Suara klakson bersahutan di luar sana. Renjana menggigit bibirnya, jari-jarinya mengetuk-ngetuk dashboard mobil dengan resah. Hatinya semakin gelisah saat melihat waktu di layar ponsel—08.10.
"Sial!" desisnya.
Dia sudah terlambat sepuluh menit, dan kemacetan ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan bergerak lebih cepat. Semesta seperti ikut memperburuk harinya setelah semalam dia begadang, menangis sendirian di kamar, lalu ketiduran tanpa sempat mengatur ulang alarm.
Begitu mobil bisa bergerak sedikit, dia langsung tancap gas. Dengan sedikit usaha menyelinap di antara mobil-mobil lain, akhirnya dia sampai di basement kantor.
Renjana bergegas keluar, menarik tasnya, dan berjalan cepat menuju lift. Nafasnya masih belum stabil saat pintu lift terbuka di lantai kantor Abijana.
Begitu melangkah keluar, tatapan beberapa rekan kerja langsung tertuju padanya.
"Ren, lo bakal kena semprot, deh." Salah satu rekan kerja yang duduk di dekat pintu mengisyaratkan ke dalam ruangan Abijana.
Renjana hanya menghela napas. Seolah itu bukan hal baru baginya. Dengan langkah berat, dia mendekati ruangan pria itu, mengetuk pintu, lalu masuk setelah mendengar suara dingin dari dalam.
Abijana duduk di belakang meja kerjanya dengan ekspresi datar dan tajam. Matanya mengamati Renjana dari atas ke bawah, memperhatikan rambutnya yang sedikit berantakan dan kemejanya yang masih belum masuk sempurna ke dalam rok.
"Kamu pikir ini taman bermain?" Suaranya rendah, tapi tajam.
Renjana menelan ludah. "Saya minta maaf, Pak. Saya—"
"Saya bilang datang lebih pagi, bukan lebih siang."
Renjana mengepalkan tangannya di balik punggungnya. "Saya tahu, Pak. Tapi saya—"
"Laporan yang saya minta?"
Mati. Renjana baru ingat dia belum sempat mencetaknya.
"Masih di laptop, Pak," jawabnya pelan.
Abijana menghela napas pendek, seperti menahan emosi. "Kalau kamu tidak bisa kerja dengan benar, silakan mengundurkan diri."
Darah Renjana berdesir. "Saya manusia, bukan robot, Pak. Kalau bisa kerja tanpa capek, saya juga mau!"
Abijana menatapnya lama. "Kalau kamu manusia, maka bertindaklah profesional. Saya tidak butuh alasan, saya butuh hasil."
Ruangan terasa hening. Renjana menggigit bibirnya, menahan semua kata yang ingin dia lontarkan. Dia tahu dia salah, tapi sikap pria di hadapannya selalu membuatnya ingin melawan.
"Segera kirimkan laporan itu ke meja saya. Lima belas menit."
Renjana menghela napas. "Baik, Pak."
Tanpa menunggu lebih lama, dia berbalik dan keluar dari ruangan, menahan kesal yang hampir meledak.
Sialan, dia pikir gue robot?
Dengan langkah terburu-buru, Renjana kembali ke mejanya, mendudukkan diri dengan kasar. Tangannya langsung bergerak membuka laptop, sementara napasnya masih belum stabil.
"Sialan, dia pikir gue robot?" gumamnya dengan suara pelan, tapi cukup keras untuk didengar Rina, rekan kerjanya.
Rina menoleh dari balik monitornya, menaikkan alis. "Lo ngomong apa sih?"
"Bos sialan!" Renjana menekan tombol keyboard lebih keras dari yang seharusnya. "Gue tahu telat itu salah, tapi ya ampun, dia nggak bisa ngomong baik-baik, gitu? Sewot aja pagi-pagi!"
Rina terkekeh pelan. "Abijana mana pernah ngomong baik-baik? Lo udah tiga tahun di sini, Jan, masih kaget?"
Renjana mendecak, menatap layar dengan pandangan kesal. "Gue nggak kaget. Gue cuma—"
"Kena semprot?" Rina menyeringai. "Udah biasa, kan?"
Renjana mendesah. Ya, memang sudah biasa. Tapi tetap saja, setiap kali berhadapan dengan pria itu, emosinya seperti mudah tersulut. Dia mengetik cepat, matanya berpindah ke jam digital di sudut layar. Sepuluh menit lagi.
Dia menarik napas dalam, mencoba fokus. Namun, suara Abijana masih terngiang di kepalanya.
"Kalau kamu tidak bisa kerja dengan benar, silakan mengundurkan diri."
Renjana mendengus. "Sok banget."
"Lo ngomong sama siapa sih Jan? Ngomel mulu perasaan."
"Ya gimana engga sebel, Rin. Dia tadi bilang kalau gue nggak bisa kerja dengan benar, suruh resign aja."
Rina menatapnya dengan ekspresi geli. "Trus, lo mau?"
Renjana diam sejenak, lalu mengetik lebih cepat. "Nggak, cicilan gue masih banyak. Tapi gue pengen jitak rasanya!"
Rina terkekeh. "Good luck."
Renjana mengabaikan ledekan itu. Dia menyelesaikan laporan dengan kecepatan maksimal, memastikan semua format sudah benar, lalu buru-buru mencetaknya. Setelah mengambil hasil cetakan, dia menarik napas panjang, bersiap kembali ke ruangan bos besar.
----
Renjana kembali ke ruangan Abijana dengan tergesa-gesa, masih sedikit terengah setelah berlari kecil dari mejanya. Begitu masuk, dia hampir terpeleset di depan pintu, membuat suara sepatunya berdecit di lantai.
Abijana yang sedang fokus membaca sesuatu di layar laptop langsung mengangkat kepala dengan tatapan dingin. "Kalau niatnya mau mati konyol, jangan di depan pintu saya."
Renjana menggigit bibir, buru-buru merapikan langkahnya sebelum mendekat dan menyerahkan laporan yang baru saja dicetak. "Ini laporannya, Pak."
Abijana mengambilnya tanpa bicara, matanya langsung menelusuri isi dokumen dengan cepat. Lima detik kemudian, membuat pria itu memijat pelipisnya.
"Kamu bercanda?"
Renjana berkedip, tidak langsung menangkap maksudnya. "Saya sedang tidak bercanda, Pak."
Pria itu menatapnya dengan ekspresi nyaris tidak percaya, lalu melempar laporan itu ke meja dengan suara nyaring. "Cek ulang halaman terakhir."
Renjana menunduk, membaca bagian yang ditunjuknya. Dan saat melihat angka total yang salah, dia langsung merasa mual.
Sial.
"Saya bisa perbaiki—"
"Tentu saja kamu harus perbaiki." Suara Abijana lebih tajam dari sebelumnya. "Kamu pikir saya yang harus perbaiki? Gunanya kamu sebagai sekretaris saya apa? Atau kamu pikir ini cukup untuk saya ajukan? Mau bikin saya terlihat t***l di depan klien?"
Renjana menelan ludah. "Tidak, Pak."
Abijana mendengus, menyandarkan punggung ke kursi dengan ekspresi tajam. "Sering saya bilang, cek ulang sebelum menyerahkan sesuatu ke saya. Tapi sepertinya percuma. Kamu kerja tidak menggunakan otak. Kalau saya jadi kamu, saya memilih untuk resign dibanding jadi benalu."
Kata-kata itu seperti tamparan keras. Renjana mengepalkan tangannya di samping tubuhnya, menahan diri untuk tidak membalas.
"Saya akan perbaiki sekarang juga," katanya akhirnya, menekan emosinya.
Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik menuju pintu. Namun, entah bagaimana, kakinya justru tersandung meja kecil di dekat pintu.
"Aduh!"
Renjana nyaris jatuh, tapi berhasil menahan tubuhnya dengan satu tangan di dinding. Sayangnya, lututnya tidak seberuntung itu. Rasa perih menyebar dari kulitnya yang terbentur ujung meja.
Abijana menutup mata sejenak, mengembuskan napas panjang, sebelum membuka matanya lagi dengan ekspresi yang benar-benar kehilangan kesabaran.
"Kamu benar-benar menguji kesabaran saya, Renjana."
Renjana menggertakkan gigi, mencoba mengabaikan rasa sakit di lututnya. "Saya baik-baik saja."
Abijana mendesah panjang, lebih panjang dari sebelumnya. Pria itu akhirnya berdiri, berjalan ke lemari kecil di sudut ruangan, dan menarik kotak P3K dengan gerakan kasar. Dia meletakkannya di meja dengan sedikit lebih keras dari yang seharusnya.
"Cepat obati sebelum lukanya infeksi."
Renjana menatap kotak itu, lalu menatap Abijana yang sudah kembali duduk dengan tangan memijat pelipisnya seolah sedang menekan migrain akut.
"Saya heran, bagaimana kamu bisa bertahan tiga tahun di sini tanpa membakar perusahaan ini sampai rata," sindirnya.