8 - Kekhawatiran atau Kekangan?

2063 Words
Dua Minggu setelah kedatangan Devano untuk pertama kalinya, hari ini cowok itu datang dengan membawa plastik di tangan kanannya. Dari bungkus yang menyembul keluar Dee tahu bahwa itu adalah camilan. Keduanya menjadi sangat akrab layaknya dua orang yang sudah mengenal lama dan sering menghabiskan waktu berdua. Dee tidak lagi sungkan membukakan gerbang untuk Devano. Kehadiran Devano membuat Dee tanpa sadar melupakan sesuatu, bahwa ada peraturan yang telah ia langgar, yang seharusnya ia perbaiki bukan malah semakin dinikmati. Selama dua Minggu ini Dita tidak pernah tahu bahwa putrinya kerap mengajak cowok yang sudah ia peringatkan bermain di rumahnya. Entah di teras depan atau teras belakang. Dee menutupi semuanya dengan rapi. Ia meminta Devano pulang sebelum ibunya sampai rumah untuk menjaga agar Devano dan ibunya tidak saling bertatap muka. Semua alat makan seperti piring, gelas, ataupun nampan langsung Dee cuci begitu digunakan. Dita pernah bertanya kenapa akhir-akhir ini Dee kerap meminum kopi, tapi Dee hanya menjawab bahwa ia baru sadar ternyata kopi sangat cocok untuk menemani membaca buku bersama dengan biskuit. Padahal kenyataannya Dee tidak menyukai kopi dan kopi yang ia seduh tentunya diminum oleh Devano. Dan ibunya tidak mengetahui hal itu. Mempersilahkan Devano duduk di kursi yang ada di teras depan, Dee melirik plastik yang dibawa Devano. "Padahal kamu nggak perlu bawa jajanan kaya gini, soalnya di rumah aku juga banyak. Ibuku biasanya beliin aku camilan setiap satu bulan sekali, kadang juga malah satu Minggu sekali. Jadi di kamarku kalau untuk camilan gak pernah habis." "Ya, gak pa-pa, aku 'kan tamu. Kadang ngerasa gak enak aja, soalnya aku main setiap hari tapi gak pernah bawa apa-apa." Dee terkekeh pelan. Menurutnya Devano terlalu berlebihan, apalagi plastik yang dibawa cowok itu berisi banyak sekali camilan berbagai macam rasa dan jenis. Padahal Dee merasa bahwa seharusnya ia yang berterima kasih pada Devano dan menyajikan sesuatu kepada cowok itu, karena sudah udah datang ke rumahnya dan tidak bosan untuk berkunjung lagi. "Tapi aku kebetulan di dalamnya juga aku beli kopi botolan, jadi kamu gak perlu bikinin aku kopi untuk hari ini dan aku juga beliin kamu jus siap minum." Dee membongkar plastik yang dibawa oleh Devano. Mencari-cari jus kemasan yang katanya diberikan oleh Devano. Saat segala camilan yang ada di plastik berhamburan keluar, Dee menemukan satu botol kopi siap minum dan juga jus kemasan rasa jeruk. Dua merek minuman itu sudah sangat ia kenal karena sering muncul di iklan televisi. Dee hanya tidak menyangka bahwa Devano sudah cukup mengenalnya sampai mau membelikannya jus kemasan. Setelah mengeluarkan dua botol minuman tersebut dan memasukkan kembali camilan yang sempat dikeluarkan, Dee menggeser minuman milik Devano ke dekat cowok itu. "Kamu setiap sore selalu main di rumahku. Kita bahkan cuma ngobrol-ngobrol di sini satu sampai dua jam. Apa kamu gak bosan? Atau apa kamu gak punya jadwal main bareng teman kuliah kamu?" "Kalau sekedar main-main sih kadang-kadang aku keluar, itu pun siang atau setelah jam kuliah selesai. Malam juga pernah, tapi gak terlalu sering. Biasanya nongkrong di cafe atau sekedar makan di luar. Namanya juga anak cowok, main-main itu wajar dan menurutku penting juga. Buat nambah pergaulan." Rasa penasaran Dee terjawab sudah. Selama ini ia selalu ingin menanyakan apakah Devano tidak bosan mengobrol dengannya setiap sore, karena ia takut akan mengganggu hubungan Devano bersama teman-temannya. Tapi untunglah ternyata Devano pandai membagi waktu. "Kalau ngobrol sama kamu 'kan paling cuma satu atau dua jam, dari jam empat sore sampai jam enam. Itu pun gak pernah sampe jam enam sebenernya. Jadi, gak masalah. Dan buat pertanyaan kamu yang nanyain aku bosan atau enggak. Jawabannya enggak," sambung Devano. Jika di sekolah Dee selalu dianggap sebagai siswi paling membosankan dan suram, hari ini justru seseorang mengatakan bahwa orang itu tidak bosan ngobrol dengan Dee. Tidakkah itu terdengar menyenangkan untuk Dee? "Kamu sendiri apa emang bener gak punya temen sama sekali?" tanya Devano. Dee menggeleng miris. "Gak ada yang mau temenan sama gadis suram kaya aku," sahutnya tahu diri. "Siapa sih emangnya yang ngasih predikat gadis suram ke kamu?" Dee tertegun. karena sadar bahwa bukan orang lain yang memberikan predikat itu pada dirinya, tapi dirinya sendiri. Sejak sekolah dasar, karena sifatnya yang pendiam, Dee bahkan tidak pernah didekati orang lain. Dee tidak punya teman yang tidak tahu bagaimana caranya berteman atau memulai pembicaraan dengan orang lain. Karena itulah Dee menganggap bahwa dirinya adalah gadis suram yang tidak tahu cara bergaul. "Aku," jawab Abel setelah beberapa saat. Dee kira Devano akan terkejut mendengar hal itu, tapi cowok itu justru terkekeh. Membuat Dee kebingungan. "Udah aku duga," kata Devano. "Kok?" Devano mengulas senyum tipis. Senyum yang membuat Dee ingin terus menatap cowok itu. "Kamu itu sebenarnya cantik, asik juga diajak ngobrol, dan kalau menurut aku gak introvert. Rasanya aneh kalau gak ada orang lain yang tertarik bicara sama kamu, kalau bukan kamu sendiri yang menjaga jarak dari mereka," jelas Devano. Bola mata Dee membesar. Perkataan Devano secara tidak langsung menampar dirinya, karena ia sadar bahwa tidak ada satu pun kata dari kalimat Devano yang salah. "Maaf, aku gak bermaksud menyalahkan kamu. Aku cuma mau bilang kalau gak setiap hal yang terjadi pada diri kita, atau setiap hal yang kita keterima, itu cuma berasal dari orang lain, terkadang tanpa sadar kita juga mengambil peran dan membuat kesalahan." "Iya, aku paham." Dee tersenyum lebar. Sangat senang karena Devano mau memberinya kritik yang tidak memojokkan, tapi berhasil membuka matanya. Dee jadi sadar sesuatu. selama ini ia tidak pernah memikirkan atau mau mencari tahu kenapa orang-orang tidak mau mendekatinya. Ia tidak mempedulikan hal itu karena menurutnya, sendirian pun tidak terlalu buruk. Meski terkadang ia juga ingin memiliki seseorang yang bisa menemaninya bercerita. Hari ini Dee tahu sesuatu. Bahwa ia tidak memiliki teman tidak sepenuhnya karena orang lain membencinya, atau karena mereka tidak tertarik berteman dengannya, ia tidak sadar bahwa selama ini pun ia tidak pernah berusaha menegur atau menyapa orang lain. Ia tidak pernah berusaha membuka diri. Dan mungkin itulah yang dimaksud Devano. "Mungkin kamu benar," kata Dee. Devano menatapnya, "selama ini bukan cuma mereka yang gak mau ngedeketin aku, tapi aku sendiri juga yang tanpa sadar ngejauh dan menutup diri." "Tapi sekarang udah gak masalah," ucap Devano. "Kenapa?" "Karena kamu udah punya aku. Teman pertama kamu. Jadi gak pa-pa kalau kamu emang gak mau berteman atau gak nyaman berinteraksi sama semua orang di luar sana, karena selama ada aku artinya kamu memiliki satu teman. Cukup, 'kan?" Sangat cukup. Dee ingin menjelaskan bahwa kehadiran Devano memberikan efek yang cukup besar dalam hidupnya. Cowok itu datang dan memberikan dunianya pada Dee. Memberitahu bahwa dunia tidak sesempit itu dan selalu ada seseorang yang mau berteman dengan Dee. "Cukup," sahut Dee singkat. Menolak mengutarakan isi kepalanya. "Oke." Devano menatap camilan yang dibawanya. Tergeletak begitu saja di atas meja. "Kalau gitu jangan cuma ngobrol aja, ayo makan juga camilannya." Dee tergelak mendengar hal itu. dia mengangguk setuju dan meraih minuman miliknya. Membuka penutupnya dan meneguk isinya sedikit. Devano pun turut melakukan hal yang sama. Dee bahkan sampai memperhatikan leher Devano yang bergerak naik turun saat meneguk minumannya. Terlihat menarik sekali di mata Dee. Devano mengambil satu camilan yang berada di dalam plastik. Dia menyobek bagian pinggir plastik keripik kentang tersebut dan menaruhnya di atas meja agar Dee bisa menikmatinya juga. "Buku yang aku pinjemin gimana? Kamu udah selesai baca semuanya?" "Eh?" Sontak saja Dee melotot. "Jangan-jangan bukunya mau kamu baca, ya?" tanyanya panik. "Gak juga, kok. Aku cuma nanya aja." Dee merasa lega dan menghembuskan napas panjang. "Kirain mau baca ulang. Soalnya aku baru baca judul yang pertama aja dan itu pun baru selesai kemarin malam. Untuk buku selanjutnya belum aku sentuh sama sekali karena akhir-akhir ini banyak banget tugas dari guru," jelasnya panjang. "Gak masalah, kok. Aku paham. Baca aja dulu sampe puas, baru nanti balikin. Lagian kamu juga udah kelas tiga, 'kan? Jadi aku pahamlah seberapa sibuk jadwal kamu sebelum ujian kelulusan." Dee menikmati keripik kentang yang dibuka bungkusnya oleh Devano. Cowok itu memakan lebih banyak. Kunyahannya bahkan sampai terdengar ke telinga Dee. Mungkin nanti malam Dee harus mengatakan pada ibunya kalau wanita itu tidak perlu membelikan camilan lagi, karena hari ini Devano membawa camilan, dan sepertinya akan berlanjut ke hari-hari selanjutnya. Memang tidak ada jaminan, tapi entah kenapa Dee rasanya percaya hal itu akan kejadian. "Oh, iya, ngomong-ngomong ada film baru yang udah rilis, lho. Film luar negeri. Gimana kalau kita nonton bareng ke bioskop?" Kunyahan Dee memelan dan perlahan berhenti. Dee menelan keripik yang sudah berada di mulutnya dengan susah payah. Bukankarena tenggorokan yang sedang sakit, atau punya hanya yang tidak terlalu halus, melainkan karena perkataan Devano barusan. Devano adalah orang pertama yang mengajaknya ke bioskop. Bohong kalau Dee bilang bahwa dirinya tidak tertarik dengan hal itu. Ia tentu ingin, bahkan sangat ingin menonton film di bioskop yang katanya lebih seru daripada menonton di televisi atau laptop. Namun, kalau sampai ia melangkah terlalu jauh keluar dari rumahnya, dan ibunya mengetahui hal itu, bukan hanya kepercayaan yang akan hilang, tapi Dee akan mendapatkan peraturan yang lebih ketat lagi. Dee tidak mau. Pertama, karena ia tidak berani melawan ibunya. Kedua, wanita itu akan sangat kecewa saat putrinya pergi diam-diam. Dan yang terakhir, bukan tidak mungkin saat tahu dirinya pergi bersama orang cowok, ibunya akan menjauhkan dari cowok tersebut. Yang terakhirlah yang sangat Dee takutkan. Devano sudah terlalu jauh memasuki kehidupannya. Karena ia sudah mengundang Devano ke rumahnya. Membiarkan cowok itu melewati gerbang rumahnya yang sebelumnya tidak pernah dilewati orang lain. Kalau Devano menjauh, kehidupannya akan kembali seperti saat cowok itu belum datang. Dee tentunya tidak menginginkan hal itu. "Maaf, aku gak bisa." Karena itulah Dee menolak secara halus. Ia lebih memilih tidak pergi ke dunia luar yang sangat ia inginkan, daripada kehilangan dua hal yang sangat berarti dalam hidupnya. Yaitu ibunya dan seorang teman yang tidak lain adalah Devano. "Sebenarnya aku dari awal pindah ke sini, tuh, selalu penasaran sama kamu. Mungkin kamu nggak dasar, tapi aku pernah bilang kalau aku selalu merhatiin kamu yang berdiri di jendela kamar kamu. Aku selalu pengen tahu kenapa dan apa alasan kamu selalu ada di rumah, di saat remaja lain justru menghabiskan waktunya bersama teman-teman mereka di luar." Devano nampaknya tidak ingin menyerah dan mengorek lebih jauh agar Dee bercerita lebih banyak lagi tentang kehidupannya. "Ibuku gak pernah ngijinin aku main ke mana pun. Karena dia tahu aku gak punya teman dan dia gak mau aku kenapa-napa," sahut Dee akhirnya. "Itu bukan kekhawatiran, Dee. Itu kekangan." Hah? Ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba di kesulitan bernapas? Kekangan? Apa ibunya selama ini memang mengekangnya? Tapi mana mungkin, 'kan? "Enggak! Ibuku gak kaya gitu. Aku tahu peraturan yang dia buat memang agak berlebihan, tapi aku juga tahu bahwa itu benar-benar untuk kebaikan aku. Dan aku gak mau ngelawan." "Alasannya?" Dee menatap Devano seolah bertanya alasan apa yang dipertanyakan oleh Devano? "Alasan kenapa kamu gak ngelawan. Apa kamu takut sama ibu kamu?" Sedetik kemudian Devano segera meralat ucapannya. "Maaf, maksudku, apa emang kamu nggak ada keinginan untuk pergi ke suatu tempat yang mungkin kamu pengen cuma karena kamu takut ibu kamu marah karena kamu melanggar peraturan yang dia buat?" sambungnya. Devano yang sadar bahwa perkataannya terlalu berlebihan dan menyinggung privasi orang lain segera mengangkat tangannya sebagai isyarat bahwa Dee tidak perlu menjawab pertanyaan darinya. "Maaf, aku gak ada maksud buat nyinggung perasaan kamu atau menghina ibu kamu. Sumpah demi apa pun aku enggak berniat kaya gitu. Aku gak berniat ikut campur urusan keluarga kamu, aku cuma ngerasa kalau kamu mungkin perlu pergi ke luar buat beradaptasi dengan lingkungan lain. Supaya kamu gak cuma bisa bertahan di rumah, tapi bisa beradaptasi di luar." Dee tahu maksud Devano baik. Cowok itu hanya ingin membantunya. Ia pun menghargai hal itu dan jujur saja menginginkan hal itu pula. Tapi bagaimana dengan ibunya? Bagaimana dengan kepatuhan yang selama ini ia pertahankan? Apa melanggar beberapa peraturan lagi akan membuatnya baik-baik saja? Tidak, bukan? Melihat Dee yang terus diam, Devano kembali berbicara. "Lupain aja. Lagian aku juga gak maksa kamu buat pergi, kok. Awalnya aku cuma mau ngajak kamu ke bioskop kalau emang kamu bisa, tapi karena kamu gak bisa aku gak akan maksa. Di rumah juga bukan hal yang buruk, kok. Aku bakal tetap datang ke sini selama kamu mau buka pintu gerbang kamu buat aku." Dee tersenyum mendengar hal itu. Ia bersyukur bahwa Devano mau mengerti keadaannya dan tidak memaksakan kehendaknya. Namun, Kenapa Dee selalu kepikiran dengan satu kalimat yang tadi sempat diutarakan oleh Devano? Itu bukan kekhawatiran, Dee. Itu kekangan. Entah kenapa Dee tiba-tiba ingin mencari tahu kebenaran dari kalimat tersebut. Kalimat yang berhasil mengganggu pikirannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD