Khawatir

548 Words
Saat Bunga ingin memejamkan mata dia terdengar suara bisikan yang membuat dia terbangun, "Siapa yang memanggil aku? Tidak ada orang di dalam kamar ini, sepertinya itu suara Ansel! Dia tanpa pergi, ternyata terbuka dan segera dia menutupinya.  Ansel yang langsung menarik napas panjang, dia akhirnya terselamatkan saat berada di dalam kamar Bunga. Huft ... untung saja aku cepat pergi melewati jendela itu, jika itu terjadi lagi tidak tahu harus meminta maaf dengan cara apa. " Suasana kantor Begitu Tenang, dia Berencana Penghasilan kena pajak Selesai bekerja dia Langsung Ingin Bertemu DENGAN Bunga, dia Sudah siap menyediakan Semuanya untuk langsung melamar Bunga dengan Cepat.  Bunga yang masih berada di rumah yang melakukan ke sibukkannya agar dia bisa menghilangkan pikirannya untuk mengingatkan wajah Ansel yang tidak hilang.  Beberapa jam kemudian Ansel konflik pintu dan membawakan bunga dan cincin berlian yang telah di belikannya untuk melamar Bunga.  Ansel!  "Iya, kenapa kau terkejut begitu?"  "Hm ... ini semua mau kau berikan kepadaku?"  Tentu, tetapi kau harus memilih di antara. Ucap Ansel dengan senyuman manisnya.  "Ha! Maksudnya bagaimana?" "Bunga! Aku ingin mengungkapkan perasaanku kepadamu, aku sangat menyayangimu maukah kau menikah denganku? Jika kau memilih setangkai bunga mawar berarti kau hanya menganggap aku teman saja, jika kau memilih cincin ini kau mau menerima lamaranku. "  " Ansel! Kau tidak bercanda? "  " Jawab saja sesuai isi hatimu, jangan jaga diri sendiri jika kau tidak suka aku. "  Bunga menarik napas Panjang Dan Tenang. "Huft ... oke aku akan memilih ini." sambil mengambil cincin yang berada di tangan sebelah kanannya.  Hanya untuk berpikir panjang Bunga menjawab dengan semudah itu, dengan refleks Ansel memegang tangan Bunga dan berkata "Yeey ... akhirnya penantian aku, terima kasih Bunga kau sudah mau menerima perjuanganku. Aku akan terus menemanimu selamanya. Bunga menganggukkan kepalanya. Asisten rumah tangga Bunga pun melihat Ansel yang melamar Bunga. "Saya turut bahagia mbak Bunga dan Mas Ansel."  Mereka berdua berusaha untuk menunggu kedua orang tua Bunga yang akan pulang beberapa hari lagi.  "Bunga, yang terpenting untuk persiapan pernikahan kita akan urus sebelum orang tuamu pulang." Ucap Ansel yang begitu sangat bersemangat.  "Iya baiklah, mulai besok kita akan mempersiapkannya." Jawab Bunga dengan wajah tersenyumnya. Jauh di pikirannya Ansel saat terbangun di pagi hati itu sedang melihat istrinya yang masih tertidur pulas dengan memakai pakaian dalam yang sangat seksi, Ansel perlahan-lahan medekatkan bibirnya ke arah pipi Bunga dan wanita itu terbangun terkejut lalu dia berkata, "Ansel!"  Dengan wajah heran dan bingung, "Kenapa kamu terkejut begitu?" kau sudah lupa kalau kita sekarang telah menjadi pasangan suami istri. "  Bunga menepuk pelan dahinya Dan Berkata"Aduh !!! kenapa aku sampai lupa begini, maaf sayang ... "  Ansel tersenyum," Iya, tidak apa-apa. Bunga untuk seterusnya jangan lupa kalau aku sudah sah menjadi suamimu yang halal. " Lalu Bunga menganggukkan sebuah sebuah kepalanya dan terkekeh, Ansel yang melihat senyuman Bunga langsung membisikkan ke telinga Bunga dengan pelan, "Kalau begitu aku ingin begitu sayang ..."  "melakukan?"  "Kau mengerti maksudku?"  Bungan Sambil menggelengkan kepalanya mengatakan dia tidak mengerti maksud dari ucapan Ansel.  Ansel terkekeh dan mengusap kepala Bunga, "Nanti kau akan tahu jika kau mengikuti, apa yang aku berikan nanti akan membuatmu sangat nikmat dan ketagihan."  "Hah! Ketagihan? Aku semakin tidak mengerti maksud kau Ansel. Sudahlah aku ingin mandi dulu sebelum menghabiskan waktu hari ini. Ucap Bunga yang berdiri langsung pergi ke arah kamar mandi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD