suaranya yang bergetar.
Kenzo mendekat, berdiri tepat di hadapannya. "Aku akan membayarmu dengan sangat baik, Reina. Jumlah yang cukup untuk membuatmu tidak perlu khawatir soal biaya hidup dan kuliahmu lagi. Dan kamu tidak perlu bekerja di bar itu lagi."
Mendengar itu, Reina merasakan dorongan yang kuat untuk menolak, namun pikiran tentang keadaan ekonominya dan tekanan dari ibu tiri dan kakak tirinya membuatnya bimbang. Tawaran Kenzo memang menggoda, bahkan bisa menjadi solusi atas masalah-masalah hidupnya yang selama ini terus membebaninya. Tetapi, apa yang akan terjadi pada hubungannya dengan Arman jika ia menerima tawaran ini?
"Kenapa saya?" tanya Reina lagi, mencoba memahami alasan Kenzo memilihnya di antara banyak wanita yang bisa dia pilih.
Kenzo tersenyum tipis. "Karena kau berbeda, Reina. Kau tidak mudah tergoda oleh uang atau kekuasaan, dan itu membuatmu bisa dipercaya. Aku tahu kau tidak akan menggunakan status ini untuk keuntunganmu sendiri."
Reina merasakan pipinya memerah sedikit mendengar pujian itu, namun ia masih ragu. "Tapi bagaimana dengan Arman… kekasih saya?"
Kenzo menatapnya tajam, sedikit tersenyum, tapi kali ini dengan nada yang lebih dingin. "Itu sesuatu yang harus kau pikirkan sendiri, Reina. Jika kau menerima tawaranku, kau harus siap meninggalkan hubungan pribadimu. Tidak ada yang boleh tahu tentang kontrak ini. Selain itu, bagaimana jika dia tahu kalau pacarnya sudah tidur dengan pria lain, hah?" Ucap Kenzo penuh penekanan.
Reina terdiam, tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Tawaran Kenzo adalah kesempatan langka, tetapi di balik keuntungan finansial yang dijanjikan, ada banyak risiko yang harus ia pertimbangkan.
"Aku akan memberimu waktu untuk berpikir," kata Kenzo akhirnya. "Kau tidak perlu memberikan jawaban sekarang. Tapi aku ingin kau tahu, ini adalah kesempatan yang tidak datang dua kali."
Setelah Kenzo pergi meninggalkan ruangan kelas itu, Reina merasa dunia di sekelilingnya berputar. Tawaran Kenzo terdengar menggiurkan, tetapi ada banyak hal yang harus ia pertimbangkan, perasaan Arman, kehidupannya sendiri, dan masa depannya. Apa yang akan terjadi jika dia menerima tawaran itu? Apakah dia benar-benar siap mengorbankan segalanya untuk sebuah pernikahan yang hanya di atas kertas?
Namun di satu sisi, Reina juga tahu bahwa kehidupan yang ia jalani saat ini penuh tekanan dari ibu dan kakak tirinya. Uang yang ditawarkan oleh Kenzo bisa memberinya kebebasan yang selama ini dia dambakan. Tapi, apakah semua itu sepadan?
Reina tahu, keputusan ini akan mengubah seluruh hidupnya, dan dia harus memilih dengan bijak. Akankah dia menerima tawaran Kenzo dan memasuki pernikahan kontrak, atau tetap bertahan dengan kehidupannya yang sulit namun penuh dengan tantangan yang nyata?
---
Setelah pertemuan singkat yang mengubah hidupnya, Reina masih terdiam di kursi kafe kampus. Perasaannya bergolak, berusaha mencerna tawaran Kenzo yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tawaran untuk menikah kontrak dengan pria angkuh dan misterius itu mungkin adalah jalan pintas untuk keluar dari kesulitan finansial yang selama ini membelitnya. Tapi, apakah ia siap untuk meninggalkan kehidupannya yang sederhana, sekalipun penuh perjuangan?
Ketika pikiran Reina sedang kacau, ponselnya berbunyi. Arman, pacarnya, mengirim pesan singkat.
"Sayang, aku baru selesai kelas. Mungkin malam ini kita bisa makan bersama?"
Reina membaca pesan itu dengan campuran rasa bersalah dan kebingungan. Arman selalu ada di sampingnya, memberi dukungan dan semangat saat ia kesulitan. Ia tahu bahwa Arman mencintainya apa adanya, tidak peduli dengan kondisi ekonomi atau latar belakang keluarganya. Tapi, tawaran Kenzo yang menggoda itu membuatnya bimbang. Apakah ia bisa menolak bantuan besar yang bisa menyelamatkan keluarganya dan dirinya sendiri dari keterpurukan finansial?
Ia membalas pesan Arman dengan berat hati, "Maaf, mungkin aku akan pulang larut malam ini. Banyak yang harus kupikirkan. Kita bisa bertemu di lain waktu."
Setelah mengirim pesan, Reina memutuskan untuk berjalan ke taman kecil di dekat gedung kampusnya. Ia duduk di bangku taman, mencoba meredakan kekacauan di hatinya sambil menatap para mahasiswa lain yang sedang bercengkerama dan tertawa lepas. Ia iri melihat mereka. Mereka tidak perlu memikirkan bagaimana cara membayar biaya kuliah atau mencari uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kehidupan mereka tampak begitu bebas, sementara dirinya terjebak dalam pilihan sulit.
Pikirannya kembali pada tawaran Kenzo. Dengan pernikahan kontrak itu, ia bisa mengamankan biaya kuliahnya tanpa harus bekerja lembur di bar. Ibunya mungkin bisa berhenti memaksanya mencari uang, dan kakaknya tidak akan lagi terus menuntut hal-hal yang tidak sanggup ia penuhi. Namun, di sisi lain, ada Arman. Bagaimana jika ia tahu tentang tawaran Kenzo dan alasan di balik keputusan Reina?
Reina menghela napas dalam-dalam, mencoba menimbang segala kemungkinan. Tawaran itu seakan sebuah jalan keluar dari masalah yang tak kunjung selesai, tapi apakah ia siap untuk meninggalkan cinta tulus yang sudah ia bangun bersama Arman? Dan apa yang sebenarnya diinginkan Kenzo dari pernikahan kontrak ini?
Dengan perasaan yang masih gamang, Reina memutuskan untuk kembali ke kelas. Tetapi kali ini, ia tahu keputusan ini akan mengubah segalanya, dan ia harus memilih jalan mana yang akan ia tempuh.