Aila tidak punya pilihan lain. Dia berbalik dan menatap wajah dingin suaminya.
“Kamu salah paham. Kebetulan saja aku berada di sini.”
Dia mencoba menjelaskan dengan suara selembut mungkin. Berharap suaminya percaya.
“Heh! Kebetulan? Hebat sekali. Sewaktu aku meeting di luar kota bersama Mia, kamu juga mengatakan hal yang sama. Saat aku mengajak Mia ke acara lelang amal, kamu juga bilang kebetulan. Berapa banyak kebetulan yang akan terjadi dalam hidup ini?”
Ardan adalah CEO dingin yang membuat orang tunduk hanya sekali lihat.
Awalnya, Aila juga begitu. Tapi, dia sudah lama mencintainya dalam diam sejak mereka di bangku SMA.
Ketika mendengar perjodohan tiba-tibanya dengan Ardan, semua rasa takutnya perlahan lenyap. Berganti menjadi harapan.
Itu sebabnya, meski pria tampan itu memiliki aura kuat dan mengintimidasi, Aila selalu mencoba memberanikan diri di depannya. Berpura-pura terlihat kuat dan tidak tahu malu.
Hal itu semakin kuat ketika suaminya jatuh cinta kepadanya dan kebenaran masa lalu terungkap.
Sekarang?
Dia hanya merasa lelah.
“Aku bilang, kamu hanya salah paham, Ardan,” bisiknya lemah.
“Kalau tidak mengikutiku, apa kamu mengikuti Mia? Jangan bilang kalau kamu yang sudah berniat jahat kepadanya sampai dia hampir kejatuhan lampu di lokasi syuting?!”
Tuduhan demi tuduhan selalu diberikan olehnya. Sama sekali tidak mau mendengarkan pembelaannya.
Apa yang perlu dijelaskan kalau Ardan sudah mencapnya lebih dulu?
“Aku janji. Hal ini tidak akan terjadi lagi di masa depan. Jangan khawatir.”
Aura dingin pria itu menguat. Suhu di sekitar mereka tiba-tiba turun satu derajat, membuat tenggorokan Aila kering.
Ketika Ardan marah, dia akan bersikap sangat tenang. Tapi, itu artinya dia benar-benar sangat marah sampai ingin membunuh orang. Seperti sekarang ini.
“Kamu pikir aku bodoh?” desisnya dingin, mata menyipit tajam. “Aila, aku memang lupa ingatan. Tapi, bukan berarti aku kehilangan logika. Apa lagi trikmu untuk menarik perhatianku kali ini?” desisnya dingin, lalu ujung matanya yang sedingin es melirik tangannya yang memegang sebuah dokumen.
Ardan mendengus geli, seolah ada kemenangan besar di matanya.
“Pura-pura sakit lagi agar aku peduli? Jangan konyol. Meski kamu sekarat dan mati di depan mataku, aku tidak akan peduli.”
Ketenangan dari sikap dinginnya ketika mengatakan hal kejam itu membuat Aila menggigil kedinginan.
Dia berbicara seolah-olah Aila bukanlah manusia. Sama sekali tidak layak untuk hidup.
Sebuah ingatan melintas sekilas di benaknya.
“Aila! Aku mohon! Jangan tinggalkan aku! Aku akan mati jika kamu pergi dariku!”
Dalam hati, Aila tertawa pahit.
Pria itu dulu bilang akan mati kalau dia pergi darinya. Sekarang, dia sedang sekarat dan menunggu kematian.
Apakah dia benar-benar tidak akan peduli?
Apakah ingatannya tidak akan pernah kembali?
Dengan senyum paling tulus, Aila berkata pelan dan tenang, “Kalau begitu, sebaiknya kamu ingat kata-katamu hari ini, Ardan Mahardika. Jangan pernah menyesalinya sedikitpun. Aku akan berdoa setiap hari agar ingatanmu tidak akan pernah kembali untuk selamanya. Dengan begitu, kamu bisa mencintai wanita lain tanpa rasa bersalah sedikitpun.”
Entah kenapa hati Ardan merumit.
Rasanya, ada hal yang membuat hatinya terhimpit sesuatu. Sesak, berat, dan membuatnya mual.
Begitu teringat bagaimana orang-orang di sekitarnya bergosip tentang keburukan dan kelicikan Aila demi bisa bersamanya, perasaan aneh itu segera ditepisnya.
“Kamu mengancamku? Hentikan saja. Sebaiknya kamu pulang dan jangan macam-macam. Jangan ganggu Mia lagi. Ini peringatan terakhirku.”
Usai berkata begitu dengan nada super dingin dan tenang, Ardan berbalik meninggalkannya. Mata sedingin es itu sempat meliriknya dengan sangat jijik, lalu menatap pintu kamar operasi dengan tatapan cemas dan takut.
Aila terdiam.
Tatapan kosongnya menatap punggung pria itu yang menjauh.
“Ardan, kamu tidak tahu kalau aku baru saja keguguran, bukan? Kamu juga tidak tahu kalau waktuku di dunia ini sudah hampir habis. Aku harap ingatanmu benar-benar tidak akan pernah kembali lagi. Itu adalah penjara mental yang sangat cocok untukmu. Kamu tidak perlu merasa sakit lagi seperti waktu itu,” batinnya dengan perasaan sendu.
Jika Ardan bahagia dalam penjara mentalnya bersama wanita lain, maka biarkanlah.
Dia sudah menyerah total.
Setidaknya, ketika dia meninggal nanti, pria itu tidak perlu merasa sedih dan patah hati lagi. Tidak perlu bersikap dramatis ingin mengakhiri hidupnya sendiri seperti aksinya di masa lalu.
Aila sangat mengenal Ardan.
Dia bisa membayangkan betapa hancurnya Ardan tanpa amnesia jika tahu seperti apa kondisinya sekarang.
Itu sebabnya dia akhirnya memutuskan akan mengakhiri semuanya sekarang.
Ardan pernah mencintainya dengan tergila-gila. Bahkan, dia pernah melawan seluruh dunia untuknya.
Siapa yang akan menyangka kalau pria yang paling ditakuti di ibukota itu malah akan kalah dan ditaklukkan oleh amnesia bodoh?
“Aku akan berhenti,” gumamnya berbisik pelan, membuat punggung Ardan menegang sejenak di kejauhan.
“Aku akan berhenti mencintaimu, berhenti berharap, dan juga berhenti mengejarmu.”
Aila tidak ingin mencintainya lagi di sisa hidupnya yang tinggal sedikit.
Rasanya, itu tidak sepadan.
Seperti berbicara kepada tembok.
Mungkin, sebaiknya dia mulai belajar mencintai dirinya sendiri meski sudah sangat terlambat.
Kening Ardan mengerut kecil. Dia merasa mendengar Aila mengatakan sesuatu di belakangnya, tapi tidak jelas apa itu.
Merasa Aila sangat menjijikkan dan menjengkelkan, Ardan menggelengkan kepalanya cepat dan semakin mempercepat langkahnya.
“Cepat pulang! Jangan tunggu aku lagi!” teriaknya dingin tanpa berbalik sama sekali.
Aila tidak marah. Sebaliknya, dia malah tersenyum sangat lega dan tenang mendengar perintahnya yang egois seperti biasa.
“Ardan, selamat tinggal.”
Pria berpakaian super mahal dan tampan tiba-tiba berhenti, seolah-olah bisa menyadari kalau Aila akan pergi selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi.
Sayangnya, Ardan sangat keras kepala dan gengsi.
Dia tidak mau mengakui kalau di hatinya mulai ada perasaan aneh tentang istri yang selalu dibencinya.
Hal itu mulai mengusiknya sejak mereka tidur bersama gara-gara seorang saingan bisnis menjebaknya beberapa bulan lalu.
“Apa mungkin dia mulai menyihirku juga?” batinnya dengan perasaan semakin jengkel.
Aila masih diam berdiri di tempatnya.
***
Beberapa menit kemudian, saat melihat suaminya sudah menghilang bersama seorang dokter ke sebuah ruangan, dia menunduk dan menatap layar ponselnya yang bergetar.
Sebuah pesan muncul di sana.
Aila menghela napas berat. Merasa bosan dan muak.
Isi pesan itu adalah video yang baru direkam hari ini.
Ardan sedang memeluk mesra Mia yang sedang kesakitan ketika dokter membalut kakinya yang terkilir. Bagaimana suaminya menatap wanita lain dengan tatapan super lembut sambil mengusap air mata di pipinya. Mencoba menenangkannya dengan kata-kata manis.
Meski tidak bisa mendengar jelas dia berkata apa, Aila masih bisa menangkap gerakan bibir di akhir video.
“Aila hanyalah istri pengganti. Tidak ada artinya bagiku.”
“Sungguh? Kamu tidak tergoda olehnya, kan?”
Ardan tersenyum kecil sejenak, sangat tampan. Lalu, dia berkata sangat lembut, “Apa yang kamu katakan? Jangan berpikir sembarangan. Aku dan Aila? Mustahil. Kalau seseorang tidak menjebakku malam itu, mana mungkin aku tidur dengannya.”
Sebuah teks menyusul.
Nomor tanpa nama: Kamu lihat? Apa dia pernah selembut ini kepadamu? Aku tahu kamu menderita penyakit kanker dan Ardan pasti tidak akan peduli. Cepatlah mati dan menghilang! Jangan ganggu kami lagi! Orang yang tidak dicintai adalah orang ketiga!
Mia Sanjaya terkenal sebagai artis cantik serba bisa dan cerdas. Namun, di balik senyum malaikatnya tersimpan iblis keji dan tidak berperasaan.
Sudah beberapa minggu Mia mengiriminya foto dan video dirinya bersama Ardan. Dalam berbagai suasana. Dalam berbagai momen. Bahkan, paling intim dan panas sekalipun di atas ranjang sudah pernah dikirimkan kepadanya.
Reaksi Aila melihat suaminya menyentuh wanita lain?
Dunianya tidak hanya hancur berkeping-keping, tapi dia merasa sudah mati di dalam.
Kali ini, tidak seperti biasa, Aila tidak menangis atau marah.
Tidak ada kesedihan di wajahnya yang selalu muncul sejak suami yang sangat mencintainya amnesia, membuatnya seperti seorang janda menyedihkan.
Dia begitu tenang sampai membuatnya takut sendirian. Tatapan matanya tidak lepas dari pintu ruang operasi.
Pesan Mia tidak pernah dibalas selama ini.
Detik berikutnya, Aila mencari sebuah nama di ponselnya, menekan tombol panggil dan menunggu.
“Halo? Sekretaris Jarves? Ini aku, Aila. Tolong bantu aku mengurus surat cerai secepat mungkin.”