Natan mengemudikan mobilnya dengan fokus penuh. Jalanan sore itu cukup lengang, namun pikirannya tidak. Bayangan wajah seorang gadis yang belum sempat ia kenal berputar-putar di kepalanya, gadis yang memilih kabur ketimbang menemuinya.
Getaran di saku celananya membuat Natan sedikit terkejut. Ia melirik sekilas ke layar ponsel yang menyala, lalu segera menjawab dengan satu tangan tetap mantap di kemudi.
“Halo, Pa?” Suara Natan terdengar menjawab panggilan telpon itu.
“Bagaimana?” suara Tuan Jack Walls ayah dari Natan terdengar ceria dari seberang sana. “Calon istrimu cantik, bukan?”
Natan tersenyum tipis, lalu menghela napas. “Pa, hari ini aku tidak bertemu dengan Anzhu.”
“Hah?” suara Tuan Jack terdengar heran. “Kenapa tidak bertemu? Bukankah kau bilang akan menemuinya di rumah sakit hari ini?”
“Iya, aku memang menemuiny di rumah sakit aku bahkan baru pulang dari rumah sakit sekarang," jawab Natan jujur. “Tapi Anzhu tidak ada. Sepertinya… dia kabur, menghindar tidak ingin menemuiku.”
Sesaat kemudian, tawa renyah Tuan Jack pecah memenuhi telinga Natan. “Hahaha! Manuel tidak berlebihan rupanya. Sifat Anzhu persis seperti yang dia ceritakan gadis pemberontak.”
Nada suara Tuan jack tersengar sama sekali tidak marah, justru terdengar maklum akan tingkah Anzhu “Usianya masih sangat muda, Natan. Wajar kalau dia menolak perjodohan seperti ini.”
Natan terdiam, matanya menatap lurus ke jalan. Entah kenapa, ia merasa sedikit terusik "Iya, Papa benar. Gadis muda sepertinya mana mungkin mau menikah dengan lelaki dewasa seperti diriku." gumam Natan ada sedikit rona sedih diparasnya.
“Baiklah,” lanjut Tuan Jack. “Sebentar lagi kau sampai rumah, kan? Kita bicarakan lebih lanjut nanti.”
“Iya, Pa,” jawab Natan singkat sebelum panggilan berakhir. Ia kembali fokus mengemudi, namun satu pertanyaan terus berputar di kepalanya. "Apa aku benar-benar terlihat semenakutkan itu baginya?" pikir Natan.
Sementara itu, di sebuah ruangan kecil di area keamanan rumah sakit, Anzhu duduk dengan tangan terlipat di d**a. Wajahnya cemberut, sorot matanya penuh amarah.
“Pak, aku sudah bilang berkali-kali,” ucapnya untuk kesekian kalinya. “Aku bukan kabur karena tidak mampu membayar biaya rumah sakit.”
Namun kedua staf keamanan itu hanya berdiri kaku, saling pandang tanpa tahu harus berbuat apa.
“Ini semua gara-gara lelaki menyebalkan itu,” gumam Anzhu kesal. “Lihat saja, kalau aku bertemu dia lagi, aku pasti akan membalasnya.”
Anzhu mendengus, lalu menyandarkan punggung ke kursi, menatap kosong ke dinding. Belum pernah seumur hidupnya ia diperlakukan seperti pencuri atau penipu.
Tiba-tiba langkah kaki mendekat. Anzhu refleks mendongak dan langsung berdiri dari duduknya.
“Dokter?!” panggilnya kaget.
Dokter paruh baya yang merawatnya semalam berhenti dan menatap Anzhu dengan bingung. “Nona Anzhu? Apa yang kau lakukan di sini?”
“Tolong, Dok,” ucap Anzhu cepat, seolah menemukan penyelamat. “Aku ditahan oleh mereka.” Ia menunjuk dua staf keamanan itu. “Mereka mengira aku pasien yang kabur karena tidak bisa membayar biaya rumah sakit.”
Dokter itu mengernyit, lalu menoleh tajam ke arah kedua staf keamanan tersebut. “Apa kalian tidak tahu siapa dia?”
Kedua staf itu saling pandang, lalu menggeleng ragu.
“Ini Nona Anzhu,” ujar dokter itu tegas. “Satu-satunya keturunan keluarga Martin, pemilik U.K Group.”
Mata kedua staf keamanan itu langsung terbelalak.
“Jangankan membayar biaya rumah sakit,” lanjut sang dokter tanpa basa-basi, “membeli rumah sakit ini pun dia mampu.”
Suasana mendadak sunyi.
“Ma-maafkan kami, Nona,” ucap salah satu staf dengan wajah pucat. “Kami sungguh tidak tahu.”
“Iya, kami minta maaf,” sambung yang lain.
Anzhu menghela napas panjang. “Tidak perlu minta maaf,” ucapnya datar. “Ini bukan sepenuhnya salah kalian.” Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan nada kesal, “Ini semua salah lelaki menyebalkan itu.”
Bayangan wajah Natan kembali muncul di benaknya wajah tenang dengan tatapan tajam yang menyebalkan dan berani menuduhnya sembarangan.
"Aku harus membalas lelaki itu." pikir Anzhu lalu berjalan pergi meninggalkan ruangan keamanan itu.
***
Malam mulai turun saat Anzhu akhirnya tiba di kediaman Martin. Rumah besar bergaya klasik itu tampak sunyi, namun begitu ia melangkah masuk, kedua orang tuanya langsung menyambut dari ruang tamu.
“Anzhu?” panggil Tuan Luis cemas.
“Papa?” Anzhu menghentikan langkahnya.
Ia menatap wajah Mama dan Papanya bergantian. “Kenapa wajah Mama dan Papa tegang begitu?”
Nyonya Sisi menarik napas pelan. "Kakekmu, dia memintamu menemuinya di ruang kerjanya begitu kau tiba di rumah.” ucap Nyonya Sisi.
“HAH?” Anzhu menghela napas berat. Bahunya langsung turun. “Kakek pasti sangat marah, ya?”
Tuan Luis dan Nyonya Sisi mengangguk bersamaan.
“Lagian, kenapa kau harus kabur, Anzhu?” ujar Nyonya Sisi lembut tapi mengandung teguran. “Kenapa tidak temui saja Natan?”
“Ma!” rengek Anzhu cepat. “Intinya aku tidak ingin bertemu Natan itu.”
“Kenapa?” tanya Nyonya Sisi.
“Dia pasti sudah sangat tua,” jawab Anzhu berapi-api. “Gendut, botak, dan menyebalkan! Aku tidak mau menemuinya karena takut aku justru membuatnya tersinggung dengan komentarku nantiny saat kami bertemu."
Nyonya Sisi menahan senyum. “Anzhu, sayang… Natan itu sangat tampan. Dia tidak botak, tidak gendut.” Nyonya Sisi berusaha membela Natan.
“Tetap saja dia lelaki tua,” sahut Anzhu bersikeras.
“Sudah-sudah,” potong Tuan Luis. "Sebaiknya kau segera temui Kakekmu.”
Anzhu menelan ludah lalu menarik lengan kedua orang tuanya. “Ayo temani aku, aku takut.”
“Setelah membuat masalah baru takut sekarang,” sahut Nyonya Sisi, meski akhirnya tetap menggandeng tangan Anzhu menemani anak gadisnya itu bertemu dengan Kakek Manuel.
Mereka melangkah menuju ruang kerja Kakek Manuel, ruangan yang selalu membuat Anzhu merasa seperti seorang anak kecil yang siap menerima hukuman.
Di depan pintu, Anzhu berhenti sejenak, menarik napas panjang. "Entah berapa banyak masalah yang harus kuhadapi hari ini," batinnya.
****
Di ruangan kerjanya, Kakek Manuel terlihat serius menjawab panggilan telpon dari Tuan Jack Walls.
"Aku betul-betul minta maaf yang sebesar-besarnya pada Natan dan juga padamu, aku benar-benar tidak menyangka bahwa anak nakal itu akan kabur." ucap Kakek Manuel.
"Ayo kita susun ulang jadwar pertemuan Natan dan Nazhu lagi, kali ini aku berani jamin Anzhu tidak akan berani kabur ataupun menolak lagi." Lanjut Kakek Manuel.
"Bagaimana kalau besok?" terdengar Tuan Jack memberi usulan dan tentu saja dengan cepat Kakek Manuel menyetujui usulan itu sambungan telponpun akhirnya terputus tak beberapa lama Anzhu dan kedua orang tuanya memasuki ruangan kerja Kakek Manuel.
Anzhu menggeser sedikit tubuhnya hingga tersembunyi dibalik punggu kedua orang tuanya.
"Kenapa kau kabur tadi, Anzhu? padahal Natan sudah capek-capek pergi menjengukmu." tanya Kakek Manuel dengan nada dingin dan Anzhu tertap diam tak menjawab pertanyaan itu.
"Anzhu.. Kakek bertanya padamu?" Bentak Kakek Manuel membuat Anzhu yang takut hanya berani menyembulkan kepalanya dibalik punggung sang ayah.
"Maafkan, aku Kakek." ucap Anzhu tak lagi terlihat main-main nada keras dari Kakek Manuel tadi menuntutnya untuk tetap serius.
"Apa yang kau lakukan dengan bersembunyi dibalik punggung kedua orang tuamu itu?" Tanya Kakek Manuel sedikit menahan tawa melihat Anzhu seperti kura-kura yang bersembunyi begitu adanya marah bahaya.
"Kenapa Kakek masih bertanya kenapa aku diam dibalik punggung Papa dan Mama. Aku diam disini jelas karena aku sedang bersembunyi." gumam Anzhu cukup keras hingga membuat Kakek Manuel nyaris tertawa. Bagaimana mungkin Kakek Manuel dapat marah pada cucu yang begitu menggemaskan seperti Anzhu.
Kakek Manuel kini menatap Tuan Luis dan Nyonya Sisi lalu berkata "Lihatlah tingkahnya, ini semua karena kalian terlalu memanjakannya." ucap Kakek Manuel.
"Lalu sampai kapan kau akan menghindari pertemuan dengan Natan?" tanya Kakek Manuel dengan nada melunak membuat Anzhu segera keluar dari persembunyiannya dibalik punggung kedua orang tuanya.
Anzhu terdiam, ia berpikir sejenak "Apa yang Kakek katakan benar, aku tidak mungkin akan terus-terusan menghindar seperti ini." batin milik Anzhu.
"Besok keluarga kita di undang ke kediaman Walls untuk makan malam, jadi kau harus ikut. " ucap Kakek Manuel.
"Sekaranf keputusan ada di tanganmu, Anzhu. pertemuan besok kau akan ikut atau akan terus menghinda. Tapi jika kau tetap menghinda jangan salahkan Kakek kalau semua fasilitas yang kau dapatkan selama ini akan Kakek stop termaksud uang belanja bulananmu." Ancam Kakek Manuel.
"Baiklah Kakek, aku akan ikut besok." ucap Anzhu membuat Kakek Manuel tersenyum senang pertanda kemenangan.
Bersambung!...