Untuk gadis yang tidak pernah menikmati masa muda di luar rumah, hari Minggu akan menjadi seperti hari-hari biasanya untuk Dee. Teman-temannya kerap membicarakan rencana hari Minggu mereka yang katanya surganya para siswa. Ada yang ingin menghabiskan waktu untuk tidur, jalan-jalan bersama pasangannya, atau sekedar nongkrong di kafe.
Hari Minggu adalah hari yang biasanya dianggap sempurna untuk orang kebanyakan. Libur bekerja, libur sekolah, sama artinya libur untuk segala aktivitas melelahkan. Entah tugas atau pekerjaan yang menumpuk. Yang sudah menikah akan menghabiskan hari Minggu mereka dengan keluarga, yang memiliki kekasih akan pergi jalan-jalan, dan yang sendiri bisa menghabiskan waktu untuk beristirahat.
Namun, Dee tidak termasuk dalam kategori mana pun. Ia memang memiliki keluarga, tapi ibunya hampir tidak pernah libur bekerja. Ia tidak memiliki kekasih sehingga yang itu bisa dikecualikan. Tapi walaupun selalu sendiri, Dee bahkan tidak menginginkan menghabiskan waktu untuk beristirahat di rumah saja. Andai diperbolehkan, Dee setidaknya ingin pergi ke luar. Menikmati suasana Minggu pagi di luar penjara rumahnya. Ya, andai saja boleh ia lakukan, ia mungkin tidak akan merasa hampa.
Cuaca di luar nampaknya akan cukup cerah. Matahari masih belum sepenuhnya memperlihatkan pesonanya, tapi pendar cahaya kekuningan yang terlihat di dedaunan menjelaskan bahwa sang surya sudah siap menyapa dunia. Dee masih berdiri tenang di dekat jendela kamarnya, sebelum sebuah ketukan membuyarkan isi kepalanya.
Pintu tak lama terbuka setelah ketukan itu. Dita muncul di baliknya, memakai pakaian rapi dengan hiasan tas selempang di bahu kirinya. Dee selalu ingin agar setidaknya ia bisa bersikap egois sekali saja, tapi setiap melihat wajah ibunya, segala keinginan menguap entah ke mana.
"Sayang, kok kamu belum keluar? Ibu udah nyiapin sarapan, lho."
Wanita itu tersenyum, hal yang justru memperlihatkan seberapa lelah dirinya melawan arus kehidupan. Meski begitu, tidak pernah sekalipun Dee melihat raut lelah ibunya. Ibunya tidak pernah mengeluh entah selelah apa pun dirinya, sebosan apa pun dirinya pada poros kehidupan yang berputar seperti itu-itu saja, atau seremuk apa pun tubuhnya karena jarang diberikan istirahat yang cukup.
Dee mempunyai segalanya. Segala yang berhasil memenuhi kebutuhannya. Ia tidak kekurangan soal materi, ia juga selalu mendapatkan apa yang ia mau, ditambah, ibunya selalu memanjakannya dengan buku-buku atau sekadar camilan yang tidak pernah habis. Satu-satunya yang tidak dimiliki Dee hanya satu, yaitu kebebasan.
Namun, karena semua yang ia miliki, karena ibunya nyaris memberikan hidupnya sendiri, Dee merasa tidak pantas menuntut kebebasannya. Untuk itulah bibir tipis itu ikut tersenyum saat menghampiri Dita.
"Aku baru aja selesai mandi, gak sengaja liat bunga-bunga ibu yang mekar, eh taunya malah betah."
Dita geleng-geleng kepala. "Dasar kamu ini. Kenapa jadi suka banget berdiri di depan jendela?" Tangannya menyentuh pipi Dee sekilas, "Untung aja bukan di depan pintu, kalau itu pamali. Jodohmu bisa balik lagi nanti."
Ahh, Dee tahu mitos orang tua dulu yang satu itu. Ia hanya ingin bertanya, adakah yang berminat dengan gadis suram sepertinya?
"Ya udah, yuk kita sarapan!"
Dita membalikan tubuhnya, berjalan menjauhi Dee. Untuk sesaat, Dee hanya memperhatikan punggung kokoh itu, lalu memilih untuk segera mengikuti.
Rumahnya bukanlah rumah mewah, hanya rumah satu lantai yang juga tidak terlalu luas. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya kaki Dee berhenti melangkah. Meja makan berukuran kecil di depannya menampung beberapa makanan di atasnya. Ada nasi goreng, telur mata sapi, roti dengan beberapa toples selai di dekatnya, dua gelas berisi air putih, dua gelas lain berisi s**u, juga dua piring lengkap dengan sendok dan garpu di atasnya.
Bisa dibilang Dita adalah wanita yang terlalu sibuk. Ia jarang menghabiskan waktu bersama putrinya, setiap hari selalu pergi bekerja dan sangat jarang libur, tapi meskipun demikian, semua kebutuhan Dee selalu tercukupi. Tidak hanya materi, tapi kasih sayang juga. Dita kerap bangun subuh-subuh hanya untuk menyiapkan sarapan, dan pergi bekerja setelahnya. Hal itu tidak pernah ketinggalan. Sepulang bekerja, kalau tidak membeli makan di luar, ia juga memasak sendiri.
"Kamu mau sarapan apa?"
Dee menarik kursi yang menjorok ke kolong meja dan duduk di atasnya. "Nasi goreng aja," sahutnya kemudian.
Dita tidak menjawab, tapi tangannya bergerak mengambilkan nasi goreng untuk Dee. Mengisi piring kosong Dee terlebih dahulu sebelum akhirnya mengisi piringnya.
"Ibu gak ambil libur lagi Minggu ini?" Gantian Dee yang bertanya.
Dita yang sudah duduk di samping Dee menoleh. "Enggak, Sayang."
Ini adalah Minggu kedua ibunya tidak mengambil hari libur, meskipun menjadi pemilik restoran, ibunya sangat bertanggung jawab dan tidak membiarkan pegawainya mengambil alih pekerjaannya. Bahkan saat sakit pun yang ada di pikirannya adalah asisten pribadinya yang terus diingatkan agar tidak kelelahan.
Dee terkadang kasihan melihat ibunya. Meskipun tidak jarang dirinya memasak saat sore dan merapikan rumah saat senggang, tapi tetap saja ibunya jauh lebih lelah. Tentu saja semua anak bilang kalau ibu adalah sosok terhebat sedunia, dan Dee setuju dengan hal itu. Benar. Hanya seorang ibu yang bisa menanggung segala rasa sakit dan lelah, tapi hampir tidak pernah memperlihatkannya. Semata-mata agar anaknya tidak khawatir dan berusaha memperlihatkan bahwa semuanya baik-baik saja.
"Inget ya, kamu jangan ke mana-mana. Ibu gak ngizinin. Terus tetangga baru kita bakal dateng hari ini. Kalau cowok, kamu harus hati-hati. Kamu boleh nyapa, tapi jangan berlebihan. Ngerti?"
Dee yang sudah mengunyah nasi gorengnya hanya manggut-manggut saja. Sudah hafal di luar kepala apa yang akan disampaikan ibunya selanjutnya.
"Kalau mau rapiin rumah jangan sampe kelelahan. Terus kalau laper, ada pudding di kulkas, buah-buahan, sama ada es krim juga." Dita menatap Dee, "Di kamarmu, camilannya masih ada?" sambungnya.
"Ada, Bu," sahut Dee tanpa menoleh.
"Kamu mau ibu beliin camilan lain?"
Biar Dee jelaskan. Setiap bulan, ibunya selalu memenuhi rak nakas di kamarnya dengan berbagai macam camilan. Entah itu cokelat, keripik, biskuit, dan masih banyak lagi. Hal itu dilakukan agar Dee betah berada di kamarnya. Meskipun pada dasarnya Dee selalu berdoa agar dirinya tidak gemuk.
"Gak usah, Bu. Masih ada kok. Nanti kalau aku mau, aku minta ke Ibu." Karena itulah Dee menolak. Ia menatap ibunya dan isi piring ibunya yang masih utuh. "Nanti ibu telat, lho."
Lalu, percakapan terhenti. Keduanya makan dengan tenang. Dita melahap sarapannya sampai tidak bersisa dan langsung pamit bekerja. Berpesan agar Dee tidak lupa menyiram tanamannya.
***
Dee sebenarnya tidak terlalu menyukai bunga. Saat kecil, ia kerap melihat serangga yang kerap hinggap di pekarangan rumahnya. Mulai dari lebah yang bisa menyengat, semut yang suka membentuk barisan, capung dengan mata besarnya, ulat bulu yang sering memakan dedaunan, atau kupu-kupu dengan corak indah yang justru mengerikan saat dilihat lebih dekat. Hal itulah yang terkadang membuatnya menjauh.
Namun, beranjak SMP, Dee perlahan mengerti tugasnya. Ia sering diminta ibunya untuk menyirami tanaman. Sejak itulah ia jadi suka melihat bunga-bunga bermekaran. Bunga-bunga itu memberi warna tersendiri pada rumahnya. Menghadirkan kesejukan dan menciptakan keindahan.
"Satu, dua, tiga, empat, lima." Dee berhitung. Tangannya menunjuk berbagai macam jenis bunga satu persatu. Ada bunga matahari yang berada di barisan paling pinggir, dan empat jenis bunga lain yang ditanam tidak beraturan.
Meskipun awalnya tidak suka, Dee akhirnya menyadari bahwa bunga-bunga itu memiliki peran penting untuk menghilangkan rasa bosannya. Warna-warninya membuat perasaan tenang sekaligus memberi kenyamanan. Hal itu juga berdampak pada rumahnya yang menjadi sejuk dan berwarna.
Saat akan beralih menyiram bunga matahari, Dee dikejutkan dengan panggilan seseorang.
"Dee."
Wanita yang nampaknya seumuran dengan ibunya itu memasang senyum lebar di balik pagar. Di tangannya, terdapat plastik berwarna putih dengan sayur kangkung yang menyembul keluar. Tidak perlu bertanya saja Dee langsung tahu bahwa wanita itu habis belanja sayur. Saat melihat jalan yang sempat dilalui, sebuah gerobak terlihat dikerumuni ibu-ibu.
"Abis belanja sayur, Bu?" tanya Dee kikuk. Ia memang tidak perlu bertanya, tapi basa-basi itu perlu, kan?
"Iya, kamu sendiri libur sekolah kok di rumah aja? Gak keluar?"
Dee menggeleng. Padahal wanita itu tahu bahwa dirinya jarang keluar rumah, tapi kenapa selalu bertanya hal yang sama saat bertemu di Minggu pagi. Dasar ibu-ibu.
Dee lupa siapa namanya namanya. Wanita di depannya tinggal di sisi kanan rumah Dee. Punya anak laki-laki yang masih SMP. Entah siapa namanya. Nakal sekali. Kerap terlibat tawuran, sering menertawai Dee karena tidak punya teman, bahkan Dee pernah berpapasan dengan anak itu sepulang sekolah. Sedang menggandeng seorang gadis di sebuah taman.
Ya, setidaknya Dee mengenal tetangganya dengan baik meskipun jarang bertegur sapa. Soal nama, akan ia tanyakan lagi ke ibunya nanti. Meskipun dikenal sebagai siswi suram di sekolahnya, ia selalu berusaha sopan kepada tetangganya. Jadi tidak jarang jika mereka menyapanya walaupun Dee sendiri tidak hafal nama-nama tetangganya karena jarang bertemu.
"Enggak." Dee menjawab pertanyaan wanita itu, "saya harus jaga rumah."
Wanita itu tertawa geli. "Rumah kamu gak akan hilang kalaupun gak dijagain."
Ha-ha-ha. Haruskah Dee ikut tertawa?
Tapi karena tidak lucu, Dee hanya terkekeh. Itu pun terpaksa.
"Mau main ke rumah ibu, gak? Kebetulan anak ibu juga lagi gak main. Kamu bisa main sama dia."
"Enggak usah, Bu. Saya harus beres-beres rumah setelah nyiram bunga."
Lagi pula anaknya adalah siswa SMP kelas dua, sedangkan dirinya adalah siswi SMA kelas tiga. Selain karena tidak akur, Dee juga yakin bahwa dirinya tidak akan disukai oleh anak dari tetangganya.
"Ya udah, kalau gitu ibu pamit dulu."
"Iya, Bu," sahut Dee melengkungkan senyum tipis.
Tanaman yang akan disiram Dee sudah hampir habis. Tinggal beberapa bunga yang ada di dekat gerbang. Setelah menyelesaikannya, Dee mematikan keran air yang ada si samping rumah. Ia memandang bunga-bunga di pekarangan rumahnya yang sudah tertimpa air. Sinar matahari memunculkan kemilau samar di antara dedaunan.
Langit memang cukup cerah. Terlalu cerah malah untuk manusia rumahan seperti Dee.
Melangkah menuju pintu rumahnya, Dee terpaksa kembali memutari tubuh saat mendengar suara deru mesin mobil yang berhenti tak jauh dari posisinya. Pintu rumahnya sudah terbuka, tapi Dee masih bergeming di tempatnya.
Seseorang wanita turun dari mobil itu, tidak ingin berlama-lama memerhatikan, Dee akhirnya memilih masuk saja. Bersamaan dengan pintunya yang tertutup, seorang cowok keluar dari mobil yang sempat dilihat oleh Dee.