"Kamu pikir aku tidak berani mengobrak abrik tempatmu?!" "Jangan cuma menggertak, lakukan saja kalau kamu bisa!" aku menyeringai menantang balik ancamannya. Bukan gayaku datang menghampiri lawan dengan tangan kosong dan pasrah diinjak. Matanya menatapku penuh selidik. Kalau otaknya tidak sebodoh ayahnya, aku yakin dia akan paham maksudku. "Yang di luar sudah beres, Boss." Aku tersenyum puas saat Naresh memberitahu tentang keadaan di luar Mirror yang sudah clear. Ingin mengacak acak tempatku, dia pikir segampang itu. "Kamu dengar sendiri kan? Orang orangmu sudah keok. Selangkah pun mereka tidak bisa menjangkau pintu masuk tempatku. Yakin kamu masih punya nyali mau membuat onar di sini?!" cibirku yang sontak membuatnya naik pitam. "Sialan!" Reza mengumpat kasar, kakinya menendang ker

