Sangat Memikat

1216 Words
Setelah makan malam yang penuh ketegangan namun perlahan mulai mencair, Kenzo dan Reina melanjutkan percakapan ringan. Suasana terasa lebih hangat seiring berjalannya waktu, meskipun Reina masih merasa sedikit canggung karena berada di restoran mewah yang tak biasa ia datangi. Sesekali, Reina melirik Kenzo, merasa semakin terperangkap dalam perhatian pria itu. Ketika makan malam hampir berakhir dan pelayan mulai membersihkan meja, Kenzo melirik Reina dengan tatapan serius. Lalu, tanpa berkata-kata lebih banyak, dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil yang dibalut kain hitam. Reina yang semula sedang asyik memainkan sendok di piringnya, terkejut melihat Kenzo membuka kotak itu dan menunjukkan sebuah kalung berlian yang begitu indah dan mahal. Kilauannya berkilap di bawah lampu meja makan, membuatnya seakan memancarkan pesona yang sulit dilihat oleh siapa pun dengan mata biasa. "Ini... untukmu," kata Kenzo, suaranya tenang namun penuh penekanan. Reina langsung merasa terkejut dan sedikit cemas. Kalung itu jelas sangat mahal, jauh melebihi apa yang ia bayangkan bisa dimilikinya. Rasa terkejut itu disertai dengan perasaan tidak nyaman yang menyelimuti hatinya. "Kenzo, aku... aku tidak bisa menerima ini," jawab Reina, mencoba menahan dirinya untuk tidak terlihat terlalu terkejut. "Kalung ini terlalu mahal, aku... aku tak layak menerimanya." Kenzo memandangnya dengan tatapan lembut, tetapi ada ketegasan di dalamnya yang membuat Reina merasa tidak bisa menolaknya. "Jangan bilang tidak, Reina. Ini bukan soal layak atau tidak. Aku memberikannya padamu karena aku ingin kau menerimanya. Jangan menolaknya, karena ini adalah sesuatu yang kuinginkan untuk kau miliki." Reina merasakan keraguan dalam dirinya, namun ada sesuatu dalam tatapan Kenzo yang membuatnya terdiam. Dia menarik napas panjang dan akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah, kalau begitu," kata Reina lirih, suaranya agak ragu. Kenzo tersenyum tipis, lalu dengan lembut ia mengangkat kalung berlian itu dan memakaikannya di leher Reina. Gerakan tangannya begitu hati-hati, seolah setiap sentuhan itu begitu penting. Reina merasa jantungnya berdegup lebih cepat saat kalung itu terpasang di lehernya. Dia bisa merasakan kehangatan dari tubuh Kenzo yang sangat dekat dengannya, dan betapa indahnya kalung itu di kulitnya yang putih. Reina bisa melihat kilau berlian itu di cermin restoran, dan betapa kalung itu tampak begitu pas di lehernya. Namun, di dalam hatinya, ada perasaan campur aduk—rasa terharu karena hadiah tersebut, namun juga perasaan tidak nyaman karena harus menerima pemberian yang jauh melampaui batas kemampuannya. Kenzo memandangi Reina dengan tatapan penuh kekaguman. Meskipun tidak mengatakannya langsung, di dalam hatinya, Kenzo mengagumi betapa cantiknya Reina dengan kalung berlian itu. "Kau sangat cantik," pikirnya dalam hati, meskipun ia tidak mengatakannya dengan kata-kata. Namun, meski pujian itu terpendam di dalam hati, Kenzo tidak bisa menahan diri untuk terus memandangi Reina. Senyuman manis Reina yang terlihat begitu alami membuat hatinya bergetar. Meski ia berusaha untuk tetap tenang, ada sesuatu yang berbeda yang ia rasakan ketika melihat Reina mengenakan kalung itu. Setelah makan malam selesai dan mereka kembali ke mobil, Kenzo dan Reina tak banyak bicara. Namun, dalam perjalanan pulang, Kenzo sesekali melirik Reina. Ia merasa senang melihat Reina mengenakan kalung yang dia beri, meskipun perasaan itu sedikit campur aduk—antara keinginannya untuk menjaga jarak dan perasaan yang tumbuh terhadap gadis muda itu. Setibanya di rumah, Reina keluar dari mobil terlebih dahulu, diikuti Kenzo yang masih tampak tenang. Reina merasa sedikit canggung karena dia tahu kalung itu akan terus mengingatkannya pada makan malam itu, pada semua yang telah terjadi antara mereka. Kenzo mengikutinya ke dalam rumah, namun tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka. Malam itu, meskipun ada rasa yang tak terucapkan, kedua mereka merasa ada yang berbeda, entah karena makan malam yang mewah atau karena kalung berlian yang baru saja dipasangkan. Namun satu hal yang jelas, hubungan mereka semakin rumit, dan kedua hati mereka mulai tertarik meskipun kenyataan mereka tak pernah menginginkan itu. --- Setelah mereka tiba di rumah, suasana seolah sedikit lebih tenang meskipun ada ketegangan yang mengendap. Kenzo langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, sementara Reina duduk di ruang tamu, merasa bingung dengan perasaannya. Kalung berlian yang Kenzo berikan masih terasa berat di lehernya, dan ia terus merenungkan makan malam itu, betapa canggungnya ia, tapi juga betapa baiknya Kenzo padanya. Waktu berjalan cukup lama sebelum Kenzo keluar dari kamar mandi. Suara langkah kakinya yang terdengar di lorong rumah membuat Reina menoleh. Kenzo muncul dengan penampilan yang jauh berbeda dari biasanya. Ia mengenakan bathrobe berwarna putih, rambutnya yang hitam basah dan terurai masih meneteskan air. Aroma sabun mandi yang segar dan wangi menguar, membuat suasana malam itu terasa berbeda. Reina terdiam sejenak saat melihat Kenzo keluar. Penampilannya yang santai, namun tetap tampak mempesona, membuatnya terperangah. Kenzo dengan tubuh tegap dan postur yang memikat, membuat Reina tak bisa berpaling begitu saja. Tetesan air yang jatuh dari rambut Kenzo dan membasahi dadanya membuat Reina merasa seolah-olah ia terperangkap dalam aura pria itu yang begitu menggoda. Ketampanannya semakin terlihat jelas dalam balutan bathrobe yang sederhana. Pemandangan ini seolah mempertegas betapa maskulinnya Kenzo, meskipun dengan penampilan yang begitu sederhana. Reina menarik napas dalam-dalam, berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak terlalu terfokus pada penampilan Kenzo. Namun, hatinya berdebar-debar. Ia merasa canggung dan sedikit bingung dengan reaksi tubuhnya yang terasa sangat berbeda saat melihat Kenzo dalam keadaan seperti itu. Kenzo, yang merasa Reina memperhatikannya, membiarkan dirinya sedikit lebih santai. Ia berjalan perlahan menuju ruang tamu, lalu duduk di sebelah Reina dengan gerakan yang sangat tenang. "Kau terlihat cantik malam ini," kata Kenzo, suaranya dalam dan memikat. Reina terkejut mendengar pujian itu, dan meskipun ia tahu kalung berlian yang dipakai membuat penampilannya lebih menarik, ia tidak tahu bagaimana harus menanggapinya. "Terima kasih..." jawabnya dengan suara pelan, mencoba tetap terlihat tenang meskipun hatinya berdebar lebih cepat. Kenzo tersenyum tipis. “Kau bisa tidur lebih nyenyak malam ini, Reina. Aku ingin kau merasa nyaman, terutama setelah hari yang panjang.” Ada nada lembut dalam suaranya, yang membuat Reina merasa sedikit lebih rileks. Namun, di dalam dirinya, masih ada rasa canggung yang sulit dihilangkan. Reina hanya mengangguk pelan, sedikit terhanyut dalam perasaan yang belum bisa ia jelaskan. Ia merasa ada ketegangan yang terbangun antara mereka, tetapi ada juga rasa yang aneh, rasa yang semakin mengikat hatinya pada Kenzo. Meskipun mereka hanya dalam pernikahan kontrak, semakin hari, Reina merasa dirinya lebih terhubung dengan Kenzo daripada yang ia kira sebelumnya. Kenzo, di sisi lain, juga merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan kontrak ini. Di balik sikap dinginnya, ia tak bisa menahan diri untuk tidak merasakan ketertarikan yang semakin dalam terhadap Reina. Wanita muda ini, meskipun terlihat sederhana, memiliki pesona yang tak bisa ia hindari. Namun, mereka berdua tahu, meskipun ada perasaan yang tumbuh, bahwa hubungan mereka hanya sebuah perjanjian. Tetapi semakin hari, perasaan itu mulai semakin kompleks, membingungkan mereka berdua. Dengan sedikit senyum, Kenzo berdiri dan berjalan menuju kamarnya. “Selamat malam, Reina. Tidur yang nyenyak,” katanya sambil melirik Reina sekilas. Reina hanya bisa menatap Kenzo yang sudah berjalan menuju kamar tidur, hatinya penuh dengan perasaan yang tak terucapkan. Bagaimana jika perasaan ini berkembang lebih jauh? Namun, ia tahu bahwa ia harus menjaga jarak. Mereka hanya terikat dalam pernikahan kontrak, dan tidak lebih dari itu. Meskipun begitu, hatinya semakin terjebak dalam ketegangan dan daya tarik yang ada di antara mereka. Malam itu, Reina terbaring di tempat tidur, memikirkan banyak hal. Tentang Kenzo, tentang perasaan yang mulai tumbuh, dan tentang masa depan yang tak pasti. Begitu juga dengan Kenzo yang tak bisa terpejam karena memikirkan gadis disampingnya. "Reina..." panggil Kenzo sambil menatap Reina hingga tatapan mereka pun bertemu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD