Dee tidak menyangka, bahwa ada banyak kata 'pertama kali' yang ia alami dalam waktu satu hari. Pertama kalinya ada cowok yang menyapanya dengan kalimat lembut, pertama kalinya ia membiarkan orang asing melewati gerbang rumahnya yang sama artinya ia untuk pertama kalinya melanggar peraturan yang dibuat oleh ibunya sendiri. Lalu sekarang, pertama kalinya pula ada seseorang yang duduk di kursi yang berada di taman belakang rumahnya.
Taman itu jarang digunakan oleh Dee, tapi bunga-bunga serupa seperti di halaman depan selalu dirawatnya. Ada dua kursi dan satu meja di sana. Biasanya akan ia duduki hanya saat dirinya mulai suntuk di dalam rumah. Kadang ibunya juga bersantai di taman itu saat libur bekerja dan ia akan menemani ibunya untuk sekadar meminum teh atau mengobrolkan hal lain.
Namun, kursi yang biasa diduduki ibunya kini diduduki oleh cowok yang seharusnya tidak Dee biarkan masuk melewati gerbang rumahnya. Setelah kebingungan karena tidak mungkin membiarkan Devano hanya berdiri di depan jendela, Dee akhirnya mengajak cowok itu untuk duduk di kursi yang berada di taman belakang saja. Devano mengatakan bahwa dirinya suka dengan suasana rumah Dee yang terasa sejuk dan asri. Berbekal dengan rumahnya yang besar, tapi terasa kosong.
Saat tangan kekar itu meraih cangkir teh yang beberapa saat lalu disajikan oleh Dee, Dee hanya memperhatikan. Cangkir itu kembali diletakkan nyaris tanpa suara. Devano memiliki perawakan tinggi dengan kulit putih bersih, tidak jauh beda sepertinya. Mungkin karena cowok itu juga lebih sering menghabiskan waktunya di dalam rumah. Rahangnya tegas, alisnya terukir rapi dengan balutan bulu mata lentik, rambutnya hitam kecoklatan, dan bibirnya berwarna merah muda. Sepertinya cowok itu tidak merokok. Tubuhnya harum dengan parfum yang belum pernah Dee temui baunya.
Sadar bahwa dirinya sedang memperhatikan Devano, Dee segera menunduk. Ia tidak tahu bahwa berteman dengan orang lain akan terasa sangat menyenangkan. Ia selalu ingin menatap Devano lama-lama, menikmati wajah seorang teman yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.
"Buku apa aja yang kamu koleksi? Atau novel karya siapa aja yang menuhin rak buku kamu?" tanya Devano tiba-tiba. Membuat Dee mengerjap dan sontak langsung mendongakkan kepalanya untuk kemudian menatap Devano.
"A-aku sih lebih suka novel romance atau fantasy," sahut Dee.
Devano terkekeh pelan. "Udah aku duga. Coba sebutin apa aja yang kamu punya, barangkali kita bisa saling ngasih rekomendasi."
"Ada beberapa karya Julia Quinn, ada dua karya Lewis Carroll yang judulnya Alice's Adventure In Wonderland sama Through The Looking Glass, serial The Chronicles Of Narnia, trilogi Across The Universe karya Beth Revis, dan beberapa lainnya."
"Waw!" seru Devano takjub.
Dee yang penasaran turut menanyakan pertanyaan yang sama. Tentang novel apa saja yang dimiliki Devano dan siapa penulisnya. Jarang-jarang ia memiliki teman yang satu hobi dengannya, saat orang itu ada di depannya, Dee tidak ingin menghilangkan kesempatan untuk saling bertanya.
"Aku sih baca semua genre. Mulai dari horor, romance, slice of life, thriller, misteri, fantasy, dan beberapa lainnya. Semua judul yang kamu sebutin, aku juga udah punya bukunya. Ada juga beberapa novel lain karya J. K. Rowling, R. L. Stine, Stephen King, Stephenie Meyer, dan masih banyak lagi. Terus ada juga beberapa novel karya penulis Indonesia kaya Pramoedya Ananta Toer, Tere Liye, sama Andrea Hirata."
Dee dibuat melongo mendengar penuturan panjang lebar dari Devano. Ia bisa membayangkan bahwa rumah lama Devano mungkin sudah seperti perpustakaan karena cowok itu banyak mengoleksi novel-novel dari penulis terkenal.
"Aku baru aja minta ibuku beliin buku karya Stephenie Meyer," ujar Dee menanggapi penuturan Devano.
Cowok itu menatapnya. "Pasti mau ngincer series Twilight," tebaknya kemudian.
Sontak saja Dee mengangguk bersemangat. Tentu saja. Itu adalah salah satu series paling populer karya Stephenie Meyer. Rasanya belum lengkap koleksi bukunya kalau tidak memiliki novel itu.
"Kalau mau, aku bisa pinjemin ke kamu." Devano menawarkan.
"Eh, serius?"
"Iya, aku punya lengkap semuanya. Bahkan ada juga yang judulnya Midnight Sun, itu tuh novel dari sudut pandang Edward. Kan kalau series Twilight ngambil dari sudut pandang Bella, kalau Midnight Sun dari sudut pandang Edward." Jeda sebentar, Devano mendekatkan kursi ke meja sebelum melanjutkan. Memperpendek jaraknya dan Dee.
"Ada juga yang judulnya The Short Second Life of Bree Tanner. Ini tuh menceritakan tentang vampir baru yang muncul di seri ketiganya, yaitu Eclipse. Ini seru sih menurut aku, hampir keseluruhan isinya tentang kemalangan si tokoh utama, Bree. Mulai dari waktu dia digigit dan berakhir jadi vampir, dipaksa nerima kenyataan kalau dia lagi ditipu karena orang yang dia cintai padahal udah meninggal, dan di ending akhirnya si Bree ini meninggal juga. Miris sih, tapi ada banyak selipan kisah manis juga di baliknya. Kamu harus baca pokoknya."
Penjelasan ringkas dari Devano membuat Dee terperangah. Ia takjub sekaligus terpesona dengan betapa tenangnya seorang Devano menceritakan secara singkat kisah dari sebuah novel yang pernah dibacanya.
"Serius aku boleh pinjem?" tanya Dee menegaskan keinginannya sekaligus mempertanyakan apa Devano betulan ingin meminjamkannya novel.
Lalu, yang Dee dapati adalah senyum manis di bibir Devano. Terukir sempurna di wajah tampannya. Cowok itu mengangguk dua kali. Membuat Dee berseru kegirangan. Ia akan berbicara agar ibunya tidak perlu membelikannya novel tersebut. Kalau sudah membacanya, tidak masalah jika wujudnya tidak tersimpan di rak buku, asal isi bukunya sudah ia nikmati. Berdoa saja agar ibunya nanti tidak tahu-menahu bahwa ia meminjam novel itu dari tetangganya.
"Lagian 'kan sayang kalau uangnya dipake buat beli. Karena aku punya, kamu bisa pinjem punya aku aja, dan uang yang rencananya mau kamu gunain buat beli novel itu bisa kamu gunain buat hal lain atau beli judul lain."
"Boleh, nanti aku pinjem punya kamu aja," sahut Dee balas tersenyum.
Devano menyeruput lagi teh yang dibuatkan Dee. Kali ini cangkirnya tidak langsung diletakkan kembali, dipegang beberapa detik olehnya, disesap lagi baru setelahnya diletakkan di atas piring kecil yang menjadi tatakan. Dee turut menyesap tehnya untuk pertama kali. Membasahi tenggorokannya yang sejak tadi kering karena terlalu sering menganga.
Pembicaraannya dengan Devano terlalu membuang tenaga. Jika biasanya ia sangat jarang berbicara dengan orang lain selain ibunya, tapi hari ini Dee mengubah fakta itu dan berbicara banyak dengan orang yang baru dikenalnya.
Devano menyenangkan, itu tanggapan setiap orang yang mengenal Devano, bahkan untuk Dee sekalipun. Hanya berbekal hobi yang sama, Devano berhasil membuat Dee melanggar banyak peraturan hari ini, sekaligus memberi tahu Dee bahwa tidak semua orang menganggap Dee gadis suram yang tidak pantas disapa. Tidak dengan Devano.
Selain itu, Devano membuat Dee memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu. "Kenapa kamu suka buku?" Tanpa rasa malu atau takut bahwa si lawan bicara mungkin saja tidak akan merespon pertanyaannya.
"Kaya yang aku bilang, karena papaku suka buku, tanpa sadar aku juga ikutan suka buku. Awalnya sih dulu cuma iseng baca-baca novel papaku yang pernah dibelinya waktu muda. Sampe akhirnya aku hanyut dan menamatkan semua novel punya dia. Koleksinya kebanyakan genre misteri dan thriller, dan aku yang ngelengkapin genre lain sebagai koleksi baru."
Devano mau mengenal gadis suram seperti Dee. Dee yang awalnya tidak tertarik berteman dengan Devano dipaksa membukakan pintu untuk cowok itu. Devano membuat rumah yang selama ini terasa hampa berubah menjadi lebih berwarna karena kehadiran orang baru. Gerbang yang selama ini terkunci, dibiarkan terbuka oleh Dee.
Jauh di lubuk hatinya, Dee yakin bahwa Devano adalah cowok populer di kampusnya. Terlihat dari tampilannya yang dewasa dan cool, ditambah sifat ramah dan senyum menenangkan yang bisa menyihir siapa saja. Devano mungkin saja memiliki kekasih, tapi karena berhasil membuat Dee memiliki sedikit harapan tentang teman, Dee ingin berterima kasih padanya. Tidak sekarang, mungkin nanti, tapi itu pasti.
"Kamu sendiri, kenapa suka buku?"
Pertanyaan itu sontak membuat Dee mengerjapkan mata. Lagi-lagi ia melamun. Kemudian kepala Dee dipenuhi dengan hari-hari saat dirinya masih bersama ayahnya sebelum pria itu meninggal. Ibunya memperkenalkannya dengan buku-buku cerita, tapi ayahnya lah yang setiap malam membacakan buku tersebut. Dari sana Dee tahu dirinya mulai menyukai buku. Ia suka saat mendengarkan ayahnya bercerita, mungkin sama seperti ibunya yang juga menyukai saat dirinya bercerita. Ketika ayahnya meninggal, Dee mengobati rasa kesepian dengan membaca buku, dari sana pula ibunya mulai membuatnya mengoleksi buku.
Namun, kalau ditanya kenapa ia menyukai buku, Dee sendiri tidak yakin dengan jawabannya. Pada awalnya buku hanya menjadi tempat pelampiasannya karena kesepian. Ayahnya meninggal, dan ibunya harus bekerja sebagai tulang punggung keluarga tanpa bisa menggantikan peran ayahnya.
Berawal dari mengobati rasa kesepian itulah membaca buku menjadi candu untuknya. Dee suka menikmati setiap lembar buku dalam rasa penasaran, ia juga suka menerka-nerka apa akhir dari buku yang dibacanya. Dari semua buku yang dibacanya, ia tidak hanya dibuat jatuh cinta pada karakter utamanya atau musuh dengan pikiran licik yang unik, tapi juga dibuat tenggelam dengan alur cerita dan pesan-pesan yang dituliskan secara tidak langsung oleh penulis melalui tokoh-tokohnya.
Intinya, "Mungkin karena buku menjadi satu-satunya teman yang selalu bisa bikin aku jatuh cinta," sahut Dee mengulas senyum tipis. Sangat tipis, tapi Devano yang sedari tadi diam-diam melirik melihat senyum itu.
"Gimana sama teman kamu di sekolah?"
Kali ini Dee menggeleng. "Gak ada yang mau berteman sama gadis suram kaya aku." Terdengar tenang sekali. Seolah Dee sama sekali tidak terganggu dengan fakta itu.
"Kalau gitu, aku teman pertama kamu dan orang pertama yang mau jadi teman kamu. Bener?"
Dee mengangguk.
"Suatu kehormatan bisa kenal sama Putri Rumahan yang menakjubkan kaya kamu."yang
Hah?
Tunggu dulu, apa maksudnya?
Refleks Dee memiringkan kepala sambil terus menatap Devano. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan cowok itu. Putri rumahan dengan selipan kata menakjubkan di baliknya, kenapa terasa menyenangkan untuk Dee? Seperti ada sesuatu yang menggelitik perutnya dan ia tidak yakin itukah sebabnya?
"Iya, kamu 'kan Putri Rumahan. Setiap hari selalu ada di rumah dan kamu ngaku kalau kamu gak punya teman. Aku pikir kamu itu introvert, tapi ternyata asik juga." Devano mengulurkan tangannya ke arah Dee. "Senang akhirnya bisa kenalan sama kamu," sambungnya.
Ragu-ragu Dee menerima uluran tangan itu. Terasa lembut dan halus untuk ukuran seorang pria. Genggamannya kuat dan hangat di saat bersamaan. Dan Dee menyukainya.
"Aku juga senang akhirnya bisa ketemu sama orang yang satu hobi kaya aku."
Berselang beberapa menit setelah Devano melepaskan tangannya, ia melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Tidak terasa, waktu yang ia habiskan untuk mengobrol bersama Dee nyaris hampir dua jam. Ia tidak izin kepada ibunya mau pergi ke mana, dan kalau ibunya tahu ia tidak ada di rumah, wanita itu pasti akan khawatir. Belum lagi ponselnya tidak ia bawa.
Alhasil, Devano memilih berdiri dari sana. Mengakhiri percakapannya dengan Dee. "Kayanya aku harus pulang. Gak kerasa udah hampir dua jam di rumah kamu. Tadi gak sempet izin sama mama soalnya," pamitnya kemudian.
Dee hanya mengangguk dan mengantarkan Devano ke gerbang rumahnya. Keduanya berjalan dengan tempo pelan. Sesekali Devano akan memperhatikan halaman rumah Dee yang menurutnya sangat asri dan sejuk. Ia nyaman berada di sana. Andainya rumah Dee adalah rumahnya, sudah pasti ia akan sangat betah.
Sampai di depan gerbang, Dee membukakan gerbang. Devano keluar setelahnya. Cowok itu berkata, "Mungkin entar sore aku bawain bukunya, kalau enggak mungkin besok." Mendapati anggukan kepala dari Dee, Devano mengulas senyum tipis sebagai balasan dan melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan.
Tidak butuh waktu lama, Devano sudah hilang dari pandangan Dee. Cowok itu memasuki rumahnya tanpa menoleh lagi, tapi Dee masih saja memperhatikan sisa kepergiannya dengan terus melihat jalan yang sempat dilalui oleh Devano.
Bolehkah Dee mengaku bahwa lagi-lagi ini pertama kalinya ia merasakan kebahagiaannya amat lengkap. Bukan, bukan karena ia tidak bahagia bersama ibunya, tentu ia bahagia. Hanya saja apa yang ia alami hari ini, berbincang santai dengan orang yang memiliki satu kegemaran yang sama dengannya, menghadirkan kepuasan tersendiri untuknya.
Ibunya mungkin akan marah, ibunya mungkin akan kecewa, karena Dee sudah berani melanggar peraturan dan dekat dengan cowok, asing pula. Karena itulah, Dee berniat untuk tidak memberitahu ibunya soal kedatangan Devano. Biarlah apa yang ia alami menjadi rahasia yang sampai saatnya nanti, di waktu yang tepat, akan ia bicarakan bersama ibunya. Tidak sekarang atau dalam waktu dekat, hanya sampai Devano benar-benar menjadi temannya. Yang tidak pergi setelah pertama kali datang.