Malam itu, setelah semua tamu undangan dalam acara perusahaan Kenzo pergi, Reina kembali ke kamar, berpikir bahwa ia akan memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Namun, baru saja ia menutup pintu, Kenzo masuk ke kamar mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan. Tatapan matanya menunjukkan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang membuat Reina gugup.
Kenzo berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan sorot mata yang begitu dalam, seolah memintanya untuk mendekat. Namun, ketika Reina hanya diam di tempatnya, Kenzo melangkah maju. Ia mendekati Reina perlahan, lalu mengangkat tangannya, mengusap lembut pipi Reina.
"Reina, aku ingin kau bersamaku malam ini," ucap Kenzo dengan suara pelan namun penuh dengan nada serius.
Reina menatap mata Kenzo dengan perasaan campur aduk. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang menunjukkan keinginan, namun ia juga tahu ini adalah pernikahan kontrak. Hubungan ini masih belum jelas, dan hatinya belum siap untuk melibatkan dirinya lebih dalam, apalagi dalam hal ini. Ia menggelengkan kepalanya perlahan.
"Maaf, Kenzo… aku tidak bisa." Reina menunduk, menyingkirkan tangan Kenzo yang mengusap pipinya.
Wajah Kenzo berubah seketika. Mata tajamnya menatap Reina dengan kilatan amarah yang tersirat, meskipun ia mencoba untuk menahannya. “Kenapa?” tanyanya, nada bicaranya berubah lebih tegas, lebih dalam.
Reina menghela napas panjang, bingung bagaimana menjelaskan perasaannya. "Aku belum siap, Kenzo," jawabnya, mencoba bersikap jujur.
Kenzo hanya menatap Reina dengan tatapan dingin. Tanpa mengatakan apa-apa, ia berbalik dan berjalan keluar dari kamar. Tidak ada ucapan selamat malam, tidak ada kata pamit. Pintu tertutup dengan suara samar, namun cukup untuk membuat Reina merasa kesepian dalam ruangan yang seharusnya menjadi milik mereka berdua.
---
Reina berdiri di tengah kamar, merasakan perasaan bersalah menggerogoti hatinya. Ia merasa seolah-olah telah melakukan sesuatu yang salah, meskipun ia tahu bahwa ia berhak atas perasaannya sendiri. Namun, perasaan bahwa ia telah mengecewakan Kenzo terus membayanginya. Ia tidak ingin melukai perasaan Kenzo, tetapi ia juga belum siap untuk melangkah sejauh itu.
Sementara itu, Kenzo berada di ruang kerjanya, menatap segelas whisky di atas meja. Ia meraih gelas tersebut dan menyesap minumannya perlahan, mencoba menenangkan pikirannya yang kalut. Rasa kecewa bercampur amarah memenuhi pikirannya. Ia merasa ditolak, ditinggalkan oleh wanita yang seharusnya ada di sisinya.
Baginya, pernikahan ini bukan hanya sekadar kontrak. Ia mulai merasakan ketertarikan yang nyata pada Reina, meskipun ia tidak pernah mau mengakuinya. Namun, malam ini, penolakan Reina terasa seperti tamparan baginya. Kenapa ia merasa begitu kecewa hanya karena penolakan sederhana? Kenzo sendiri tidak tahu pasti.
"Kenapa dia harus menolakku?" gumamnya pelan sambil menghabiskan sisa whisky di gelasnya.
Kenzo memandangi langit malam dari jendela besar di ruang kerjanya, mengabaikan waktu yang terus berlalu. Ia merasa terluka, walaupun ia tidak ingin mengakuinya. Perasaan yang tak terjelaskan ini mengacaukan pikirannya, membuatnya semakin tenggelam dalam kesendiriannya.
---
Di kamar, Reina berbaring dengan gelisah, pikirannya tak berhenti memutar kejadian malam ini. Hatinya terasa hampa, seolah-olah ada sesuatu yang hilang. Akhirnya Reina tertidur dengan perasaan yang tidak tenang.
Pagi pun menjelang, dan sinar matahari perlahan-lahan masuk melalui jendela kamar Reina. Ia terbangun lebih awal dari biasanya, dengan perasaan yang masih penuh dengan rasa bersalah. Semalaman ia terus memikirkan penolakannya pada Kenzo. Suasana hening yang muncul setelah kepergian Kenzo tadi malam membuat Reina merasa canggung dan resah.
Saat melihat tempat tidur yang hanya ditempati seorang diri, Reina tak bisa menahan perasaan gelisah yang semakin merasuk ke dalam pikirannya. Kenzo tidak kembali ke kamar mereka sepanjang malam. Rasa bersalah mulai menguasai hatinya, membuatnya bertanya-tanya apakah dia benar-benar telah mengecewakan pria itu hingga sejauh ini.
Reina bangkit dari tempat tidur dan, dengan hati-hati, ia melangkah menuju ruang kerja Kenzo. Ia tak tahu pasti kenapa ia merasa perlu untuk mencarinya, tapi nalurinya membawanya ke sana. Ketika ia membuka pintu dengan pelan, Reina menemukan Kenzo sedang tertidur di sofa, masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam.
Pria itu tampak lelah, dengan sisa-sisa kecemasan dan keletihan tergambar di wajahnya. Di meja dekat sofa, terlihat gelas kosong bekas whisky yang mungkin ia habiskan untuk menghilangkan rasa kecewanya. Reina mendekat perlahan, tak ingin mengganggunya, namun tak bisa menahan perasaan bersalah yang semakin menguat.
Perlahan, ia mengulurkan tangan, berniat membenarkan posisi kepala Kenzo agar ia lebih nyaman. Namun, baru saja tangannya terulur, Kenzo terbangun dengan mata yang masih terlihat lelah namun segera menyadari keberadaan Reina.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kenzo dengan suara serak.
Reina menundukkan kepala, merasa canggung. "Aku... hanya ingin melihat apakah kau baik-baik saja," jawabnya pelan.
Kenzo menatap Reina sejenak, ekspresinya sulit ditebak. “Aku baik-baik saja, Reina. Kau tak perlu merasa bersalah,” katanya sambil bangkit dari sofa, melirik ke arah gelas kosongnya dengan ekspresi kosong.
Reina menahan napas, merasa perlu untuk mengungkapkan apa yang ada di hatinya. "Kenzo, aku... aku minta maaf tentang semalam. Aku tahu kau kecewa, dan aku tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu."
Kenzo terdiam, menatap Reina dengan tatapan yang kini lebih lembut. “Tidak apa-apa, Reina. Aku yang mungkin terlalu berharap.”
Sikap Kenzo yang tenang dan tidak menyalahkannya membuat Reina semakin merasa bersalah, tetapi juga sedikit lega. Meski begitu, ia tahu bahwa hubungan mereka tak akan pernah sama lagi. Ada jarak yang kini tercipta, dan ia tak tahu bagaimana cara untuk menjembatani perasaan yang terlanjur berbeda antara mereka.
Reina segera menuju ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan untuk mereka.
Setelah percakapan yang canggung dengan Kenzo, Reina memutuskan untuk pergi ke dapur dan membuat sarapan. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dari rasa bersalah yang masih mengganggu. Dapur di apartemen mereka cukup modern, dilengkapi peralatan yang memadai, dan itu sedikit membuatnya merasa lebih baik.
Sambil menyiapkan bahan-bahan, Reina tidak bisa menahan pikiran tentang Kenzo. Ia teringat akan wajahnya yang tampak lelah semalam, namun di balik itu ada pesona yang tak bisa diabaikan. Kenzo memiliki daya tarik yang berbeda, terutama ketika ia berfokus pada sesuatu yang serius. Pagi ini, ketika Reina berusaha memfokuskan diri pada memasak, ia mendengar suara langkah kaki Kenzo yang mendekat.
Ketika Kenzo memasuki dapur, Reina tidak bisa tidak melirik ke arah pria itu. Kenzo mengenakan setelan jas yang sederhana namun sangat pas di tubuhnya. Rambutnya yang rapi dan wajahnya yang bersih membuatnya tampak semakin menarik. Hati Reina bergetar melihatnya, seolah ada magnet yang menariknya untuk lebih mendekat. Ia tak bisa mengabaikan fakta bahwa Kenzo adalah sosok yang sangat mempesona.
Reina tertegun sejenak, berpikir bahwa mungkin ia akan rugi jika terus menghindar dari Kenzo. Di luar sana, banyak wanita yang akan dengan senang hati mengambil kesempatan untuk mendekati pria seperti Kenzo. Memikirkan hal itu, ia merasakan ketidaknyamanan di dalam dirinya. Mungkin, ia harus mulai membuka diri dan tidak terlalu keras kepala tentang perasaannya.
"Reina, apa kau sedang membuat sarapan?" tanya Kenzo, menghentikan lamunannya.
“Oh, ya! Aku membuat telur dadar dan roti panggang. Kau ingin kopi?” jawab Reina, berusaha untuk tidak terlihat terlalu gugup.
“Ya, kopi akan sangat membantu. Terima kasih,” jawab Kenzo, menyandarkan tubuhnya di meja sambil melihat Reina dengan tatapan hangat.
Reina terus mengaduk telur, tetapi hatinya masih bergejolak. Ia tidak ingin memikirkan hubungan kontrak mereka sebagai sesuatu yang kaku dan tanpa perasaan. Ia mulai merasa ada ketertarikan yang lebih dalam kepada Kenzo, meskipun ia takut untuk mengakui.
Setelah sarapan siap, Reina menyajikan makanan di meja makan. Mereka duduk berseberangan, dan meskipun ada ketegangan yang tersisa dari malam sebelumnya, suasana menjadi lebih hangat saat mereka mulai berbicara tentang hal-hal sepele.
“Apakah kau ada meeting penting hari ini?” tanya Reina, berusaha untuk menjaga percakapan tetap ringan.
Kenzo mengangguk. “Ya, ada beberapa hal yang harus aku selesaikan. Namun, aku akan menyempatkan waktu untuk makan siang nanti jika kau ingin,” katanya, matanya menatap Reina dengan serius.
Reina merasa jantungnya berdebar. “Tentu, aku akan menunggu.”
Setelah selesai sarapan, Kenzo bangkit untuk bersiap-siap pergi. Saat ia bergerak menuju pintu, Reina melihat sosoknya dari belakang. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya ingin menghentikan Kenzo dan mengatakan lebih banyak tentang apa yang ia rasakan.
“Kenzo,” panggil Reina tiba-tiba.
Pria itu berhenti dan menoleh, terlihat sedikit terkejut. “Ya?”
“Aku... aku ingin kau tahu bahwa meskipun kita dalam pernikahan kontrak ini, aku tidak ingin hubungan kita hanya sebatas itu. Mungkin kita bisa berusaha untuk saling mengenal lebih baik?”
Kenzo terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan kata-katanya. “Itu adalah permintaan yang baik, Reina. Aku juga berpikir hal yang sama,” jawabnya pelan.
Reina merasa harapan mulai tumbuh dalam hatinya. Meski banyak yang harus mereka hadapi, mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang lebih baik antara mereka.