Bab 5 - Dipermalukan

1034 Words
Suasana kantor terasa sunyi saat langkah-langkah berat terdengar di lorong utama. Satu per satu karyawan yang sedang bekerja mendongak dari layar komputer mereka, lalu buru-buru menunduk kembali, berpura-pura sibuk. Beberapa yang sedang berdiri langsung menyingkir dari jalur yang dilalui oleh pria tinggi dengan setelan hitam. Abijana pulang ke kantor lebih cepat dari yang dijadwalkan. Dan dari ekspresinya, semua orang tahu sesuatu telah terjadi. Rahangnya mengeras, matanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. Dan ekspresinya membuat siapa pun yang melihatnya menahan napas. "Bos kenapa?" bisik salah satu staf kepada rekannya. "Jangan-jangan ada masalah dengan investor tadi?" Desas-desus mulai beredar. Di meja resepsionis, Renjana baru saja kembali setelah izin menemani ibunya ke rumah sakit. Mendengar bisikan-bisikan itu, dahinya mengernyit. "Jan!" Renjana menoleh, melihat beberapa karyawan mendekatinya dengan ekspresi penasaran. "Bos kenapa, sih? Balik-balik mukanya serem banget." "Lah kenapa jadi tanya gue. Gue baru balik, Na," jawabnya acuh. "Ya siapa tau lo tau, kan sekretarisnya Bos." "Emang gue—" Baru saja ia ingin berbicara lebih lanjut, tiba-tiba suara berat itu menggema di seisi ruangan. "Renjana." Jantungnya langsung berdegup kencang. Ia menoleh dan mendapati Abijana berdiri di depan pintu ruangannya, menatapnya dengan tatapan dingin yang menusuk. "Masuk." Seketika, semua orang yang ada di sekitar mereka langsung mengalihkan pandangan, berpura-pura tidak mendengar. Renjana menelan ludah. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Namun, ia tidak punya pilihan selain mengikuti perintah bosnya. ⸻ Di dalam ruang rapat utama Pintu tertutup dengan bunyi klik, menciptakan keheningan menegangkan di dalam ruangan. Renjana berdiri di tengah, dikelilingi beberapa manajer senior dan staf eksekutif. Semua mata tertuju padanya dengan ekspresi sulit dibaca, tetapi jelas tidak ada yang berpihak padanya. Di ujung meja, Abijana duduk dengan postur santai, tetapi sorot matanya lebih tajam dari sebelumnya. Ia mengetukkan jarinya di atas meja dengan ritme lambat dan menekan, seolah menunggu jawaban. Renjana ingin bertanya, tetapi sebelum sempat mengeluarkan suara, sebuah tablet meluncur di atas meja ke arahnya. Layar menyala. Jadwal rapat investor. Ada yang salah. Matanya melebar saat membaca detailnya—rapat terjadwal pukul 13.00, bukan 10.00. Kesalahan fatal. "Kamu bisa jelaskan ini?" suara Abijana terdengar datar, tetapi ada ketegangan di dalamnya yang membuat udara semakin berat. "Saya..." Renjana menelan ludah, mencoba berpikir cepat. "Kita kehilangan investor utama perusahaan ini," potong Abijana tajam. "Dan penyebabnya?" Semua orang menatapnya, seolah menunggu pengakuannya. "Saya tidak mungkin membuat kesalahan seperti ini, Pak," katanya cepat. "Saya selalu mengecek ulang jadwal sebelum mengonfirmasi." Abijana menyilangkan tangan di depan d**a. "Oh?" Di belakangnya, salah satu manajer menahan tawa kecil, seolah menganggap situasi ini lelucon. "Kamu mau bilang ini bukan kesalahanmu?" Renjana mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. "Saya hanya ingin memastikan. Bisa jadi ada kesalahan teknis—" "Tidak ada yang peduli dengan kemungkinan." Kata-kata itu meluncur dingin, menghantamnya lebih keras dari yang ia bayangkan. "Yang saya lihat adalah akibat. Dan akibatnya, kita kehilangan miliaran hanya karena satu kelalaian." "Saya akan mengecek sistem, mungkin ada glitch—" "Tidak ada yang butuh alasan, Renjana," suara Abijana masih terdengar tenang, tetapi justru itu yang paling mengintimidasi. "Saya butuh seseorang yang bekerja dengan akurat. Kalau kamu tidak bisa menjalankan tugas sesederhana mengatur jadwal dengan benar, kamu tidak layak berada di posisi ini." Renjana merasakan napasnya tercekat. Ia bisa menerima teguran. Bisa menerima kemarahan. Tapi dipermalukan seperti ini? Di depan semua orang? Tenggorokannya terasa kering. "Saya..." Apa pun yang ingin ia katakan terasa percuma. Abijana meraih pulpen, menandatangani sesuatu di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Renjana. Surat pemecatan. "Saya tidak punya alasan untuk mempertahankan kamu lebih lama lagi," katanya dingin. "Mulai hari ini, kamu bukan lagi bagian dari perusahaan ini." Renjana menatap kertas itu tanpa berkedip. Pemecatan? Dia dipecat? Tiga tahun bekerja. Tiga tahun mengabdikan dirinya, dia tidak pernah protes mengenai apapun, termasuk menjadi sekretaris Abijana. Dan sekarang, hanya karena satu kesalahan yang bahkan bukan sepenuhnya kesalahannya, semuanya berakhir begitu saja? Tidak. Tidak bisa. Lalu bagaimana jika dia dipecat? Dia masih punya cicilan. Dia masih punya keluarga yang harus dibiayai. Membayangkannya membuat Renjana merinding. "Tidak, Pak," katanya buru-buru, suaranya sedikit bergetar. "Saya... saya tidak bisa kehilangan pekerjaan ini. Saya mohon, beri saya kesempatan. Saya bisa membuktikan bahwa semua bukan kesalahan saya!" Abijana berdiri, membenahi jasnya dengan tenang, lalu berbalik menuju pintu. Dia seolah enggan mendengarkan perempuan itu bicara. Renjana tak hanya pasrah, dia langsung mengejarnya. Mencoba membujuknya, dia yakin Abijana akan mendengarkannya. "Pak, tolong dengarkan saya dulu!" Langkah Abijana tetap stabil, keluar dari ruang rapat menuju lorong utama. Beberapa staf yang melihat mereka langsung melirik penasaran. Renjana tetap mengikuti langkah pria itu. "Pak, saya tidak mungkin melakukan kesalahan ini! Saya mohon, beri saya kesempatan untuk membuktikannya!" Abijana tiba-tiba berhenti, berbalik, menatapnya dengan tajam. "Renjana," katanya pelan, tetapi tegas. "Saya tidak butuh karyawan yang tidak bisa mengakui kesalahannya." Tangan perempuan itu mengepal disisi tubuhnya, "Tapi ini bukan kesalahan saya!" "Kamu pikir saya akan percaya begitu saja?" suaranya naik satu oktaf, cukup untuk membuat beberapa staf terdekat berhenti bekerja dan melihat ke arah mereka. Renjana merasakan tenggorokannya mengering. Dia melihat semua mata memandangnya. "Saya..." Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia menahan air mata itu agar tidak jatuh. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan. Jika ia kehilangan pekerjaan ini, bagaimana dengan cicilannya? Bagaimana dengan keluarganya? "Pak, saya mohon..." Ia mencoba lagi, suaranya lebih lirih. Tetapi Abijana hanya menatapnya dingin. Keputusannya sudah bulat. "Kamu memalukan." Dunia Renjana seakan runtuh. Kata itu lebih tajam dari pisau mana pun. Beberapa staf yang menyaksikan langsung membelalakkan mata, bahkan tak sedikit yang berbisik tentangnya. Abijana melanjutkan dengan nada dingin, "Seorang sekretaris yang tidak bisa menjalankan tugasnya dengan benar. Dan sekarang malah mengemis di depan semua orang? Kamu bahkan tidak punya harga diri?" Renjana mengatupkan rahangnya, menahan napas. Air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan akhirnya jatuh. Bukan karena kesedihan. Tapi karena sakit hati. Dipermalukan di depan semua staf. Di depan orang-orang yang selama ini melihatnya sebagai tangan kanan CEO—yang selalu berdiri di samping pria itu dengan profesional. Sekarang? Harga dirinya diinjak-injak habis. Abijana menghela napas, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Meninggalkannya di tengah lorong, dengan tatapan penuh rasa kasihan dari rekan-rekan kerjanya. Dan saat itu juga, sesuatu di dalam dirinya hancur. Pria itu tidak percaya padanya. Baik. Dendam. Renjana bersumpah—ia akan membuat Abijana jatuh cinta padanya. Lalu, saat pria itu sudah terjerat, ia akan memastikan Abijana mengalami kesialan seumur hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD