Makan Malam Bersama

1174 Words
Pagi itu, Kenzo mengantarkan Reina ke kampus. Meski hubungan mereka masih diselimuti kecanggungan setelah insiden malam itu, Kenzo tidak menunjukkan tanda-tanda ketegangan. Saat Reina duduk di kursi penumpang, ia merasakan perasaan campur aduk, antara gugup dan terkesan. Kenzo tidak biasa bertindak sehangat ini. Awalnya Reina ingin menolaknya, tapi ia yakin pria itu tak bisa di tolak. Akhirnya Reina mengikuti keinginan pria itu. Setibanya di kampus, Reina bersiap untuk turun. "Terima kasih, Kenzo," ujarnya singkat, menatap pria itu sejenak sebelum membuka pintu. Kenzo hanya mengangguk dan memandang Reina yang berjalan memasuki kampus. Ia sengaja tidak segera pergi. Dengan diam-diam, Kenzo memperhatikan sekeliling, mencari tahu apakah ada seseorang yang terlalu dekat dengan Reina. Entah mengapa, perasaan ingin tahu yang disertai rasa cemburu muncul di benaknya. Ia ingin memastikan bahwa Reina tidak terlalu akrab dengan siapa pun di kampusnya, khususnya laki-laki. Kenzo memperhatikan Reina yang bertemu dengan seorang mahasiswi lain. Dari raut wajahnya, ia tampak nyaman berbincang dengan temannya itu, tapi tidak ada yang menunjukkan hubungan yang mencurigakan. Kenzo merasa lega—sepertinya, Reina hanya memiliki seorang teman dekat perempuan di kampus, dan tidak ada pria lain yang tampak terlalu akrab dengannya. Setelah memastikan tidak ada hal yang mencurigakan, Kenzo akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju kantor. Ia merasa puas dan, tanpa sadar, suasana hatinya terasa lebih ringan. Beberapa menit kemudian, Kenzo tiba di perusahaan. Saat memasuki gedung, sejumlah karyawan mulai menyadari kehadirannya. Biasanya, setiap kali Kenzo berjalan melintasi lobi, para karyawan akan segera menundukkan kepala, takut memandang pria yang terkenal dengan sikap dingin dan tanpa ekspresi itu. Namun, pagi ini ada yang berbeda. Kenzo melangkah dengan wajah yang terlihat sedikit lebih cerah, dan senyuman tipis menghiasi wajahnya. Aura angkuh dan keras yang biasanya melekat padanya seolah-olah sedikit memudar, digantikan oleh suasana yang lebih hangat. Beberapa karyawan saling berbisik, memperhatikan perubahan yang mencolok pada bos mereka. “Eh, apa kalian lihat? Pak Kenzo kelihatannya sedang dalam suasana hati yang bagus hari ini,” bisik salah seorang karyawan perempuan kepada rekannya. "Iya, tumben banget. Biasanya, dia selalu terlihat dingin dan kaku. Ada apa ya?" jawab temannya dengan nada penasaran. Tak jauh dari mereka, seorang asisten Kenzo yang bernama Mirna pun ikut terkejut. Ia sudah bekerja cukup lama bersama Kenzo dan hafal dengan ekspresi bosnya yang jarang sekali berubah. Namun, pagi ini sepertinya berbeda. Kenzo berjalan melewati mereka dengan lebih santai, dan bahkan memberi sedikit anggukan sebagai tanda sapaan—hal yang jarang sekali dilakukan oleh seorang Kenzo. Setibanya di ruang kerjanya, Kenzo melepaskan jasnya dan duduk di kursi dengan ekspresi puas. Ia menatap layar komputernya, namun pikirannya masih sedikit melayang mengingat Reina. Tidak bisa ia pungkiri, perasaannya mulai terusik. Kenzo selalu merasa memiliki kendali penuh atas kehidupannya, tapi kehadiran Reina mulai mengubah banyak hal. Dengan santai, Kenzo menyesap kopinya sambil memikirkan betapa Reina mampu membuatnya merasa lebih hidup tanpa perlu banyak usaha. Mungkin pernikahan kontrak ini, yang awalnya dianggapnya hanya sebagai solusi praktis, telah membuka pintu untuk perasaan yang tak terduga. Di luar ruang kerjanya, gosip tentang perubahan sikap Kenzo mulai menyebar. Beberapa staf berusaha menebak apa yang menyebabkan perubahan itu, tapi tentu saja tidak ada yang tahu cerita sebenarnya di balik senyum tipis yang menghiasi wajah bos mereka hari ini. Kenzo, yang dikenal selalu penuh rahasia, kini terlihat seperti seorang pria yang baru saja menemukan secercah kebahagiaan yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan perasaan itu, Kenzo mulai menyiapkan diri untuk menyelesaikan tugas-tugasnya. Meski masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, harinya terasa lebih ringan. Kenzo sadar bahwa kehadiran Reina telah memberi warna baru dalam hidupnya, meski ia belum sepenuhnya mengakui hal itu kepada dirinya sendiri. Setelah menyelesaikan meeting yang cukup padat, Kenzo langsung menuju kampus Reina untuk menjemputnya. Ia telah memutuskan untuk mengajak Reina makan malam di luar, tanpa terlalu banyak memberi penjelasan. Ketika mobil Kenzo berhenti di depan kampus, pandangan mahasiswa lain segera tertuju pada kendaraan mewah itu. Beberapa orang tampak berbisik, penasaran siapa yang akan keluar dari mobil itu atau siapa yang akan masuk ke dalamnya. Saat Reina keluar dari gedung kampus dan mendapati Kenzo sudah menunggu, ia hampir tak percaya. Sahabatnya yang melihat Reina hendak masuk ke mobil itu hanya bisa tercengang. Tak berani bertanya, namun jelas ada keingintahuan di matanya. "Kenapa kau menjemput ku?" tanya Reina pelan, sedikit terkejut. Dia merasa aneh Kenzo datang sendiri hanya untuk menjemputnya. Kenzo menatap Reina sekilas, kemudian menjawab dengan singkat, "Aku ingin kita makan malam bersama." Reina menarik napas kasar, merasa was-was. Kekhawatirannya semakin bertambah. Bagaimana jika ada yang melihat dia menaiki mobil ini? Di dalam hatinya, Reina khawatir akan menjadi bahan pembicaraan di kampus. Namun, Kenzo tampak acuh, seperti tak peduli akan hal-hal kecil semacam itu. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa begitu dingin dan hening. Reina duduk diam, sesekali melirik keluar jendela, berusaha menghindari tatapan Kenzo. Namun, tanpa ia sadari, Kenzo terus meliriknya. Entah kenapa, setiap kali melihat Reina di sampingnya, ada perasaan aneh yang mulai tumbuh dalam hatinya. Kenzo tak bisa memungkiri jika Reina memang memiliki daya tarik tersendiri, pesonanya sederhana namun sulit untuk diabaikan. Kenzo merasakan debaran halus di hatinya, sesuatu yang jarang sekali ia rasakan. Mungkin ini yang membuatnya tidak bisa menahan diri untuk lebih sering melihat wajah Reina saat gadis itu tengah termenung atau menatap ke arah lain. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah restoran mewah yang terletak di pusat kota. Reina terkejut begitu melihat tempat itu. Restoran ini terkenal dengan suasana yang elegan dan makanannya yang sangat mahal—sebuah tempat yang tidak pernah ia datangi sebelumnya. "Ini... kita makan di sini?" tanya Reina, setengah tak percaya. Kenzo tidak menjawab, tetapi ia keluar dari mobil, lalu berjalan ke sisi Reina untuk membukakan pintu. Dengan lembut, Kenzo meraih tangan Reina dan menggandengnya memasuki restoran. Sentuhan itu membuat jantung Reina berdebar kencang, membuatnya merasa gugup. Reina tidak bisa menahan pikiran yang berkecamuk di kepalanya—Bagaimana jika ada yang melihat mereka bersama? Akan ada begitu banyak pertanyaan yang tidak siap ia jawab. Di dalam restoran, mereka langsung diarahkan ke sebuah meja khusus yang sudah dipesan sebelumnya. Suasana ruangan begitu tenang, dihiasi cahaya temaram dan musik lembut yang semakin memperkuat kesan mewah tempat itu. Ketika mereka sudah duduk, Reina masih merasa canggung. Melihatnya seperti itu, Kenzo hanya tersenyum tipis, merasa terhibur melihat reaksi Reina. "Kenapa terlihat tegang? Santai saja," ujar Kenzo, memecah keheningan. Reina berusaha tersenyum, walaupun masih ada rasa gugup yang tak bisa ia hilangkan. Duduk bersama Kenzo di tempat mewah seperti ini terasa begitu asing baginya. Selain itu, perhatian Kenzo yang intens juga membuatnya merasa bingung. Seiring waktu berlalu, Kenzo dan Reina mulai menikmati obrolan ringan, dan suasana di antara mereka perlahan mencair. Meski ada ketegangan dan rasa canggung yang terus mengintai, makan malam ini meski mereka lebih banyak diam, mereka sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. "Terima kasih untuk makan malamnya, Pak Kenzo," ucap Reina memecah keheningan diantara mereka. "Hmm..."jawab Kenzo singkat. Terkadang Reina merasa bingung dengan sikap Kenzo yang seperti gunung es. Tapi kadang Kenzo juga menunjukkan sisi romantisnya. Reina menggeleng pelan. Sulit baginya menebak sifat pria dingin di depannya. Tapi ia juga tak bisa memungkiri jika Kenzo memiliki pesona yang luar biasa. Entah apa alasan Kenzo memilihnya sebagai teman ranjang?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD