Makan malam di kediaman Walls

1009 Words
Begitu Anzhu dan Nyonya Sisi tiba di ruang keluarga, Tuan Luis dan Kakek Manuel terhenyak melihat penampilan baru dari Anzhu saat itu. "benaekah ini cucuku?" ucap Kakek Manuel. "Kenapa Kek?" Tanya Anzhu panik "Apa penampilanku sangat aneh?" "Tidak sayang, kau justru terlihat sangat cantik malam ini." Ucap Nyonya Sisi menyambar untuk menjawab. Disaat yang lain sedang memperhatikan penampilan Anzhu yang memukau, tiba-tiba Tuan Luis tertawa cukup keras membuat Anzhu segera menoleh kearahnya. "Kenapa Papa tertawa? apa ada yang lucu?" tanya Anzhu merasa kurang percaya diri pada penampilannya. Dengan cepat Tuan Luis menggelengkan kepalanya "Tidak sayang, malam ini kau terlihat sangat cantik dan memukau." Jawab Tuan Luis. "Lalu kenapa Papa tertawa?" sambar Anzhu dengan wajah mulai kesal. "Papa tertawa itu karena Papa kembali mengingat kejadian tahun lalu saat kau jatuh tersungkur ketika menggunakan heels." Jelas Tuan Luis "Jadi saat Papa melihatmu menggunakan heels itu sesuatu yang sangat luar biasa terlebih kau tidak jatuh saat menuruni anak tangga." Ucapan Tuan Luis kembali mengingatkan Anzhu pada kejadian tahun lalu saat pesta perayaan ulang tahunya, saat itu demi terlihat menjadi gadis dewasa sesungguhnya Anzhu rela memakai Heel untuk pertama kalinya namun naas saat mengenakan heels Anzhu kehilangan keseimbangan membuatnya jatuh tersungkur di depan banyak orang, itu pengalaman paling memalukan yang perna dialami Anzhu. "Andai Papa tahu seperti apa perjuanganku menggunakan heels ini saat menuruni tangga tadi aku jami Papa tidak akan perna tega menertawakan aku." Balas Anzhu membanggakan diri karena berhasil menuruni anak tangga rumahnya menggunakan heels. "Sudah!.. Sudah berdebatnya, sebaiknya kita segera berangkat karena kita sudah sangat telat." ajak Kakek Manuel lalu mereka berempatpun dengan bergegas pergi menuju parkiran. *** Mobil yang ditumpangi keluarga Martin kini tiba di area kediaman Walls, setelah mobil terparkir dengan baik, Kakek Manuel diikuti oleh Anzhu dan Tuan Luis serta Nyonya Sisi keluar dari dalam mobil. Mata Anzhu terbelalak melihat kediaman Walls yang begitu besar indah dengan nuansa eropa klasik. "Rumahnya sangat indah, bak di negeri dongeng." gumam Anzhu takjb memandang area sekitar. Kediaman Walls dengan kediaman Martin sangat berbanding terbalik jika kediaman Walls bertema eropa klasik, maka kediaman Martin bertemakan Moderend. Seorang kepala pelayan menyambut Anzhu dan keluarganya diarea teras "Selamat datang Tuan." ucap kepala pelayan itu sembari tersenyum ramah. "Mari," ajaknya memimpin Anzhu dan keluarga masuk ke dalam rumah mega keluarga Walls. Di dalam kediaman Walls tepatnya di ruang tamu kehadiran Kakek Manuel beserta Anzhu dan kedua orang tuanya sudah disambut dengan senyuman hangat Tuan Jack. Tuan Jack dan Kakek Manuel saling berpelukan saling bertukar sapa. Sebelum perhatian Tuan Jack teralihkan kearah Anzhu. "Dia..." Tuan Jack menggantung kalimatnya dengan ujung jari menunjuk kearah Anzhu. "Ah!.. Perkenalkan Tuan Jack, aku Anzhu." ucap Anzhu memperkenalkan diri. "Ternyata aku tidak salah pilih, kau memang gadis cantik yang manis dan menggemaskan." balas Tuan Jack memuji Anzhu membuat Anzhu merasa tersanjung. "Ayo mari kita ke tempat acara." ajak Tuan Jack berjalan lebih dulu memimpin Anzhu dan keluarganya menuju halaman samping rumah. Di halaman samping telah terdapat meja dan kursi makan, suasananyapun cukup nyaman, lampu lampion yang tergantung serta deretan pohon bunga sakura yang ada di halaman yang mulai berguguran menambah keindahan tempat acara makan malam mereka. Nyonya Sisi, Tuan Luis serta Kakek Manuel dan Anzhu segera mengambil posisi duduk masing-masing saat Tuan Jack mempersilahkan mereka duduk. "Oh iya, dimana Natan?" tanya Kakek Manuel. "Ah, dia ada di ruang kerjanya biasa sedang mengerjakan beberapa pekerjaan dari perusahaan." jawab Tuan Jack lalu menggerakan jadi memberi kode tak lama seorang palayan lelaki mendekati Tuan Jack. "Panggil Natan untuk segera bergabung diacara." Bisik Tuan Jack kearah pelayan itu, pelayan itu mengangguk lalu bergegas pergi meninggalkan area halaman. Lima menit berlalu akhirnya Natan tiba di halaman belakang "Maaf telah membuat menunggu." ucap Natan seraya berjalan cepat menghampiri kursi. "Itu dia anak bungkuku." ucap Tuan Jack membuat Nyonya Sisi dan Tuan Luis segera menatap kearah Natan. "Selama ini Natan banyak tinggal di luar neger baru beberapa tahun ini menetap disini." Tuan Jack berusaha memperkenalkan sang anak bungsu. Anzhu yang sedari tadi fokus pada keindahan bunga sakura kini menoleh menatap kearah Natan berada. Awalnya Anzhu menyipitkan matanya untuk menajamkan penglihatannya takut-takut dia salah lihat namun setelah memastikan bahwa ia tidak salah lihat mata Anzhu langsung melotot sempurna dengan tangan sponta menunjuk kearah Natan. Reaksi Anzhu saat ini sama persis dengan reaksi Natan saat mengenali Anzhu. "Kau?!" Erang Natan kesal begitu kembali mengingat bagaimana Anzhu menendangnya saat di toko kue tadi. "Apa yang kau lakukan Anzhu?" bisik Nyonya Sisi seraya menurunkan tangan Anzhu yang saat itu menunjuk kearah Natan. Begitu melihat sekitar Anzhu langsung tertawa canggung begitu mengetahui bahwa ia menjadi pusat perhatiian saat itu. "Tadi ada nyamuk yang lewat makanya aku berusaha mengusirnya." jelas Anzhu memberi alasan konyol akan tingkah kurang sopannya itu. Anzhu kembali mendudukan tubunya sesekali ia ingin menangis berharap bisa lenyap saat itu juga "Mati saja kau hari ini, Anzhu." gumam Anzhu pelan. Natan menghampiri Tuan Jack begitu berhasil mengontrol ekspresi kagetnya saat melihat Anzhu tadi. Natan berdiri disisi kiri Tuan Jack sementara Anzhu duduk disisi kanan Tuan Jack. "Perkenalkan Natan, dia adalah Anzhu cucuku." ucap Kakek Manuel memperkenalkan Anzhu sambil menepuk pelan punggu Natan. Natan tersenyum canggung lalu mulai memperkenalkan dirinya pada Anzhu dan kedua orang tuanya. Kakek Manuel kini menatap Anzhu "Dan kau Anzhu, kenalkan dia adalah Natan calon suamimu." spontan mendengar itu Anzhu langsung terbatuk tersedak dengan air liurnya sendiri. Anzhu menatap Nata dengan malas lalu mulai memaksakan bibirnya yang terasa kaku itu untuk tersenyum "Yeah Tuhan, malang sekali nasibku. Kenapa aku harus tersenyum dalam situasi seperti ini." pikir Anzhu merasa tak nyaman dengan situasi pertemuanya dengan Natan. Natan menatap Anzhu dengan pandangan intens "Entah dosa apa yang telah ku lakukan sampai harus dijodohkan dengan gadis bar-bar ini." pikir Natan tak kalah merasa canggungnya. "Mereka berdua pasangan yang serasi!" Seru Kakek Manuel dan Tuan Jack nyaris bersamaan. "Anzhu, Natan kalian bisa saling mengenal lagi nanti untuk sekarang ada baiknya kita makan dulu." ucap Tuan Jack dan Natan beserta Anzhu segera menganggukan kepala pertanda setuju. Ketika yang lain sedang menikmati makanan sambil bercengkrama satu sama lain, Anzhu dan Natan justru hanya saling menatap tajam seakan saling melemparkan umpatan dari tatapan itu. Bersambung!...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD