Bab 5. Cemburu.

1054 Words
Alan merasa kebingungan melihat sikap Via yang tiba-tiba mengambil semua pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper. Hatinya berdesir, merasakan kegelisahan yang tak terkira. Apa yang sedang terjadi dengan Via. “Via, apa yang kamu lakukan?” desak Alan dengan wajah penuh kekhawatiran. Via melihat ke bawah, mencoba menahan air mata yang ingin jatuh dari matanya. “Aku sudah memutuskan, Alan. Aku ingin pergi. Aku ingin mengakhiri kontrak pernikahan ini.” Alan merasa benar-benar tertegun dengan kata-kata tersebut. Perasaan cemas semakin melingkupi hatinya saat ia berusaha memahami alasan di balik keputusan ini. “Via, aku tidak mengerti. Apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu yang salah?” Via menarik napas panjang sebelum menjawab, suaranya penuh dengan kehampaan. “Aku melihat pesan di ponselmu, Mas. Maaf aku lancang membacanya. Pesan dari kekasihmu. Aku tidak mau menjadi penghalang di antara kalian.” Wajah Alan berubah pucat. Dia segera memahami apa yang membuat Via begitu terguncang. “Via, kita harus bicara tentang ini.” “Sepertinya nggak ada yang perlu kita bicarakan, Mas.” Alan meraih tangan Via, membuat gadis itu berhenti memasukkan baju-bajunya ke dalam koper. “Namanya Rena, dia mantan kekasihku. Semalam, kami memang bersama.” Via menarik tangannya dari genggaman Alan. Hatinya terasa sakit mendengar pengakuan Alan. “Kalau begitu sudah jelas kan, Mas Alan sudah mendapatkan wanita yang mas cintai untuk memulai pernikahan yang sesungguhnya. Mas nggak butuh aku lagi.” Alan ingin sekali mendekatkan dirinya pada Via, mencoba menyentuhnya untuk memberikan dukungan. Namun, Via menghindar, menghancurkan hati Alan lebih jauh lagi. “Via, aku tidak tahu apa yang harus kukatakan. Tapi beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya.” “Nggak perlu menjelaskan padaku, Mas. Aku mengerti kok. Tugasku di sini sudan selesai.” Alan tersenyum lemah. “Aku hanya sedang bingung, Via. Rena tiba-tiba datang dan kami menghabiskan waktu bersama. Tapi, ada sesuatu yang berbeda di antara aku dan dia. Perasaanku tidak lagi sama padanya seperti dulu.” Via menatap Alan dengan tatapan mencari kebenaran. “Sepertinya itu bukan urusanku, Mas. Mas Alan nggak usah bingung. Mas terima mantan mas itu dan menjalani pernikahan yang sesungguhnya.” “Via ….” Alan kembali meraih tangan Via. Kali ini mendekapnya dalam d**a. “Aku sayang sama kamu, Via. Aku mau kamu tetap di sini.” “Kenapa, Mas? Mas sudah punya Rena, kan?” Alan tiba-tiba menarik tubuh Via ke dalam pelukannya. Kemudian menciumi tengkuk gadis itu. Via yang mendapat perlakuan tak terduga itu terkejut. Dia ingin melepaskan diri, tapi pelukan Alan begitu nyaman. Hingga akhirnya Alan membawanya ke atas ranjang dan membaringkannya di sana, Via hanya menurut saja. Alan menyusapi bibir Via lembut, dan dengan hati-hati meloloskan semua pakaian gadis itu. Via hanya menurut saja, tidak mampu menghasutkan diri dari situ. Alan mengatakan dengan suara yang sangat halus, “Via, aku ingin kamu tahu bahwa aku cinta kamu sepenuh hati. Aku mengerti bahwa aku telah melakukan sesuatu yang tidak baik. Aku ingin memulai hidup bersama kamu.” Tenggorokan Via tercekat mdndengar ungkapan Alan. Rupanya rasa cemburunya ini adalah buah dari perasaannya terhadap Alan yang semakin mendalam. Namun, dia tida, tahu harus menjawab apa. Lalu saat Alan dengan lembut memperlakukannya layaknya seorang istri sungguhan, Via hanya bisa memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan yang dihujankan Alan padanya. “Aah,” erang Via saat Alan mulai memasuki inti tubuhnya dengan hati-hati. Alan adalah pria yang sangaf lembut. Gerakannya sangat hati-hati mengingat Via sedang mengandung. Lenguhan demi lenguhan memenuhi kamar luas yang mewah itu. Via merasakan kenikmatan yang begitu sempurna akan sentuhan-sentuhan Alan. Jauh lebih nikmat dari pada saat diringa menyerahkan kesuciannya pada Dito. Di saat kedatangan Rena yang tak terduga ke rumah Alan, suasana di ruangan langsung menjadi tegang. Alan dan Via mendapati diri mereka terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa. Rena, mantan pacar Alan yang tidak terima dengan kenyataan bahwa Alan telah menikah dengan Via, dengan marah meraih rambut Via dan menjambaknya keras. Via merasakan rasa sakit dan kejutan yang begitu kuat sehingga air matanya pun mulai mengalir. Alan dengan segera mencoba mencegah Rena, menarik tangan Rena dengan kuat sambil berusaha membuatnya melepaskan cengkramannya terhadap rambut Via. “Rena, hentikan! Kamu tidak berhak melakukan ini,” ucap Alan dengan nada penuh ketegasan. Namun Rena, yang masih dalam kemarahan dan kekecewaan, tidak mendengarkan seruan Alan. Dia terus melampiaskan amarahnya kepada Via. Alan merasa cemas dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Dia mencoba untuk meredakan situasi, “Rena, tolong bicarakan masalah ini dengan tenang. Aku sudah menikah dengan Via. Kita semua perlu berbicara dengan kepala dingin.” Namun Rena masih tidak mendengarkan. Dia dengan marah berkata kepada Via, “Kamu hanya perebut Alan! Kalian berdua berbohong padaku! Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia!” Via, yang mulai merasakan perlakuan yang tidak adil dan kesalahan yang tidak ia lakukan, berusaha untuk menjaga ketenangannya. Dia berbicara dengan lantang namun tetap tenang, “Rena, aku minta maaf jika kamu merasa terluka. Tapi percayalah, aku tidak pernah ada niat untuk merebut Alan darimu. Kami berdua sudah bertemu saat hubungan kalian berakhir. Aku hanya ingin menjaga kebahagiaan kami berdua. Mohon jangan bertindak dalam cara yang menyakiti orang lain.” Rena masih tidak terima. Dia mencoba menyeret Via keluar dari rumah. Alan, dengan penuh tekad dan perlindungan, melindungi Via dengan memegang erat tangan Via dan menghalangi Rena. “Rena, berhentilah! Aku mencintai Via dan kami sudah menikah. Kamu harus menerima kenyataan ini dan menjalani hidupmu sendiri.” Via, yang merasa sangat takut dan tersinggung, berusaha mengatasi rasa takutnya dan dengan berani berbicara, “Rena, aku mengerti bahwa kamu masih terluka. Namun, ini bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini. Aku harap kamu bisa mengerti dan mencari kebahagiaanmu sendiri juga.” Rena, setelah beberapa saat berjuang dalam amarahnya, akhirnya menghentikan serangannya dan meninggalkan rumah Alan dengan tangis yang penuh dengan kesedihan. Namun, insiden ini meninggalkan bekas di hati Via dan Alan. Mereka berdua tahu bahwa mereka harus mengatasi masalah ini dan memperkuat ikatan mereka lebih jauh untuk menghadapi rintangan-rintangan yang datang di masa depan. Mereka duduk berdua di sofa, memeluk satu sama lain dan saling menghibur. “Kamu nggak papa, kan?” tanya Alan seraya menggenggam tangan Via. “Nggak papa, Mas.” “Perut kamu juga nggak papa, kan?” Via menggeleng. Dia senang melihat Alan tampak cemas dengan keadaannya. Mantan pacar Alan memang gila. Sepertinya dia terobsesi dengan Alan. Dan ancamannya untuk membalas mereka berdua membuat Via merasa sedikit cemas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD