10 - Euforia

2109 Words
Biasanya hari Sabtu bagi Dee adalah hari membaca buku. Sama seperti hari Minggu. Karena libur ia terkadang hanya menghabiskan waktu di dalam rumah, entah untuk sekedar membaca buku, menonton film, atau melakukan hal lainnya yang bisa menghilangkan rasa jenuh. Namun, baru kali ini Dee akui bahwa dirinya adalah anak nakal. Ibunya pagi tadi berkata bahwa wanita itu akan pulang agak malam, lagi-lagi tentu karena pekerjaannya yang padat. Di akhir pekan restoran biasanya memang akan lebih ramai dibanding hari biasanya, dan Dee sangat tahu hal itu. Sangat tahu dan sangat paham sampai ia berani memanfaatkan waktu lembur ibunya. Tubuhnya sudah dibalut pakaian rapi yang dibelikan ibunya beberapa waktu lalu. Tas selempang menggantung rapi di bahu kirinya. Berulang kali ia mengembuskan napas untuk menghilangkan rasa gelisah yang menggelayuti pikirannya. Sudah lima kali pintu rumahnya diketuk dan Dee mendengar hal itu karena memang berada tepat di balik pintu. Setelah mengumpulkan keberanian yang lebih, Dee mengembuskan napas panjang dan menggerakkan tangan untuk membuka pintu. Begitu pintu terbuka, yang dilihatnya adalah sosok Devano. Cowok itu mungkin kesal karena sejak tadi ketukannya tidak disambut, tapi wajahnya tidak memperlihatkan hal itu. Lagi pula Dee jauh lebih kesal karena mungkin saja Devano melompati pagar rumahnya lagi agar bisa sampai di depan pintu rumahnya. Seperti semalam. Devano terlihat berbeda dari biasanya. Hari ini ketampanannya jauh lebih memancar. Tubuhnya dibalut kaus hitam yang dilapisi kemeja berwarna putih dengan tambahan jeans berwarna hitam pula. Saat Dee melirik ke bawah, ada sepatu berwarna hitam yang terpasang di kaki Devano. Rambutnya disisir rapi dan sepertinya dibumbui pomade. Terlihat dari teksturnya yang agak kaku. "Aku kira kamu belum siap. Soalnya dari tadi aku ngetuk pintu kamu gak keluar," kata Devano. Dee tersenyum kikuk. semalam Devano mengatakan bahwa cowok itu akan datang pukul sepuluh. Karena terlalu bersemangat, Dee bahkan sudah siap pukul sembilan. Pada ketukan pertama Devano, sebenarnya ia sudah berada di balik pintu, hanya saja masih berusaha mengumpulkan keberanian. Dan karena ini adalah yang pertama kalinya ia pergi dari rumah. Bersama cowok pula. "Maaf," sahut Dee menyesal. Devano tersenyum. Tidak apa katanya. "Jangan bilang kamu lompatin pagar rumahku lagi?" tanya Dee. "Maaf." Gantian Devano yang meminta maaf. Cowok itu terkekeh pelan, dan Dee hanya menggeleng tidak habis pikir. Bagaimana bisa Devano melompati pagar rumah orang di siang hari? Kalau cowok itu dikira ingin menerobos masuk atau merampok bagaimana? "Habisnya kalau aku tekan bel rumah kamu itu terlalu lama. Aku harus nungguin kamu keluar dari pintu, jalan dari pintu ke pagar, baru habis itu bukain pagar buat aku. Daripada kaya gitu mendingan aku lompat dan ketuk langsung pintu rumah kamu." Berlebihan sekali. Dee melangkah keluar dan berbalik untuk mengunci pintu. Jujur saja, degup jantungnya masih belum bisa diperbaiki. Masih kencang dan terus membuatnya gelisah. Kalau ibunya pulang lebih awal bagaimana? Kalau ibunya bertemu dengannya di luar bagaimana? Apa wanita itu akan marah dan menyeretnya secara paksa? Ya, itu sudah pasti. Tidak hanya itu ibunya bahkan akan mengusir Devano dan meminta agar Devano tidak menemuinya lagi. "Tenang aja, kita bakal pulang sebelum ibu kamu pulang." Lalu suara itu terdengar. Membuat Dee yang sejak tadi menahan diri untuk menarik kunci akhirnya memilih segera melepas kunci tersebut dan memasukkannya ke dalam tas. Dee menatap Devano yang mengulas senyum untuknya. Menjadi obat yang ajaibnya langsung menenangkannya. "Aku tuh tau kalau ibu kamu biasanya pulang setelah maghrib atau bisa juga lebih malam. Soalnya kadang-kadang aku suka ngeliat dia waktu buka pagar rumah kamu. Jadi bakal aku pastiin kamu udah ada di rumah sebelum ibu kamu pulang." Terdengar meyakinkan sekali. Dee akhirnya mengangguk. Ia berjalan beriringan bersama Devano. Menjauhi penjara yang selama ini mengurungnya, untuk melangkah menuju dunia luar yang selama ini diimpikannya. "Mau naik mobil Mama aku atau taksi?" tanya Devano. "Terserah kamu aja," sahut Dee. "Kita naik mobil mamaku aja. Soalnya udah lama aku nggak keluar pakai mobil." Dan Dee tahu hal itu. Ia sering melihat Devano berjalan kaki entah malam atau siang hari. Bahkan semalam pun saat membawa belanjaan yang katanya berisi es krim untuk ibunya, cowok itu berjalan kaki. Entah apa alasannya Dee tidak mau tahu. Yang pasti, sepertinya Devano memang suka berjalan kaki, daripada menggunakan mobil. Sampai di pagar rumahnya, Dee membuka kunci pagar dan segera keluar disusul Devano. Ia kembali mengunci pagar rumahnya dari luar, dan perlahan menjauhi rumahnya. Satu hal yang Dee syukuri adalah isi komplek menganggapnya gadis introvert yang tidak suka keluar rumah, bukan sebagai gadis yang dikurung oleh ibunya. Sehingga siapa pun yang melihatnya bersama Devano hanya akan beranggapan bahwa dirinya sudah berani keluar, dan tidak mungkin mengadukan pada ibunya. Dee menunggu di depan gerbang rumahnya sementara Devano pergi ke arah rumahnya. Cowok itu membuka gerbang rumah. Mendorongnya sampai terbuka lebar, kemudahan pergi menaiki mobilnya. Begitu mobil sudah dikeluarkan, Devano kembali turun dari mobil untuk menutup gerbang rumahnya lagi. Agak sedikit ribet. Dee hanya terkekeh melihat Devano yang terlihat sibuk, sebelum akhirnya kembali menaiki mobil menuju ke arahnya. *** Ketika mobil Devano sampai di gerbang utama kompleks perumahan. Devano sempat menghentikan mobilnya untuk menyapa penjaga gerbang, meminta pria paruh baya itu membukakan gerbang untuk mereka. Mungkin karena tidak biasa melihat Dee pergi bersama orang lain, pria yang usianya sekitar lima puluh tahunan itu menatap Dee cukup lama ketika meliha Dee di samping Devano, sebelum akhirnya membukakan gerbang dan membiarkan Dee dan Devano keluar. Jakarta hari itu ramai. Seramai hari-hari biasanya. Kendaraan roda empat ataupun roda dua hilir-mudik tanpa henti. Dee terus memperhatikan keluar jendela. Melihat gedung-gedung berdiri kokoh. Berbaris memenuhi setiap jalan yang dilaluinya. Bunyi klakson terdengar di sana-sini. Tidak hanya itu, pesepeda pun terlihat di beberapa tempat. Memang seramai itu Jakarta. Salah satu kota yang menjadi tempat merantaunya orang-orang desa untuk mencari nafkah. "Kamu seriusan emang gak pernah keluar rumah selain ke sekolah?" tanya Devano. Pertanyaannya berhasil membuat Dee mengalihkan pandangan dari jendela dan menatapnya. "Belum," sahut Dee menggeleng. "Nanti abis nonton mau ke toko buku, gak?" "Tapi aku gak bawa uang banyak," jawab Dee jujur. Dita, ibunya, memang selalu memberikan uang yang cukup setiap hari untuknya jajan di sekolah. Ia selalu menabung uang itu karena memang hanya membeli roti untuk mengganjal perutnya saat jam istirahat. Meski demikian, karena tidak pernah mendatangi mall, Dee takut bahwa uang yang dibawanya kurang. "Tenang aja, nanti aku yang traktir sebagai hadiah karena kamu udah berani keluar rumah." Dee mengerjapkan mata. "Serius?" tanyanya setengah percaya. Devano sontak mengangguk sambil terkekeh. "Iya, nanti aku yang bayar tiket nontonnya, aku juga yang bayar makan, dan kalau mau ke toko buku, aku juga yang bayarin kalau emang kamu mau beli buku." "Ihh, nanti uang kamu habis. kalau mau traktir orang itu jangan kira-kira, dong! Kalau dompetmu jebol, nanti aku bisa ngerasa gak enak tau." Tidak kuat. Devano menyemburkan tawa. Perkataan Dee barusan benar-benar menggemaskan di matanya. "Aku itu 'kan cowok, jadi harus siap keluar uang kalau ngajak cewek jalan," kata Devano. "Hah? Siapa yang bikin peraturan kaya gitu? Kalau kaya gitu setiap cewek pasti diuntungkan, tapi cowoknya yang rugi. Seharusnya kalau sama-sama senang berarti harus ngeluarin uang sama-sama juga, dong." Dee itu polos sekali. Itu yang Devano simpulkan. Gadis itu benar-benar tidak tahu kehidupan zaman sekarang. Di mana ada banyak manusia yang saling memanfaatkan. Sudah tidak aneh lagi kalau seorang cowok membawa anak gadis orang keluar, maka cowok itulah yang harus membiayai keperluan gadis itu selama berada di luar. Tidak hanya itu. Bahkan ada yang terang-terangan memanfaatkan saat tahu cowok yang mendekatinya merupakan orang berada. Itu sudah lumrah terjadi sebenarnya, tapi lagi-lagi Dee justru tidak tahu. "Gak pa-pa, pokoknya nanti aku yang bayar. Jadi kamu gak usah khawatir," kata Devano. "Ya udah, berarti lain kali aku yang bayarin kamu." "Emangnya lain kali mau pergi lagi sama aku?" tanya Devano dengan nada menggoda. Seketika Dee langsung terdiam. Benar juga. Sampai detik ini ibunya tidak tahu saja sudah menjadi satu keuntungan, tapi ia tidak tahu bagaimana ke depannya. "Maaf, maksud aku—" "Gak pa-pa, kok. Aku justru malah seneng kalau nanti kamu mau pergi lagi sama aku," sela Devano cepat. Tersenyum untuk Dee. Tentu Dee juga senang, hanya saja masih ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya. Pergi bersama Devano sangat menyenangkan. Meski tempatnya belum kelihatan, Dee bisa merasakan bahwa di luar benar-benar menyenangkan. Tapi di sisi lain ia juga sudah membohongi ibunya sendiri. Entah bagaimana tanggapan wanita itu saat tahu bahwa putrinya yang selama ini dipercaya sudah pergi tanpa izin darinya. Dee mulai nakal. Tidak ada lagi sosok penurut yang selalu mengikuti apa yang dikatakan oleh ibunya. Tidak peduli bahwa dirinya terpenjara di dalam rumah tanpa pernah mengenal dunia luar, sebelumnya Dee selalu menurut dan mempercayai ibunya bahwa dunia luar memanglah tempat yang kejam. Tidak ada tempat yang aman selain rumah. Itu yang Dee tahu. Namun, Devano menghancurkan tembok yang dibangun oleh ibu Dee kemudian memaksa Dee untuk lari dari penjaranya sendiri. Dan kesan pertama yang dirasakan oleh Dee saat memutuskan keluar adalah dunia luar tidak sekejam yang ibunya bicarakan. Justru sebaliknya, Dee sangat bersemangat untuk menyaksikan seberapa luas sebenarnya dunia ini. "Ayo keluar!" Dee yang sejak tadi melamun, tidak sadar bahwa mobil yang dikendarai Devano sudah berhenti. Bahkan Devano sudah membuka pintu mobilnya. "Kita udah sampe?" tanya Dee. Devano mengangguk. Ketika Devano menutup pintu mobil, Dee keluar. Mereka berjalan di basement mall. Saling beriringan dan tidak ada yang berbicara. Ketika sudah keluar dari basement dan melihat bagian depan mall, Dee sempat menghentikan langkah dan melongo dibuatnya. Wow! Dee dibuat terperangah. Tidak menyangka bahwa bangunan besar yang biasanya hanya dilewatinya saja kini akan dimasuki olehnya. Mengembuskan napas panjang, Dee terpaksa ikut bergerak mengikuti tarikan tangan Devano. Cowok itu mengajaknya menaiki anak tangga yang ada di depan bangunan besar itu. Sebuah pintu kaca besar nan lebar yang sudah terbuka menyambut Dee. Lagi-lagi Dee terperangah saat berada di dalam mall. Terlihat sekali bahwa dirinya baru pertama kali datang. Euforia, itulah yang tengah dirasakan oleh Dee. Euforia atau europhia adalah perasaan gembira yang muncul karena peristiwa membahagiakan atau aktivitas tertentu yang memicu perasaan bahagia. Dan tidak menyangka bahwa perasaan itu sangat menggelitik. Dee suka saat melihat orang-orang berlalu-lalang melewatinya. Memenuhi bangunan besar bertingkat yang tengah dipijaknya. "Kenapa? Seneng, ya?" tanya Devano. Dee menguatkan genggamannya pada Devano lalu mengangguk bersemangat. Menjawab pertanyaan Devano lewat anggukan itu. Devano hanya terkekeh. Turut senang melihat binar di mata Dee. Ia menarik tangan gadis itu. Menuntunnya menuju eskalator. Tepat saat ingin melangkahkan kakinya menaiki eskalator, tangannya ditarik oleh Dee. Membuat langkahnya terhenti. Karena menghalangi jalan orang lain, akhirnya Devano memilih menepi sebentar. "Kenapa?" tanya Devano. Dee menatap tangga berjalan yang ada di depan matanya. Ia pernah melihat tangga berjalan itu, bahkan sangat sering, hanya saja di televisi. Sedangkan di dunia nyata, Dee belum pernah menaikinya. Ia tidak tahu bagaimana rasanya menaiki tangga berjalan untuk pertama kalinya. Apakah ia akan terjungkal kemudian terguling ke belakang dan berakhir mengenaskan? "Aku ... belum pernah naik itu," aku Dee menatap Devano. Lalu, yang didengar Dee selanjutnya adalah tawa Devano. Nyaring sekali. sampai membuat beberapa orang yang melihatnya menoleh dan memandang Devano aneh. Jika biasanya Dee sangat menyukai tawa itu, kali ini ia justru kesal karena tawa itu terdengar seperti mengejeknya. "Makanya pegangan aja sama aku. Gak bakal kenapa-napa, kok. Gak bakal kejengkang juga." "Dari tadi juga aku udah pegangan sama kamu, kok." Devano mengangkat tangannya. lagi-lagi terkekeh saat melihat Dee menggenggam tangannya begitu kuat. "Ikutin aku!" perintah Devano menuntun Dee berjalan ke bagian kanan eskalator. Gadis itu mengikutinya melangkah menaiki eskalator. Baru satu langkah saat tubuh Dee tiba-tiba terhuyung ke belakang. Untunglah dengan sigap Devano memegang pinggangnya sehingga kecelakaan tidak terjadi. "Tenang aja, gak pa-pa, kok." Devano tersenyum, "kalau naik eskalator itu usahain di sebelah kanan aja, soalnya di sebelah kiri biasanya jadi tempat buat orang yang buru-buru biar gak tabrakan." Dee manggut-manggut. Ia malu luar biasa karena harus memegang tangan Devano agar tidak terjatuh. Sesampainya di lantai dua, Dee mengembuskan napas lega. "Tapi bioskopnya ada di lantai tiga, jadi kita harus naik eskalator lagi." Devano nyengir saat Dee justru terlihat enggan. "Ada aku, kok," kata Devano menenangkan. "Maaf, ya, kalau aku bikin kamu malu." "Santai aja. Gak masalah." Dee mengikuti Devano masih dengan tangan kanannya yang menggenggam tangan cowok itu. Devano memberitahunya berbagai macam hal yang ada di mall tersebut. Mulai dari tempat makan, lokasi bioskop, lokasi toko buku, bahkan dengan detail menjelaskan toko apa saja yang ada di sana. Pada percobaan kedua menaiki eskalator, Dee sudah tidak takut lagi meskipun belum bisa melepaskan tangan Devano. Cowok itu memaklumi dan senang-senang saja saat Dee menggenggam tangannya kian erat. Dee belum pernah mendatangi mall, karena itulah Ia sangat antusias saat Devano membicarakan berbagai macam hal atau mengomentari orang-orang dilihatnya. Berada di tengah keramaian, Dee baru tahu rasanya akan sangat menyenangkan. Membuatnya tidak merasa berbeda apalagi dibedakan. Devano berhasil menyadarkannya bahwa orang-orang tidak menganggapnya buruk, tapi ialah yang sudah menjauh menjauh dari orang-orang dan menjadikan dirinya sendiri buruk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD