Via terkejut ketika menerima telepon dari ibunya. Ibunya, yang entah dari mana mendapatkan kabar bahwa Via sudah menikah dengan Allan, seorang CEO kaya raya, tiba-tiba ingin bertemu dengannya. Via merasa bingung, sebab selama ini dia tidak pernah memberitahu keberadaannya atau bahkan mengabari kalau dia sudah menikah. Namun, seperti ibu biasa, dia pasti punya cara sendiri dalam mencari tahu segala hal.
“Ibu, darimana ibu tahu nomer teleponku?” tanya Via dengan nada heran.
Ibunya Via tertawa pelan di seberang telepon. “Oh, Via, Via, ibu adalah ibu. Ibu punya jaringan yang luas dan tahu semuanya. Aku senang sekali mendengar kabar baik ini. Ternyata tidak sia-sia kamu kabur dari rumah menghindari perjodohan, ternyata kamu malah mendapatkan pria yang lebih dari yang ibu jodohkan. Ayo, beri tahu alamatmu, ibu ingin segera berjumpa dengan menantuku yang baru.”
Menurut Via, alasan ibunya ingin bertemu pasti karena ingin meminta uang. Entahlah kenapa, ibunya selalu bisa menemukan alasan yang masuk akal untuk meminta uang darinya dan kali ini tampaknya ibunya ingin memanfaatkan koneksi yang dimiliki Allan sebagai CEO. Meskipun Via tahu bahwa ibunya hanya peduli pada uang, dia merasa sedikit bersalah jika menolak membantu ibunya yang selama ini telah membesarkannya dengan susah payah, meskipun ibunya itu tidak sepenuh hati menyayanginya, entah karena apa.
Namun, dia tidak ingin membebani Allan dengan masalah keluarganya. Via memutuskan untuk bertindak dengan hati-hati. Ketika ibunya meminta uang dan mengatakan bahwa Via harus balas budi pada orang tuanya, Via menjawab dengan lembut, “Ibu, aku memahami kebutuhanmu. Tapi aku ingin menjaga hubungan baikku dengan Allan. Bisakah ibu menjelaskan kepada Allan mengapa ibu membutuhkan uang? Aku yakin dia akan mempertimbangkannya.”
“Kamu ini bagaimana, sih, Via. Allan pasti sudah memberi kamu banyak uang, kan? Kenapa kamu tidak kasih saja uang buat ibu, kenapa mesti repot seperti ini?” sahut ibunya sengit.
“Allan itu menikahiku karena dia orang yang sangat baik dan ingin menolongku. Aku tidak mau memhuatnya merasa tidak enak kalau tiba-tiba harus berurusan tentang uang.”
Ibunya terdiam sejenak, lalu menjawab dengan ragu, “Baiklah, Via. Tapi tolong, jangan biarkan Allan tahu kalau ini hanya soal uang. Ibu ingin agar dia menganggap kita sebagai keluarga yang menyayanginya, agar dia percaya pada kita.”
Via menghela napas dalam-dalam. Kenapa ibunya ini menempatkannya ke dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman.
“Pokoknya ibu butuh uang dan ibu tidak peduli bagaimana caranya kamu mendapatkannya. Kalau tidak, ibu akan beritahukan kehamilanmu dengan pria yang bukan suamimu kepada kakeknya Allan.”
Via tersentak. Bagaimana ibunya bisa tahu tentang kakek Allan. Kenapa ibunya sampai mencari tahu sedalam itu. “Ibu kok tahu tentang kakeknya Allan?”
“Sudah ibu bilang kalau ibu itu tahu segalanya.”
Via memijit keningnya. Sepeninggal ibunya dari rumah, Via berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Bagaimana kalau ancaman ibunya itu benar akan dilaksanakan. Via tahu seperti apa sifat wanita itu. Jika dia sudah menginginkan sesuatu, maka dia akan mewujudkannya, bagaiamanapun caranya.
Saat sedang berkutat dengan pikirannya, Allan masuk ke dalam kamar dengan senyum manisnya. “Kamu kenapa gelisah seperti itu?” tanyanya sambil meneliti wajah Via.
Via hingung menjawab pertanyaan Allan. Sambil mengelus tengkuk, dia duduk di tepian ranjang. “Tadi … ibuku datang ke sini, Mas.”
“Ibumu yang mau menjodohkan kamu itu?” tanya Allan heran. Via mengangguk. “Dari mana dia tahu alamat kamu yang baru?”
“Nggk tahu, Mas. Mungkin ibu nyari aku ke mana-mana.”
“Terus, mau apa dia ke sini?”
Via menghela napasnya dalam-dalam. “Dia … minta uang, Mas.”
“Oh, minta uang. Udah dikasih?”
Via menggeleng. “Aku nggak berani bilang ke Mas Allan.”
“Kamu kan punya uang sendiri, aku transferin ke rekening kamu minggu lalu.”
“Iya, tapi aku nggak enak sama Mas Allan.”
Allan tersenyum seraya menggenggam tangan Via. “Itu kan uang kamu. Kamu mau pakai ya terserah kamu, Via.”
“Aku tahu, tapi … ibu memang selalu seperti itu. Menuntut ini itu. Sekarang dia sudah tahu aku menikah dengan Mas Allan, pasti dia akan sering minta ini itu, Mas.” Via memang tidak membeberkan tentang ancaman ibunya pada Allan karena tidak ingin masalahnya bertambah rumit.
“Via, kau tahu aku mencintaimu dan tidak ingin keberadaanku dimanfaatkan oleh siapapun. Tapi, kalau sekedar masalah uang, aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Kasih saja ibu kamu berapa yang dia minta. Toh, seperti apa pun ibu kamu, dia tetap wanita yang melahirkan kamu. Mungkin dia memang sedang butuh.”
Via merasa lega mendengar respon Allan yang memahami situasinya. Dia merasa beruntung memiliki suami yang bijaksana dan pengertian. Bersama-sama, mereka mencari jalan tengah yang bisa memenuhi kebutuhan ibunya dan juga menjaga hubungan baik antara Via dan Allan.
Via merasakan sakit perut yang luar biasa pada malam itu. Ia berguling-guling di ranjang dan mencoba meredakannya dengan menggosok-gosok perutnya. Namun, rasa sakit itu semakin parah hingga ia mulai mengalami pendarahan yang membuatnya panik. Allan yang berbaring di sampingnya terkejut mendengar keluhan Via.
“Via, apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja?”
“Perutku sakit banget, Mas. Aku tak tahu kenapa, tapi aku sangat khawatir.”
“Kita harus segera pergi ke rumah sakit!
Tanpa banyak kata, Allan membantu Via berjalan menuju mobil. Dia tak sabar ingin membawa Via ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan secepat mungkin. Sesampainya di rumah sakit, mereka ditemui oleh seorang perawat yang merespons situasi dengan cepat.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang perawat.
“Istri saya mengalami sakit perut yang parah dan mengalami pendarahan. Tolong beri kami pertolongan segera, Bu.”
“Siap, segera saya periksa. Silakan Anda menunggu di ruang tunggu sebentar.”
Allan dan Via duduk di ruang tunggu, penuh kekhawatiran. Via berusaha menguatkan hatinya sambil memegang erat tangan Allan.
“Mas, sakit banget.”
“Iya, tunggu sebentar, ya.”
Setelah menunggu dengan penuh kegelisahan, Via pun dipanggil ke ruang pemeriksaan. Sementara Allan juga mengikuti. Beberapa saat dokter memeriksa keadaan Via dan menghela napas dalam-dalam.
“Mohon maaf, Pak, Bu … ibu mengalami keguguran.”
Via terperanjat. Semua perasaan campur-aduk memenuhi hatinya. Dia memang tidak mengharapkan anak ini karena dia adalah benih dari pria yang telah meninggalkannya begitu saja. Namun, dia tidak pernah berpikir untuk menghilangkan makhkuk tak berdosa itu. Dia pasti akan menyayanginya dengan sepenuh hati jika dia lahir nanti.
Namun, takdir berkata lain. Antara lega dan sedih bergelayut dalam d**a Via. Sementara Allan memeluk Via untuk memberinya kekuatan. Dielusnya punggung Via lembut sambil sesekali mencium puncak kepalanya.