Asha tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia tidak percaya melihat wajah temannya yang berantakan seperti ini. Asha sampai menutup mulutnya karena terlalu tidak percayanya. Friska sendiri terlihat menundukkan kepalanya. Ia diam-diam menangis. Menangisi nasibnya yang kurang beruntung. Segala kerja kerasnya di masa muda tidak berarti apa-apa karena ini yang ia dapat. Asha langsung membawa temannya dalam pelukannya, ia peluk erat temannya itu. Ia elus punggungnya agar tenang meski ia sendiri tahu hal itu tidak berguna. Ia pun sampai ikut menangis bersama temannya itu. Kesedihan Friska terasa begitu dalam. Rancauan ketika menangis itu Asha dengar sebagai lampiasan rasa sakit yang selama ini Friska pendam. Temannya ini tidak lagi bisa memendam, karena itu datang padanya hari ini. Yang Asha sesal

