Ternyata dia benar, selama ini aku terkekang, dan aku menganggap itu hanyalah sebuah kekhawatiran.
-Dee
***
Itu bukan kekhawatiran, Dee. Itu kekangan.
Kata-kata Devano berhasil membuat Dee uring-uringan. Ia mondar-mandir tidak jelas di dalam kamarnya sampai ibunya pulang. Ia juga tidak berselera makan dan lebih banyak diam saat di meja makan.
Kata-kata itu hanyalah kalimat pendek yang berisi enam kata, tapi entah kenapa Dee merasa sangat terpengaruh karena enam kata tersebut. Ia percaya bahwa ibunya tidak mungkin mengekangnya. Yang selama ini dilakukan ibunya hanyalah membuatnya tetap aman. Selama ini Dee selalu mempercayai hal itu. Sebelum akhirnya sekarang yang ia justru meragukan hal itu.
Devano berhasil membuat Dee meragukan ibunya sendiri untuk pertama kali. Dee dibuat bertanya-tanya apakah ibunya memang tidak ingin ia tumbuh normal seperti anak-anak lainnya di luar sana? Apakah ibunya sengaja membuatnya tumbuh menjadi gadis suram yang tidak akan disukai siapa pun?
"Bu," panggil Dee.
Pada akhirnya rasa penasaran Dee terlalu besar dan ia memilih untuk memuntahkannya. Sejak tadi ia hanya diam di samping ibunya. Berpura-pura menikmati acara yang sedang ditonton ibunya, meski kenyataannya pikirannya berkeliaran entah ke mana.
"Kenapa, Sayang?" tanya Dita.
Dee meremas kedua tangannya. Masih agak ragu untuk memulai pembicaraan yang mungkin sangat rentan.
"Tadi di perpustakaan sekolah, waktu aku lagi nyari buku baru yang bakal aku pinjem, tiba-tiba penjaga perpustakaan ngedeketin aku. Aku biasa manggilnya kakak karena dia masih muda dan dia perempuan."
Dita yang awalnya tengah fokus menonton televisi, kini menaikkan kakinya agar duduk bersila di atas sofa, dan memutar tubuh hingga berhadapan dengan Dee. Memusatkan seluruh perhatiannya pada putrinya.
"Terus?" tanya Dita.
Dee mengembuskan napas berat kemudian menjawab, "Mungkin karena aku jadi siswi yang paling sering mengunjungi perpustakaan, dia jadi merasa dekat sama aku. Waktu aku tanya kenapa dia nyamperin aku, dia jawab kalau mau cari buku yang lebih lengkap tentunya ada di toko buku."
Raut wajah Dita yang awalnya terlihat senang karena ingin mendengar curhatan putrinya berubah dalam sekejap. Wanita itu menatap Dee dengan senyum tipis.
"Dia mungkin sadar kalau aku gak pernah ke toko buku, karena aku emang sering minjem novel-novel di perpustakaan."
"Terus?" tanya Dita lagi. Tenang sekali.
"Dia ngajak aku ke toko buku karena katanya aku mungkin bisa nemuin buku-buku yang lebih bagus, daripada di perpustakaan. Dan dia juga bilang kalau nanti dia yang akan bayar."
"Kenapa kamu gak bilang kalau rumah kamu bahkan udah kaya perpustakaan? Dan buku-buku yang ada di kamar kamu itu dibeli dari toko buku."
Dee merasa bersalah karena sudah membohongi ibunya dan membawa-bawa penjaga perpustakaan sebagai alasannya. Sejak Devano meminjamkan beberapa novel miliknya, ia justru tidak pernah datang ke perpustakaan. Ia merasa berdosa pada ibunya. Namun, meski begitu ia tetap ingin mencari kebenaran dari perkataan Devano.
"Tapi 'kan semua buku yang ada di kamarku itu ibu yang beli, bukan aku."
Dita bertanya, "Lantas apa bedanya? Mau ibu yang beli atau kamu yang beli, semua buku-buku itu juga emang buat kamu, 'kan?" Terdengar sedikit kesal.
Dee terdiam. Perkataan ibunya benar dan ia tidak bisa membantah hal itu.
"Terus waktu kamu diajak ke toko buku sama penjaga perpustakaan itu, kamu jawab apa?"
Dita menyipitkan mata. Terlihat sangat penasaran jawaban apa yang akan diberikan oleh Dee.
Mungkin ini kali pertama Dee membicarakan sesuatu yang pada kenyataannya sudah ia ketahui jawabannya. Intinya ia sedang meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke toko buku, dan ia tahu bahwa ibunya tidak akan memberikan izin itu.
Tentu itu hanyalah kebohongan. Pada dasarnya Dee hanya ingin memastikan apakah perkataan Devano benar atau tidak. Dan siapa sangka ibunya akan menanggapinya serius itu.
"Aku jawab kalau aku bakal tanya ibu dulu," jawab Dee setelah beberapa detik diam.
Dita mengembuskan napas berat. "Kenapa harus jawab itu padahal kamu tahu kamu gak bisa pergi ke mana pun? Ibu gak akan biarin kamu pergi sendirian. Lagian toko buku itu isinya cuma buku-buku doang, sama kaya yang ada di kamar kamu. Bedanya lebih banyak judul di sana."
Justru karena itulah sejak lama Dee ingin mendatangi tempat itu. Ia ingin pergi ke toko buku, tempat di mana ibunya membeli buku-buku yang ada di raknya. Dan seperti ajakan Ardan, ia juga ingin menonton film di bioskop agar bisa merasakan sensasi yang lebih hebat lagi, daripada saat ia menonton film di televisi.
"Aku gak pergi sendirian, Bu. Aku pergi sama penjaga perpustakaan," sahut Dee.
"Tetep aja!" Dita mengangkat telunjuknya. "Dia itu orang asing, dan berhubungan sama orang asing bukan hal yang baik. Kamu gak akan tau dia bakal ngapain."
"Ibu!" tegur Dee. "Gak usah berlebihan. Penjaga perpustakaan itu cuma remaja kaya aku yang usianya sedikit lebih tua, jadi dia gak mungkin jahat."
"Tetep aja dia orang asing. Titik. Ibu ga akan izinin kamu ke mana pun. Besok kamu harus bilang sama penjaga perpustakaan itu kalau kamu gak bisa ikut sama dia."
Dee mendesah kecewa. "Ibu..."
Namun, Dita mengabaikan rengekan Dee. Ia tetap kokoh pada peraturan yang dibuatnya.
"Kalau emang kamu pengin banget pergi ke toko buku, nanti ibu bisa suruh sekretaris pribadi ibu buat nemenin kamu ke sana. Ibu bakal kasih waktu kamu satu jam dan itu harus cukup."
"Ibu..." Dee terus merengek
Pendirian Dita sekokoh baja. Dan sepertinya sampai hari ini pun tidak goyah sama sekali. Ia yang membuat peraturan, maka ia hanya akan kehilangan kehormatan jika membiarkan Dee melanggar peraturan itu.
"Kadang aku juga mau kaya orang lain, Bu. Aku mau kaya temen-temenku yang bisa ngabisin waktu di luar buat nongkrong atau belanja di mall. Kalau mereka bisa, kenapa aku enggak?"
Dita mengusap pipi Dee sekilas. "Karena kamu anak ibu. Kamu bukan mereka, orang lain, atau teman-teman yang kamu sebutkan barusan. Jadi kamu harus ngikutin apa yang ibu bilang kalau kamu gak mau jadi orang lain dan kehilangan jati diri kamu sendiri sebagai anak ibu," tuturnya tenang.
Berbeda sekali dengan wajah Dita yang terlihat tenang, Dee justru meneguk air liurnya karena perkataan Dita. Kehilangan jati diri sebagai anak, katanya?
Tangan Dita beralih mengusap rambut Dee, ia tersenyum lebar. "Dari dulu kamu itu selalu jadi anak baik yang gak pernah membantah apa kata ibu. Ibu ngerti kenapa kamu nanyain ini. Karena sekarang kamu memang sudah cukup dewasa dan mau mencari kebebasan kamu sendiri. Tapi percaya sama ibu, kalau kamu belum benar-benar siap buat melawan dunia luar. Di sana, di luasnya dunia yang kamu inginkan, ada bagian mengerikan yang mungkin gak mau kamu liat." Ia menarik tangannya dan kembali duduk dengan tenang.
Yang Dita katakan barusan justru layaknya pemicu yang malah membangkitkan keingintahuan Dee untuk melihat dunia luar. Sama seperti remaja lain di luar sana, semakin dilarang justru akan semakin penasaran. Meski belum pernah melanggar peraturan ibunya, sekarang Dee akhirnya tahu kalau perkataan Devano memang benar.
Ibunya mungkin memang hanya ingin melakukan yang terbaik untuknya, tapi ia pun hanya manusia yang memiliki impian tersendiri.
Pada akhirnya memang percuma. Ibunya tidak akan pernah memberikan izin, dan ia hanya akan terus terkurung dipenjara yang dibuat oleh ibunya.
"Oke, aku gak akan ke mana-mana dan gak akan pergi sama penjaga perpustakaan itu sesuai yang Ibu mau. Kalau gitu aku mau langsung ke kamar aja, soalnya ada buku yang pastinya harus aku baca."
Dee mengulas senyum lebar kemudian mencium pipi ibunya sekilas. Ia lalu beringsut turun dari kursi dan berjalan menuju kamarnya. Baru beberapa langkah saat suara ibunya kembali terdengar. Membuatnya tertegun.
"Lagian kenapa kamu tiba-tiba ngomongin soal kaya gini, ya? Padahal selama SMA kamu gak pernah minta keluar rumah. Apa jangan-jangan penjaga perpustakaan di sekolah kamu itu cowok?"
Bukan, bukannya Dee membenarkan perkataan ibunya. Ia hanya tidak tahu kenapa wajah Devano tiba-tiba terlintas di kepalanya saat ibunya menduga tentang cowok.
Dee membalikan tubuhnya kemudian berkata, "Enggak, kok. Aku mana berani bohong sama Ibu."
Bibir Dee memang melengkungkan senyuman, tapi dadanya sesak luar biasa hebat saat mengatakan bahwa ia tidak berani bohong pada ibunya, padahal jelas-jelas sudah ada banyak kebohongan yang ia lakukan.
Mendapati senyuman dari ibunya, Dee akhirnya meneruskan langkah. Kali ini ibunya tidak mengatakan apa-apa lagi sampai ia membuka pintu kamarnya, dan mengembuskan napas berulang kali di baliknya.
***
Pada akhirnya Dee justru hanya duduk di atas ranjang tanpa tahu ingin melakukan apa. Ia tidak meneruskan membaca buku yang dipinjamkan Devano karena tiba-tiba tidak menginginkan hal itu. Ia juga tidak ingin tertidur karena matanya terasa sangat segar dan tidak mengantuk sama sekali.
Berulang kali ia hanya membuka ponselnya. Menggulir beranda sosial media, beralih ke mesin pencarian untuk mencari rekomendasi novel yang bagus, kemudian kembali ke beranda sosial media. Hanya itu saja yang ia lakukan. Secara berulang dan terasa membosankan.
Sampai akhirnya ia pun lelah sendiri dan memilih melempar ponselnya sembarangan ke atas ranjang, kemudian berjalan ke arah jendela.
Karena merasa waktu belum terlalu larut, dan angin malam belum berhembus terlalu dingin, Dee memilih menarik tirai jendela lalu membuka kunci jendela kamarnya. Jendela itu ia buka lebar-lebar sehingga pemandangan di depannya terlihat jelas.
Udaranya terasa sejuk sekali. Langit malam terlihat cerah dengan bulan yang bersinar terang. Dee memperhatikan sekitarnya dengan tatapan menikmati. Para tetangga sudah menutup pintu mereka, dan tidak terlihat kendaraan tetangganya yang lewat. Bahkan rumah Devano pun sudah tertutup rapat walaupun mobil cowok itu masih terparkir di pekarangan.
Entah karena kebetulan atau apa, Dee merasa pernah merasakan kejadian yang sama. Jauh di depan sana, Devano tengah berjalan santai dari arah kiri jalan. Di tangan kanannya terdapat plastik berwarna hitam, sedangkan tangan kirinya seperti sedang menelepon seseorang.
Tiba-tiba Dee melotot. Ya, ia ingat. Ia juga pernah melihat hal yang sama beberapa hari lalu. Hanya saja waktunya lebih awal. Tepat setelah makan malam. Matanya terus memperhatikan Devano. Kepalanya bergerak mengikuti langkah pelan Devano.
Sampai beberapa menit. Sampai akhirnya Dee sadar bahwa yang ia lakukan salah. Karena yang terjadi selanjutnya berbeda dari waktu itu. Devano menoleh ke arahnya tepat saat cowok itu sampai di depan rumahnya. Cowok itu memasukkan ponselnya ke saku celana. Terlihat tenang sekali.
Dee yang kelabakan menoleh ke kanan ke kiri, berusaha mencaritahu benarkah Devano sedang melihat ke arahnya. Saat sadar dugaannya benar Dee hanya tersenyum kikuk meskipun tahu bahwa Devano tidak akan melihat senyumannya.
Awalnya Dee tenang-tenang saja karena ia dan Devano hanya saling bertatapan. Jarak antara dirinya dan Devano pun terbilang cukup jauh. Tentu sebelum Devano melangkahkan kaki menyeberangi jalan raya yang menjadi sekat antara rumahnya dan rumah Devano. Cowok itu berakhir berhenti tepat di depan pagar rumahnya.
Dee hanya melongo. Mungkin Devano hanya ingin melihatnya lebih dekat. Itu saja. Sampai kemudian Devano memegang pagar rumahnya dan dengan cepat melompati pagar setinggi pinggang orang dewasa itu.
Tidak bisa menutupi keterkejutannya, Dee kelabakan. Ia bergerak tidak karuan. Kepalanya berputar ke sana ke mari. melihat Devano lalu beralih melihat pintu kamarnya yang sewaktu-waktu bisa saja terbuka dan saat itu ibunya akan langsung tahu seberapa nakal putri polosnya.
Tangan Dee bergerak-gerak memberi isyarat kepada Devano agar segera pergi dan tidak datang ke arahnya. Gerakan percuma, karena Devano justru dengan tenangnya berjalan melewati pekarangan rumahnya, dan berakhir tepat di depan jendela kamarnya.
Wajah Dee berkeringat. Ia benar-benar khawatir kalau ibunya akan tiba-tiba masuk ke kamarnya yang memang tidak pernah dikunci. Di sisi lain Devano justru tersenyum melihat tingkahnya yang ketakutan sendiri.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Dee berbisik.
Devano mendekatkan wajahnya ke arah Dee. Ia berkata, "Tadi 'kan kamu senyum sama aku, makanya aku samperin." Dengan nada berbisik pula.
Eh, memangnya keliatan?
"Tapi tetep aja kamu seharusnya gak usah ke sini. Kalau ibuku tau gimana?"
"Tadi aku udah lihat jendela di depan dan itu semua ketutup, jadi gak mungkinlah ibu kamu bisa liat aku."
"Tapi 'kan dia bisa masuk ke kamarku."
Melihat Dee yang begitu panik membuat Devano tidak tahan untuk tidak terkekeh geli. Gadis di depannya persis seperti maling yang baru saja ketahuan.
"Udah, deh," kata Devano. Ia membuka plastik yang dibawanya. Mengambil satu es krim rasa cokelat dari sana. "Tadi Mamaku minta dibeliin es krim. Aku belinya lima, jadi satu buat kamu," sambungnya menyerahkan es krim itu pada Dee.
"Aku lagi gak mau makan es krim," kata Dee menolak halus dengan tatapan seolah meminta Devano untuk segera pergi.
"Jangan ditolak, dong. Masa aku udah ke sini, malah gak diterima es krimnya."
Mau tak mau Dee akhirnya mengambil es krim yang disodorkan oleh Devano. Cowok itu juga memintanya untuk memakan es krim tersebut dan ia hanya menurut sambil berdecak kesal.
Saat Dee kebingungan ingin membuang bungkus es krimnya ke mana, Devano justru mengambil bungkus tersebut dan memasukkannya ke dalam saku celana.
"Kayanya di kamar kamu gak ada tong sampah. Jadi biar aku bawa aja sampahnya dan aku buangin buat kamu."
Malu-malu, Dee berterima kasih.
"Bahkan aku juga bisa nunggu kamu sampe selesai makan es krimnya biar bisa sekalian aku buang stiknya."
Dee akhirnya dibuat terkekeh juga meski pelan. Karena takut pembicaraannya dengan Devano akan terdengar di telinga ibunya ia menjaga suaranya agar tidak keras, atau perang dunia ketiga akan terjadi jika ia sampai melanggar hal itu.
"Ya, udah. Kalau gitu aku pulang, ya." Devano tersenyum. Ia lantas memutar tubuh dan berjalan menjauhi Dee.
"Dev," panggil Dee membuat Devano menoleh ke arahnya. "Soal ajakan kamu nonton itu ... mungkin aku bisa."
Perkataan Dee membuat Devano semringah. Ia mengangkat ibu jarinya ke arah Dee. Menyetujui hal itu.
"Besok kita pergi, oke? Jam sepuluh pagi aku jemput. Gimana?" tanya Devano.
Dee mengangguk. Devano benar-benar, pergi setelahnya. Berjalan melewati pekarangan rumahnya, melompati pagar, menyeberang jalan raya, kemudian sampai di rumah cowok itu. Dan Dee menikmati es krim yang diberikan Devano. Sampai es krim itu habis, menyisakan stik es krim di tangannya. Dee menarik tisu yang selalu tersedia di atas meja belajarnya. Membalut stik es krim tersebut, kemudian meletakkannya di atas meja belajar.