“Bos, apa anda yakin dengan apa yang anda lakukan?” Jim berusaha mengonfirmasi.
Jim dan Jack, asisten Diego yang selalu menemaninya ke mana-mana sejak zaman kuliah, merasa kalau keputusan yang diambil oleh atasan mereka itu sangat beresiko. Diego yang benar-benar membenci wanita alias anti wanita harus berhubungan dengan seorang wanita, satu rumah, dan harus bersandiwara di mana pun berada.
Perusahaannya memang sedang terguncang di mana orientasi seksual Diego menjadi sorotan berbagai pihak dan sebagian sudah berusaha menjatuhkan perusahaan dengan mempengaruhi calon klien yang berminat bekerja sama dengan Perusahaan Morelli agar membatalkan proposal mereka dengan rumor-rumor miring soal Diego. Namun, keputusan menikah kontrak menurut mereka bukanlah solusi dari permasalahan, tapi malah akan menambah masalah baru.
“Benar, Bos. Jujur saja saya tidak yakin kalau keputusan yang anda ambil ini adalah keputusan yang tepat,” timpal Jack.
Diego beberapa kali menghela napas sambil berpikir. Sejak tadi, dua asistennya sibuk berargumentasi dan beropini, mengatakan kalau ide yang ia cetuskan tadi lagi itu salah. Namun masalahnya, saat ini perusahaan terancam bangkrut. Dan, itu diperparah lagi dengan ancaman pengusiran dari kedua orang tuanya jika rumor miring itu terus berlanjut. Tentu saja, Diego tidak ingin jika ia harus hidup luntang-lantung di jalanan setelah diusir nanti.
Diego juga heran kenapa warga di negara ini sibuk mengurusi orientasi seksual orang lain? Bukankah tak masalah jika laki-laki bisa menjalankan bisnis sebaik-baiknya meski tak menikah? Tidak seperti negara asal papanya yang bebas tidak mengurusi urusan pribadi orang lain, negara asal mamanya benar-benar membuatnya harus menetap dan mengikuti semua norma yang ada.
“Jangan berisik! Ikuti saja semua ideku!” sembur Diego kesal.
“Apa nggak salah, Bos? Bagaimanapun juga dia wanita, sedang anda tidak pernah berhubungan wanita mana pun sebelumnya. Menurut saya ini sangat beresiko, Bos.” Jim mengingatkan.
“Apa kamu yakin dia wanita?” Diego mencibir asistennya.
“Secara fisik dia wanita, Bos. Kita tidak bisa mengatakan tidak, apalagi dia memiliki sifat yang lumayan keras dan bawel juga sedikit tomboy. Dia tidak sefeminin seperti penampilannya. Anda tidak tahu saja bagaimana kasarnya dirinya ketika berbicara ditelepon dengan sahabat-sahabatnya?” lanjut Jim lagi.
Hanya Jim yang berani mendebat Diego dan terkadang bawel dan rewel pada atasannya tersebut, sementara Jack tipikal sopan dan tegas.
“Justru itu aku memilihnya. Kalau dia lemah lembut seperti wanita pada umumnya, malah merepotkan. Otomatis wanita seperti itu akan baperan padaku, sedang aku tidak menginginkan romance dengan wanita mana pun,” tegas Diego.
“Bagaimana kalau penilaian anda salah? Bagaimana kalau wanita itu menginginkan romance dari anda?” Jack menganalisa.
Diego menggeleng pelan. “Tidak mungkin. Aku sudah menjatuhkan bom atom yang akan mengguncang jiwanya. Boro-boro dia mau padaku, yang ada dia pasti akan membenciku sejak awal hingga akhir,” tandas Diego yakin.
Jim mengangguk setuju. “Iya, sih, Bos. Mana ada seorang wanita yang bisa mencintai seorang yang menjebaknya, membuatnya terlibat hutang senilai triliunan. Yang ada pasti dia akan membenci anda sampai ke tulang-tulang.”
“Nah, makanya santai, dong! Kalau sudah tahu jangan cerewet! Diam saja dan ikuti saja alurnya! Mending kalian berdua selidiki perusahaan-perusahaan mana lagi yang akan meluncurkan senjata mereka untuk menghancurkan perusahaan kita. Tutup situs-situs internet dan juga media yang akan membuat gosip murahan tentangku dan jangan rewel dengan keputusanku!” omel Diego kesal.
“Lagian, kenapa, sih, anda meminta saya untuk berpura-pura mesra di depan teman kencan yang diaturkan mama anda layaknya sepasang kekasih? Tidak akan mungkin ada gosip kayak gini kalo anda nggak lakuin itu, Bos,” ucap Jim menyayangkan tindakan atasannya.
Mata Diego membulat lalu melotot menatap Jim. “Oh, jadi kamu menyalahkan aku? Berani kamu, ya! Kamu mau kupecat?” sentak Diego garang.
“Maaf, Bos. Bukan itu maksud saya? Saya hanya ingin menegaskan karena kejadian itulah orang-orang yang jahat pada anda mencuri kesempatan mengambil foto-foto dari berbagai angle seolah-olah kita memang bermesraan layaknya pasangan kekasih,” ralat Jim ketar-ketir.
Biarpun Jim terkadang berani menentang dan bawel pada atasannya tersebut, tetap saja laki-laki tampan itu gentar kala Diego mulai melotot padanya dan menaikkan intonasi suaranya.
“Jim benar, Bos,” timpal Jack menengahi. “Mereka juga mengambil foto-foto saat saya dan Jim keluar masuk apartemen, bahkan tidur di apartemen anda. Mereka bahkan bisa-bisanya mengambil foto Jim yang sedang membuka jendela dan melayani sarapan anda, seolah-olah mereka melihat kalau Jim itu istri anda. Begitu, Bos. Itu yang terjadi.”
“Bodo amat!” seru Diego santai.
“Bagaimana kalau kami berdua tidak menginap di tempat anda lagi, Bos?” usul Jack.
“Nggak akan aku izinkan. Kalian harus mengerjakan semua tugas-tugasku. Aku nggak mau kerja keras. Kalian aku gaji di sini dan kalian harus bekerja untukku. Aku cuma mau tanda tangan dan review dokumen saja, paham kalian!” sembur Diego lagi tak mau diatur.
Jim dan Jack buru-buru menunduk hormat. “Iya, Bos. Kami mengerti.”
“Jadi, biarkan saja gosip itu! Jangan dipusingkan! Semuanya akan mereda ketika mereka tahu aku sudah memiliki istri. Aku akan memanfaatkan sekretaris itu sebaik-baiknya. Dia harus berpura-pura sebagai istri sungguhan di mana pun aku berada.”
“Jadi, anda akan mengajaknya ke special occasion juga, Bos?” tanya Jim cepat.
“Aku akan mengajaknya ke mana pun. Aku akan membawanya meeting, meeting ke luar kota dan di mana pun yang terkait dengan relasi kita,” ucap Diego menginformasikan.
“Bagaimana kalau anda jadi jatuh cinta padanya? Biar bagaimanapun juga, dia cantik, lho, Bos,” tebak Jim.
“Heh, jangan gila, ya! Apa ada cinta dalam kehidupan seorang Diego Morelli? Kalian sudah mengenalku sejak kuliah, kan?” semprot Diego emosi.
“Justru itu, Bos. Kami masih bingung sama orientasi seksual anda di mana tidak ada perempuan sama sekali dalam hidup anda sejak kami mengenal anda. Kami jadi bingung sendiri, Bos.” Jim kian berani.
“Nggak usah kepo kalian,” omel Diego geram.
“Bos, apa anda beneran Gay?” ulang Jim menggali kuburannya sendiri.
Diego kembali melotot. “Apa aku berkewajiban menjawabnya?”
“Setidaknya beritahu kami, Bos. Bukankah kami asisten yang anda bisa andalkan selama ini?” timpal Jim, kali ini sambil berlindung di balik punggung Jack.
Biar bagaimana pun Diego menyeramkan kalau marah.
“Jangan berani mendesakku, ya!” sentak Diego marah.
“Dasar Bos gila! Tinggal jawab aja, susah banget.” Lama-lama Jim kesal dan membatin geram.
“Kamu mengumpatku, ya!” sentak Diego tahu kalau bawahannya meremehkan dan kesal padanya.
“Mana berani saya mengumpat, Bos,” kilah Jim.
Jack kembali menengahi situasi yang mulai memanas karena pertanyaan-pertanyaan iseng dari Jim.
“Jujur kalau saya penasaran, mengingat sekian lama saya mendampingi anda, Bos. Sebenarnya saya benar-benar tidak berani menanyakannya, tapi karena semuanya sudah jadi besar seperti ini, dengan sangat terpaksa saya harus menanyakan sesuatu yang sangat sensitif bagi anda.”
“Jangan ikut campur urusan pribadiku!” geram Diego menahan emosi.
Sejak tadi ia menahan marah dan tidak mengamuk, melempar barang-barang di ruangan ini karena terlalu didesak oleh asistennya.
“Bos, tinggal jawab aja anda suka wanita apa laki-laki, Bos?” jerit Jim dari balik punggung Jack, merasa penasaran setengah mati.
“Kalian tidak perlu tahu dan untuk apa kalian tahu? Apa aku pernah berbuat aneh dan melecehkan kalian berdua?”
“Tidak, Bos,” sahut Jim dan Jack kompak.
“Tapi itu aneh, Bos.” Jim mengernyitkan kedua alisnya.
“Jangan melampaui sesuatu yang tidak diperbolehkan untuk kalian berdua! Jangan melanggar batas! Sebagai orang yang sudah mengetahui bagaimana sifatku, kalian tahu sendiri ‘kan kalau aku tidak suka diganggu urusan pribadiku?”
Perdebatan tiga orang yang selalu terlibat satu sama lain dan selalu pergi ke mana-mana bersama itu terpaksa harus terhenti ketika suara ketukan pintu terdengar diiringi suara lembut dari seorang wanita yang mereka ketahui persis adalah suara Aurel.
“Boleh saya masuk, Pak Diego!”
“Masuk saja!” titah Diego.
Aurel pun masuk dan langsung melihat tiga orang yang sedang menatapnya dengan tatapan serius di dalam ruangan CEO-nya tersebut.
“Saya ingin bicara dengan anda, Pak Diego. Empat mata, tanpa asisten anda,” ujar Aurel serius.
“Tidak perlu empat mata. Dua asistenku ini sudah menemaniku sejak lama. Apa yang tidak diketahui oleh mereka berdua tentangku? Mereka tahu semuanya.”
“Bohong, kami tidak tahu sesuatu yang paling penting dari diri anda, Bos,” batin Jim dalam hati sambil terus menatap ke arah atasan dan sekretarisnya.
“Oke, saya datang kemari ingin menuruti permintaan soal menjadi istri kontrak anda.”
“ Syukurlah kalau kamu tahu diri!” Diego tersenyum menang.
“Ya, anda benar. Bagaimana saya bisa menolaknya kalau penjara taruhannya? Saya masih butuh uang untuk menafkahi satu-satunya orang yang saya sayangi, yaitu mama saya. Namun, saya perlu menegaskan sesuatu kepada anda. Karena pernikahan kontrak ini hanyalah sebuah sandiwara, maka saya ingin perjanjian hitam di atas putih. Saya tidak ingin dirugikan di sini,” tegas Aurel mengutarakan keinginannya.
“Tentu saja aku akan membuatnya secara profesional.”
“Poin-poinnya akan kita tentukan nanti. Yang jelas saya tidak ingin adanya hubungan suami istri dengan anda. Saya ingin menjadi janda perawan selepas bercerai dari anda,” pungkas Aurel.
“Jangan khawatir! Mana mungkin aku sudi menyentuh kamu,” cibir Diego meremehkan.
“Syukurlah! Hanya itu yang saya minta. Jika anda melanggarnya, anda harus membayar mahal, Pak Diego.”
“Kamu ingin memerasku?” Diego mendelik tajam.
“Oh, bukan, Pak! Mana mungkin saya memeras anda. Namun, saya pastikan perusahaan anda akan hancur lebur di tangan saya karena saya sendiri yang akan mengungkap skandal anda di depan publik jika itu sampai terjadi. Jadi, bagaimana? Bisakah anda menuruti syarat dari saya dan berjanji tidak akan melanggarnya?”