Bab 3 - Putus

1359 Words
Sepulang kerja, Renjana melangkah menuju kafe kecil di sudut jalan. Pesan singkat dari Aksa tadi siang masih terngiang di kepalanya. Ketemuan, yuk. Ada yang mau aku omongin. Hatinya berdebar-debar. Entah kenapa, ia berharap sesuatu yang manis. Mungkin, dilamar? Tidak ada yang tau. Begitu tiba, matanya langsung menangkap sosok Aksa di pojokan. Duduk dengan kepala menunduk, jemarinya mengetuk-ngetuk cangkir kopi yang sudah setengah habis. Renjana tersenyum, menyembunyikan kegugupannya. "Hai, udah lama nunggu?" sapanya sumringah. Dia sangat merindukan pria itu, mengingat belakangan ini kesibukan satu sama lain membuat mereka jarang bertemu. Aksa hanya menoleh sekilas, tersenyum tipis. "Baru aja." Ada yang aneh. Biasanya cowok itu langsung berceloteh soal game baru atau film action yang ditonton semalam. Tapi kali ini hening. Dia tak banyak bicara. Renjana mengambil duduk, menatapnya penuh tanya. "Ada apa? Tumben ngajak ketemuan mendadak. Biasanya janjian dulu nyesuain jadwal kamu." Pria itu terlihat menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian. "Jan... aku mau ngomong sesuatu." Renjana mendekat, jantungnya berdebar. Ini dia yang dia tunggu-tunggu. Mungkin Aksa akan memberikan kejutan untuknya. Membayangkan Aksa melamarnya membuat dia tersipu malu. Renjana memutuskan untuk bersikap biasa. Dia memilih untuk pura-pura tidak tau, agar terlihat natural. "Yaudah ngomong aja, aku juga udah siap kok dengerin kamu ngomong," ujarnya sambil tersenyum. "Aku... mau kita udahan." Dunia Renjana seketika ambruk. Ia mematung, menatap Aksa tak percaya. "Udahan?" tanyanya memastikan. Aksa menunduk, seperti pengecut yang tak berani menatapnya langsung. "Aku nggak bisa, Jan... kayaknya kutukan kamu itu beneran." Renjana tidak percaya. Dia merasa seperti ditampar keras. Kutukan? Apapun alasan sesungguhnya, otak mungilnya tak bisa menerima dia diputuskan hanya karena sebuah kutukan. Menggelikan. Gadis itu berdecih, menatap tak habis pikir, "Kamu putusin aku cuma gara-gara omongan orang? Ini 2024, dan kamu masih percaya mitos konyol itu?" Renjana tak habis pikir, Aksa percaya mitos murahan itu. Dua tahun dia menjalin hubungan, bukan kandas karena orang ketiga, tapi hanya sebuah mitos kutukan? Aksa menggaruk tengkuknya, wajahnya pasrah. "Bukan cuma omongan orang, Jan. Sejak kita pacaran, motor aku mogok mulu, laptop rusak, proyek kantor ditolak, HP aku nyemplung di toilet. Aku nggak mau hidup sial terus." Dada Renjana berdesir, amarah dan sakit hati bercampur jadi satu. "Jadi menurut kamu, aku ini pembawa sial?" Aksa diam. Dia memilih untuk tidak menjawab, membuat Renjana terkekeh sumbang. "Gila ya... diputusin karena mitos murahan." Aksa masih menunduk, pura-pura sibuk mengaduk kopi. Renjana menghela napas panjang, menahan air mata yang sudah menggenang. "Semoga hidup kamu beruntung setelah ini, Sa." Dia berdiri, meraih tasnya dengan gerakan kasar. Sebelum pergi, gadis itu menoleh. Tatapannya tajam, seolah ingin mengutuk cowok di depannya. "Asal kamu tau Sa, motor kamu mogok itu karena udah butut! Laptop kamu juga butut, jadul! Dan untuk proyek kamu yang ditolak karena desain kamu itu jelek! Intropeksi diri lah, bukan malah ngebawa mitos, ga make sense! Hp kamu nyemplung juga karena kamu ceroboh, bukan karena aku! Dasar freak!" teriaknya kesal. Renjana melangkah keluar dari kafe dengan hati yang mendidih. Pipinya memerah menahan malu dan emosi yang meletup-letup. Ucapan Aksa masih terngiang di kepalanya. Kutukan? Sial? Dasar cowok nggak logis! Dengan kesal, gadis itu menendang batu kecil di trotoar. "Sialan! Freak! Cowo cupu! Kutukan apaan sih, emangnya gue Roro Jonggrang?" Batu itu melayang... dan— Plak! Tepat mengenai kepala seseorang yang berjalan di seberang jalan. Orang itu spontan memegangi kepalanya sambil meringis. "Astaga!" Renjana menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya kaku seketika. Wajahnya langsung pucat pasi saat melihat siapa yang dia timpuk. Abijana. Bos super galak, perfeksionis, dan satu-satunya orang yang bisa membuat hidupnya lebih sial daripada dikejar debtcollector. Renjana panik. Dalam hati, ia ingin pura-pura kabur dan menghilang seperti ninja. Tapi nasib sial memang selalu berpihak padanya. Mata Abijana langsung mengunci dirinya menatap tajam. Dengan langkah cepat, Renjana mendekat sambil cengengesan kaku. "Pa-Pak Abi... Astaga, bapak nggak apa-apa, kan?" tanyanya dengan suara bergetar. Abijana masih memegang kepalanya yang tertimpa batu, wajahnya menyiratkan kekesalan. "Kamu baru saja nimpuk kepala saya?"suaranya datar, tapi bikin nyali Renjana ciut. Renjana tergagap, "E-eh... nggak sengaja, Pak. Sumpah! Itu batu terbang sendiri... kayak... kayak kena angin topan!" Alasan paling absurd sepanjang sejarah, tapi hanya itu yang terpikirkan olehnya saat ini. Abijana menatapnya tanpa ekspresi. "Angin topan?" Renjana mengangguk cepat, mencoba tersenyum manis meskipun jelas-jelas keringat dingin sudah membanjiri punggungnya. "Mungkin... angin panas global warming, Pak. Sekarang kan cuaca nggak menentu." Untuk pertama kalinya, sudut bibir Abijana sedikit terangkat. Entah dia ingin tertawa atau hanya menahan kesal. "Kalau saya pecat kamu sekarang, itu juga gara-gara global warming." Renjana langsung melotot. "Jangan, Pak! Saya belum siap jadi pengangguran banyak hutang. Saya masih banyak cicilan. Bapak tega apa, saya diuber debtcollector semur hidup?" dengusnya. Abijana menarik napas panjang, menekan pelipisnya. "Astaga! Saya benar-benar mempekerjakan orang aneh." Renjana menggigit bibirnya, wajahnya meringis pasrah. Abijana melirik jam tangannya lalu berbalik, melangkah pergi tanpa berkata apa-apa. Renjana menghela napas lega. Setidaknya dia tidak akan dipecat karena menimpuk Bosnya. Belum sempat jantungnya kembali ke ritme normal, Abijana tiba-tiba berhenti dan menoleh lagi. "Besok datang lebih pagi. Ada yang saya bicarakan dengan kamu." Renjana mengangguk cepat. "Siap, Pak! Pagi buta juga saya siap!" Abijana hanya melirik sekilas sebelum melanjutkan langkahnya, meninggalkan Renjana yang masih berdiri sambil memegangi dadanya. "Hampir aja karir gue berakhir cuma gara-gara batu!" Renjana menengadah ke langit sore yang mulai gelap. "Hidup gue beneran dikutuk kali, ya?" gumamnya lirih. Angin berhembus pelan, seolah mengamini ucapan gadis itu. **** Renjana mendesah pelan. Tubuhnya masih meringkuk di atas kasur yang sempit, sementara selimutnya melilit sampai ke dagu. Matanya menatap langit-langit kamar yang penuh tempelan sticky notes. Dia pikir, putus cinta tidak akan sesakit ini. Apalagi kalau alasannya karena mitos sialan itu. Renjana menggulingkan tubuhnya, meraih ponsel. Jempolnya bergerak membuka chat terakhir dengan Aksa. Tak ada yang menduga Aksa akan memutuskannya. Seketika matanya panas lagi. "Gini amat hidup gue," dengusnya. Air matanya hampir tumpah, tapi buru-buru diusap dengan punggung tangan. Ponselnya kembali ia lempar asal ke bantal. Dia menghela napas panjang, seolah mencoba menenangkan gejolak di dadanya. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Nama Dila muncul di layar. Renjana buru-buru mengangkatnya. "Halo, Dil?" "Kenapa suara lo kayak orang abis nangis?" tegur Dila tanpa basa-basi. "Nggak, kok." "Lo abis putus sama Aksa, kan?" Renjana terhenyak. Dia tidak cerita banyak mengenai hubungannya, tapi bagaimana Dila tau? Apa dia cenayang? "Kok lo tau? Indihome ya lo?" "Kagak! Note IG dia galau, Jan. Terus captionnya cuma titik tiga. Kalau cowok gitu udah jelas abis bikin dosa." Renjana mendengus, mata memutar kesal. "Halah, kampret! Sok galau, padahal dia yang mutusin gue." Dila langsung ngakak mendengarnya. "Buset, lo diputusin Aksa?" "Iya! Dia mutusin gue cuma gara-gara bilang kalau sama gue sial mulu bawaannya. Kan nyebelin Dilaaa." Dila makin ngakak, bikin emosi Renjana makin mendidih. "Astaga, cowok model apaan sih? Udah bego, penakut pula!" Renjana mendengus, bibirnya manyun. "Gue sabar banget sama dia, Dil. Dia telat, gue tungguin. Lupa tanggal jadian, gue maklumin. Lah sekarang malah gue yang dikatain bawa sial?" Dila langsung diam sebentar. Suaranya jadi lebih serius. "Jan... lo sadar nggak sih, selama ini lo lebih banyak ngertiin dia? Coba pikirin lagi deh." Apa yang Dila bilang ada benarnya. Selama dua tahun ini, Renjana yang paling sering ngertiin dan mengalah. Bukan karena tak punya pilihan, tapi dia cuma tidak ingin hal-hal kecil jadi alasan buat hubungan mereka berakhir. Apalagi, usianya tak lagi muda. Sayangnya, semua usahanya sia-sia. Siasat yang dia kira bisa bikin hubungan langgeng, ternyata tidak cukup buat bikin Aksa bertahan. "Yaudah sih, ngga perlu sedih. Lagian cowok masih banyak. Contohnya Pak Abi tuh, Bos lo." Mendengar nama Abi, membuat gadis itu tertawa. Dia, dan Abijana? Ora sudi! "Jangan ngaco deh Dil, segilanya gue abis putus, gue juga engga bakal mau sama tuh orang. Bisa mati muda gue, ogah!" "Yaelah Jan, sok nolak lo belagu. Laki ganteng gitu dianggurin. Kalau ga ada Bagas, udah gue sikat sih, mayan benerin keturunan." Renjana berdecih mendengarnya. "Ganteng dari mana sih Dil? Mata lo katarak ya? Mukanya aja kayak satpam kantor pajak gitu." Dila tertawa ngakak di seberang sana. "Yakin nih? Ntar keburu Pak Abi diambil orang baru nyesel lo." "Mending jadi prawan tua mah kalau sama tuh orang. Udah ah, makin ngaco lo. Gue mau tidur aja, byee!" Renjana langsung mematikan telepon, lalu membenamkan wajahnya di bantal. Dia memejamkan mata, berharap besok pagi perasaan sesak ini bisa sedikit lebih ringan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD