Bab 11 Mereka Semua Bersujud Memohon Kepadanya

1164 Words
Semua pelayan yang mendengar perkataannya yang begitu tenang seketika merinding dibuatnya. Mereka ingin membantah dan mengatakan hal-hal yang penuh protes, tapi menyadari tindakan gilanya hari ini, membuat mereka kehilangan keberanian. Mereka juga tidak ingin mengambil risiko membuat Aila Janitra marah, lalu mendapat masalah dengan gaji dan posisi mereka. Pak Yusuf mencoba untuk membujuknya “Saya tahu kalau suasana hati Anda sedang sangat buruk. Tapi, memecat orang yang tidak bersalah, bukankah itu sangat keterlaluan? Saya tahu juga kalau beberapa orang di sini tidak membela Anda ketika Tuan menuduh Anda. Namun, siapa yang berani melawan Tuan selama ini? Hanya Anda yang bisa berani membantahnya, Nyonya!” Sejak Ardan Mahardika mengalami amnesia dan hanya mengingat Mia Sanjaya sebagai cinta pertamanya, Aila selalu mencoba meminta bantuan orang-orang di mansion itu untuk membuktikan pernikahan mereka yang sangat bahagia dan indah. Sayangnya, meskipun ada yang bersedia untuk memberikan kesaksian dan berkata jujur dengan apa yang terjadi, Ardan malah menuduh mereka berkomplot dan menjadi kaki tangan Aila. Ardan juga menuduhnya kalau para pelayan di mansion, entah disuap atau diancam olehnya, makanya mau ikut bekerja sama dengan segala tipu muslihatnya. Memang sangat tidak masuk akal setelah semua bukti yang diberikan oleh Aila kepada suaminya, termasuk rekaman CCTV di mansion tersebut dan tidak ada satupun yang dipercayai olehnya sama sekali. Sangat ironis, kan? Ada banyak keseharian mereka yang menunjukkan betapa harmonisnya rumah tangga mereka selama 3 tahun sebelum dia amnesia. Namun, lagi-lagi, Ardan Mahardika menilainya sebagai tipu daya yang sangat canggih untuk meyakinkan semua sandiwaranya. “Aila Janitra, kamu pikir dengan memberiku bukti rekaman CCTV ini, maka aku akan percaya dengan semua ucapanmu? Kamu pikir aku bodoh? Zaman sekarang, siapa yang tidak tahu dengan teknologi AI? Aku yakin kamu sudah memanipulasi semua bukti yang kamu berikan kepadaku!" Dengan tuduhan seperti itu, bagaimana mungkin Aila bisa meyakinkan suaminya sampai detik ini? Kecanggihan teknologi yang disalahgunakan dan juga omongan jahat orang lain adalah perpaduan mematikan bagi orang yang tidak bersalah. Mendengar penuturan Pak Yusuf yang terdengar tergesa-gesa, Aila kembali tersenyum dan berkata pelan, “Saya memberhentikan kalian semua bukan karena dendam dan rasa benci gara-gara tidak membantu saya, ataupun berbalik melawan saya. Saya ingin tinggal di mansion ini dengan suasana yang baru dan tidak ingin mengingat masa lalu lagi. Bukankah jika ingin move on dari seseorang, maka harus menghapus semua hal yang berkaitan dengan orang itu? Jadi, ini tidak ada kaitannya dengan kalian semua ataupun apa yang kalian perbuat. Jangan khawatir, uang pesangon yang kalian terima akan berjumlah sama banyaknya dengan masa dedikasi kalian di tempat ini. Saya juga akan memberikan bonus tambahan jika uang pesangon itu masih kurang cukup. Selain itu, saya juga akan membantu mencarikan kalian semua tempat pekerjaan baru yang lebih baik daripada tempat ini.” Semua para pelayan saling pandang dengan tatapan bermacam-macam. Ada lega, curiga, tidak senang, penasaran, dan juga tidak tahu harus berkata apa. Kepala pelayan menghela napas berat, menatapnya dengan sungguh-sungguh. “Nyonya, meskipun begitu, sebagian besar pelayan sudah bekerja di tempat ini selama bertahun-tahun. Mansion ini memang sudah atas nama Anda, tetapi ini adalah mansion turun-temurun di keluarga Mahardika. Untuk berpisah secara mendadak, jelas tidak akan mudah.” Aila kembali tersenyum tipis dan berkata dengan sangat bijak. “Pak Yusuf, setiap pertemuan akan ada perpisahan. Setiap permulaan pasti akan ada akhirnya. Nasib semua orang berubah dengan cepat tanpa bisa ditebak oleh siapapun. Saya menawarkan keuntungan yang sangat luar biasa. Jika ada yang menolaknya, maka tidak masalah. Mereka bisa berhenti bekerja tanpa menerima pesangon ataupun bonus tersebut.” Hati mereka seketika menegang hebat, saling pandang dengan tatapan cemas dan panik. Pak Yusuf seketika keringat dingin luar biasa. “Nyonya! Tolong pikirkan sekali lagi!” Belum sempat Aila membuka mulut, kepala pelayan tua itu tiba-tiba saja bersujud di depannya dengan kepala menyentuh lantai. Syok! Semua orang tercengang dan terdiam hebat! Aila Janitra tertegun dengan ekspresi kaget dan tidak percaya. Pak Yusuf adalah salah satu penghuni lama mansion ini dan memiliki dedikasi tinggi yang luar biasa. Orang pertama yang membelanya ketika Ardan mengalami amnesia adalah pria tua itu. Namun, apapun penjelasan darinya, Ardan Mahardika tetap bersikeras dengan keputusannya. Malahan, dia berkata bahwa meskipun memang kenyataannya selama 3 tahun masa pernikahan mereka sangat bahagia, dia yang sekarang bukanlah pria yang menemaninya selama masa-masa itu. Dengan kata lain, meskipun Ardan mengakui kebahagiaan mereka di masa lalu, sebenarnya dia jelas-jelas menolak untuk kembali. Aila saja yang keras kepala selama ini. Melihat apa yang dilakukan oleh Pak Yusuf, semua pelayan ikut-ikutan bersujud di lantai. Seolah-olah, Aila Janitra adalah Ratu kejam yang hendak memutuskan hukuman mati bagi semua orang. “Apa yang kalian lakukan semua? Cepat berdiri!” ucapnya dengan ekspresi jengkel luar biasa. Pak Yusuf berkata dengan sangat keras kepala, “Tolong pikirkan kembali sekali lagi, Nyonya! Kami mohon! Ini bukan masalah tentang gaji ataupun bonus yang luar biasa itu, tapi kami semua sudah menganggap tempat ini sebagai rumah sendiri! Tolong jangan usir kami, Nyonya!” Semua orang yang bersujud di belakang Pak Yusuf mengucapkan hal yang sama dengan suara keras dan memohon, nyaris menangis tersedu-sedu. Memang mansion itu memiliki arti yang sangat mendalam bagi sebagian besar pelayan. Ada banyak kejadian yang sulit dilupakan di sana. Berpisah tiba-tiba jelas adalah hal yang sangat berat dan sangat memukul mereka. Aila Janitra mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dia tampak berpikir sesaat, lalu berkata pelan dengan suara berbisik halus, “Baiklah. Tapi, aku tidak berjanji akan mengubah keputusanku. Sebaiknya kalian bersiap-siap saja untuk meninggalkan tempat ini kapanpun aku memutuskannya. Masalah uang dan pekerjaan baru tidak perlu kalian khawatirkan. Aku akan membantu kalian sampai mendapatkan kehidupan yang lebih baik.” Semua orang langsung menaikkan kepala mereka, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Mereka seketika serempak kembali bersujud dan mengucapkan banyak terima kasih berkali-kali, seolah-olah mereka benar-benar sedang menyembah seorang Ratu kejam dan memberi mereka pengampunan luar biasa. "Terima kasih! Terima kasih, Nyonya!" Aila Janitra tidak memasang ekspresi apapun. Dia datar dan masih dingin. Setelah melihat mereka tampak puas dan merasa terharu, Aila berbalik tanpa mengatakan apapun dan berjalan melewati bingkai foto pernikahan yang hancur berantakan. Di dalam hatinya, dia tidak akan ragu sedikitpun untuk menghapus jejaknya dalam hidup Ardan Mahardika. Meskipun jika itu harus menyakiti orang lain, maka dia tetap akan melakukannya. Sudah cukup baginya untuk mengalah dan berkorban selama ini. Kenapa dia masih harus menjaga perasaan orang lain, sementara orang-orang itu tidak memikirkan perasaannya juga? Bukankah dia sudah sangat bermurah hati dengan memberikan pesangon dan bonus besar, serta membantu mereka untuk mendapatkan pekerjaan baru? Kenapa mereka semua menekannya seperti wanita yang benar-benar jahat? “Bagaimana sekarang?” kata seseorang dengan wajah sudah mau pingsan. “Pak Yusuf! Cepat hubungi Tuan Mahardika sekarang juga!” desak seseorang dengan nada suara hampir menangis. Pak Yusuf hanya bisa menelan ludah gugup. Apakah Tuan mereka akan membantu? Pria tua itu sangat meragukannya. “Kenapa diam saja? Cepat hubungi Tuan! Aku tidak mau dipecat! Cuma tempat ini yang mau menerimaku dengan gaji tinggi dan pekerjaan yang sangat mudah! Aku tidak bisa membayangkan hidup dengan bekerja keras di luar sana, Pak Yusuf! Aku bisa gila dibuatnya!” teriak Kikan dengan wajah sudah basah oleh air mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD