Bab 7 Ayo Bercerai

1147 Words
Dua minggu berlalu sejak kejadian di jembatan ibu kota, Aila diam-diam mengurus banyak hal dengan bantuan sekretaris Jarves. Siang itu, pada hari Senin, sekretaris Jarves terkejut mendengar permintannya untuk kesekian kalinya. “A-apa? Nyonya, apa benar mau menjual apartemen pemberian suami Anda? Semuanya?” Aila yang berdiri di depan jendela kaca tinggi hanya mengangguk pelan, mata menatap lembut ke arah taman yang dulu menjadi bukti cinta suaminya. “Ya, sekretaris Jarves. Tolong urus semuanya seperti yang telah aku minta sebelumnya. Aku harap kamu tetap diam sampai aku memberitahukan hal ini kepada Ardan sendiri.” “Tapi, Nyonya, kalau Pak CEO sampai tahu, dia pasti akan sangat marah!” protesnya gugup. Aila tertawa dingin. “Marah? Benarkah? Ardan Mahardika siapa yang akan marah? Apakah pria yang dulu sangat mencintaiku? Ataukah yang sudah lupa seperti apa pernikahan kami selama 3 tahun?” Sekretaris Jarves terdiam. Hening sesaat, lalu Aila berkata dengan sangat tenang, “Jangan khawatir. Kalau kamu tidak mau terlibat masalah aku tidak akan meminta bantuanmu lagi. Masalah sebelumnya, akan aku jelaskan kepadanya sendiri, tapi setelah semuanya selesai. Aku tidak akan membiarkanmu dipecat dengan tidak adil.” “Nyonya....” Aila tertawa pelan, kosong dan tanpa emosi. “Nyonya? Mungkin mulai sekarang kamu harus mulai belajar untuk memanggilku dengan sebutan lain, sekretaris Jarves.” Pria muda di seberang sana menegang kaget. Meski tidak banyak yang tahu seperti apa sebenarnya pernikahan mereka berdua, tapi sekretaris Jarves menjadi bukti hidup bagaimana Ardan Mahardika memanjakan Aila Janitra selama ini. Sungguh ironis melihat keduanya malah berakhir seperti sekarang, hanya gara-gara amnesia bodoh. Setelah bercakap-cakap lebih lama, Aila menutup panggilan. Ketika dia berbalik, matanya tidak sengaja bertemu dengan mata pria yang sudah lama tidak dilihatnya. Ardan Mahardika mengerutkan kening dalam. “Siapa yang kamu telepon? Apa detektif yang kamu kirim untuk memata-matai aku dan Mia? Apa kamu sungguh tidak bisa berhenti, Aila Janitra?!” Perkataannya sangat dingin dan menusuk. Namun, Aila lebih memilih tetap tenang menghadapinya. Dia melihat pria itu masih memakai pakaian kerja dari ujung kepala sampai kaki. Sama persis dengan foto-foto yang dikirim diam-diam oleh Mia kemarin kepadanya untuk membuatnya cemburu. Foto yang memperlihatkan bagaimana suaminya tidur dengannya di ranjang besar di ruang kantor suaminya. Sepertinya, dia tidak hanya sibuk bekerja dengan perusahaan, tapi juga sibuk menemani kekasih kecilnya sampai lupa mengganti pakaian. Sungguh berdedikasi sekali, ya? Kantor Ardan Mahardika mirip sebuah apartemen mewah dan elit. Tidak hanya ada meja kerja dan ruang tamu, tapi juga ada kicthen set mini dan kamar tidur. Biasanya, kalau Aila ingin menemaninya bekerja di waktu luang, dia akan datang ke sana untuk membuatkan makanan. Kadang-kadang, sekedar video call tidak akan cukup menghapus rasa rindu di hati mereka berdua. Namun, sekarang, kantor itu sudah menjadi sarang cinta barunya dengan wanita lain. “Aku pulang untuk mengambil pakaian dan memberitahumu kalau pertemuan tahunan keluarga akan diadakan dalam waktu dekat. Aku harap kamu bisa menjaga sikapmu itu,” ucapnya dingin, lalu berniat berlalu dari sana. Raut wajahnya terlihat sangat jengkel dan jijik, seolah-olah Aila adalah gangguan yang tidak sudi dilihat olehnya. Aila Janitra berdiri sambil menatap punggungnya cukup lama, lalu berkata dengan sangat tenang yang menakutkan ketika pria itu hendak menaiki anak tangga. “Ardan, ayo bercerai.” Hening. Ardan Mahardian membeku di tempatnya. Sorot matanya tampak linglung sesaat, lalu dia berbalik menatapnya dengan aura dingin menakutkan. “Cerai? Permainan apa lagi ini? Jadi, benar, kamu ingin bermain tarik ulur denganku sekarang? Bermain susah didapat? Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu itu? Ternyata, Mia benar tentang dirimu. Kamu gagal dengan cara yang agresif untuk menari perhatianku. Lalu, dengan percaya diri memainkan peran sebagai istri tertindas? Aila Janitra! Sadarlah! Kamu bukan siapa-siapa bagiku! Apa tidak cukup semua manipulasi dan kelicikanmu selama ini? Kalau kamu terus menguji garis batasku, aku mungkin benar-benar akan menceraikanmu tanpa berpikir dua kali!” Aila diam menatapnya sangat tenang. Saking tenangnya, hati Ardan gemetar aneh dibuatnya. Ancaman itu seharusnya membuatnya takut dan segera meminta maaf, tapi apa yang dilihatnya barusan? Dia sama sekali tidak memiliki emosi! Ardan geram! Dia sudah menerima kenyataan kalau mereka adalah suami istri, hasil dari pernikahan bisnis dua keluarga dinasti! Namun, sikap istrinya sangat keterlaluan! Membuatnya malu dan selalu jengkel! “Ardan, apa kamu sangat mencintainya?” balasnya dengan suara lembut berbisik. Ardan merasa dadanya menyipit, susah bernapas. “Apa katamu?” Aila berkata lagi, lebih tenang daripada sebelumnya, “Kamu sangat mencintai Mia Sanjaya, bukan? Ayo, bercerai. Aku serius. Tidak perlu lagi membuat drama yang tidak perlu. Aku bersedia mundur dan memberikan posisiku kepadanya. Kalian tidak perlu membuat skandal di luar sana dan bermain kucing-kucingan. Aku tidak suka dengan suami yang tidak setia.” Kalimat itu memukul hati Ardan seperti ditampar! Wajah tampannya yang dingin menggelap muram. “Jangan berkata buruk tentang Mia! Dia sangat berbeda denganmu.” Aila tersenyum tipis. “Apa meminta bercerai dan mengatakan yang sebenarnya juga dianggap menindasnya sekarang? Menurutmu, suami yang suka makan malam bersama wanita lain dan menghabiskan waktu dengannya sangat intim, bukan selingkuh namanya? Apakah wanita seperti itu bukan pelakor namanya? Ardan Mahardia, katakan kepadaku dengan otakmu yang sangat genius itu, Mia Sanjaya sebenarnya apa di matamu? Mainan? Pelampiasan nafsu dikala bosan? Ataukah cinta sejati yang hanya bisa bermain di dalam bayang-bayang?” Hawa dingin turun beberapa derajat di ruangan besar itu. Ardan tampak semakin gelap dan mengintimidasi. Wajahnya sangat dingin hingga membuat siapapun yang melihatnya menggigil ketakutan. “Jaga mulutmu, Aila! Jangan samakan Mia denganmu yang sangat menjijikkan dan berhati busuk! Berapa kali harus aku peringatkan kepadamu? Apa memberimu perjanjian perceraian baru akan membungkam mulut kotormu itu?” Aila diam sesaat, lalu tertawa ringkih yang sangat halus. “Dulu, aku tidak pernah berpikir kalau kamu bisa berkata kejam dan kasar kepadaku selama kita menikah. Tapi, ternyata orang-orang memang bisa berubah dan perkataan seorang pria tidak bisa dipegang. Memang sudah saatnya bangun dari semua mimpi indah yang kamu janjikan, Ardan Mahardika. Bagiku, suamiku sudah lama mati. Jadi, ayo bercerai saja. Kamu tidak perlu mempermalukanku lagi dengan semua gosipmu di luar sana. Aku sudah cukup menerima balas dendammu selama ini. Kita selesai.” Kalimat demi kalimat dari wanita itu seperti hal yang tidak nyata di telinga Ardan. Apakah itu sungguhan? Ataukah trik lain agar membuatnya kasihan dan luluh? “Cukup omong kosongnya? Aku tidak punya waktu meladeni sandiwara menjijikkanmu ini. Saat bertemu dengan para tetua nanti, sebaiknya jaga sikapmu. Aku tidak ingin kamu menyerang Mia lagi seperti dulu.” Dia berbalik dengan sikap dingin, bersiap untuk menaiki tangga sekali lagi, tapi dia kembali berhenti dan menatap tajam wanita di depan jendela besar. Kening bertaut kencang, berkata sangat dingin penuh ancaman, “Ayahmu meminta bantuan dana tambahan baru-baru ini. Kalau kamu masih tidak menghentikan semua tingkah gilamu, aku tidak akan segan-segan menarik semua uang dan investasiku dari perusahaan kalian. Paham? Hal terakhir yang akan aku lakukan adalah memberimu surat cerai!” Aila membeku, tapi dia diam saja. Mengancamnya dengan keluarganya sudah tidak mempan. Mereka semua sudah tidak akan ada hubungannya lagi setelah dia meninggal kelak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD