Bab 8 Tuduhan Keji Suaminya

1103 Words
Aila Janitra mengabaikan ancaman suaminya. Dia hanya melihatnya berjalan menuju ke lantai atas, meninggalkannya sendirian di ruang tamu yang sangat luas dan sunyi tersebut. Tidak ada bedanya dengan kuburan. Aila menggenggam ponsel di tangannya, buku-bukunya menguat. Dengan tatapan kosong, dia berbisik di udara, “Ardan, sepertinya takdir di antara kita berdua hanya sampai di sini saja. Aku harap kamu benar-benar bisa bahagia dengan keputusanmu kelak.” Aila biasanya akan membantu pria itu menyiapkan segala keperluannya, tapi semenjak pria itu amnesia, dia dilarang untuk menyentuh semua barang-barangnya. Bukan hanya berpisah kamar, pria itu tidak sudi Aila menyentuh apapun yang terkait dengan dirinya. Dia biasanya juga akan menyiapkan makanan untuknya dengan penuh cinta. Namun, sejak amnesia menghilangkan sosok suaminya yang sangat mencintainya, tidak ada satupun masakan yang pernah disentuhnya lagi sampai detik ini. Aila menoleh ke arah jendela besar, menatap taman bunga yang sangat indah dan luar biasa besar di luar sana. Dengan suara berbisik yang terdengar pasrah dan kalah, Aila berkata pelan, “Ardan, karena kamu sudah mati di hatiku. Maka taman cinta itu sudah tidak ada maknanya, bukan? Kalau begitu, besok aku akan menghancurkannya dengan tanganku sendiri.” *** Aila tidak ingin naik ke lantai atas meski dia dan Ardan tidur di kamar terpisah. Sebaliknya, dia menuju ke dapur dan menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri. Para pelayan di kediaman itu, tidak hanya mulai memusuhinya karena dianggap sebagai benalu oleh suaminya sendiri, tapi juga mulai membangkang dan enggan untuk membuat makanan untuknya. Mau tidak mau, dia harus turun memasak ke dapur dan mengurusi semua keperluannya. Mulai dari berbelanja, menyiapkan makanan,da menyiapkan peralatan makan. Semuanya serba sendiri. Tidak peduli ada lebih dari 20 pengurus rumah di sana. Aila tinggal di rumah pernikahannya seperti orang asing. Diabaikan dan tidak dianggap sama sekali. Untungnya, masih ada yang diam-diam peduli kepadanya. Tapi, Aila tidak mau membuat mereka kesulitan dan ikut-ikutan dibenci karena membelanya. Makanya, dia harus bisa mandiri, berpura-pura kuat sebagai Nyonya rumah mereka yang bangga dan terhormat. Sayangnya, berpura-pura dalam waktu lama sangatlah melelahkannya. Sekitar setengah jam kemudian, Aila duduk dengan tenang di meja makan sambil menikmati hidangan yang mengeluarkan wangi harum yang luar biasa lezat. Dari arah tangga, suara langkah terdengar menuju lantai bawah. Aila berpura-pura tidak mendengarnya. Baginya, keberadaan pria itu sudah seperti hantu yang menghiasi hidupnya. Meskipun kadang-kadang masih kecewa melihat suaminya yang sudah berubah drastis, dia menekankan di dalam hatinya kalau pria itu sudah mati. Dia menerima perlahan kalau dia adalah janda yang ditinggal mati oleh suaminya dengan cara paling konyol. “Aku akan keluar negeri selama satu minggu. Kalau kamu ada masalah hubungi saja kepala pengurus rumah ini. Jangan membuat masalah di belakangku. Mia akan pergi bersamaku. Jadi, jangan merencanakan hal jahat yang membuatku ingin memberimu surat cerai.” Aila berhenti menggerakkan peralatan makannya. Dia menoleh dengan ekspresi datar dan tampak bosan. Melihat ekspresinya yang tidak memiliki cahaya dan kobaran api seperti dulu, membuat hati Ardan terasa sesak. Entah kenapa, keningnya berkerut dalam, matanya tertuju pada sajian makanan di atas meja makan. Apakah dia masak sendiri ? Kenapa hidangannya begitu sederhana? Di atas meja hanya ada dua lauk sederhana. Satu mangkuk nasi dan segelas air putih. Bukankah dia selalu memberikannya uang bulanan meski pernikahan mereka terkesan dingin? Apakah kesehatannya benar-benar memburuk? Pikiran mengenai mendapati Aila di rumah sakit membuat hatinya gelisah. Tubuh wanita itu semakin kurus dan juga sepertinya selera makannya berkurang drastis. Namun, ketika teringat dengan perkataan teman-temannya yang memberitahunya kalau Aila akan melakukan apapun demi mendapatkan tujuannya, hatinya seketika menjadi dingin seperti es. Bagaimana kalau penampilannya saat ini hanyalah sandiwara ekstremnya untuk meraih hatinya? Apakah menjebaknya dan tidur bersamanya tidak cukup? Dia telah mencari tahu kejadian beberapa bulan lalu, dan juga mengetahui dari Mia kalau dia pernah melihat Aila bertemu dengan seseorang sehari sebelum kejadian itu berlangsung di tempat yang sama. Walaupun masih sebuah kecurigaan, tapi Ardan bisa menebak pola pikir wanita itu yang ingin mempertahankan statusnya dengan segala cara. Aila mengerutkan kening jengkel, menatapnya yang berdiri diam saja di sana. “Tuan Mahardika sudah memberikan informasi yang sangat jelas. Kenapa masih berdiri di situ? Apakah masih ada perintah yang harus saya dengarkan?” sindir Aila dengan suara dingin yang rendah. Suaranya terdengar sangat halus dan lemah, seolah-olah tidak ada tenaga dalam dirinya. Kening Ardan mengerut jengkel. Dia juga tidak tahu kenapa dia bertingkah seperti ini. Namun, melihatnya makan dengan cara yang sangat kesepian itu membuat hatinya sangat tidak nyaman. Rasanya hatinya berdarah dan sangat sakit. “Aku memberitahumu hal penting ini agar kamu tidak melakukan hal nekat lagi, seperti menyewa detektif dan mengikutiku ke mana-mana. Aku hanya akan pergi selama satu minggu. Jadi, aku harap kamu duduk manis di rumah. Berhenti bertingkah gila dan membuat keluarga kita malu. Selain itu, sandiwaramu yang makan dengan cara kesepian ini, kamu pikir bisa membuat hatiku melunak? Berhentilah menyiksa dirimu sendiri, Aila Janitra. Semua taktik licikmu tidak akan pernah berhasil. Aku juga sudah memaafkan perbuatanmu yang sudah menjebakku tidur bersama. Masih ada masalah yang lebih penting yang harus aku selesaikan daripada mengurusi tingkah gilamu itu. Lain kali, jangan coba-coba mengulanginya lagi. Semua perbuatanmu sudah membuatku jijik. Kamu tidak perlu membuatku semakin jijik dengan kehadiranmu. Apalagi mencoba mengikatku dengan anak di antara kita berdua. Paham?” Aila seperti disambar petir di wajahnya. Dia tertegun dengan ekspresi pucat pasi. Ardan memang sangat pragmatis. Tapi, tidak menyangka dia juga begitu terkait buah hati mereka. Seolah-olah, yang dia bicarakan bukanlah manusia. Seolah-olah, yang dia bicarakan tadi tidak akan menyakiti hatinya. “Apa katamu barusan?” ucapnya berbisik tidak percaya. Ardan memperbaiki dasi di lehernya dan berkata dengan ekspresi dingin, “Aku sudah menyelidiki kejadian hari itu. Mia bilang dia melihatmu bersama seseorang sehari sebelumnya di tempat yang sama. Aku melihat kegigihanmu dan keras kepalamuselama ini, jadi semua itu pasti rencanamu, bukan? Kamu berniat menjatuhkanku dan memanfaatkan situasi hanya demi kepentingan egoismu semata. Batas kesabaranku adalah kamu mengganggu Mia, kalau kamu menggangguku, aku masih bisa bersabar, tapi kalau sudah menyangkut Mia? Jangan pikir aku bisa bersabar selamanya.” Aila yangterdiam dengan ekspresi kecewa dan tidak percaya, tiba-tiba saja tertawa dingin dan tampak sedikit gila. Melihatnya yangtertawa aneh di ruang makan yang sedikit remang-remang, siluet rapuh dan kurus wanita itu tampak semakin menyedihkan. Hati Ardan seperti diremas oleh tangan yang tak terlihat. Seolah-olah dia ingin segera berlari dan memeluknya. Sindiran tajam keluar dari mulutnya, berkata dingin menatap pria yang berdiri angkuh dan sombong di depan sana. “Ardan Mahardika, jadi kamu berpikir aku sengaja berkomplot dengan saingan bisnismu agar menjebakmu tidur bersama denganku? Hebat! Hebat sekali! Semua itu, Mia yang mengatakannya kepadamu, bukan ? Tidak peduli itu benar atau tidak, selama Mia yang mengatakannya, kamu pasti akan selalu percaya kepadanya. Bukankah aku sangat menyedihkan dan konyol sebagai istrimu?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD