Aku Menginginkanmu Malam Ini.

1021 Words
Hari-hari Reina dan Kenzo sebagai pasangan kontrak mulai terasa lebih rumit sejak Shara, mantan tunangan Kenzo, kembali hadir. Wanita itu terus muncul di kehidupan Kenzo, mencoba mencari cara untuk merebut kembali hatinya. Reina, yang sedari awal tahu pernikahan ini hanya sebatas kontrak, bersikap acuh tak acuh. Baginya, kehadiran Shara tak perlu dipermasalahkan. Toh, hubungan mereka tak didasari cinta. Namun, Kenzo, di sisi lain, merasa terusik dengan sikap Reina yang terlihat seolah tak peduli. Di balik ekspresi dinginnya, entah kenapa ada perasaan asing yang mengganggunya setiap kali melihat sikap datar Reina terhadap Shara. --- Pada suatu siang, Reina sedang bersantai di kedai kopi kampus untuk mengerjakan tugas ketika ia mendengar suara familiar di belakangnya. “Oh, Reina, kau di sini juga?” Reina menoleh dan mendapati Shara berdiri di hadapannya, tersenyum sinis. Seolah-olah dunia ini terlalu kecil untuk mereka berdua. Shara menarik kursi di seberang Reina dan duduk tanpa diminta. “Kau tahu, aku heran. Apa yang membuat Kenzo sampai rela menikahi seseorang sepertimu? Tak ada yang spesial.” Shara mengamati Reina dari ujung kepala hingga kaki, memperlihatkan tatapan meremehkan yang membuat Reina merasa tak nyaman. “Maaf, Shara, tapi aku sedang sibuk,” jawab Reina datar, berusaha menahan emosinya. Meskipun ia tahu ini hanyalah pernikahan kontrak, perkataan Shara tetap menyentuh rasa harga dirinya. Tanpa memedulikan kata-kata Shara, Reina melanjutkan pekerjaannya, berusaha fokus. Namun, Shara tak menyerah. “Kau tahu, Kenzo dan aku memiliki banyak kenangan bersama. Aku yakin, jika bukan karena keadaan, kami pasti sudah menikah. Kenzo hanya butuh waktu untuk menyadari bahwa kau tidak cukup untuknya.” Shara tersenyum puas, seolah-olah kemenangan ada di tangannya. Reina mencoba menahan emosinya. Ia tahu, ia tidak memiliki hak untuk cemburu atau merasa tersaingi oleh Shara. Namun, ada sesuatu di dalam dirinya yang menolak diremehkan seperti ini. --- Malam itu, Reina kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Tak lama setelah ia tiba, ia mendapati Kenzo di ruang tamu bersama Shara. Rupanya Shara sudah berada di sana lebih dulu, memanfaatkan kesempatan untuk mendekati Kenzo di rumahnya. Kenzo tampak tak nyaman, tetapi Shara terlihat santai, duduk di sofa sambil mengobrol ringan. “Oh, Reina sudah pulang,” ujar Shara dengan senyum yang tak disembunyikannya. Ia bangkit, seolah sengaja menunjukkan kedekatannya dengan Kenzo. Reina hanya tersenyum kecil dan mengangguk. “Ya, aku sudah pulang. Kalian bisa melanjutkan obrolan kalian. Aku akan ke kamar.” Namun, baru beberapa langkah Reina meninggalkan ruang tamu, ia mendengar suara Kenzo yang menghentikannya. “Reina, tunggu.” Kenzo melirik Shara sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada Reina. “Kita perlu bicara.” Reina mematung di tempat, sedikit bingung. Kenzo jarang terlihat begitu serius. Shara tampak terkejut, tetapi ia tetap mempertahankan senyum angkuhnya. Kenzo lalu berdiri, mendekati Reina, dan menatapnya dalam-dalam. “Kau tak perlu merasa terusir di rumah ini,” ujar Kenzo tegas. “Ingat, ini rumah kita. Dan aku tak ingin ada yang membuatmu merasa tidak nyaman di sini, siapapun itu.” Kata-kata Kenzo membuat Shara terlihat tidak senang. Dengan ekspresi yang penuh rasa tidak terima, Shara mendekat, seolah menantang Kenzo. “Kenzo, aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu, seperti dulu. Kita berdua sudah melalui banyak hal.” Kenzo menghela napas panjang, matanya masih terpaku pada Reina yang terlihat kaget. “Shara, masa lalu itu sudah berakhir. Kau harus menghormati pernikahanku dengan Reina.” --- Usai konfrontasi itu, Shara pergi dengan perasaan tidak puas, tetapi Reina hanya mengangkat bahu, lalu kembali ke kamar tanpa mengatakan sepatah kata pun. Sikap dingin Reina membuat Kenzo merasa ada sesuatu yang mengganjal. “Reina,” panggil Kenzo ketika Reina sudah hampir menghilang di balik pintu kamar. Reina berbalik, tatapannya datar. “Ada apa?” jawab Reina singkat. “Apa kau benar-benar tidak peduli dengan apa yang baru saja terjadi?” Kenzo terdengar sedikit frustrasi. “Aku baru saja menegaskan pada Shara bahwa pernikahan kita adalah prioritas.” Reina menghela napas, mencoba menjelaskan. “Kenzo, kita ini hanya menikah kontrak. Kau tidak perlu membela atau membuat Shara merasa aku penting dalam hidupmu.” “Pernikahan kontrak atau tidak, aku tidak akan membiarkan orang lain meremehkanmu. Terutama di hadapanku.” Nada bicara Kenzo terdengar tajam, dan Reina merasa sedikit bingung dengan emosi yang muncul di wajahnya. “Tapi, bukankah kau masih memiliki perasaan pada Shara? Dia bahkan tahu tentang setiap sudut rumah ini,” jawab Reina, mencoba mengabaikan detak jantungnya yang sedikit berdebar. Kenzo terdiam. Benar, ia dan Shara memang memiliki masa lalu yang sulit dilupakan, tetapi ia tak menyangka Reina akan terlihat begitu datar tentang semua ini. “Percayalah, Reina, kau bukan sekadar pengganti di hidupku.” --- Malam itu, Reina tak bisa tidur. Kata-kata Kenzo berputar-putar di pikirannya. Apakah mungkin ia mulai merasa sesuatu pada Kenzo? Kehadiran Shara terus membayangi pikirannya, menimbulkan rasa tidak nyaman yang tak bisa ia abaikan begitu saja. Namun, sebagai wanita yang realistis, ia berusaha menyangkal semua perasaan itu. Sementara itu, di kamarnya, Kenzo termenung, merenungkan segala yang terjadi. Sikap dingin Reina justru membuatnya semakin penasaran. Di balik sikap tenangnya, ia merasa ada sesuatu yang lebih dalam. Kenzo merasa harus mengatasi hubungannya dengan Shara, agar Reina tak lagi merasa tidak nyaman. Namun, Shara tidak menyerah begitu saja. Wanita itu, dengan kecantikannya yang memikat, bertekad untuk mendapatkan kembali Kenzo. Bagi Shara, Reina hanyalah gangguan sementara, dan ia yakin bisa mendapatkan Kenzo kembali. --- Dengan konflik yang terus memanas, hubungan antara Reina dan Kenzo perlahan berkembang dari sekadar kontrak menjadi sesuatu yang lebih rumit. Reina mulai merasakan ketidaknyamanan akan perannya dalam kehidupan Kenzo, sementara Kenzo berusaha melindungi Reina dari bayang-bayang masa lalunya. Di saat yang sama, Shara tetap menjadi ancaman, terus mencoba masuk ke dalam kehidupan mereka dan berusaha membuat Reina merasa tidak diinginkan. Apakah Reina akan tetap bertahan dalam hubungan yang penuh tantangan ini? Dan mampukah Kenzo benar-benar memutuskan hubungan masa lalunya dengan Shara demi menjaga perasaan Reina? Konflik mereka baru saja dimulai, namun benih perasaan yang semakin tumbuh membuat segalanya semakin sulit untuk dikendalikan. Saat ia tenggelam dalam pikirannya, Kenzo menghampirinya dan membisikkan sebuah kalimat yang membuat Reina blushing seketika. "Aku menginginkanmu malam ini, Reina," ucap Kenzo sambil mendekatkan wajahnya pada Reina menepis jarak diantara mereka. Jantung Reina berdebar kencang, berada sedekat ini dengan Kenzo membuatnya tak mampu menolak pesona Kenzo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD