Pertemuan

571 Words
“Jangan sampai dia akan pulang demi aku, tenang dua hari lagi dia akan pulang dan akan kembali di pelukanmu. Arrgghh... aku tidak ingin membuat dia pusing memikirkan nya sampai dia harus melepaskan semua nya demi mendapatkan yang terbaik satu sama lain nya.” Ucap Bunga di dalam hati nya dengan wajah yang sangat cemas sekarang. Bunga mendengarkan suara bel yang berkali kali di bunyikan dia merasa diri nya tidak ada arti lagi menjalan kan nya. Sampai detik ini rasa cemas melanda terus menerus saja. “Siapa yang datang siang-siang begini? Aku perasaan tidak ada mengundang siapa pun yang akan menjadikan diri ini semakin membaik saja. Tanpa dia rasakan saat ini memang diri nya menjadi sebuah kenyataan yang ada satu sama lain nya lagi.” Ucap Bunga di dalam hati nya yang begitu mendalam saja satu sama lain nya. Perlahan-lahan diri nya memberanikan diri untuk menuruni anak tangga yang seharus nya akan menjadi diri ini semakin yakin saja. Kesiapan diri Bunga yang sudah membawa kayu yang berada di kedua tangan nya membuat dia bersemangat untuk melindungi diri. Bunga melihat dari lubang kecil yang berada di pintu itu, terlihat jelas sosok pria yang berdiri membelakangi pintu. Bunga semakin ketakutan dan dia merasa akan melakukan hal yang sangat jahat untuk melindungi diri nya. “Hm... siapa pria itu? Membuat aku sangat curiga saja saat ini, tidak ada yang bisa aku lakukan selain melindungi diri sendiri.” Ucap Bunga di dalam hati nya yang sangat mendalam. Saat Bunga berusaha memberanikan diri nya, di saat itu lah semua nya bisa dia lakukan demi mendapatkan yang terbaik pada diri nya tidak menentu itu, bibir nya yang bergetar dan tidak tahu harus mengatakan apa lagi di saat itu juga semua nya bisa di jalan kan. “Siapa kau?” Tanya Bunga yang sangat ketakutan.  Pria tersebut membalikan tubuh dan membuat diri nya semakin yakin menjadikan diri ini tidak akan melakukan apa pun di saat menjadi sebuah kenyataan yang mendalam saja. “Hai... Bunga! Masih ingat aku?” Ucap Pria tersebut kepada Bunga. Bunga berusaha mengingatkan apa yang sudah di lakukan nya saat itu juga. “Hm... bukan nya kau teman Ansel?” “Iya, betul.” “Hm... syukurlah aku juga merasa kalau kau tadi pasti bingung memandang aku.” Ucap Bunga yang sekarang akan terus saja melakukan yang terbaik pada diri nya.  “Terus kenapa kau membawa kayu itu?” Tanya Jes kepada diri Bunga. “Hm... kalau semua nya bisa di katakan saat ini akan menjadi sebuah keberuntungan pada sebuah kenyataan ada, ini sebagai barang untuk melindungi diri aku jadi nya begitu aku lakukan nya saat ini. “ Ucap Jes kepada Bunga yang tidak menentu lagi.  “Ya sudah, silahkan masuk dulu.” Bunga mempersilahkan Jes untuk masuk ke dalam rumah nya saat ini tidak menentu juga, satu sama lain nya lagi. “Tunggu duduk di sini dulu ya jangan kemana-mana.” Ucap Bunga yang berusaha  membuat diri nya semakin tenang dan yakin pada diri ini juga. “Hm... tunggu kenapa aku lihat seperti tidak tidak rapi saja, padahal Ansel berkata kalau kau sangat rapi.” Ucap Jes kepada Bunga yang sudah tidak menentu itu juga saat ini. “Hm... masalah itu aku juga tidak mengerti bagaimana lagi menghadapi nya soal nya kemari itu semua ruangan sudah aku rapikan, dan aku lihat sepagi ini waduh... membuat aku sangat penat saja.” Ucap Bunga kepada Jes yang sudah tidak tahu harus berkata apa lagi saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD