Bab 12 Menghapus Semua Jejaknya dari Dunia Ardan

2501 Words
Kekacauan yang terjadi dengan perubahan drastis dari Aila Janitra membuat semua pengurus mansion harap-harap cemas. Kepala pelayan di sana, Pak Yusuf, mencoba untuk menghubungi Ardan Mahardika. Sayangnya, sepertinya telepon pria itu sedang dinonaktifkan. Jadi, mau tidak mau mereka hanya bisa menunggu hari esok. “Ya, Tuhan! Bagaimana sekarang?” tanya pelayan Jumairah dengan ekspresi pucat luar biasa. Kedua tangannya gemetar hebat. Meskipun sekarang jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk tidur. Semua pengurus berkumpul di belakang mansion dan membicarakan banyak hal tentang kelakuan majikan wanita mereka. Di ujung meja, Pak Yusuf bertopang di tepi meja sambil memijat keningnya. Mata tuanya terpejam erat sambil memikirkan solusi untuk mereka semua. “Kita tidak punya pilihan lain. Satu-satunya yang bisa kita lakukan sekarang hanyalah menunggu.” Dia menaikkan pandangan dan menatap satu persatu semua pelayan yang terlihat gugup di meja tersebut. Dia berkata dengan napas berat, “Sebaiknya, kalian semua bersiap-siap seperti kata Nyonya. Kalian lihat sendiri apa yang terjadi beberapa jam lalu di taman, bukan? Ini bukan sesuatu yang sederhana seperti biasanya. Aku menduga, jika kita tidak segera menyingkir, maka akan ada korban tidak bersalah yang akan menjadi tumbalnya. Nyonya mungkin sudah memikirkan banyak hal sehingga memutuskan untuk memberhentikan semua pelayan di tempat ini.” Semua napas pelayan yang ada di meja tersebut tampak tertahan hebat. Mereka kembali saling pandang. Tidak ada yang berani untuk berkata apapun, atau berkomentar apapun. Akhirnya, setelah mendapat kalimat menenangkan dan jaminan dari Pak Yusuf, semuanya kembali ke kamar masing-masing. *** Di kamar utama, atau lebih tepatnya di kamar pribadi Aila, wanita itu baru saja selesai membersihkan isi kamarnya sehingga terlihat sangat polos dan tampak baru. Seolah-olah, tidak ada orang yang pernah tinggal di sana. Semua dekorasi dan foto pernikahan selama 4 tahun, akhirnya dikumpulkan dalam sebuah kotak besar di tengah ruangan. Wanita bergaun biru lembut melihat ke sekeliling kamar dengan wajah tanpa emosi. Kalau ingin berpisah dari Ardan Mahardika, maka dia akan melakukannya dengan cara yang sangat bersih. Sama seperti beberapa tahun lalu ketika dia belum pernah menjejakkan kakinya ke tempat ini. Aila Janitra berbisik pelan di udara, bulu matanya terkulai sedih, “Bertunangan kurang lebih 3 tahun dan menikah 4 tahun. Ternyata, semuanya hanya muat dalam satu kotak saja.” Hari di mana Ardan kecelakaan dan amnesia, sebenarnya adalah hari ulang tahun ketiga pernikahan mereka berdua. Itu adalah hadiah pernikahan terburuk baginya. Ironisnya, tahun ini, tepat pada hari ulang tahun keempat pernikahan, Aila Janitra malah mendapat hadiah pernikahan yang jauh lebih buruk lagi. Hadiah yang menghancurkan hidup dan dunianya untuk selamanya: keguguran dan penyakit kanker stadium akhir. Bulu matanya bergetar lembut dan tampak ingin menangis, lalu melirik ke arah kotak yang ada di dekatnya. Senyum tipisnya yang tampak hambar terbit dengan sangat menyakitkan. Dia sudah berjanji akan melupakan dan melepaskan pria itu, tapi tentu saja dia butuh waktu untuk melakukannya. Bahkan, perasaan yang tumbuh pun butuh waktu, tidak ada bedanya ketika kamu ingin menghapus seseorang dalam hidupmu. Aila berjalan pelan mendekati meja rias dan melihat sekumpulan perhiasan yang sudah diatur dalam kotak perhiasan khusus. Semua itu adalah pemberian Ardan sejak mereka bertunangan. Ternyata, semakin banyak kenangan, maka semakin sulit untuk menyingkirkan masa lalu. Namun, dia yakin pasti bisa melaluinya. Aila Janitra menyentuh kotak perhiasan itu. Setelah menikah, Ardan selalu memberinya perhiasan dengan makna khusus. Katanya, itu ungkapan cintanya yang lain. Bagi Aila, semuanya terasa tidak berarti lagi. Perlahan, dia menaikkan pandangan menatap bayangan dirinya di cermin. Suaranya berbisik halus di udara, berkata pelan sambil tersenyum ringkih, “Ardan Mahardika. Dulu, kamu ingin mengakhiri hidupmu karena aku memutuskan pertunangan begitu saja dan kabur ke luar negeri. Sekarang, kita akan bercerai dan aku akan pergi selamanya dari dunia ini. Apa yang akan kamu lakukan kemudian saat semuanya sudah terlambat? Aku sudah tidak ada lagi untuk meladeni semua aksi drama konyolmu seperti dulu.” Di masa lalu, ketika Aila Janitra berpikir Ardan sudah sangat muak dengannya, dia kabur tepat pada hari pernikahan mereka sehingga membuatnya seperti orang bodoh di antara ribuan tamu undangan. Pada awalnya, rencana pernikahan itu adalah pernikahan yang dilakukan dengan sangat megah, meriah, dan mewah. Para tamu yang hadir bukanlah orang-orang biasa. Mereka dari kalangan politikus, pebisnis elit, artis dan influencer terkenal hingga orang-orang dari kalangan pemerintahan. Bayangkan betapa malunya pria itu ketika ditinggal mendadak oleh calon pengantin wanita tanpa ada peringatan sama sekali. Pada saat itu, konflik dan salah paham di antara mereka berdua telah mencapai puncaknya. Makanya, Aila memutuskan untuk menghentikan semuanya sebelum terlambat. Dia menolak menikah dengan segala risiko yang ada. Bahkan tidak peduli dengan nama baik kedua keluarga mereka. “Ardan, kita putus saja. Selamat tinggal.” Aila Janitra hanya mengirim sebuah kalimat perpisahan sederhana melalui pesan pendek, lalu menghilang dari hidupnya seperti tidak pernah ada, membuat pria itu menggilanya dan mencarinya ke seluruh dunia. Mendapatkan hati Aila yang sudah patah hati hebat kala itu jelas tidak mudah bagi Ardan. Dia menggunakan segala cara, bahkan mengancam untuk mengakhiri hidupnya jika Aila tidak kembali kepadanya. Untungnya, Aila masih ada sedikit rasa cinta di hatinya sehingga perjuangan Ardan yang begitu dramatis akhirnya membuahkan hasil. Tidak cukup satu bulan lamanya, keduanya kembali berbaikan dan merencanakan pernikahan tertutup dan sangat pribadi. Itu sebabnya, pernikahan mereka berdua pada akhirnya hanya sebagian kalangan yang tahu. Sisanya, mengira pernikahan yang kacau sebelumnya telah dibatalkan secara resmi. Mereka yang tidak tahu pernikahan tetap berlanjut, berpikir Ardan masih sebagai pria bebas yang berhasil lepas dari pernikahan bisnis yang dibencinya. Lalu, setelah berhasil mendapatkan posisi utama di Grup Mahardika dengan kekuatan mengerikan, mereka berpikir dia muncul kembali untuk memperjuangkan cinta sejatinya dengan Mia Sanjaya. Semuanya terdengar sangat mengharukan, bukan? Bagaimana netizen tidak tergila-gila dengan kisah cinta yang viral itu? Pria tampan dan kaya dipermalukan di hari pernikahannya sendiri oleh calon pengantin wanita yang jahat dan licik. Setelah itu, selama beberapa tahun kemudian, dia membangun Grup Mahardika bertangan dingin hingga mencapai kesuksesan luar biasa. Dengan segala masa lalu yang keras dan penuh perjuangan, akhirnya dia berhasil mendapatkan kembali cinta lamanya sebagai seorang pemenang. Netizen mana yang tidak akan simpati? Netizen mana yang tidak akan mengutuk Aila jika hanya mendengar separuh dari cerita yang sesungguhnya? “Ardan, kamu dulu pernah bilang kepadaku bahwa ucapan orang di luar sana tidak perlu dipikirkan, bukan? Yang terpenting adalah kebahagiaan kita berdua. Tidak terpisahkan dan akan menua bersama. Orang lain tidak perlu tahu. Kamu juga pernah bilang bahwa menegur mereka tidak ada gunanya. Makanya, kamu membiarkan mereka berbicara sembarangan hingga membuat mereka berpikir kita tidak pernah menikah sama sekali. Sekarang, lihatlah dari ucapanmu itu. Lihatlah akibat kamu membiarkan mereka begitu saja tanpa mengumumkan hubungan resmi kita ke publik. Semua orang mengira aku kembali hanya untuk mengincar kekayaan dan status keluargamu. Mereka mengira aku adalah seorang penipu yang mencoba mengambil kesempatan saat kamu amnesia. Banyak yang tidak percaya kalau aku benar-benar adalah istrimu, Ardan. Kamu bilang, mengumumkan statusku sebagai istrimu secara terang-terangan hanya akan membuatku berada dalam bahaya. Takut semua musuhmu akan menjadikanku sebagai target. Kamu juga pernah bilang, kamu sangat posesif dan sangat mencintaiku sehingga tidak mau menunjukkan wanitamu ke dunia. Hanya kamu yang boleh melihatku seorang. Bukankah semua itu terdengar sangat konyol? Seharusnya aku tidak pernah mempercayaimu. Seharusnya aku tidak pernah mendengarkan perkataanmu sejak awal.” Aila tertawa pahit, lalu menatap wajah muram dan gelapnya di cermin. “Ardan, kamu hanyalah seorang pembohong dan pria egois. Pada akhirnya, kamu tidak menepati janjimu kepadaku. Kamu hanya bisa menyakitiku seperti dulu.” Pada awal masa pertunangan mereka dulu, Ardan Mahardika pernah memperingatinya kalau dia tidak akan membiarkan hidup Aila tenang dan damai. Pernikahan harmonis yang Aila harapkan tidak akan pernah ada. Sebaliknya, dia berjanji dan bersumpah akan membuatnya merasa seperti di neraka. Oleh sebab itu, Aila yang selalu terpojok selama kurang lebih 3 tahun masa tunangan, sudah berkali-kali berpikir untuk mengakhiri hubungan mereka. Sayangnya, semakin Aila ingin pergi, Ardan semakin mencengkramnya dengan berbagai cara. Dia mengira kalau Aila yang ingin memutuskan ikatan hanya sedang bersandiwara, bermain susah didapat agar membuatnya tertarik, sama seperti sekarang ini. Jadi, kabur pada hari pernikahan adalah keputusan yang sangat tepat kala itu. Tidak menyangka, ketika Aila berhasil kabur, Ardan malah mencarinya seperti orang gila dan mengakui semua kebodohan dan kesalahannya sambil berlutut di tanah. Aila pikir, setelah semua drama itu, maka kebahagiaan akhirnya akan datang kepadanya. Ternyata, dia salah besar. Masa-masa indah mereka berdua berlangsung sangat singkat, seperti kedipan mata. Amnesia yang dialami oleh Ardan tidak memiliki batas waktu. Dokter pun sampai skeptis dibuatnya. Semua kebahagiaan Aila Janitra runtuh dalam semalam. Seperti kutukan yang menghantuinya seumur hidup. Sosok Ardan Mahardika yang super dingin dan sangat membencinya kembali seperti sebuah tombol reset, menghapus semua kenangan manis dan romantis selama 3 tahun pernikahan mereka. Yang tertinggal hanyalah Ardan Mahardika yang percaya bahwa Mia Sanjaya adalah cinta pertamanya. Bahwa Aila Janitra adalah wanita licik yang ingin mengikatnya dalam pernikahan bisnis dengan segala cara, termasuk menyakiti wanita yang dicintainya. “Sepertinya, tidak semua janjimu telah kamu langgar. Janji lamamu malah sudah terwujud dengan cara yang menyakitkan. Ardan, aku pernah bilang kalau kita berdua tidak berjodoh, tapi kamu keras kepala. Aku ternyata benar, bukan?” Aila terdiam menatap dirinya sejenak di cermin, lalu berjalan menuju balkon kamar dan menatap taman cinta yang sudah hancur tak berbentuk. Suara malam yang tenang terdengar sangat memilukan, menghantarkan perasaan kesepian. Ketenangan aneh itu bercampur dengan suara bisikannya yang terdengar pasrah dan kalah. Bulu matanya kembali melambai sedih. “Ardan, di masa lalu, kamu tidak jujur kepadaku bahwa kamu telah salah mengenali orang. Kamu mengira Mia Sanjaya sebagai wanita yang kamu cintai sejak kecil, lalu akhirnya diam saja meski telah tahu kebenarannya. Kamu terus membiarkanku seperti orang bodoh dalam gelap dan tetap diperlakukan buruk di hadapan semua orang. Sikapmu sangat dingin dan tetap menjauh dariku. Seolah-olah, aku tidak pantas bersamamu. Pada akhirnya, saat aku menghilang dari duniamu saat itu, kamu menggila dan mencariku seperti orang kesurupan. Ketika kita kembali bertemu, kamu menjelaskan bahwa semua hal kejam yang kamu lakukan adalah caramu untuk melindungiku dalam diam, melindungiku dengan caramu sendiri. Kamu tidak tahu bagaimana menjelaskan kepadaku kalau wanita yang sejak dulu kamu cintai ternyata adalah aku. Takut membuatku kecewa dan patah hati. Takut aku berubah pikiran dan pergi darimu. Sekarang?” Sekarang? Aila terdiam dengan tatapan kosong ke arah taman cinta yang sudah mirip sebuah kuburan sunyi. Sama seperti hati dan masa depan mereka berdua. Perlahan, Aila mengusap air matanya, lalu menguatkan hatinya sambil tersenyum tipis. Dia akan kembali melakukannya kali ini. Dia akan pergi dan menghilang dari dunia Ardan sekali lagi dengan cara yang sangat tenang. Tidak akan membuat keributan seperti dulu. Dengan amnesia yang dialami oleh pria itu, Aila berharap dia benar-benar tetap pada keputusannya. Tidak akan menyesalinya lagi sampai harus membahayakan nyawanya sendiri. Puas menatap taman yang hancur, Aila turun ke bawa dengan menyeret kotak tadi turun ke bawah. Suara berisiknya membuat para pengurus rumah penasaran. “Nyonya! Apa yang sedang Anda lakukan?!” seru Pak Yusuf kaget, buru-buru membantunya menurunkan kotak besar itu. “Terima kasih, Pak Yusuf. Tolong bantu saya membawanya ke belakang mansion.” “Ah! Baiklah!” Kepala pelayan tua mengerutkan kening melihat isi kotak itu. Di dalamnya ada banyak sekali barang. Ada beberapa bingkai foto kecil yang bisa ada di atas nakas. Ada foto pernikahan besar yang dulu terpasang di dinding kamar, tapi sekarang sudah patah dan hancur karena dirobek. Ada juga 2 buah album foto besar. Setumpuk surat di antara beberapa buku harian lama. “Nyonya, apa yang akan Anda lakukan dengan semua barang-barang ini?” tanyanya penasaran ketika mereka akhirnya tiba di belakang mansion. Aila tidak segera menjawabnya, lalu berjalan menuju tempat api unggun di tengah ruang santai terbuka. Dengan gerakan alami, dia meraih minyak tanah di dekatnya dan menuangkan isinya ke dalam perapian. Pak Yusuf terkejut! Hatinya seketika memiliki firasat buruk! “Nyonya! Apa yang Anda lakukan?” serunya sambil maju ke depan. Hatinya mulai panik dan ketakutan. Aila masih tidak menjawabnya, lalu menyalakan sebuah korek api dan melemparkannya ke dalam perapian. Api dengan cepat menjilat-jilat udara dengan tarian liarnya, membuat siluet aneh di wajah keduanya. Pak Yusuf membeku di tempatnya berdiri, tidak tahu harus berkata apa. Aila Janitra menatap sebentar dalam diam api yang mulai membesar. Detik berikutnya, dia berkata dingin tanpa emosi kepada pria tua itu. “Pak Yusuf, tolong bawakan kotak itu kemari.” “A-apa yang akan Anda lakukan, Nyonya?! Tolong jangan melakukan hal yang akan Anda sesali kemudian!” Aila tersenyum lembut. Kali ini, senyumnya sangat tulus. “Menyesal? Pak Yusuf, saya tidak akan punya waktu lagi untuk menyesali apapun.” Ya. Karena sebentar lagi dia akan meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Menyesal? Tidak akan pernah! Melihat Pak Yusuf enggan bergerak dari tempatnya, Aila akhirnya berjalan sendirian mengambil sebuah album foto. Satu demi satu, foto-foto indah dan penuh kenangannya bersama Ardan Mahardika dicopot dan dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala. Pak Yusuf terkesiap dalam diam, menatapnya gemetar yang tampak sangat tenang dan penuh tekad. Apakah Nyonya mereka berniat menghapu semua kenangan mereka berdua selama ini? Kenapa? “Nyonya!” tegur Pak Yusuf kemudian. Aila hanya berkata pelan berbisik, “Tolong bawakan kotak itu mendekat kemari. Kalau Pak Yusuf tidak bisa, silakan tinggalkan saya sendirian di sini.” Pria tua terlihat sangat kebingungan. Dia menatap kotak itu sejenak, lalu segera menyeretnya ke dekat perapian. “Nyonya, apa tidak apa-apa?” Aila mengangguk sambil tersenyum lebih lebar. Matanya terus tertuju pada foto-foto yang dilahal oleh api tanpa sisa, berkata pelan, “Tidak apa-apa. Semua ini hanyalah foto belaka. Benda mati. Orangnya sendiri tidak mengingatku, Pak Yusuf. Untuk apa disimpan lagi?” Pak Yusuf akhirnya terdiam sedih. Dia menatap wanita itu dengan gerakan luwes dan mantap membakar semua benda di dalam kotak satu per satu, seolah-olah sedang memutuskan semua ikatannya dengan Tuan Muda mereka. Bahkan, foto pernikahan yang sudah hancur dan dimakan api hanya ditatap sangat dingin, seolah-olah sedang melihat foto pernikahan orang lain. Apa yang sedang merasuki Nyonya mereka? Dia sangat yakin ini bukanlah sandiwara belaka! “Nyonya?” tegur Pak Yusuf pelan ketika menatap Aila memegang buku harian terakhir. “Ini adalah buku harian yang menyimpan seluruh perasaanku kepadanya saat aku mulai menyukainya sejak di bangku SMA.” Dia berhenti sebentar, menatap pria tua di dekatnya sambil tersenyum pahit. “Ternyata, dalamnya cinta dan lamanya mencintai seseorang tidak ada artinya di hadapan amnesia. Bukankah begitu, Pak Yusuf?” Seiring dia selesai berkata begitu, Aila merobek keras beberapa lembar halamannya dengan wajah sangat dingin. Kertas-kertas itu dilempar ke dalam api, menghitam dan menjadi abu seperti cintanya kepada Ardan. *** Tepat tengah malam, setelah Aila selesai dengan aksinya dan membuat semua pelayan kembali bergosip, akhirnya Pak Yusuf menerima panggilan dari luar negeri di kamarnya. “Ada apa menghubungiku, Pak Yusuf? Tadi, aku ada pertemuan penting dengan rekan bisnis, jadi terpaksa mematikan ponsel. Apakah semuanya baik-baik saja di sana?” Pak Yusuf bingung harus berkata apa. “Itu.... Tuan... Nyonya sepertinya benar-benar sangat kecewa kepada Anda kali ini. Dia mungkin benar-benar sudah menyerah dengan pernikahan kalian berdua.” Kening Ardan bertaut sangat jenkel. “Apa lagi yang diperbuatnya sekarang? Apa dia menganggap enteng perkataanku sebelumnya? Apa dia sungguh ingin aku ceraikan malam ini juga?” Pak Yusuf terkejut! “Tuan Muda! Apa yang Anda katakan?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD