"Kita berhenti dulu, untuk mengompres kening yang telah terbentur itu."
Sial !!! aku sangat benci jika bisikkan itu mengganggu aku terus terus menerus, sampai emosi aku tidak terkontrol lagi, sampai Bunga tidak marah yang berlebihan kepadaku, jangan sampai ini akan menganggal aku untuk tetap bersama, menghancurkan semua keinginanku, Ansel melihat wajah Bunga yang masih terdiam mengompres bagian Yang terbentur, Ansel terus mengumpat terus dalam terus menerus.
"Ansel kau kenapa? Sampai tidak tergantung pada mobil, jika memang kau sedang tidak baik, tidak apa-apa kan lain kali makan malamnya, bagaimana?"
"Tapi Bunga ..."
"Tidak apa-apa, nanti terjadi apa-apa di jalan dengan kita berdua Ucap Bunga sambil tersenyum menatap wajah Ansel.
Dan akhirnya mereka setuju untuk pulang ke rumah bersama-sama, Ansel berusaha keras agar sangat pelan, untuk menghindari bisikkan yang tidak nyaman dia dengar, Ansel memutar kan lagu agar suasana lebih tenang dan nyaman.
"Bunga, sekali lagi aku minta maaf malam kita."
Oke tidak masalah.
"Aku mencari kepadamu, dengan segera aku waktu yang tepat untuk kita bisa menghabiskan waktu bersama."
Bunga tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Aduhh ... sudah! Ini sakit sekali."
"Kita berhenti dulu, untuk mengompres kening yang telah terbentur itu."
Sial !!! aku sangat benci jika bisikkan itu mengganggu aku terus terus menerus, sampai emosi aku tidak terkontrol lagi, sampai Bunga tidak marah yang berlebihan kepadaku, jangan sampai ini akan menganggal aku untuk tetap bersama, menghancurkan semua keinginanku, Ansel melihat wajah Bunga yang masih terdiam mengompres bagian Yang terbentur, Ansel terus mengumpat terus dalam terus menerus.
"Ansel kau kenapa? Sampai tidak tergantung pada mobil, jika memang kau sedang tidak baik, tidak apa-apa kan lain kali makan malamnya, bagaimana?"
"Tapi Bunga ..."
"Tidak apa-apa, nanti terjadi apa-apa di jalan dengan kita berdua Ucap Bunga sambil tersenyum menatap wajah Ansel.
Dan akhirnya mereka setuju untuk pulang ke rumah bersama-sama, Ansel berusaha keras agar sangat pelan, untuk menghindari bisikkan yang tidak nyaman dia dengar, Ansel memutar kan lagu agar suasana lebih tenang dan nyaman.
"Bunga, sekali lagi aku minta maaf malam kita."
Oke tidak masalah.
"Aku mencari kepadamu, dengan segera aku waktu yang tepat untuk kita bisa menghabiskan waktu bersama."
Bunga tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Ansel merasa gagal makan malam bersama Bunga, aku menyebut ini semua yang terjadi atas kesalahan iblis yang membisikkan aku, untung saja dia tidak semarah kalau itu, Ansel selalu bingung menyalahkan dirinya sendiri saat melakukan hal yang nyaris celaka begitu.
"Bisik kan itu akan terus datang kalau kau belum bisa menaklukkan hati manusia, berbagai cara bisik kan mengendalikan dirimu, sampai di sini paham?" lagi-lagi Lucifer datang secara tiba-tiba dengan memberikan informasi yang sangat mengejutkan.
"Eh ... dari mana kau tahu kalau bisik kan itu datang kepadaku?"
"Aku sudah katakan kalau aku akan terus meningkatkanmu sampai kau menikah setelah itu aku tidak akan mengganggu, Ansel perlu kau tahu Iblis itu memang wanita seperti Bunga, calon istrimu itu, dia masih perawan berbagai cara untuk melakukan hal untuk menggagalkan rencana kau Ansel, sekarang Berhati Bunga bisa ikut selaka, kau lihat saja Bunga hampir saja saat kau membawa mobil dengan kecepatan seperti itu, saat kau menyadarinya, Bunga tidak terluka. "