4 - Si Tetangga

1544 Words
Seperti minggu-minggu sebelumnya, Dee memulai paginya dengan menyiram tanaman. Ia sudah sarapan, sudah mandi, dan sudah membersihkan rumah pula. Menyiram tanaman di pekarangan rumahnya akan menjadi pembuka yang baik sebelum ia menghabiskan waktu dengan menonton film di dalam rumah. Langit tidak secerah minggu sebelumnya. Bumi memang sudah terang, tapi yang menghasilkan terang itu sendiri tertutup awan sebenarnya. Tidak mendung, tapi tidak panas juga. Benar-benar cuaca yang cocok untuk bersantai dengan segelas teh dan buku terbuka di tangan. Tapi karena ibunya belum membelikan buku baru, buku itu akan Dee ganti dengan menonton film saja. Bunga-bunga yang ada di halaman rumahnya sudah basah semua, Dee mendongakkan kepala, menatap sekelilingnya. Ia hendak mematikan keran air saat matanya justru menangkap sesuatu yang lain di seberang jalan. Seorang cowok keluar dari pagar dam berjalan tenang menuju rumah Dee. Membuat Dee tampa sadar menahan napas dan melangkah mundur satu langkah. Tubuhnya gemetar, tapi Dee sadar dirinya akan terlihat sangat konyol kalau berlari tiba-tiba. Si tetangga baru itu sampai di luar pagar rumah Dee tidak sampai dua puluh detik. Sementara cowok itu datang dengan tenangnya, Dee justru kelabakan karena tidak tahu harus apa. Ia ingin masuk ke rumahnya, tapi kakinya justru terpaku. Selang yang sejak tadi dipegangnya terjatuh, membasahi rerumputan yang memenuhi halaman. "Coba kerannya matiin dulu," kata si tetangga terkekeh geli. Suaranya seolah menjadi pemicu Dee menggerakkan tubuhnya dan segera berlari ke samping rumah untuk mematikan keran air. Layaknya gadis polos yang hanya mengikuti perintah, Dee kembali lagi ke hadapan si tetangga. Bunga-bunga dan pagar rumah Dee menjadi sekat di antara keduanya. "Ada apa, ya?" tanya Dee yang jelas kebingungan dengan kehadiran si tetangga yang tiba-tiba mendatangi rumahnya. Dee memang tidak pernah bertegur sapa dengan tetangganya itu. Ini pertama kalinya. Tapi di samping itu, sebenarnya Dee tahu bahwa tetangganya itu adalah anak dari wanita yang dilihatnya turun dari mobil satu Minggu lalu. Ia kerap melihat si cowok keluar rumah. Kadang bersamaan dengan perginya ke sekolah, kadang cowok itu juga pergi di sore hari tanpa membawa tas seperti pagi hari. Dan selama satu Minggu itu, tetangganya tidak pernah mendatanginya seperti sekarang ini. Lantas ada apa sebenarnya? "Gak pa-pa, aku cuma mau nyapa aja. Aku 'kan masih baru di sini, jadi mau kenal aja sama tetanggaku." Oh, begitu. Dee mengulas senyum kikuk, dan si cowok membalasnya dengan senyuman hangat. Dee sama sekali tidak tertarik berteman dengan tetangga barunya itu, tapi senyum yang diperlihatkan si tetangga sangat tulus. Membuat Dee tertegun. Karena pertama kalinya Dee menemukan seseorang yang memberinya senyum secerah dan sehangat itu. "Nama aku Devano, bisa dipanggil Dev. Kamu?" "A-aku ... Dee." Lagi, cowok yang mengaku bernama Devano itu tersenyum. Dee tenggelam dibuatnya. Seolah ada sesuatu yang menariknya dan memintanya untuk segera membukakan gerbang untuk Devano. "Aku jarang banget liat kamu keluar rumah di luar kegiatan kamu berangkat dan pergi ke sekolah. Kenapa?" Sontak saja Dee langsung menunduk. Ia tidak ingin menjelaskan alasan di balik pertanyaan Devano. Lagi pula, jawabannya tidak bisa sembarang dijelaskan pada orang asing. Wajah Devano tidak terlihat seperti kriminal, malah terlihat sangat bersahabat, tapi ibunya selalu berpesan agar tidak mudah percaya dengan orang asing. Di dunia ini, ada banyak sekali orang yang menutupi sifat aslinya dengan wajah semringah. "Gak pa-pa kok kalau kamu gak bisa jelasin. Aku juga punya banyak teman yang introvert." Introvert? Dee bertanya-tanya apakah dirinya memang seperti gadis introvert hanya karena jarang keluar rumah? "Tapi aku sering liat kamu di depan jendela kamarmu, entah lagi baca buku atau cuma merhatiin langit aja. Suka baca buku kah?" "Iya, aku suka baca buku," sahut Dee cepat. Dee tidak sadar bahwa kata 'buku' yang disebutkan oleh Devano berhasil membuatnya tertarik. Ia tersenyum lebar dengan tatapan mata yang tertuju pada Devano. Cowok itu tergelak. "Wah, kayanya kita punya satu hobi yang sama," katanya. Sesederhana itu, dan Dee merasakan kebahagiaan yang luar biasa hebat. Selama ini ia tidak pernah bertemu dengan seseorang yang juga hobi membaca. Mungkin ada banyak di sekolahnya, tapi tidak satu pun yang mau menyapanya. Lalu, Devano datang. Membuka paksa pintu yang selama ini Dee tutup rapat. "Aku punya banyak novel di kamarku, tapi jujur aja, kebanyakan justru novel-novel terjemahan. Ada beberapa novel Indonesia juga, tapi aku lebih suka baca novel terjemahan." Sekarang Dee tidak sadar bahwa kedua matanya membulat dengan mulut setengah terbuka. Devano tidak hanya berhasil membuka pintu pada pertemuan pertama, tapi juga membuat Dee langsung tertarik padanya hanya karena tema 'buku' yang dibawanya. "Aku juga sama, semua buku yang kupunya bahkan novel terjemahan semua." "Oh, ya?" Devano tertawa di balik pagar. Renyah dan terdengar merdu sekali di telinga Dee. "Berarti boleh dong, aku liat koleksi bukumu?" Dee terdiam cukup lama. Sampai akhirnya tubuhnya bergerak ke kiri. Ia berjalan ke arah gerbang rumahnya. Tangannya membuka pintu gerbang yang tidak dikunci. Dee lupa bahwa dirinya sedang melanggar peraturan terbesar di rumahnya. Yaitu untuk tidak mengizinkan orang asing melewati gerbang dan berjalan di halaman rumah. Selama ini, Dee hanya hidup di dunianya sendiri. Ia bukannya tidak membiarkan orang lain memasuki hidupnya, hanya saja nyaris tidak ada satu pun orang yang bisa dekat dengannya. Ditambah lagi peraturan-peraturan yang dibuat oleh ibunya membuatnya dipaksa betah berada di dalam rumah tanpa harus beradaptasi dengan dunia luar. Devano melewati pagar rumah Dee dan berakhir di halaman luas yang ada di depan rumah Dee. Cowok itu memandang sekitarnya dengan pandangan takjub. "Rumah kamu ini cuma satu tingkat, tapi cukup luas, ya? Ditambah lagi halamannya bener-bener luas dan penuh sama bunga-bunga. Bikin nyaman." Dee mengangguk membenarkan. Ia pun berpikir demikian. Ibunya pandai merawat rumah, dan ia membantu agar rumahnya tetap nyaman. "Tapi aku gak bisa bawa kamu masuk, aku takut ibuku marah karena biarin orang asing masuk." Devano tertawa lagi. Tidak apa-apa katanya. Ia mengerti apa yang dikhawatirkan ibu Dee. Namun, Dee tidak keberatan menunjukkan kamarnya lewat jendela. Ia menuntun Devano mendekati jendela kamarnya yang terbuka. Dua jendela besar seolah sedang memperlihatkan dunia Dee di baliknya. Untuk kedua kalinya Devano dibuat takjub. Ia memperhatikan seisi kamar Dee dengan saksama. Fokusnya tertuju pada kumpulan buku yang memenuhi rak, beberapa menumpuk di atas meja, dan beberapa lainnya berserakan di atas ranjang. Hampir saja Devano melompat masuk dan memeriksa judul apa saja yang dimiliki Dee, tapi ia urungkan. "Udah berapa lama kamu ngumpulin ini. Lumayan juga?" Lumayan? Dee menatap Devano. "Jangan bilang kamu punya lebih banyak dari ini?" tanyanya penasaran. Mendapat anggukan kepala dari Devano, lagi-lagi Dee melongo. Buku-bukunya bisa dibilang sangat banyak. Ibunya sangat rajin membelikan buku sejak beberapa tahun belakangan. Ada ratusan, tapi Dee tidak tahu pastinya berapa. Dan kalau Devano punya lebih banyak darinya, seberapa banyak? "Di rumah lamaku, ada dua rak yang besarnya hampir sama kaya punya kamu. Mungkin sedikit lebih besar. Satu rak udah penuh, dan satunya lagi hampir penuh. Tapi pas pindah ke sini, gak semuanya aku bawa. Sebagian ada sini, dan sebagian lagi aku sumbangin." Tolong ingatkan Dee untuk menutup mulutnya segera. Karena gadis itu sudah menganga kian lebar. "Kebetulan papaku juga suka baca. Ada banyak buku punya dia dan aku baca ulang." Devano menoleh ke arah Dee, "kalau kamu?" tanyanya. Dee ingat, ayahnya juga dulu sering membacakan dongeng untuknya sebelum pria itu meninggal. Tapi seingatnya, ayahnya itu tidak terlalu menyukai buku. Rasanya iri saat ada seorang anak yang begitu dekat dengannya ayahnya karena memiliki hobi yang sama. Tapi tidak apa-apa. Dee tersenyum lebar. Ayahnya pun sangat hebat. Meskipun ia hanya memiliki kenangan manis bersama pria itu untuk waktu yang tidak bisa dibilang lama, ia bersyukur pernah sangat dimanja dan dicinta. "Ayahku udah meninggal, dan semua buku-buku yang aku punya itu pemberian ibuku. Ibu sering beliin buku supaya aku gak bosan di rumah. Waktu kecil berteman dengan komik dan buku dongeng, beranjak remaja aku dikenalkan sama novel-novel terkenal." "Maaf, aku gak ada maksud buat bikin kamu inget sama ayah kamu." Dee tersenyum lebar. "Gak pa-pa kok." Keduanya larut dalam pembicaraan. Tidak peduli bahwa mereka sedang berdiri di depan jendela. Rasa pegal tidak terasa, yang ada hanya keseruan karena membicarakan tentang kehidupan masing-masing. Devano mengatakan bahwa kepindahannya dikarenakan perceraian orang tuanya. Dan Dee bercerita bahwa Devano adalah cowok pertama yang memasuki halaman rumahnya. Dee meminta agar Devano merahasiakan obrolan mereka. Dan Devano hanya mengangguk sambil tertawa. "Jadi, sekarang kamu kelas berapa." Dee berdeham sebelum menjawab, "Kelas tiga SMA." Sebagai tanggapan, Devano berseru senang. "Kayanya kita bakal lulus barengan." "Kok bisa? Emangnya kamu masih SMA?" "Enggak," kata Devano. Ia terkekeh geli, "Cuma InsyaAllah tahun ini aku lulus kuliah." Sudah Dee duga. Selain penampilannya yang terkesan dewasa, Devano juga memang tidak terlihat seperti anak SMA. Ia kerap melihat cowok itu pergi pagi membawa tas, tapi tidak berseragam. Yang mengejutkan Dee hanya satu, bahwa usianya dengan Devano terpaut cukup jauh. "Apa harus aku panggil kamu kakak?" "Gak perlulah. Formal amat. Kaya gini aja lebih nyaman." Dee pun berpikir demikian. Alhasil ia hanya mengangguk setuju. Memanggil Devano tanpa embel-embel 'kakak' akan terasa lebih akrab saja untuknya. Devano mudah berbaur dengan orang lain, itu adalah kelebihan paling penting yang dibutuhkan Dee. Ia tidak pandai bergaul, tidak pandai juga menyapa lebih dulu, tapi Devano tidak begitu. Devano nampaknya bersahabat dengan siapa saja. Cowok itu bisa mengenal orang banyak karena kepribadiannya yang menyenangkan. Kalau saja tadi Devano tidak lebih dulu menyapa, Dee tidak yakin bahwa ia dan Devano bisa saling tahu hobi masing-masing. Kalau Devano tidak menyapa, sampai kapan pun keduanya tidak akan saling mengenal. Karena Dee tidak akan menggerakkan mulutnya untuk bersuara pada orang asing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD