Penolakan Mama

1138 Words
“Diego benar-benar sudah gila, Pa.” Amelia tak habis pikir melihat berita yang benar-benar hangat di mana ia melihat putra kesayangannya sedang menarik seorang gadis yang ia tahu persis itu siapa dan yang lebih mengejutkan, Diego bahkan sudah menikahi gadis itu. “Ini benar-benar tidak masuk akal,” sambung Amelia menahan geram. “Ya, mau gimana lagi, Ma. Mama juga, sih, yang mendesak Diego untuk menikah. Jadinya dia mengambil jalan pintas begini.” Martin menimpali. “Mama tidak yakin dengan pernikahan ini. Ini pasti hanya permainan putra kita saja. Gosip yang berhembus tentang kelainan yang dideritanya itu tidak main-main karena memang dari kecil putra kita memang tidak pernah bergaul dengan wanita mana pun. Bahkan dia tidak memiliki seorang teman perempuan sejak kecil. Namun, Mama yakin dia tidak memiliki penyakit seperti yang dituduhkan karena kita tidak memiliki keturunan itu.” “Siapa juga yang mau mendapatkan putra yang mengalami kelainan dan penyimpangan, Ma? Meskipun jujur, Papa juga sedikit merasa takut karena penyimpangan seksual itu bisa terjadi walaupun tidak memiliki keturunan. Ada sejenis penyimpangan yang bisa didapatkan dari pergaulan, kan?” “Mama tetap tidak percaya putra kita gay, Pa. Putra kita normal. Mama yakin itu. Dia tidak melambai dan terlihat seperti seorang pria penyuka sesama jenis. Dia maskulin seperti Papa.” “Semoga aja, Ma. Pria gay tidak mesti melambai, kok. Banyak yang macho, tapi menyukai sesama jenis. Papa malah bersyukur putra kita sudah menikah. Setidaknya itu bisa meredam gosip gay yang merusak citra perusahaan kita.” “Masalahnya orangnya yang Mama tidak setujui, Pa. Kenapa Diego harus menikah dengan orang biasa, sih? Selama ini Mama memilihkan banyak perempuan untuknya yang bisa memperkuat kerajaan bisnis kita. Kenapa dia harus memilih sekretaris miskin itu?” desah Amelia kesal. “Sekretaris itu sudah menemaninya selama setahun, Ma. Wajar Diego bisa tertarik padanya. Apalagi sekretaris itu sudah bekerja cukup lama di perusahaan kita. Dia begitu handal menemani manajer kita bertahun-tahun. Bahkan, dia bisa dipercaya untuk menghandle tender tertentu. Wajar kalau putra kita terpesona padanya.” “Tetap saja dia miskin, Pa,” cetus Amelia merendahkan. “Kalau Papa, sih, setuju Ma. Miskin juga nggak masalah. Papa suka kecerdasan dan kepiawaiannya.” “Pokoknya Mama tetap enggak setuju.” Amelia menekankan. “Semuanya sudah terjadi, Ma. Tidak mungkin putra kita menceraikan sekretaris itu karena itu pasti akan membuat rumor baru. Perusahaan kita sekarang sedang goyah, Ma. Jadi, kita tidak bisa melakukan apa-apa selain menerima keputusan Diego.” Martin berusaha membuka pikiran istrinya agar mau menerima pernikahan putranya dengan lapang d**a. Yang penting putranya mencintai istrinya. Itu sudah cukup baginya untuk merestui pilihan Diego. “Tetap saja Mama nggak ikhlas. Apa nggak ada wanita lain yang bisa dijadikan istri? Kenapa harus dari kalangan rendah, sih?” Bukan tanpa alasan Amelia menginginkan menantu dari kalangan yang sama karena dirinya adalah keturunan keluarga kaya sejak kecil yang hidup bergelimang harta hingga mendapatkan suaminya yang merupakan warga pendatang dari negara Italia. Suaminya yang warga asing, memiliki saham yang cukup besar di perusahaan papanya, akhirnya diminta papanya bekerja di perusahaannya hingga bisa mendirikan perusahaan sendiri menggunakan nama belakangnya. Perusahaan itu kini menjadi perusahaan besar dan itu membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Tiba-tiba ada seorang menantu dari keluarga biasa ingin ikut menikmati harta kekayaan yang melimpah darinya, suaminya juga dari putranya. Enak saja! Sampai mati pun Amelia tak rela. Martin berusaha menenangkan istrinya, memegang tangannya, menatap matanya, kemudian meyakinkannya. “Tidak ada yang bisa Mama lakukan selain menyetujui pernikahan ini, Ma. Kalau Mama menentang dan memaksa mereka untuk membatalkan pernikahan, yang ada perusahaan kita akan hancur berkeping-keping. Musuh kita akan mudah mengolok-olok kita, mencibir dan mengatakan kita mempermainkan pernikahan. Parahnya gosip miring tentang putra kita pasti akan semakin santer berhembus. Jadi, terimalah Aurel menjadi menantu kita!” Amelia memejamkan matanya, membatin kesal dalam hatinya. “Tidak ... sampai kapan pun aku tidak akan mungkin menerima menantu miskin itu. Awas saja, aku tidak akan tinggal diam. Saat ini aku harus menerimanya demi perusahaan. Kalau perusahaan sudah stabil, aku sendiri yang akan membuat putraku menceraikan wanita itu.” Tak lama kemudian suara bel pun berbunyi dan belum sempat Martin juga Amelia melangkahkan kaki mereka ke ruang tamu, tiba-tiba saja Diego sudah masuk sambil menarik istrinya, menyapa mama dan papanya di ruang tengah. “Mama ... Papa ... aku datang.” Martin segera menenangkan istrinya agar tidak mengatakan apa-apa, sementara Diego tahu persis kalau mamanya tidak akan menyetujui pilihannya karena mamanya selalu mengagung-agungkan status sosialnya. Itulah sebabnya Diego mengambil langkah ekstrem dengan langsung menikahi Aurel secara hukum. “Kalian pasti sudah melihat beritanya ‘kan?” lanjut Diego lagi. Amelia menatap Aurel dengan sinis. “Ya, kami sudah melihat beritanya dan kamu memang benar-benar ingin membuat Mama jantungan, Diego.” “Aku tidak mau tahu, Ma. Aku ingin kalian menerima istriku. Aku membawanya ke sini bukan untuk meminta restu. Aku hanya ingin memberitahu kalian kalau aku sudah menikahi Aurel Lyana, sekretaris yang aku cintai sejak awal.” Amelia berkacak pinggang lalu mencibir sinis. “Cih, cinta? Cinta apaan? Kamu pikir Mama bodoh apa? Kamu pasti hanya menikah kontrak dengannya untuk meredam gosip murahan itu, kan?” Aurel menelan salivanya berapa kali. Tampaknya kejadian serta adegan yang sering muncul di sinetron akan ia alami. Sudah terlihat jelas mama mertuanya tidak menyukainya dan tidak setuju akan pernikahannya. Sementara, papa mertuanya yang benar-benar mirip dengan suaminya, sepertinya tak mempermasalahkannya sama sekali. Mama mertuanya sungguh menyeramkan. Sorot matanya yang menusuk tajam ke arahnya, menunjukkan kalau mama mertuanya itu sungguh membencinya. Aurel tidak yakin mamanya tidak akan membuat ulah dan akan mengacaukan pernikahan kontraknya dengan Diego. Gawat! “Mama mau percaya atau nggak, terserah! Yang jelas aku sangat mencintainya dan sudah menikah dengannya. Aku juga tidak seperti yang dituduhkan orang-orang. Aku normal. Karena itu aku ingin membuktikannya pada Mama dan Papa sekaligus membungkam orang-orang yang selalu menghembuskan gosip-gosip murahan untuk menyerang perusahaan, membuat para klien jadi ragu untuk bekerja sama dengan kita,” pungkas Diego lantang. “Tapi tidak juga dengan cara seperti ini, Diego. Bukankah Mama telah memilihkan banyak wanita-wanita dari kelas kita, kenapa kamu memilih sekretaris yang tidak tahu asal-usulnya begini, sih?” Diego pura-pura marah dan membela istrinya agar orang tuanya yakin kalau ia sangat mencintai Aurel dan percaya kalau pernikahan ini nyata, bukan kontrak ataupun rekayasa. “Mama jangan sembarangan menghina istriku, ya, Ma! Dia punya asal-usul yang jelas. Dia masih memiliki seorang mama dan dia menafkahi mamanya yang sudah lama tinggal mendiang papanya.” Lagi-lagi, Amelia menatap sinis. “Tapi papanya nggak punya perusahaan ‘kan? Artinya dia miskin, bukan dari golongan kita, Diego.” Martin benar-benar lelah melihat perdebatan istri dan anaknya. “Ma, sudahlah. Tadi ‘kan kita sudah bahas? Yang penting mereka berdua saling mencintai. Itu sudah cukup. Harta bisa dicari. Lagipula kita sudah cukup kaya raya. Untuk apa memusingkan harta bawaan dari istrinya Diego?” “Pokoknya Mama tidak setuju. Mama tidak suka pilihan Diego, titik!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD