Suasana di kantor begitu kacau dan penuh kebisingan, membuat kepala Alan terasa pening. Sejak pagi hingga sekarang, ia terjebak di depan layar komputernya tanpa memberikan waktu untuk menyegarkan pikirannya terlebih dahulu. Satu-satunya yang ada dalam pikirannya adalah segera menyelesaikan pekerjaan dan pulang untuk bertemu dengan istrinya. Rasa gelisah menghampiri hatinya saat melihat jam yang menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Hanya dengan melihat layar komputernya, ia sudah bisa merasakan bahwa malam ini akan berakhir dengan lembur. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu meraih telepon kantor yang terletak di dekatnya. Dengan keahlian yang lihai, jari-jemarinya menekan nomor salah satu stafnya. Setelah nomor terpilih dengan rapi, Alan segera menghubunginya. "Iya, Pak. Ada yang b

