Keesokan harinya, Reina memulai hari dengan perasaan resah. Di kampus, ia berusaha fokus, namun bayangan wajah dingin Kenzo dan tawaran yang diberikan terus menghantui pikirannya.
Saat ia duduk di ruang kelas, tiba-tiba ponselnya bergetar. Pesan dari kakak tirinya, Liana.
"Reina, uang bulan ini mana? Jangan lupa, ya! Ibu juga butuh dana untuk kontrol. Jangan sampai lupa lagi."
Reina menggigit bibirnya, berusaha menahan rasa frustasi yang tiba-tiba muncul. Ia sudah mengirim sebagian besar uang dari gaji bar untuk mereka minggu lalu. Namun, permintaan seperti ini bukan hal baru—dan biasanya tak hanya sekali. Liana selalu menuntut lebih banyak uang tanpa peduli seberapa sulit Reina mencari nafkah.
Setelah kelas selesai, Reina melangkah ke ruang kerja di perpustakaan kampus, mencoba bekerja part-time di antara jadwal kuliahnya. Pekerjaan ini tak banyak memberikan hasil, namun setidaknya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun, ketika ia baru saja membuka laptop untuk mulai bekerja, tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Kali ini dari pihak pemilik kosan.
"Reina, kapan mau bayar sewa bulan ini? Udah hampir jatuh tempo, lho!"
"Ah, maaf, Pak. Saya... saya akan segera lunasi," jawab Reina dengan suara serak. Namun, dalam hati, ia tahu situasinya semakin memburuk. Uang yang ia kumpulkan dari pekerjaan di bar mungkin tidak akan cukup menutup semua biaya yang ada.
Belum habis rasa cemasnya, pesan lain masuk dari ibunya yang mengeluh soal biaya perawatan yang makin tinggi, disertai ancaman Liana bahwa jika Reina tidak segera mengirim uang, ia akan dipaksa berhenti kuliah.
Reina merasa dunia seakan menindihnya. Tidak ada tempat untuk bernafas. Di tengah keputusasaan, pikirannya beralih pada tawaran Kenzo yang selama ini ia anggap sebagai sesuatu yang mustahil. Kenzo adalah seorang pria yang memiliki segalanya—ketampanan, kekayaan, dan kekuasaan. Namun, justru tawarannya yang bisa menjadi solusi dari seluruh beban yang ia pikul.
---
Malam harinya, Reina kembali bekerja di bar, berharap bisa mengalihkan pikirannya dari semua masalah ini. Namun, saat melayani tamu-tamu yang datang, hatinya tetap terasa gelisah. Tiba-tiba, Liana muncul di pintu bar, menarik perhatiannya dengan tatapan penuh amarah.
“Reina! Beraninya kamu tidak langsung pulang untuk menyelesaikan ini!” suara Liana terdengar jelas bahkan di tengah keramaian bar. Tanpa peduli pandangan orang-orang di sekitar, Liana mencengkeram lengannya dan menyeretnya keluar bar, lalu melemparkannya ke tepi jalan.
“Kamu pikir hidup ini gampang? Kamu yang mau kuliah, ya kamu juga yang harus bayar semuanya! Jangan ngerepotin ibu lagi!” Liana memaki dengan keras, membuat Reina ingin menangis.
Namun, tiba-tiba, suara mobil yang familiar menghentikan langkah Liana. Mobil mewah berwarna hitam dengan logo mahal meluncur pelan, berhenti di hadapan mereka. Dari balik kaca yang turun perlahan, terlihat wajah dingin Kenzo yang menatap mereka berdua.
“Kenapa kau di sini?” tanya Reina dengan nada lemah, terkejut dan bingung.
Kenzo tak menjawab langsung. Matanya menatap Liana dengan ekspresi dingin sebelum beralih ke Reina. "Apa ini orang yang selalu menguras uangmu?" tanyanya dengan nada dingin, seolah menahan marah.
Liana, yang melihat tampilan mewah Kenzo, langsung merubah sikapnya menjadi manis. "Oh, Reina ini adik saya, Tuan... Sebenarnya, kami hanya ingin mendukung kuliahnya saja, tapi biaya hidupnya besar," ujarnya berpura-pura lembut, padahal Reina tahu itu hanya kebohongan.
Namun, tanpa mengindahkan Liana, Kenzo membuka pintu mobil dan memberi isyarat agar Reina masuk. “Ayo, kita perlu bicara,” ujarnya dengan nada penuh wibawa.
Reina ragu sejenak, tetapi akhirnya mengikuti instruksinya. Dalam hati, ia tahu inilah saatnya untuk membuat keputusan besar.
---
Di dalam mobil yang melaju dengan tenang, Kenzo menatapnya tanpa bicara selama beberapa saat. Suasana tegang di antara mereka tak terelakkan.
"Reina," suara Kenzo akhirnya memecah keheningan. "Tawaran itu masih berlaku."
Reina menatap ke luar jendela, mencoba mencari jawaban. Segala tuntutan yang mengikatnya seakan menggiringnya pada satu pilihan. Tanpa sadar, ia mengangguk perlahan, menyerah pada keadaan yang memaksanya.
"Baik," jawabnya pelan. "Aku akan menerima tawaranmu... pernikahan kontrak itu."
Kenzo tersenyum tipis, seakan puas dengan keputusan Reina. "Baiklah, kita akan memulai perjanjian ini sesegera mungkin."
---
Tentu, berikut adalah kelanjutan Bab 5, di mana keputusan Reina untuk menerima tawaran Kenzo memulai konflik baru, dan ia segera menghadapi berbagai tantangan dari kesepakatan tersebut:
---
Bab 5 (Lanjutan): Perjanjian yang Mengikat
Beberapa hari setelah Reina menerima tawaran Kenzo, ia diundang ke kantor mewahnya untuk membahas perjanjian pernikahan kontrak itu secara lebih rinci. Duduk di ruangan yang luas dan penuh dengan perabot mahal, Reina merasa canggung. Kenzo, dengan wajah tanpa ekspresi dan sikap dinginnya, menyerahkan berkas perjanjian kepada Reina.
"Ini adalah syarat-syaratnya," kata Kenzo singkat, suaranya terdengar tegas.
Reina membuka dokumen tersebut dengan tangan sedikit gemetar. Di dalamnya, tertera berbagai ketentuan, termasuk lamanya perjanjian yang mengikat mereka sebagai pasangan, tugas-tugas yang harus ia lakukan sebagai istri Kenzo, serta larangan untuk menjalani hubungan dengan pria lain selama kontrak berlangsung. Selain itu, Reina diharuskan menjaga citra sebagai istri seorang CEO, menghadiri acara-acara penting, dan bersikap layaknya pasangan yang bahagia di depan publik.
Satu hal yang membuatnya terkejut adalah ketentuan soal privasi. Kenzo menuntut kendali penuh terhadap kehidupan pribadi Reina selama kontrak berjalan, yang berarti ia harus melaporkan setiap kegiatannya.
"Tidak ada yang boleh tahu ini hanya pernikahan kontrak," ujar Kenzo dengan nada datar. "Kau akan tinggal bersamaku, dan menjalankan semua peran sebagai istriku tanpa terkecuali. Kau tidak boleh membuatku malu."
Reina menelan ludah, menyadari bahwa kehidupan pribadinya akan berubah drastis. Ia tahu, dengan menandatangani kontrak ini, ia akan terjebak dalam peran yang mungkin menghancurkan kebebasannya. Namun, kebutuhan finansial dan desakan keluarganya membuatnya tak punya pilihan.
“Aku mengerti,” ucap Reina akhirnya, meskipun hatinya masih ragu.
---
Setelah menandatangani kontrak, Kenzo mengatur segala persiapan pernikahan secara tertutup, hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan beberapa kolega penting. Kenzo memastikan bahwa acara tersebut terlihat seperti pernikahan impian. Para tamu, yang sebagian besar tidak mengenal Reina, terlihat terkesima dengan kecantikannya yang anggun saat mengenakan gaun pengantin.
Namun, di balik senyum yang ditampilkan, Reina merasa terperangkap dalam situasi yang ia sendiri tak bisa kendalikan. Setiap pandangan tajam dari ibu Kenzo, komentar sinis dari rekan kerja Kenzo, dan lirikan aneh dari tamu lainnya membuat Reina merasa asing. Ia sadar, dunia yang Kenzo huni begitu berbeda dari dunianya.
Malam harinya, setelah acara selesai, Reina pindah ke rumah Kenzo, sebuah penthouse mewah yang terletak di pusat kota. Meski dikelilingi oleh kemewahan, Reina merasa kosong. Kenzo tak banyak bicara padanya, malah lebih sering sibuk dengan pekerjaannya. Mereka tinggal di atap dunia, tapi di tengah kesunyian.
Namun, hanya beberapa hari setelah tinggal bersama, masalah mulai muncul.
---
Suatu malam, ketika Reina baru saja selesai mengerjakan tugas kuliahnya, ia mendapati pintu apartemen terbuka dan suara langkah kaki menggema. Seorang wanita berparas cantik dengan penampilan anggun tiba-tiba masuk ke ruang tamu tanpa permisi. Wanita itu langsung menatap Reina dengan pandangan menilai dari ujung kepala hingga kaki.
"Jadi, kamu yang dinikahi Kenzo?" tanya wanita itu dengan nada sinis. "Aku adalah Shara, mantan tunangannya. Kamu mungkin tak pernah mendengar tentangku."
Reina tertegun, tak tahu harus merespon seperti apa. Shara tampak penuh kemarahan, dan tatapannya membuat Reina merasa rendah diri.
"Kenzo meninggalkanku hanya karena wanita seperti kamu?" ejek Shara, seolah-olah keberadaan Reina adalah kesalahan besar. "Aku yakin, Kenzo tidak benar-benar mencintaimu. Dia hanya menggunakan mu untuk sesuatu."
Belum sempat Reina menjawab, Kenzo tiba-tiba muncul, wajahnya terlihat tak senang melihat kehadiran Shara.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kenzo dengan nada dingin.
Shara tersenyum sinis, menatap Reina sebelum berbalik menghadap Kenzo. "Aku hanya ingin melihat, seperti apa wanita yang kau nikahi. Tapi... aku kecewa, ternyata dia biasa saja."
Tanpa banyak bicara, Kenzo menarik lengan Shara dan mengantarnya keluar. Namun, sebelum meninggalkan apartemen, Shara melayangkan pandangan penuh ancaman pada Reina. Kejadian itu membuat Reina tersadar bahwa dirinya tak lebih dari alat bagi Kenzo. Hati Reina semakin terluka, namun ia berusaha menutupi kesedihannya.
---
Setelah kejadian tersebut, hubungan Reina dan Kenzo semakin tegang. Meskipun mereka tinggal satu atap, mereka jarang berbicara. Kenzo yang biasanya sudah dingin, kini semakin menjaga jarak. Reina mulai merasa bahwa keputusannya menerima pernikahan kontrak ini adalah kesalahan besar. Ia merasa terjebak dalam hubungan yang tak memberikan kebahagiaan, hanya kewajiban.
Namun, di saat Reina berpikir untuk menjauh, Kenzo tiba-tiba menunjukkan perhatian yang tak terduga. Suatu hari, saat Reina tengah tertidur di sofa karena kelelahan, Kenzo melihat wajah letihnya. Ada perasaan bersalah yang muncul di hatinya, meskipun ia enggan mengakuinya.
“Maafkan aku, Reina,” gumam Kenzo pelan, meskipun Reina tak mendengarnya.
Di dalam hati, Kenzo tahu ia memaksakan Reina untuk masuk ke dunianya tanpa memberi ruang untuk beradaptasi. Namun, ada sesuatu dalam diri Reina yang membuatnya ragu untuk melepaskannya. Bagi Kenzo, Reina adalah orang pertama yang berani menantang egonya, yang mengingatkannya pada masa-masa sebelum hidupnya dipenuhi kekosongan.