" Bunga aku tinggal sebentar di sini, aku tidak lama ada yang ingin aku bicarakan dengan Jes. Ingat jangan kemana-mana duduk manis saja di sini. "
Iya Ansel. Ucap Bunga dengan keraguan penuh.
Setelah Ansel mengajak Jes duduk lumayan Jauh dari Bunga mereka mulai berbincang soal pernikahan yang Ansel jalani.
"Jes! Cepat katakan."
Kau mencintai Bunga? "
" Hm ... bohong saja aku tidak mencintainya, setelah aku menikahinya malam itu juga aku memuliki perasaan. "
" Oke, aku tahu bagaimana perasaanmu kepada Bunga, Ingat apa yang telah Lucifer ucapkan kepadamu kalau dia tahu kau memiliki anak dari Bunga semua kebahagianmu itu akan di kembalikan lagi. "
" Iya itu aku masih ingat yang terpenting untuk saat ini aku ingin membahagiakan dia Jes, dia wanita yang baik dan mengharapkan perhatian penuh, tambah lagi aku yang telah menikahinya . "Ucap Ansel dengan wajah tertunduk.
"Iya, aku tidak ada waktu lama di sini, aku harap apa yang terjadi, tolong beritahukan aku Ciptanya."
Oke baiklah. Jes langsung pergi meninggalkan Ansel sendiri di tempat itu, lalu Ansel menghampiri Bunga dan mengajaknya berjalan lagi sampai malam hari.
Sesampainya di hotel mereka berdua mulai ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya, Bunga yang terlebih dahulu menuju kamar mandi hanya memakai handuk yang dikenakan di bagian dadanya, mata Ansel tak kuasa memandangi istrinya tercinta itu, membuat tubuhnya kembali bergejolak untuk menggauli istrinya segera.
Saat Bunga melepaskan handuk itu, tiba-tiba Ansel sudah berada di belakang tubuh Bunga, perlahan dia meraih pinggang kecil Bunga.
"Hah!" Bunga terkejut langsung menoleh ke arah belakang.
Ansel tersenyum dan dia berkata "Why? Aku ingin mandi bersamamu. Tidak ada masalah 'kan?"
Bunga menganggukkan kepalanya, dia merasa malu Lalu menyilang untuk review menutupi kedua dadanya.
Ansel terus meraba bagian perut sampai paha, lalu Bunga merasakan sensasi yang membuat semua bulu berdiri, "Ansel ... kau mau apa?"
Ansel menyelinap kebagian leher jenjang itu, dan terdengar suara "Ssshtt ..." dari mulut Bunga.
"AKU MENCINTAIMU." Ansel berbisik di telinga Bunga.
Ansel sebaik mungkin yang digunakan di atas d**a, lalu Ansel meremat dengan lembut sekali-kali memainkan ujung yang berwarna kecoklatan itu secara perlahan. Bunga memejamkan mata sambil merasakan tubuhnya bergetar dan semakin panas.
Sayang ...
Bunga hanya menganggukkan kepala dengan tubuh yang mulai melemah.
Ansel terus mendekap tubuh Bunga dengan erat. Dia melumat bibir Bunga dengan lahap, lalu Bunga berkata dengan pelan sambil memegang kedua pipi sang suami, "Sayang ... apa kau belum puas?"
"Apa kita bisa melanjutkan lagi? Tidak menahan rasa yang bergejolak ini. Saat melihat kau sedang seperti ini sangat membuat aku terpancing ingin melahap tubuhmu yang indah ini."
Bunga tersipu malu, wajahnya merah dan Ansel yang bertelanjang d**a posisinya yang berada di atasnya.
Bunga tidak kuat menahan tatapan mata Ansel, di dalam hati nya selamanya bisa berkata "Suamiku sangat menggairahkan, tuhan telah memberikan kau untukku, tampan, mapan, dan memiliki tubuh yang kekar." Sambil memegang dan meraba bagian d**a Ansel. saat bunga ingin memegang bagian d**a itu tubuhnya tiba-tiba bergetar dan jantungnya berdegup kencang, tidak di semua yang dia rasa itu suatu keindahan.
"Bunga kenapa wajah merah seperti itu, aku baru menyadari bahwa suami yang tampan dan badan yang sangat bagus? Haha ... sangat terlihat di wajah kamu sayang, aku ingin memuaskan mu malam ini! Ikuti saja apa yang ingin aku lakukan aku ingin lagi dan lagi. "Ucap Ansel dengan wajah yang penuh cinta.
"Apa kau sudah menggodaku Ansel? Dia aku sangat takut saat tatapan matamu itu mengatakan. Seliar itukah kau? Wajahmu yang membuatku takut." ucap Bunga dengan wajah bingung.