Mungkin Dee terlalu senang, mungkin juga terlalu bersyukur karena pada akhirnya ia menemukan seseorang yang bisa disebut teman, sampai-sampai bibirnya tidak lelah melengkungan senyuman.
Sejak tiga puluh menit lalu, Dee terus duduk di ruang tamu tanpa tahu apa yang ingin dilakukannya. Ia terus menunggu sambil duduk gelisah, terkadang mondar-mandir tidak jelas ke sana ke mari, terkadang juga berjalan ke arah jendela untuk memastikan apakah seseorang yang ia tunggu sudah datang atau belum.
Sampai telinganya mendengar suara bel yang ditekan. Nyaring sekali. Dan Dee ingat bahwa suara itulah yang membuatnya terlonjak dari kursi dan berjalan tidak sabaran keluar dari rumah. Ia tidak lupa bagaimana kakinya bahkan sampai melaju dengan tempo cepat untuk menghampiri Devano yang berdiri di depan gerbang rumahnya.
Ya, beginilah akhirnya. Setelah membukakan kunci rumahnya, Dee memperhatikan Devano yang tersenyum ke arahnya. Cowok itu membawa beberapa buku di kedua tangannya. Menumpuk di bagian depan tubuhnya dan terlihat sangat mengganggu. Karena tumpukan buku itu membuat tubuh kekar Devano tertutupi.
"Hai," sapa Devano.
Dee balas menyapa dengan kata yang sama, dan dengan tambahan senyum tipis di bibirnya. Berusaha meminimalkan lengkungan yang sebelumnya ia persiapkan agar Devano tidak merasa risih.
"Ini buku-buku yang kamu mau," kata Devano.
Dee yang awalnya hanya memperhatikan Devano akhirnya beralih melihat tumpukan buku di tangan cowok itu. Judul-judul itu terukir sempurna di bagian samping buku. Membuatnya seketika melebarkan mata. Merasakan lagi kehadiran semangat yang sebelumnya hampir ia lupakan karena salah fokus dengan wajah Devano.
"Ini boleh aku pinjem semua?" tanya Dee.
Devano terkekeh pelan. "Kalau gak boleh gak mungkin aku bawa ke sini semua, 'kan?"
Mendengar itu Dee menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah kenapa dia merasa menjadi gadis lemot di depan Devano.
"Ya, udah, biar aku bawa aja." Dee sudah mengulurkan tangan berniat untuk mengambil alih tumpukan buku di tangan Devano, tapi Devano buru-buru menjauhkan diri. Menolak uluran tangan Dee.
"Ini berat. Aku aja yang bawa. Kalau kamu yang bawa nanti bisa ketimpa bukunya, terus kejengkang. 'Kan gak lucu."
Ya, selain tampan, Devano memang semenyenangkan itu. Dee bahkan baru sekali mengobrol dengan Devano dan itu baru kemarin, tapi entah kenapa perlakuan Devano yang sangat menerima kehadiran orang baru membuatnya merasa sudah mengenal lama cowok itu.
Dee membiarkan Devano masuk sementara dirinya menutup kembali gerbang rumahnya. Setelah itu Dee berjalan beriringan dengan Devano menuju teras rumahnya.
"Maaf, ya, seharusnya bukunya kemarin sore aku anter ke sini, cuma pas aku cek ulang ternyata ada satu judul yang lupa dan pas aku liat ternyata itu keselip di salah satu rak. Maklum, pas pindah ke sini semua bukunya gak aku tata dengan judul yang rapi jadi mereka berantakan."
Devano menceritakan buku-buku tersebut layaknya manusia dengan menggunakan kata 'mereka' pada buku. Lucu menurut Dee, karena ia merasa menemukan satu orang yang hampir sama dengannya.
"Gak pa-pa, kok. Seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu udah mau berbaik hati minjemin aku buku-buku ini."
Devano mengangguk. "Sama-sama," katanya.
Keduanya sampai di teras rumah Dee. Dee mempersilahkan Devano duduk dan cowok itu langsung meletakkan buku-buku yang dibawanya di atas meja kemudian duduk di salah satu kursi.
"Kenapa kita gak ngobrol di tempat kemarin aja?" tanya Devano. Cowok itu kemudian menutup mulutnya sendiri seolah baru saja mengatakan hal yang salah.
"Maaf, aku boleh mampir, 'kan?" tanya Devano memastikan maksud dari ucapan sebelumnya.
Ini adalah kunjungan kedua Devano, dan sepertinya cowok itu nyaman berada di rumah Dee. Sampai-sampai dengan percaya dirinya menyarankan untuk mengobrol di taman belakang rumah Dee saja.
"Boleh," kata Dee. Bukan untuk menjawab pertanyaan Devano yang menanyakan apakah salah itu boleh mampir atau tidak, melainkan menanggapi ucapan Devano yang ingin mengobrol di taman belakang rumahnya.
"Mau langsung ke belakang aja? Nanti aku buatin minum."
Devano dibuat tersenyum lebar karena perkataan Dee. Ia mengangguk dua kali. Tanpa mau membuang waktu lagi ia pun langsung berdiri membawa bawa buku-buku yang sebelumnya sudah ia letakkan di atas meja.
Dee kembali menuruni anak tangga di depan teras rumahnya untuk berjalan memutar menuju taman belakang. Dee bahkan tidak meminta Devano untuk membawa buku-bukunya kembali, tapi cowok itu sudah terlanjur membawanya, dan Dee juga ingin mengobrol mengenai buku-buku tersebut. Tentu lebih baik saat bukunya ada di depan mata.
Saat sampai di taman belakang Devano meletakkan buku-buku yang dibawanya di atas meja dan duduk di salah satu kursi. Persis seperti saat dirinya sampai di teras depan rumah Dee. Sementara Dee, sesuai perkataannya ia meminta izin untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu untuk membuat minuman setelah bertanya apa yang diinginkan Devano, dan ia mendapatkan kopi sebagai jawabannya.
Tidak sampai lima belas menit Dee sudah kembali dengan nampan di tangannya. Ia menyajikan secangkir kopi untuk Devano, segelas jus jeruk untuknya sendiri, dan sepiring biskuit yang ditata di atas piring. Sementara itu nampannya ditaruh di sisi lain meja yang yang kosong.
Dee duduk di kursi lain tepat di seberang Devano. Ia berkata, "Banyak banget ternyata series Twilight itu."
Devano mengangguk setuju. "Tapi maaf, bukunya udah agak jelek karena emang udah lama banget," katanya sedikit menyayangkan hal itu.
Dee mengambil salah satu buku di bagian teratas. Itu adalah judul pertama dari series Twilight. Seperti perkataan Devano, bukunya memang tidak terbagus saat pertama kali beli. Bagian sampul bukunya sedikit sobek di ujung dan bukunya terlihat sudah agak usang. Saat Dee membuka lembar demi lembar ada juga bagian yang terlipat. Tapi tentu tidak menjadi masalah karena keseluruhan dari buku tersebut masih bisa dibaca isinya.
Dari semua buku yang ada di tumpukan, ada satu buku yang yang terlihat paling mulus. Mungkin karena buku itu memang baru dirilis sehingga Devano pun baru membeli buku itu belum lama ini.
"Semuanya masih bagus, kok," kata Dee meletakkan kembali buku yang sempat dipegangnya ke tumpukan. Rasanya ingin segera membawa tumpukan buku itu ke kamarnya menghabiskan waktu untuk bermesraan dengan buku-buku tersebut, tapi di sisi lain ia juga tidak ingin menghilangkan waktunya ngobrol bersama Devano.
"Aku mungkin baru bisa balikinnya satu atau dua bulan dari sekarang. Itu pun kalau aku balikinnya sekaligus semuanya. Kalau satu persatu mungkin bisa satu minggu sekali," kata Dee menatap Devano.
"Gak pa-pa," sahut Devano. "Balikin kalau kamu udah puas bacanya aja. Lagian aku udah namatin dari lama buku-buku ini, jadi gak perlu baca lagi dalam waktu dekat."
"Eh, emangnya kamu suka ngulang baca novel yang sama?"
Devano mengangguk. "Beberapa novel aja yang menurutku bagus dan keren dan gak ngebosenin. Bukan karena novel-novel yang lain gak bagus atau ngebosenin, tapi kadang ada beberapa novel yang selalu bikin kangen dan minta dibaca lagi."
Dee mengangguk setuju. Ia pun merasa demikian. Setiap novel yang ia baca selalu keren dan menakjubkan. Tentu lebih keren orang yang telah membuat dan menciptakan novel tersebut. Karena berhasil menciptakan suatu dunia dan membuat orang lain menikmati dunia tersebut tanpa bisa melupakannya.
Seperti perkataan Devano, akan selalu ada novel, akan selalu ada cerita yang tidak pernah membosankan meski dibaca berulangkali. Entah karena ceritanya terlalu mengesankan, entah karena setiap bagian dari cerita tersebut terlalu membekas di ingatan, entah karena ada beberapa bagian yang masih belum dimengerti sehingga memutuskan untuk membaca ulang, atau karena memang setiap isi dari novel tersebut mengundang rasa penasaran sehingga ingin membacanya lagi dan lagi tanpa rasa bosan.
Bahkan pernah satu kali Dee membaca satu novel yang membuatnya harus membolak-balik halaman beberapa kali karena ia tidak mengerti jalan cerita ke depannya, alasannya tentu karena novel itu menggunakan alur maju mundur yang membuat pembacanya harus berpikir lebih keras lagi untuk mengingat bagian di awal yang mungkin tidak boleh dilupakan. Meski membuatnya lelah, tetap aja akhirnya selalu memuaskan karena ia berhasil menamatkan satu novel dan paham alur ceritanya. Tentu itu adalah suatu kebanggaan.
"Kamu apa emang cuma suka novel atau ada hobi lain juga?" tanya Devano.
Dee mengerjap polos. Berusaha mencari-cari jawaban dari pertanyaan Devano. Iya tidak memiliki hobi lain seperti menggambar, bernyanyi, menulis, atau hobi lain yang biasanya dimiliki remaja seusianya. Ada banyak ekstrakurikuler di sekolahnya, tapi tidak ada satu pun yang ia ikuti. Semata-mata karena ia tidak yakin apa kegemarannya sendiri.
Di tengah rasa frustasinya memikirkan tentang apa hobi yang ia miliki, tiba-tiba Dee teringat kebiasaannya menonton film bersama ibu.
Tanpa ragu Dee langsung menjawab, "Nonton film." Yang terdengar mantap di telinga Devano.
"Jangan bilang film luar negeri?" tanya Devano.
"Kok tau?"
Devano hanya tergelak. Membuat Dee mengernyit heran.
"Film luar negeri selalu jadi prioritas utamaku buat ditonton. Setiap kali ada film baru yang rilis aku selalu nyari tahu tentang film tersebut apakah diadaptasi dari novel atau enggak. Sampe akhirnya film itu tayang di Indonesia."
"Film luar negeri itu emang selalu keren gak, sih?" tanya Devano.
"Banget," sahut Dee. "Bukan karena film Indonesia jelek. Enggak, kok. Ada banyak juga film indo yang aku tonton, tapi tetap beda aja sama film luar negeri dan itu jadi salah satu ciri khas masing-masing."
"Ah, Kenapa sih kita tuh selalu sama? mulai dari hobi baca buku sampai hobi nonton film luar negeri."
Devano terkekeh kecil sementara Dee masih berusaha mencerna perkataan Devano.
Selalu sama?
Sebenarnya keberuntungan apa yang sedang diperoleh Dee belakangan ini? Mulai dari kedatangan tetangga baru yang awalnya tidak pernah menarik perhatiannya, tapi ternyata berhasil menjadi orang pertama yang memasuki kawasan rumahnya. Berlanjut dari obrolan tentang buku yang terasa menyenangkan untuk Dee, lalu sekarang Devano seolah mengatakan bahwa dirinya sangat cocok berteman dengan Dee karena satu frekuensi.
"Sama kaya hobi aku baca buku yang aku dapet karena ayahku ngumpulin banyak buku, hobi nonton film juga turun dari ayahku langsung. Dia sering banget ngajak nonton film bareng bahkan sampai ke bioskop. Gak peduli orang-orang ke bioskop sama pacar, aku malah sama ayahku." Devano menggeleng mengingat kalimat terakhirnya. Kilasan masa-masa itu kembali muncul di kepalanya. Menjadi kenangan manis yang sampai saat ini masih tersimpan rapi.
Dee pun tak ingin ketinggalan. Ia turut menceritakan alasannya menyukai film luar negeri.
"Kalau aku suka nonton karena ibuku suka juga. Kami bahkan bisa ngobrolin banyak hal cuma karena satu film, mengulang-ulang terus tiap bagian yang kami tonton di film. Rasanya seru aja gitu."
"Film luar negeri apa yang pertama kamu tonton?" tanya Devano.
Dee berdeham pelan sebelum menjawab, "Karena aku suka film romance, jadi yang pertama aku tonton itu kalau gak salah waktu itu filmnya Leonardo Dicaprio judulnya—"
Perkataan Dee terhenti saat Devano menyeleng kalimatnya.
"Pasti Titanic," tebak Devano tepat sasaran.
Dee hanya tertawa. Tentu saja film legendaris itu yang pertama ditontonnya jika menyebutkan nama Leonardo Dicaprio.
"Leonardo Dicaprio juga jadi salah satu aktor favoritku," ucap Dee.
"Aku juga suka sama dia. Ya, bukan menjurus ke hal-hal yang negatif tentunya, tapi karena emang penggemarnya aja," balas Devano.
Lagi, Dee tertawa. Ia juga sebenarnya tidak memikirkan hal yang negatif, tapi karena Devano mengatakan hal itu nampaknya cowok itu khawatir kalau ia akan memikirkan hal yang aneh-aneh tentangnya.
Mana mungkin 'kan cowok sesempurna Devano suka sesama jenis? Dilihat dari sisi mana pun itu sangat tidak mungkin.
"Ngomong-ngomong, minumannya boleh aku minum?" tanya Devano.
Perkataannya berhasil membuat Dee melongo. "Kamu pikir aku bikin kopi itu buat hantu? Jelas-jelas minumannya ada di depan kamu, jadi udah pasti itu buat kamu. Maaf karena lupa mempersilahkan kamu buat minum kopinya."
Setelah dipersilahkan, Devano segera menyesap kopi yang disajikan oleh Dee. Sayuran berwarna kecoklatan itu segera meluncur mulus melalui mulutnya. Membasahi tenggorokannya yang kering karena berbicara sejak tadi.
Tidak hanya itu, Devano bahkan mengambil biskuit dan turut memasukkannya ke dalam mulut. Setiap gerakan Devano adalah mengunyah biskuit tersebut diamati dengan baik oleh Dee. Gadis itu turut membasahi tenggorokannya dengan jus miliknya yang ternyata sudah tidak dingin lagi.
"Kopinya enak," puji Devano.
"Iyalah, 'kan itu beli di supermarket. Aku tinggal tambahin air panas aja dan kopi yang rasanya pas pun langsung jadi."
Devano tertawa terbahak-bahak karena jawaban Dee. Tidak menyangka bahwa Dee akan menanggapi ucapannya sedemikian jujur.
"Ibu selalu beli kopi, jadi selalu tersedia di dapurku. Biasanya sih dia cuma minum kalau mau begadang aja, tapi sekarang kopi punya dia dibantu kamu ngabisinnya."
"Gimana kalau besok aku bawa sendiri kopi dari rumah?"
Gantian Dee yang tertawa. Tidak perlu, katanya. Ia hanya bercanda. Lagi pula jika ibunya bertanya kemana kopi yang dibelinya, ia hanya akan menjawab bahwa dirinyalah yang meminum kopi tersebut, karena tidak mungkin ia memberi tahu bahwa ada cowok yang menikmati kopi itu di taman belakang rumahnya.
Lalu selanjutnya candaan-candaan kecil, obrolan-obrolan kecil segera menghiasi sore itu. Sesekali menghadirkan tawa di bibir Dee ataupun Devano. Menjelaskan bahwa mereka sama-sama menikmati waktu sore itu.