“Su-surat cerai? Anda yakin, Nyonya? Tolong jangan gegabah! Trik ini tidak akan berhasil! Pak CEO hanya akan semakin membenci Anda!”
Aila diam sejenak, lalu berkata lagi dengan sangat tenang, “Aku serius kali ini. Satu lagi, tolong bantu aku memesan sebuah tanah ganda di Heavenly Golden. Koneksi Grup Mahardika pasti bisa melakukannya. Aku dengar, sulit memesan tanah di sana jika waktunya mepet. Administrasinya bisa sangat rumit dan berbelit-belit.”
Jarves seperti disambar petir di seberang sana.
Heavenly Golden?
Bukankah itu adalah tempat pemakaman mewah untuk orang kaya?
Membeli tanah makam di sana sudah seperti membeli apartemen elit. Ditambah lagi, aksesnya sangat terbatas. Tidak sembarangan orang bisa membelinya. Itu sebabnya harganya setinggi langit.
Kenapa Nyonya Mahardika ingin memesan tempat di sana?
Apakah setelah bercerai dia akan membunuh suaminya yang sudah berselingkuh?
Dengan begitu mereka berdua bisa menjadi pasangan abadi di alam baka?
“A-apa? Ma-maaf, Nyonya. Tapi, siapa yang akan dimakamkan di sana?”
Aila tidak menjawabnya, dia hanya berkata dengan suara lirih dan semakin tenang, “Jarves, tolong rahasiakan semua ini sebelum aku mengatakannya sendiri kepada Ardan. Berjanjilah kepadaku.”
***
Satu bulan berlalu sejak kejadian di rumah sakit, Aila jarang sekali berada di rumah pernikahan mereka.
Para pengurus rumah mulai bergosip tidak enak.
Ada yang bilang kalau Aila mulai semakin gila menguntit suaminya.
Ada yang bilang kalau Aila mulai terobsesi agar terlihat lebih cantik, makanya dia semakin sering berdandan dan berpakaian lebih bagus.
Ada juga yang bilang kalau Aila mungkin sudah putus asa dan melirik pria muda di luar sana sebagai pelarian.
Tentu saja semua itu tidak ada yang benar.
Dia hanya ingin hidup lebih baik dan tenang tanpa ada Ardan dalam hidupnya lagi.
Dia tidak peduli perkataan orang lain seperti dulu. Toh, Ardan juga tidak pernah bertanya apa yang dia lakukan sejak dia amnesia.
“Apakah Anda sudah setuju dengan isi surat perjanjian perceraiannya?” tanya seorang pengacara melalui sambungan telpon.
Aila mematikan mesin mobil, melirik ke luar sebentar ke arah mansion megah di depannya. Satu tangan mencengkram erat kemudi. Buku-bukunya memutih.
Ini adalah keputusan terbesar selama hidupnya selain menerima perjodohan bisnis dari keluarganya. Kenapa harus ragu?
“Ya. Begitu saja. Aku tidak menginginkan apapun dari pernikahan kami selain kebebasan. Kembalikan juga saham yang dia berikan kepadaku sebagai jaminan. Aku tidak membutuhkannya lagi.”
Selain sibuk menata hidup barunya yang singkat, Aila juga sibuk mengurus banyak hal agar setelah kematiannya kelak tidak meninggalkan banyak masalah untuk siapapun.
Sabtu sore itu, usai berbicara di telepon, Aila turun dari mobil dengan wajah sedikit berkeringat.
“Nyonya! Anda sudah kembali?” sapa seorang pelayan wanita yang kebetulan lewat, kedua tangan membawa keranjang sampah.
Dia membungkuk sebentar memberi hormat. Detik berikutnya, dia tampak ingin mengatakan sesuatu. Tapi, keragu-raguan muncul di matanya.
Aila tidak mau ambil pusing kenapa pelayan itu menatapnya seperti kasihan.
Dia sudah terbiasa.
“Anda terlihat pucat? Anda tidak apa-apa, Nyonya?” ucapnya lagi, baru menyadari kalau keringat muncul banyak di pelipisnya.
“Aku tidak apa-apa, Liana. Kembalilah bekerja,” ucapnya berbisik pelan, sedikit gemetar.
Pelayan itu pamit, masih terlihat ingin mengatakan sesuatu yang penting, tapi langkahnya malah semakin cepat. Seolah-olah sedang ingin menghindari masalah.
Aila meringis kecil, memegangi perutnya sebentar. Duduk kembali ke kursi mobil dan bersadar dengan mata terpejam erat.
Akhir-akhir ini, rasa sakit perutnya sangat kuat. Dia bahkan bisa mual dan muntah beberapa kali. Kadang-kadang, ada darah yang keluar, tapi Aila tidak panik.
Dia sangat tenang menerima akhir hidupnya. Mungkin karena dia tidak punya pegangan dan alasan lagi untuk hidup seperti dulu.
Dia siap meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
Penampilan wanita itu sangat menawan dan elegan. Tidak ada tanda-tanda kalau dia sedang menderita penyakit mematikan.
Kepedulian Aila dengan penampilannya sempat hancur gara-gara putus asa melihat Ardan amnesia dan berselingkuh. Pikirannya hanya fokus bagaimana agar suaminya kembali mengingatnya.
Segala cara telah dia lakukan, tapi hasilnya nihil.
Aila melakukan apapun sampai dia tidak merawat dirinya sendiri, kacau dan berantakan. Nyaris mirip orang gila. Membuat orang-orang menjauhinya seperti wanita miskin yang terbuang.
Dulu, dia berdandan demi menarik perhatian Ardan.
Sekarang?
Semua penampilan anggunnya hanya bertujuan agar memperbaiki suasana hati dan kulit pucatnya saja. Tapi, mau seperti apa dia menutupinya, semua organ dalamnya perlahan rusak dan membusuk.
Setelah menelan obat penahan sakit, Aila berjalan pelan dan sedikit tertatih menuju pintu utama mansion. Keringat masih menghiasi wajahnya.
Saat membuka pintu, suara tawa renyah seorang wanita terdengar.
Wajah Aila seketika memucat buruk.
Napasnya tertahan hebat.
Tawa lain pun menyusul.
Itu adalah tawa yang sangat dikenali oleh Aila. Lembut, hangat, rendah, dan misterius di saat yang sama.
“Ardan! Cukup! Jangan beri aku krim lagi! Riasanku jadi berantakan, nih!” ucap Mia dengan suara riang dan bahagia. Tawanya lebih lepas dan keras daripada sebelumnya.
“Kemari! Jangan menghindar! Aku tidak akan terima alasan apapun!”
Ardan terdengar lebih bahagia lagi. Jauh lebih bahagia ketika mereka menikah dulu.
Aila mencengkram pegangan pintu erat-erat. Tanpa perlu melihat di balik pintu, dia sudah bisa membayangkan adegan macam apa itu.
Pernah sekali waktu, ketika Aila mencoba untuk mencarinya ke mana-mana karena kehilangan jejaknya seharian, dia pulang ke mansion dan mendapati Ardan sedang memeluk Mia mesra di jendela besar, berbisik di telinganya dan memainkan bibirnya di leher jenjangnya.
Saking cemburunya, Aila hampir bunuh diri dengan menenggak obat tidur. Untungnya, pelayan segera menemukannya.
Sejak hari itu, video apapun yang dikirimkan Mia kepadanya, seperti melihat orang lain saja. Mungkin terlalu lama disakiti dan terlalu sakit, akhirnya dia mati rasa. Tidak mau peduli lagi.
Aila menenangkan diri sejenak. Menarik napas pelan, lalu menghembuskannya.
Pintu dibuka lebar-lebar.
Tawa di dalam segera berhenti.
Keheningan aneh langsung menghiasi ruangan.
“Aila? Sudah pulang, ya?” tanya Mia polos, wajahnya tampak tidak bersalah sama sekali.
Sikapnya seperti dialah Nyonya rumah, sementara Aila hanyalah orang lewat semata.
Tidak seperti Mia, Ardan tampak berubah sangat dingin dan gelap. Matanya terlihat rumit. Seperti sedang menahan amarah kekesalan luar biasa.
“Aku pikir kamu tidak tahu untuk pulang? Dari mana saja kamu?” tanyanya dingin, penuh sindiran.
“Sejak kapan Tuan Mahardika yang Terhormay mengurus masalah orang lain? Terlebih lagi istri pengganti yang dibencinya?”
“Aila!”
Aila mengabaikannya, matanya segera menangkap sebuah syal merah melilit di leher Mia.
Ardan sepertinya menyadarinya. Dia hendak mengatakan sesuatu, tapi Aila segera mendahuluinya.
“Aku bisa membiarkan kalian membuat masalah. Tapi, tolong, jangan membuka lemari orang sembarangan. Itu adalah syal milikku, kan? Siapa yang memberi kalian izin? Bagaimana kalian masuk kamarku begitu saja?”
Mia memasang wajah bersalah dan kasihan, memegangi lehernya sambil menoleh ke arah Ardan. Ekspresinya sudah mau menangis.
“Ardan! Aku sudah bilang kalau dia mungkin akan sangat marah! Kamu malah memaksaku memakainya. Bagaimana sekarang? Aku merasa sangat rendah, mirip seorang pencuri....”
Suaranya semanis gula, sangat lembut. Membuat Ardan meluluh dibuatnya.
Kening pria itu mengerut dalam ketika menatap Aila. Sorot matanya mengejek. “Semua yang kamu pakai bukankah aku yang berikan? Apa salahnya jika Mia meminjamnya sebentar? Mulai sekarang, milikmu adalah miliknya juga.”
Aila tertegun kaget. Lalu, tawa dingin keluar dari bibirnya. Ekspresinya sedingin es.
“Tidak masalah. Berikan apa saja yang dia mau. Lagi pula, aku sudah tidak membutuhkan syal itu lagi. Jika dia mau mengambilnya, silakan. Aku tidak punya kebiasaan menyimpan sesuatu yang sudah disentuh oleh orang lain. Sangat kotor dan menjijikkan.”
Ardan seperti disambar petir di wajahnya!
Kalimat itu jelas bukan tentang syal semata.
Pria itu ingin menjelaskan kalau Aila mungkin salah paham, tapi Aila berlalu dari sana dengan langkah-langkah cepat menuju tangga lantai dua. Seolah-olah kehadiran kedua orang itu hanyalah udara kosong. Tidak mengganggunya sama sekali.
“Aila!”
Ardan merasakan hal rumit di hatinya. Mata bingungnya mengamati wanita itu pergi dengan punggung tegak. Seolah meneriakkan kalau dia tidak peduli apapun yang dia lakukan mulai sekarang.
Dia tidak pernah melihat sikap Aila seaneh itu.
Apakah itu trik barunya?
Bermain tarik ulur?
Gagal dengan aksi agresifnya, dia mau jual mahal sekarang?
***
Di atas, Aila pikir kalau dia sudah bisa beristirahat dengan tenang di kamarnya.
Sejak amnesia mengubahnya, mereka tidur di kamar yang berbeda. Sungguh tidak tahu malu masuk ke kamar orang lain dan memakai barangnya tanpa izin!
Bagaimana Aila tidak marah?
Suaminya sudah berhasil direbut oleh Mia, apa masih harus merebut syal pasangannya juga? Itu adalah hadiah di ulang tahun pernikahan pertama mereka!
Tiba-tiba, saat sedang melamun menatap langi-langit, suara ketukan di pintu membuatnya waspada.
“Aila! Keluar! Kita perlu bicara sekarang juga!”