3 - Bertualang ke Luar Angkasa

1569 Words
Malam ini ibu akan berpetualang gak?" Dita bertanya pada Dee yang sedang tengkurap di depannya. Keduanya sedang berada di kamar Dee. Saat makan malam, Dee mengatakan bahwa dirinya baru saja selesai membaca trilogi Across The Universe yang dibelikan ibunya beberapa hari lalu. Sontak saja hal itu membuat Dita penasaran. Sudah biasa Dee akan menceritakan tentang isi buku yang telah dibacanya. "Iya dong. Bukannya kalau aku cerita tentang novel yang aku baca, ibu emang selalu bertualang?" Dita mengulas senyum tipis. Dee merubah posisi menjadi berbaring. Beringsut mendekati ibunya dan meletakkan kepalanya di pada wanita itu. Dita tidak pernah menyukai buku, Dita tidak pernah suka membaca, dan dirinya juga bukan orang yang gemar dengan dunia seni. Namun, Dee mengajarkannya bahwa ada dunia lain di balik dunia yang selama ini dikenalnya. Ada begitu banyak cerita yang awalnya tidak ia suka, tapi berakhir menjadi candu baginya. Dan ada banyak sekali sudut pandang dari berbagai macam orang dengan kisah tertentu. Bukan, bukan berarti Dita sudah mulai gemar membaca. Ia masih tidak suka, hanya saja, dari bagaimana Dee bercerita tentang puluhan bahkan ratusan kisah yang dibacanya, ia jadi sangat menantikan kisah-kisah lainnya. "Across The Universe itu bercerita tentang seorang gadis bernama Amy yang ikut dalam perjalanan interstellar. Amy ini dimasukin ke dalam tabung krio, jadi kalau menurut bahasaku mungkin kaya sengaja ditidurkan. Tapi di tengah perjalanan dia dibangunkan gara-gara ada yang mau ngebunuh dia." Dee mulai bercerita. Sekilas membayangkan bahwa dirinya lah yang berada di posisi Ami si pemeran utama. Ibunya hanya mendengarkan. Sesekali Dee menerima usapan lembut di kepalanya dari tangan lembut itu. "Latar ceritanya ada di sebuah spaceship bernama Godspeed. Kalau ibu mau tau, di Godspeed ini besar dan luas banget. Di dalamnya ada ekosistem buatan kaya kebun, jalan setapak, ruang lab, mesin, ruang pertemuan utama, dan masih banyak lagi. Mereka juga ngolah makanan sendiri, lho, kaya mengembangbiakkan ternak." Dita berseru bersemangat. "Pasti luas banget, ya?" Di pahanya, Dee mengangguk tak kalah semangat. "Sampai akhirnya Amy ketemu sama Elder. Bisa dibilang, mereka langsung saling jatuh cinta, tapi perjuangan mereka buat bersama gak mudah. Ada misteri yang harus dipecahin di cerita ini, dan aku suka saat masing-masing tokoh menemukan klue." Jeda sebentar. Dee mengulas senyum tipis lalu melanjutkan. "Dan yang jadi bagian paling menarik dari cerita ini tuh tentang pengendalian populasi baik secara jumlah maupun mental di Godspeed. Aku sempet baca review-nya sebelum baca, dan banyak yang suka sama ceritanya. Eldest pemimpin Godspees, menggunakan obat dan trauma atas tragedi masa lalu untuk membuat manusia-manusia di sana kaya robot. Mereka dibuat serupa, sama, satu ras, dan keahlian mereka ditentukan sejak dari dalam kandungan. Disesuaikan dengan kebutuhan Godspeed. Eldest menjadi tiran di populasi kecil dan tertutup tersebut. Dari mengendalikan mood orang-orang, nulis sejarah palsu, sampai mengatur kehamilan. Pokoknya aku gak suka sama Eldest. Dia itu antagonis yang kejam sampe memperlakukan semua orang kaya gitu." Dita selalu suka mendengarkan Dee bercerita. Bukan hanya karena dirinya berhasil dibawa ikut tenggelam dalam kisah, tapi juga karena pancaran rasa senang yang terlihat jelas di wajah Dee berhasil membuatnya tenang. Setidaknya meski di dalam penjara yang ia buat untuk Dee, ia masih bisa memberikan dunia pada putrinya itu. "Satu hal yang paling aku suka dari trilogi ini, semuanya menggunakan sudut pandang pertama dari dua tokoh, yaitu dari sudut pandang Amy dan Elder. Kita jadi bisa baca dan mendalami sudut pandang dua orang itu." "Jadi, gimana akhirnya? Apa Eldest kalah? Elder kah yang membuat Godspeed lebih baik?" Sontak saja Dee bangun dari posisi berbaringnya. Ia mengangguk. "Di buku keduanya A Million Suns, Elder mengambil alih kepemimpinan Godspeed, banyak kekacauan yang terjadi termasuk pemberontakan dan menurunnya produktivitas makanan. Elder menjadi lebih bertanggung jawab dan yang bikin gemas, Elder tetap berusaha menemui Amy disela-sela kesibukannya. Pokoknya Elder itu manis banget. Aku suka banget sama tokoh Elder. Persis kaya aku yang jatuh cinta sama tokoh Daniel dalam novel Fallen karya Kate Lauren." Ah, Dita tiba-tiba teringat kisah percintaan antara malaikat dan manusia yang pernah diceritakan putrinya. Ya, tokoh utamanya adalah Daniel yang baru disebutkan oleh Dee, dan Luce si manusia yang selalu terlahir kembali setelah meninggal. "Di setiap buku, selalu ada tokoh baru. Pokoknya Beth Revis merancang trilogi ini dengan amat sangat baik. Bahkan buku ketiganya bisa dibilang sangat brilian. Dalam series Across The Universe, sama sekali gak ada plot hole yang aku temui. Ceritanya sangat apik dengan balutan kisah romansa yang menurutku tidak terlalu kental, tapi benar-benar berkesan. Dan endingnya sangat memuaskan." Dee menghela napas. Memang tidak keseluruhan ia ceritakan, ia hanya mengambil intinya saja agar ibunya paham. Karena kalau diceritakan secara penuh, mungkin akan memakan waktu sangat lama. Kisah itu memiliki sisi menarik di setiap lembar dan selalu membuat penasaran untuk terus membacanya sampai akhir. Perjalanan ke luar angkasa, romansa di luar Bumi, dan perpaduan misteri yang bikin geregetan benar-benar membuat Dee jatuh cinta. Setiap tokoh memiliki perannya sendiri di dalam cerita. Untuk Dee sendiri, ia membayangkan bagaimana dirinya berada di posisi Amy, mencintai sosok pria tampan yang membawa perubahan besar, dan dicintai oleh pria itu dengan amat sangat dalam. Ini memang bukan kali pertama Dee jatuh cinta pada tokoh di dalam buku. Setiap buku yang ia baca, memiliki tokoh utama yang luar biasa dengan karakter yang berbeda-beda. Mulai dari yang arogan, pengertian, romantis, bahkan yang memiliki sifat lembut yang selalu melindungi pasangannya. "Mungkin ibu harus baca bukunya supaya bisa ikut jatuh cinta sama Elder," kata Dita tiba-tiba. Dee melotot mendengar itu. "Jangan dong, Bu. Kalau Ibu mulai suka baca buku, nanti siapa yang dengerin ceritaku?" Sontak saja protesan Dee membuat Dita tergelak. Ya, benar juga. Selain itu ia harus berusaha memecahkan sendiri misteri yang ada di dalam buku, dan sepertinya itu sangat merepotkan. Apalagi kalau tidak bisa memecahkan misterinya sendiri dan harus bergantung sepenuhnya pada jalan cerita, itu jelas membosankan. Lagi pula, mendengarkan Dee bercerita lebih mengasyikkan. "Tapi kamu bisa dibilang cepet banget nyelesain dua buku dalam satu minggu. Apa gak sakit matamu?" "Abisnya bukunya gak ngebosenin. Jadi sampe aku bawa-bawa ke sekolah dan baca setiap hari. Dan gak kerasa selesai sore tadi." "Ya udah, kayanya ibu harus beliin buku baru minggu ini." Bibir Dee melengkungkan seringai geli. "Kayanya sih gitu, Bu." Dita geleng-geleng kepala. Matanya melirik rak buku yang ada di kamar Dee. Rak buku itu nyaris sudah dipenuhi oleh buku-buku. Ada beberapa yang menumpuk di atas meja belajar, dan ada juga beberapa yang tergeletak begitu saja di atas kasur. Lama-lama Dee mungkin bisa tenggelam karena tertimbun buku. "Minggu depan ibu beliin, tapi kamu harus inget, jangan terlalu sering juga bacanya. Kamu kan harus belajar juga buat sekolah. Baca bukunya jangan dijadiin aktivitas utama. Di sela-sela jam santai aja. Dan kalau udah malam kaya gini jangan baca buku. Kamu harus istirahat." Bukankah sudah Dee katakan kalau ibunya memberikan segalanya untuk Dee. Tidak hanya materi, tapi juga cinta. Wanita itu tidak pernah bosan mendengarkan cerita dan terus memanjakannya dengan perhatian dan kasih sayang yang berlimpah. "Iya, Ibu. Ibu juga harus inget gak boleh terlalu memforsir tenaga kalau kerja. Aku gak masalah kalau gak ada buku baru buat diceritain, tapi kalau ibu sampe sakit, itu bikin aku cemas." Tangan lembut itu terulur. Mengusap pipi Dee pelan. "Ibu sayang banget sama kamu. Makasih karena udah selalu perhatian sama ibu dan gak ninggalin ibu," ucapnya. "Ibu! Mana mungkin kan aku ninggalin Ibu? Gak usah ngomong yang aneh-aneh kaya gitu!" pekik Dee sebal. Dita hanya tersenyum sambil terus berdiri. Ia berjalan ke arah jendela yang tirainya masih terbuka. Sinar rembulan menembus paksa melewati kaca jendela dan berbaur dengan lampu kamar Dee. Nampaknya sudah terlalu malam untuk melanjutkan kisah. Ia ingin mendengar Dee bercerita lebih banyak lagi, tapi putri semata wayangnya itu perlu istirahat yang cukup. Ditariknya tirai jendela itu sampai menutupi kaca. Bagian depan rumahnya sudah tidak terlihat lagi, tertutup dengan kain tipis. Dita bergerak mendekati Dee lantas mencium keningnya sekilas. "Selamat tidur, Sayang," katanya lantas menyalakan lampu tidur kemudian berlalu menjauhi Dee. Sampai di dekat pintu, ia menyentuh saklar lampu dan menekannya. Seketika membuat ruangan kamar Dee gelap gulita. Hanya menyisakan cahaya samar dari lampu tidur di atas nakas. Dita sudah pergi, pintu sudah ditutup rapat, tapi Dee masih bergeming di atas tempat tidurnya dalam posisi duduk. Ia tahu di balik perkataan ibunya, ada sesuatu yang tersimpan di sana. Tentang rasa terima kasih karena ia sudah menjadi anak penurut dan tidak pergi meski keinginannya untuk kabur ada walaupun sedikit. Juga tentang pengertian karena tidak pernah menuntut lebih dan merengek untuk diberi kebebasan. Ibunya hanya tidak tahu. Dee sadar bahwa dirinya memiliki sisi egois, hanya saja tidak pernah ditunjukkan. Ia selama ini diam-diam pernah kesal karena terus berkutat dengan dunianya yang itu-itu aja, tapi balik lagi, Dee tidak punya keberanian sedikit pun untuk melawan ibunya. Wanita itu tidak tahu bahwa Dee tidak sebaik itu. Ada sisi egois yang selama ini tersembunyi di balik sifatn penurutnya. Dee menghela napas. Tangannya merapikan beberapa buku yang ada di atas kasurnya. Ada tiga novel yang baru diceritakan olehnya, juga dua novel lainnya. Novel-novel itu ia tumpuk menjadi satu. Ia beringsut turun dari ranjang dan berjalan menuju rak buku. Memasukkan tiga buku berurutan di bagian yang kosong, dan dua buku lainnya di sisi lain. Setelahnya, Dee kembali ke ranjang. Merebahkan tubuh lelahnya yang segera dibalut dengan selimut tebal. Bantal yang menjadi penyangga kepalanya ia tepuk-tepuk beberapa kali. Entah untuk terasa lebih nyaman atau bagaimana. Tidak butuh waktu lama, Dee memilih untuk memejamkan mata. Mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang lelah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD