3-Naik Darah

879 Words
Bagi beberapa siswa di SMA satya bangsa, bangku paling pojok di kantin adalah tempat yang paling mereka rebuti untuk diduduki. Yap, bangku itu adalah langganan tempat Alea dan gengnya ngumpul. Siapa sih yang tidak ingin makan bareng dengan cewek secantik Alea dan teman-temannya? "Udahlah Al, gak usah dipikirin cowok macam Gavin itu." celetuk salah satu cowok yang duduk bersama mereka. Luna mengangguk setuju. "Iya, Al. Bener tuh kata si Troy." "Masih banyak kok, Al. Cowok yang mau sama lo. Kayak gue misalnya." timpal yang lainnya. Spontan langsung mendapat sorakan serta toyoran dari cowok-cowok yang lainnya. "Lo mau kita apain dah si Gavin? Bakal kita jabanin deh, Al!" "Kita-kita siap jadi penghibur lo, Al!" "Sans, Al! Gausah ngegalauin cowok macam dia." Alea yang terlihat badmood hanya menatap minumannya yang sudah habis seraya menampilkan senyum terpaksanya. Bukan apa-apa, perasaannya sedang tidak baik sekarang. Atau, memang selalu tidak baik? Entahlah. Dia sendiri bahkan tidak mengerti dengan dirinya sendiri. "Jus gue habis," Alea lantas melirik ke arah siswa laki-laki berkaca mata yang kebetulan lewat di dekat mereka. "Eh lo!" panggil Alea. Spontan cowok itu menoleh lalu berjalan mendekat. "Beliin air mineral dong!" Cowok itu memperbaiki letak kacamatanya sambil mengangkat sudut bibir canggung. Ia tidak tau harus bagaimana. Jika ia menolak, para cowok yang duduk di bangku itu terus melotot ke arahnya. Jadi mau tidak mau, dia menurut saja. "I-iya kak. D-duit...nya?" Alea memutar bola mata malas. Namun belum sempat ia menjawab cowok yang bernama Troy tadi sudah keburu mewakilkan. "Pake duit lo dulu napa? Nanti diganti juga. Takut amat." Tanpa menunggu waktu lama, cowok itu mengangguk menurut dan lalu bergerak pergi membelikan pesanan Alea barusan. "Sabar aja, Na! Cukup tau aja si Alea itu emang kayak gitu." Alea memicing mendengar suara yang tengah membicarakan dirinya. Bisa Alea pastikan suara itu bersumber dari bangku di belakangnya. Kedua temannya yang juga ikut mendengar hendak bertindak, namun Alea tahan. "Tapi gue beneran gak nikung kak Gavin dari dia. Kak Alea salah paham." Kali ini Alea tau betul kalau suara barusan itu adalah suara Ayana. "Gue beneran gak pacaran sama kak Gavin. Kalian harus percaya itu." ucap Ayana lagi, meyakinkan teman-temannya. "Iya, kita percaya sama lo. Justru malah dia yang perebut! Dia ngerebut cowok yang lo suka kan?" Tak terdengar suara Ayana merespon. Alea menduga Ayana memilih bungkam. "Sebutannya aja yang queen of beauty. Tapi sifatnya lebih kayak queen of demon." Tangan Alea mengepal keras. Rombongan yang makan bersamanya tidak ribut lagi. Justru meratapi Alea dengan pandangan gelisah. "Al—" "Sst!" Alea berdesis meminta mereka untuk diam. "Si Alea itu emang rada gila. Udahlah sombong banget, kepedean, tukang merintah, suka nyari ribut, emang dianya aja mah yang gak pantes sama kak Gavin." "Bener banget. Kasian kak Gavin, pasti kesiksa banget pernah punya pacar kayak dia." Alea menggeram bahkan meja dihadapannya sempat bergetar setelah ia menumbuk meja itu kesal. Tangannya kemudian meraih gelas minuman di hadapannya asal. Lalu segera membalikkan badan, buru-buru menyiram air es tadi mengarah kepada tukang nyinyir barusan. BYUUR! Aish. s**l. Bola mata Alea segera membesar. Siraman air mendadaknya meleset. Mengenai seorang cowok yang ternyata sedang berjalan di belakangnya. Dan parahnya lagi, yang menjadi korban siramannya tadi adalah, Saga. "Kenapa lo nyiram gue?" Saga mengibas-ngibas bajunya yang basah, lalu menatap Alea heran. Sama seperti Alea, teman-temannya ikut refleks membuka mulut kaget. Teman-teman Ayana juga ikut menoleh ke arahnya. Sama terkejutnya. Mungkin terkejut karena objek yang mereka bicarakan ternyata mendengar semua pembicaraan mereka. Namun Alea tidak punya waktu untuk meladeni Saga saat ini. Ia lantas berdiri. Berkacak pinggang menatap cewek-cewek nyinyir itu sinis. "Kalo kalian gak suka sama gue, ngomongin langsung di depan gue! Jangan beraninya di belakang! Pengecut tau gak!" sarkas Alea menusuk. "Iya! Gue gak suka sama lo! Kenapa?" Dina, yang diduga sebagai tukang nyinyir dirinya itu berdiri. Balas mempelototinya tajam. "Seharusnya lo sadar diri kalo lo itu emang gak pantes sama kak Gavin!" Alea melangkahkan kaki melewati bangku didepannya. "Maksud lo apa?" Dina turut mengangkat dagunya tinggi, melawan. "Gue gak suka lo ngebully Ayana! Kalo kak Gavinnya emang gak suka lagi sama lo ya udah terima ajalah. Gak usah nyalah-nyalahin Ayana!" "Lo ngebela dia karena lo temennya!" kali ini Alea menatap Ayana sinis. "Puas lo kan? Udah memprovokator temen lo buat nyudutin gue? Dasar p***n!" Dina menampar pipi Alea spontan. Alea lantas menatapnya tajam sebelum kemudian balik menjambak rambutnya. Lagi dan lagi, terjadi keributan di kantin. Dan pelaku langganannya adalah Alea. Selalu. Melihat keadaan yang mulai runyam begini, tentu saja Saga bingung. Tidak tau harus berbuat apa. Ditambah lagi keributan ini terjadi di depan matanya. "Eh, eh, udah! Udah! Gak usah ribut deh!" Saga yang ada diantara mereka berniat menengahi. Saga berniat menghentikan dua orang itu, namun kedua orang itu masih sama-sama egois untuk saling melawan satu sama lain. "Lo itu yang b***h tau gak! Gak sadar diri!" "Kurang ajar lo ya!" Cowok yang bajunya basah itu berdiam sejenak. Setelah memikirkan caranya, Saga segera bertindak. Cowok itu mencengkeram kedua tangan Alea yang berniat mencakar Dina lalu menguncinya. Dan sebelum Alea lepas dari kunciannya, cowok itu langsung mengangkat tubuh Alea ke bahunya, menggendongnya paksa.  "—HWAA TURUNIN! TURUNIN GUE GAK!" Cowok itu terpaksa mengacuhkan rontaan dan berontakan Alea yang meminta untuk diturunkan. Karena saat ini, yang harus Saga lakukan adalah menjauhkan cewek cantik itu dari perkelahian sengit barusan. Sebelum situasinya menjadi lebih kacau.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD