Melihatnya yang tertawa seperti itu, hati Ardan berpuntir rumit. Keningnya mengencang erat.
“Aila, sikapmu semakin keterlaluan setiap harinya. Apa kamu sudah benar-benar akan gila karena cemburu? Kamu pikir dengan bersikap seperti ini aku akan kasihan kepadamu?”
Aila tersenyum tipis, lalu berkata dengan sangat tenang, “Apa yang bisa aku katakan ketika kamu sudah menilaiku duluan seperti itu? Aku tidak punya kesempatan untuk membela diri selama ini, bukan? Kalian semua sudah terlebih dahulu mengecapku dengan sangat buruk. Apapun yang aku katakan tidak ada gunanya. Jadi, aku akan berhenti untuk membela diri. Terserah apapun pemikiranmu tentang diriku, aku sudah tidak peduli lagi. Sekarang, silahkan pergi. Kamu mengganggu selera makanku saja.”
Aila kembali makan dengan tenang, seolah-olah pria itu benar-benar tidak ada di ruangan yang sama dengannya.
Ardan Mahardika hendak mengatakan sesuatu dengan perasaan jengkel di hatinya, tapi begitu melihatnya yang tampak jinak, hatinya sedikit melembut.
Kalau saja dia bisa menurut seperti ini dan tidak berbuat gila di luar sana, hanya gara-gara cemburu, mungkin mereka berdua bisa menjalani pernikahan tenang meskipun Ardan tidak menyukainya.
Aila menikmati makanannya meskipun sebenarnya dia hanya memaksakan diri. Dari ujung matanya, dia melihat pria itu berbalik dan pergi dengan aura dingin yang menyesakkan dadanya.
Sudut bibir Aila tertarik membentuk senyuman pahit.
Pria itu benar-benar tidak peduli kepadanya. Bahkan tidak bertanya kenapa tubuhnya semakin kurus. Namun, tidak mengapa. Perhatian darinya sudah tidak menjadi hal penting lagi.
Makanan di atas meja bisa dibilang tidak begitu banyak, tetapi bahkan setengah dari isinya belum habis. Tidak berapa lama kemudian, Aila merasakan perutnya bergolak. Rasa sakit yang aneh memuntirnya seperti berada di mesin cuci raksasa. Dengan cepat, Aila menutup mulutnya dan berlari tergesa-gesa menuju ke arah toilet.
Di dalam sana, suara muntah yang terdengar begitu menyiksa, menggema di dalam ruangan. Aila muntah dengan sangat pucat. Tidak hanya makanan tadi yang keluar begitu saja, tapi juga asam lambung yang bercampur dengan darah.
Aila duduk terperosok di dinding, menyeka mulutnya dengan punggung tangan kanan. Sorot matanya kosong.
Bahkan makan pun kini terasa sangat tidak nyaman.
Dokter bilang, meskipun dia menolak melakukan kemoterapi, tetap saja karena penyakit yang dideritanya, selera makannya akan turun drastis dan perutnya tidak akan bisa mengunyah dengan baik
Hari ini, dia berniat untuk menyenangkan diri, berpura-pura tidak ada yang terjadi. Setidaknya, itu adalah salah satu hal normal yang ingin dilakukannya dari sekian banyak daftar keinginan sebelum mati. Sayangnya, rencana itu tidak berjalan sesuai dengan keinginannya.
Sudut mata Aila meneteskan air mata dalam diam. Setelah terisak selama beberapa menit, dia bangkit dari lantai dan mengusap wajahnya dengan air.
“Tidak apa-apa, Aila. Kamu bisa melakukannya. Hidup singkat ini bisa dipenuhi dengan hal-hal indah dan menakjubkan. Tidak perlu ada Ardan Mahardika di dalamnya. Cintai dirimu dan sayangi dirimu. Kamu lebih berharga daripada yang mereka pikirkan,” ucapnya kepada bayangan dirinya di cermin.
***
Keesokan paginya, Aila Janitra bangun dengan perasaan sedikit lebih baik.
Suasana hening di rumah pernikahannya membuat hatinya lebih tenang.
Biasanya, ketika dia terbangun akan ada pelayan tua yang diam-diam bertanya tentang sarapan pagi untuknya, bertingkah seperti pencuri yang takut ketahuan.
Sebenarnya, Nyonya rumah ini siapa?
Kenapa dia malah didatangi seperti seorang tahanan tersembunyi hanya untuk sarapan pagi semata di rumahnya sendiri?
Gara-gara itu, Aila menolak perhatiannya. Tapi, meski begitu, pelayan tua masih muncul untuk bertanya kepadanya.
Kemarin, dia mengancamnya dengan pemecatan tanpa pesangon jika masih melakukannya. Akhirnya, pelayan tua itu sepertinya benar-benar mendengar ucapannya.
Karena sebentar lagi dia akan pergi untuk selamanya, dia tidak ingin ada orang yang tertinggal dan tersakiti olehnya.
Para penghuni mansion di sini tahu kalau pernikahan selama 3 tahun mereka sangatlah indah dan membuat semua orang merasa iri.
Sayangnya, di antara mereka, jelas ada yang tidak senang dengan kebahagiaan dirinya dan Ardan. Ada pula yang takut mendapatkan kesialan gara-gara membelanya saat Ardan berhenti mencintainya, makanya menjaga jarak.
Orang-orang yang semula tunduk dan patuh kepadanya selama 3 tahun pernikahan, berbalik satu persatu menganggapnya seperti orang asing yang tinggal di atap yang sama.
Melihat tampilan dirinya di cermin terlihat sedikit hidup dan cerah berkat bantuan riasan, Aila berjalan penuh tekad menuruni tangga. Dia melirik ke arah meja makan, tidak ada sarapan sama sekali. Entah harus merasa bersyukur atau lega, Aila tidak tahu harus merasakan apa.
Dengan helaan napas berat, dia kembali membuat makanan ringan seadanya.
Setelah merasa dirinya cukup kenyang (bersyukur tidak ada adegan muntah lagi seperti kemarin), dia bergegas menuju ke gudang yang ada di taman belakang.
Di tengah jalan, tukang kebun tua menatapnya dengan ekspresi heran.
“Nyonya Mahardika, tidak biasanya melihat Anda di sini pagi-pagi. Anda sedang apa?” tanya pria tua itu yang sangat ramah dan sopan, salah satu dari pengurus mansion yang masih menganggapnya sebagai Nyonya di sana.
Aila Janitra tidak akrab dengan tukang kebun itu, tapi hubungan mereka bisa terbilang sangat baik berkat adanya taman indah yang dibangun oleh Ardan untuknya.
“Saya sedang ingin berkebun, Pak Juno,” katanya ringan.
Pak Juno tampak bersemangat, lalu tersenyum dengan gembira, “Oh! Anda ingin berkebun, ya? Apakah ada tanaman baru yang akan dikirim ke mansion ini? Sudah lama sekali sejak Anda dan Tuan menanam bunga tulip merah bersama-sama!”
Aila menggeleng cepat, tersenyum tipis.
“Saya ingin mencabut beberapa tanaman yang tidak perlu. Anda tidak perlu membantu Pak Juno. Hari ini, Anda boleh libur seharian. Saya ingin melakukannya sendiri sebagai terapi untuk menenangkan diri. Anda pasti paham maksud saya, bukan?
Pak Juno menatapnya sedikit ragu, dia tidak yakin dengan ucapannya.
Aila tertawa kecil, lalu berkata dengan sangat meyakinkan, “Tenang saja, Pak Juno. Saya tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh. Saya hanya akan mencabut tanaman yang menurut saya tidak layak lagi untuk menghiasi tempat ini. Saya ingin awal yang baru. Jadi, ingin sekali menanam penggantinya.”
Bunga tulip merah yang dia tanam bersama Ardan memiliki arti cinta yang dalam dan abadi, serta tak terbatas.
Sayang sekali, cinta pria itu sama sekali tidak sesuai dengan janjinya. Semuanya hancur hanya karena ingatan yang terkunci, melupakannya selamanya.
Pak Juno membiarkannya pergi, lalu menghela napas berat.
“Kasihan sekali, Nyonya....”
Aila tidak mendengarkan kalimatnya. Wanita itu berjalan dengan wajah penuh tekad dan tanpa ragu.
Sekitar 15 menit kemudian, dia sudah tiba di kebun indah tersebut. Di tubuhnya sudah lengkap dengan perlengkapan untuk berkebun. Cangkul tergenggam di kedua tangannya, dan dalam sekali ayunan, bunga mawar merah indah di depannya langsung menjadi korban pertamanya!