Bab 10 Eskavator dan Aila yang Menggila di Taman

1545 Words
Hari itu, Aila Janitra benar-benar menghancurkan taman yang sudah dibangun oleh suaminya dengan susah payah sejak awal pernikahan mereka. Hancur seperti sudah terkena badai mematikan! Aila tidak hanya menghancurkan bunga-bunga yang ada di sana dengan mencangkulnya sendiri, tapi dia juga memesan alat berat, sebuah eskavator untuk memberikan efek yang lebih dramatis dan kuat. Karena Aila belum pernah mengendarai atau menggunakan eskavator sebelumnya, maka dia menghabiskan hampir satu jam untuk mempelajarinya dari operator yang datang ke sana. Para pengurus mansion yang melihat kegilaan itu hanya bisa berdiri gemetar hebat. Mereka benar-benar tidak percaya melihat apa yang terjadi di depan mata mereka sekarang Sudah menjadi pengetahuan umum dan melegenda bahwa taman di mansion itu adalah bukti cinta Ardan Mahardika kepada istrinya. Namun, sekarang wanita itu malah menghancurkannya dengan tangannya sendiri! “Astaga! Apakah Nyonya benar-benar sudah gila?” ucap seorang pelayan wanita tua dengan wajah tidak percaya. Pelayan wanita muda di sebelahnya berkata dengan penuh rasa tertarik dan senyum aneh di wajahnya, mata terus ke arah eskavator yang bergerak ke sana kemari, menyesuaikan pergerakan alat di udara, “Kalau aku jadi Nyonya, melihat suamiku selingkuh dan tidak mengingatku sama sekali, tentu saja aku pasti akan meledak hebat! Kalau perlu, aku akan meruntuhkan mansion ini jika memang itu yang dibutuhkan!” Pelayan tua di sebelahnya terkejut mendengarnya. “Jaga ucapanmu! Kalau Nyonya benar-benar ingin menghancurkan mansion ini, menurutmu kita akan bekerja di mana?” Aila Janitra mengabaikan tatapan para pelayan yang berdiri cukup jauh di pinggir taman. Dia tahu jelas kalau mereka semua sedang menggosipkannya. Namun, Aila tidak peduli. Sementara para pengurus terus sibuk bergosip dan harap-harap cemas melihat kelakuannya, Aila sudah berhasil menguasai sedikit cara menggunakan eskavator tersebut. Dengan perlahan dan percaya diri, dia akhirnya menggerakkan alat tersebut untuk menggali sebuah taman mawar warna-warni yang berbentuk hati. Dalam sekali cerukan dalam dan besar, bunga-bunga itu seketika lepas dari tempatnya. Aila Janitra tidak berhenti sampai di situ saja, dia menggerakkan eskavator menuju sebuah gazebo bergaya yunani dan mewah. “Oh, ya, Tuhan! Apakah dia juga akan menghancurkan tempat yang indah itu? Bagaimana kita akan bersantai nantinya?! Dia boleh menghancurkan bunga-bunganya! Tapi, kenapa harus gazebonya juga?!” seru pelayan muda tadi dengan ekspresi pucat dan terkejut luar biasa. Kalau hanya sekedar melihat tanaman yang hancur, maka pelayan muda itu merasa masih bisa ditanami dengan tanaman baru. Namun, gazebo bergaya yunani itu bernilai sangat fantastis. Semua bahannya didatangkan dari luar negeri, termasuk lantai marmernya dipilih dengan sangat hati-hati dengan kualitas tinggi. Dia tidak percaya kalau Nyonya mereka benar-benar akan menghancurkan semua hal yang ada di taman tersebut! Kepala pelayan pucat pasi melihat kelakuan Nyonya mereka yang menggila hebat. Sayangnya, dia tidak berani menghubungi Ardan Mahardika, karena Aila sudah memperingatkannya kalau apa yang dia lakukan hari ini tidak boleh sampai diketahui oleh siapapun. Dia juga tidak ingin mengganggu Ardan dengan kelakuannya yang dicap kekanak-kanakan. “Hai, Pak Yusuf, apa kamu tidak akan menghubungi Tuan Besar?” tegur pelayan muda tadi Dari papan namanya yang tersemat di dadanya, tertulis jelas: ‘Kikan’. Kikan benar-benar sangat cemas melihat taman itu dihancurkan tanpa ampun. Semua rasa menarik sebelumnya langsung hilang. Kepala pelayan berkata prihatin sambil tetap melihat kelakuan Aila Janitra dari jauh, “Kikan, menurutmu, jika Tuan Besar mendengar apa yang sedang diperbuat oleh Nyonya sekarang, maka dia akan pulang dan menghentikannya? Apa dia akan peduli? Dia pasti hanya akan menilainya sedang mencari perhatian dan jahat.” Semua pelayan yang ada di sana berdiri gugup mendengar penuturan Pak Yusuf. Apa yang dikatakannya masuk akal. Bahkan, ketika Nyonya mereka kesakitan beberapa saat lalu dan memintanya untuk dibawa ke rumah sakit, pria dingin itu malah menyuruh mereka semua membiarkannya saja kesakitan sendirian di kamar dan malah sibuk menemani wanita lain ke luar negeri. Kalau hanya menghubunginya dan memberitahunya tentang kelakuan gila istrinya di taman mansion, pria itu pasti tidak akan peduli sama sekali. Meski mansion mereka dihancurkan olehnya juga, sepertinya Ardan Mahardika hanya akan mengabaikannya seperti angin lalu. Pada akhirnya, setiap pelayan hanya bisa mengelus dadanya melihat taman yang indah dan cantik itu dihancurkan sedemikian rupa. Meski ada yang tidak suka melihat pernikahan bahagia Aila dan Ardan di masa lalu, tapi taman indah itu sangat disukai oleh semua pengurus mansion. Mereka bisa bersantai dan beristirahat melepas lelah sambil melihat hal-hal menyenangkan di sekitarnya. Sekarang, hal itu tidak akan pernah terjadi lagi. Pak Juno yang memiliki firasat tidak enak sebelumnya, juga berdiri di antara pengurus lainnya dengan wajah terdiam tanpa emosi. Tidak lama kemudian, dia berkata sambil berbisik halus di udara, “Sepertinya, Nyonya benar-benar sudah menyerah dengan pernikahannya. Mungkin tidak lama lagi kita akan mendengar surat cerai di rumah ini.” Semua pelayan menatapnya aneh, mengira dia hanya bicara sangat sembarangan. Pelayan wanita tua sebelumnya yang tidak setuju taman dihancurkan, berkata cepat, “Pak Juno! Tolong jaga ucapan Anda! Kalau Nyonya mendengarnya, Anda pasti akan dipecat!” Pak Juno menoleh ke arahnya dengan helaan napas berat. “Jumaira, apa kamu sama sekali tidak memahami tindakan Nyonya ini? Apa makna penting dari taman ini? Asal kamu tahu, taman ini adalah lambang cinta sejati dari Tuan Besar untuk Nyonya. Jika Nyonya memutuskan untuk menghancurkannya, apalagi dengan tangannya sendiri, itu artinya dia sudah tidak memiliki harapan lagi dalam pernikahannya. Kita semua tahu kalau Tuan mengalami amnesia dan kecil kemungkinan untuk bisa mengingat semuanya kembali. Terlebih lagi dengan banyaknya gosip di luar sana dan pernikahan mereka berdua yang hanya beberapa kalangan orang yang mengetahuinya, menurutmu apakah pernikahan mereka masih akan bertahan lama? Publik hanya mengetahui kalau Tuan Besar adalah pria yang masih lajang dan menjalin hubungan misterius dengan wanita yang sangat cantik dan berbakat. Jika Nyonya muncul di antara mereka berdua, menurutmu siapa yang akan dicap sebagai orang ketiga? Kita semua tahu kalau di masa lalu, Tuan Besar selalu tergila-gila kepada Mia Sanjaya, superstar yang digandrungi oleh seluruh negeri. Bahkan bagaimana dia sangat memanjakannya sudah menjadi pengetahuan dasar bagi semua kalangan. Apalagi saat ini hubungan mereka semakin berani di depan umum. Apa kesempatan Nyonya untuk mendapatkan hati Tuan Besar kembali?” Semua terdiam. Hanya terdengar suara eskavator dan suara seorang operator yang mengarahkan Aila Janitra untuk menghancurkan bagian lain dari taman yang ada di sana. Pak Juno memang benar. Pernikahan Aila Janitra dan Ardan Mahardia memang bisa dikatakan pernikahan pribadi. Tidak diumumkan secara khusus ke publik karena alasan yang sangat krusial. Makanya, hanya kalangan tertentu saja yang mengetahuinya. Publik? Tidak. Mereka tidak pernah mengumumkannya secara resmi. Ardan juga jarang mengajaknya mendatangi pesta-pesta elit dan terbuka sejak mereka menikah, karena Aila tidak suka keramaian. Itu sebabnya, Aila tidak hanya kesulitan menunjukkan hubungannya dengan Ardan di masa lalu, tapi juga mendapat ejekan dari orang-orang sebagai wanita licik dan penuh manipulasi setelah Ardan amnesia. Tidak lama kemudian, eskavator yang dikendalikan oleh Aila Janitra langsung menghantam gazebo bergaya yunani dengan suara yang menghancurkan. Sangat keras, sangat kuat! Semua pengurus yang berdiri di tepi taman cepat-cepat menoleh dengan ekspresi kaget dan terkejut. Gazebo yang terlihat indah dan megah kini sudah hancur berkeping-keping di tanah! Wajah mereka langsung pucat pasi, kehilangan kata-kata. Di sis lain, di dalam kendaraan alat berat itu, Aila Janitra tersenyum dingin dengan air mata yang menetes-netes di wajahnya. “Ardan Mahardika, kamu sudah melupakanku, bukan? Dengan senang hati, aku akan membantumu menghapus semua jejakku dalam hidupmu!” gumamnya dengan menggertakan gigi penuh tekad. Dia lalu menggerakkan lagi eskavator untuk menghancurkan sebuah ayunan di dekatnya, khusus dibuat oleh Ardan dengan tangannya sendiri. Dalam sekali hantaman, buatan pria itu langsung menjadi besi penyok yang tidak berbentuk lagi. Walaupun sedih tak terkira karena harus menghancurkan semua jejak cinta mereka di masa lalu, anehnya, hati Aila merasa sangat tenang dan damai. Baginya, Ardan Mahardika yang amnesia tidak layak untuk mendapatkan cintanya! Setelah hampir seharian menghancurkan taman hingga membuat para pengurus gemetar ketakutan, dengan tubuh yang sudah kelelahan dan berkeringat banyak, Aila Janitra yang berwajah dingin dan datar tampak berjalan melewati semua orang yang menatapnya ketakutan. Wanita itu terus berjalan menuju ruang tamu, meraih sebuah kursi untuk dinaiki dan tanpa ragu menurunkan sebuah bingkai foto ukuran besar. Dengan gerakan acuh tak acuh, Aila langsung membuangnya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Para pelayan yang melihat adegan itu terkesiap kaget dengan ekspresi ketakutan luar biasa. Wajah mereka semua pucat seperti baru saja melihat hantu. Aila Janitra baru saja menghancurkan foto pernikahannya bersama Ardan Mahardika! Tidak bisa dipercaya! “Sepertinya, perceraian benar-benar akan segera terjadi di mansion ini!” bisik Kikan dalam nada panik luar biasa. Aila seperti bisa mendengar ucapannya, menoleh ke arahnya sambil turun dari kursi. Kikan terkejut menyadari dirinya ditatap dingin olehnya. “Nyo-Nyonya! Saya tidak berkata apapun! Sungguh!” Aila berjalan mendekati mereka semua tanpa mengubah emosinya. Lalu, bukannya menegur Kikan, dia menatap kepala pelayan di dekatnya. “Pak Yusuf, tolong siapkan uang pesangon untuk semua pengurus di mansion ini.” Syok! Semua pelayan seperti disambar petir di kepala mereka! Setelah menghancurkan taman seperti orang gila dan menghancurkan foto pernikahannya, sekarang Nyonya mereka akan memecat semua pelayan?! “Nyo-Nyonya! Anda tidak bisa memecat kami semua begitu saja! Anda harus membicarakannya dengan Tuan Besar!” Aila tersenyum dingin yang sangat mengintimidasi, sangat tenang dan halus. “Pak Yusuf, apa Anda lupa? Pemilik mansion ini, bukankah atas nama saya? Saya berhak melakukan apapun tanpa ada yang bisa melarang saya, bukan?” Semua pelayan kembali terkejut! Itu memang benar! Setiap jengkal tanah di tempat ini adalah milik Nyonya mereka! Matilah sudah! Perceraian sepertinya benar-benar akan terjadi dalam waktu dekat!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD