Sah Menjadi Pasangan Suami Istri

1524 Words
Keesokan harinya, tampak beberapa wartawan sudah ramai menghampiri Diego dan Aurel begitu melihat keduanya keluar dari kantor catatan sipil. Ya, setelah mendapatkan rumor pernikahan mereka, para wartawan itu berbondong-bondong datang untuk menggali informasi terkait pernikahan sang pengusaha dengan sekertaris-nya yang terkesan mendadak. “Pak Diego, bisa anda jelaskan kenapa anda di sini? Kenapa anda menikah hanya di mata hukum dan negara, tidak mengadakan pesta besar? Apakah wanita di samping anda yang sudah menjadi istri anda sedang hamil anak anda, Pak?” “Benar, Pak. Kenapa Anda menikah mendadak seperti ini? Apakah anda menikah hanya Ingin menutup rumor gay yang sedang santer berhembus?” Beribu pertanyaan diajukan oleh beberapa wartawan yang sudah menunggu di depan kantor di mana Diego dan Aurel baru selesai melaksanakan proses pernikahan secara hukum, resmi mendaftarkan pernikahan mereka di mata negara. “Astaga, ini gila! Besok fotoku akan terpampang di media, bahkan masuk berita. Kenapa CEO gay ini mengajakku langsung menikah di sini, sih? Otomatis wartawan jadi rempong dan kepo ingin tahu alasannya menikahiku. Kenapa tidak merencanakan pesta pernikahan dan menghelatnya besar-besaran? Kalau begini caranya orang akan mengira aku hamil duluan. Dasar CEO sialan!” umpat Aurel dalam hati. Setelah berdebat cukup panjang kemarin sore, akhirnya Diego memutuskan untuk membuat poin-poin penting dalam surat perjanjian pernikahan mereka bahwasanya tak boleh ada skinship berat, apalagi ritual pasutri dan Aurel akan tetap digaji sebagai seorang sekretaris, tapi harus melakukan kewajibannya sebagai seorang istri di mata umum di mana Aurel harus tinggal bersamanya di apartemen melakukan segala macam tugas yang akan dihitung lembur yang akan dibayar secara tunai. Tugas-tugas itu meliputi kegiatan menemani Diego ke pesta, berpura-pura mesra di depan orang tuanya dan di depan umum dengan perjanjian no romance sama sekali hingga Aurel akan tetap perawan pasca bercerai nanti. Kini, Diego dan Aurel terdesak karena dicegat para wartawan, membuat Jack dan Jim sibuk memberikan jalan untuknya dan istrinya agar bisa masuk ke dalam mobil. “Jika anda kabur dari sini berarti anda membenarkan semua statemen yang kami tanyakan pada anda, Pak Diego. Itu artinya anda memang ingin menutupi kelainan anda sebagai seorang gay dengan menikahi seorang wanita,” cecar seorang wartawan, menerobos pertahanan Jim dan Jack, mendesak Diego untuk menjawab pertanyaannya. Diego langsung menggandeng tangan Aurel, melindunginya dari kejaran para wartawan, kemudian segera menyembunyikan istrinya tersebut di belakangnya, berusaha bersikap gentle di depan para wartawan sialan itu lalu berkata tegas. “Aku sudah mencintainya sejak awal aku menggantikan orang tuaku untuk mengambil alih bisnisnya dengan menjadi seorang CEO di Perusahaan Morelli. Sekretarisku ini sudah diminta untuk menemaniku sejak aku menjabat menjadi CEO. Sejak saat itu aku jatuh cinta padanya.” “Itu bohong, kan, Pak Diego? Anda tidak pernah menunjukkan romansa di depan orang-orang selama ini. Anda terlihat kaku dan formal saja selama ini dengan sekretaris anda?” desak salah satu wartawan, merasa tak percaya dengan statemen Diego. “Itu karena aku butuh waktu untuk memahami perasaanku sendiri.” “Nyatanya anda dijodohkan oleh mama anda dengan wanita lain dan anda malah bermesraan dengan salah satu asisten anda,” cecar wartawan yang paling kritis sambil menunjuk Jim, membuat Jim malu bukan main. “Sial! Gara-gara bos aku jadi dikira penyuka sesama jenis,” rutuk Jim dalam hati. “Itu karena aku begitu mencintai istriku ini. Aku tidak ingin dijodohkan dengan wanita mana pun karena aku sudah melabuhkan hatiku padanya sejak awal?” Diego terus berkilah, berusaha keras meyakinkan para wartawan sialan tersebut. “Kenapa anda tidak langsung membawa wanita yang anda cintai untuk menemui orang tua anda dan menikah baik-baik, Pak Diego?” “Apa kalian tahu kisah Cinderella? Status sosialku dan istriku jauh berbeda. Apa kalian pikir mamaku akan setuju aku menikah seorang sekretaris biasa?” Diego mulai menaikkan intonasi suaranya. Darahnya sudah mulai naik ke ubun-ubun karena tak henti-hentinya mendapat tekanan dari awak media. “Oke, apa yang anda lakukan ini masih di luar nalar. Anda adalah anak pemilik perusahaan Italia terbesar di negara ini. Masa anda menikah dengan cara seperti ini?” “Aku terpaksa harus menikahi wanita yang aku cintai sekarang juga. Dengan begitu mama dan papaku tidak akan bisa menolak keberadaan istriku lagi.” “Kenapa anda bisa jatuh cinta pada gadis biasa, Pak Diego? Apa tak sebaiknya anda melakukan konferensi pers saja? Kami ingin mengetahui bagaimana mulanya anda bisa jatuh hati pada sekretaris anda?” Kepala Diego mulai berdenyut. Ia sungguh emosi menghadapi para wartawan yang tak henti-hentinya bertanya. Ia sungguh tak mengira akan ada wartawan sebanyak ini mengikutinya. Sial! Diego segera menatap kedua asistennya. “Kalian berdua, atur konferensi pers sesuai dengan yang mereka inginkan! Aku ingin membawa istriku pulang. Dia pasti sangat kaget karena kejadian ini.” “Siap, Bos!” sahut Jim dan Jack lalu segera membukakan jalan, membantu Diego dan Aurel masuk ke dalam mobil, meninggalkan para wartawan yang terus mengambil foto mereka. “Astaga, apa yang anda lakukan itu memang benar-benar gila! Apa anda yakin mama anda akan setuju menerima menantu seperti saya,” dengus Aurel. “Mama harus setuju karena aku sudah menikahi kamu. Suratnya sudah resmi ada di tanganku.” “Anda bisa enak bicara begitu. Saya yang malu di sini, Pak Diego. Saya dikira hamil duluan gara-gara anda. Sebentar lagi saya akan viral di mana-mana. Mana anda belum jujur pada mama anda. Saya kira kita akan menikah seperti orang-orang pada umumnya, mengadakan pesta mewah di bawah restu orang tua. Nyatanya? Astaga! Saya nggak mau, ya, ada adegan-adegan mertua jahat di mana saya akan tersiksa karenanya,” omel Aurel panjang lebar. “Jangan berisik! Aku pastikan itu tidak akan terjadi karena kamu akan tinggal di apartemenku, bukan di rumah mama.” “Mama dan papa anda pasti akan datang menemui saya dan mencecar saya, Pak. Pasti juga akan ada makan malam keluarga, pertemuan keluarga dan sejenisnya. Saya bisa dikucilkan di momen-momen itu, Pak.” “Cerewet! Tidak usah terlalu dalam mengurus urusan keluargaku, mengerti!” bentak Diego kesal. Ia sedang pusing saat ini dan istrinya membuatnya semakin pusing karena cerewet dan bawelnya. “Sialan!” ceplos Aurel tak sadar, saking kesalnya pada atasan yang telah menjadi suami kontraknya. “Kurang ajar! Berani kamu mengatakan sialan padaku!” bentak Diego lagi sambil melotot tajam pada Aurel. “Terus saya mau gimana, Pak? Bagaimana cara saya mengungkapkan semua emosi saya? Anda tidak menjawab semua keresahan saya. Saya bingung bagaimana menghadapi semua ini?” keluh Aurel kesal. “Jangan membuatku emosi, ya! Aku bisa melakukan apa saja. Bahkan, aku bisa membuatmu masuk penjara saat ini juga.” Aurel mencibir sinis. “Mana mungkin anda bisa melakukan itu. Saya sudah sah menjadi istri anda di mata negara. Kita sudah menandatangani surat perjanjian juga. Mau tak mau kita harus menjalani sandiwara ini hingga akhir, Pak Diego.” “Jangan berani meremehkanku! Apa yang tidak bisa aku lakukan, hah? Aku bisa merobek surat perjanjian itu, mengubah atau mengganti isinya sesukaku. Aku bahkan bisa membatalkan pernikahan kita dan mengirimmu ke penjara sekarang juga. Jadi, jangan membuatku marah! Kamu tidak tahu siapa aku. Aku bisa melakukan apa saja kalau aku pusing, tahu kamu!” Aurel tercekat. Baru kali ini ia dibentak-bentak seperti ini. Ia belum pernah melihat Diego mengeluarkan kata-kata sekeras dan sekasar ini sejak menjadi sekretarisnya. Yang ia tahu, suaminya adalah tipikal yang menyebalkan, suka memerintah tak kenal waktu dan situasi. Bahkan, suaminya tidak memarahinya saat dirinya tak berhasil melobi dan mengambil alih perusahaan Wirajaya. Kenapa sekarang Diego terlihat menyeramkan? Kini, Aurel benar-benar kalut. Apakah dirinya melakukan kesalahan dengan menerima pernikahan ini? Apakah ia akan tersiksa batin menjalani pernikahan kontrak ini? “Semuanya sudah terjadi, Aurel. Kamu harus kuat. Hanya kamulah yang bisa membahagiakan mama,” batin Aurel menguatkan dirinya. Satu-satunya orang yang bisa menafkahi mamanya adalah dirinya. Jika terjadi apa-apa padanya, mamanya akan terlantar. Mamanya adalah wanita biasa yang ketergantungan finansial pada papanya dan ketika papanya meninggal, dirinya yang banting tulang hingga bisa mengangkat derajat orang tuanya seperti sekarang. Menjadi seorang sekretaris handal, membuatnya sering mendapatkan bonus yang besar dari perusahaan sehingga mamanya bisa hidup senang seperti sekarang. Jika, dirinya masuk penjara, maka semuanya akan hancur. Tidak ada yang bisa Aurel lakukan selain menuruti semua kata-kata suami gay-nya tersebut. Diego melirik istrinya yang sudah sedikit tenang saat ini dan dirinya merasa lega tidak akan berdebat dengan istrinya lagi. Diego membatin dalam hatinya. “Apa aku tidak salah, memilih wanita cerewet ini menjadi istriku, menjadikannya partner in crime-ku untuk mengelabui semua orang? Bisa-bisa aku pusing sendiri karena sikap meledak-ledaknya. Mudah-mudahan aku bisa terus mengancamnya agar dia mengerti semua kata-kataku dan tak perlu berdebat setiap waktu.” “Jadi, apa yang harus saya lakukan selanjutnya, Pak?” tanya Aurel menahan kesal. Diego hanya melirik sekilas, malas menjawab pertanyaan istrinya. Yang pasti ia harus segera datang menemui mama dan papanya, menjelaskan tentang apa yang sudah terjadi. Ia harus mengaturnya sedemikian rupa agar sama seperti konfirmasinya pada wartawan tadi supaya semuanya menjadi sinkron. Diego juga harus mengatakan kalau ia sudah jatuh cinta pada sekretarisnya dan menjelaskan pada mamanya bahwa karena Aurel dirinya melakukan hal aneh-aneh saat kencan buta. Semoga saja mamanya menerima Aurel menjadi bagian dari keluarganya. “Pak Min, putar haluan mobilnya sekarang!” titah Diego. “Ke mana, Bos?” “Ke rumah mama dan papa. Aku harus membawa istriku dan memperkenalkannya pada orang tuaku sekarang juga.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD