Lima Puluh Enam

1098 Words

Asha membenamkan wajahnya di atas lipatan kedua tangannya. Ia tak hentinya menangis. Teror tulisan yang ia terima, potongan koran, potongan video, simbol dalam video, simbol di atas pintu, kotak berisi senjata, semua berputar layaknya sebuah film di kepalanya. "Saya tidak lagi bisa berpikir baik tentang anda, Tuan." Asha berkata dalam Isak tangisnya, "saya lihat dari video itu, anda jelas menabrak dan membakar orang. Bisa-bisanya saya masih berpikir baik walau sudah menontonnya. Bisa-bisanya saya membohongi diri saya sendiri, Tuan." Begitu pikirannya sudah lebih terbuka, Asha menyadari, postur tubuh, cara berjalan, tinggi dan tegapnya seorang laki-laki pada video pertama juga kedua, orang yang menembak di kepala serta meledakkan gedung, pria itu persis suaminya. Entah berapa lama Asha

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD